KNPI Soroti Pengangguran di HUT ke-27 Cilegon

ilustrasi angka pengangguran Cilegon

Jbnews.id – Peringatan HUT ke-27 Kota Cilegon diwarnai sorotan tajam dari Dewan Pimpinan Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kota Cilegon. Organisasi kepemudaan ini menyoroti masih tingginya angka pengangguran di kota industri tersebut, menjadikannya isu utama yang perlu segera ditangani oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon.

Dalam pernyataan resminya, Ketua DPD KNPI Kota Cilegon, M. Fadli, menegaskan bahwa momentum peringatan hari jadi seharusnya menjadi ajang evaluasi dan introspeksi. Ia menyebutkan bahwa di tengah berbagai program pembangunan yang digaungkan, masalah fundamental seperti pengangguran justru belum menunjukkan perbaikan signifikan. “Kami melihat masih ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan, terutama dalam hal penyediaan lapangan kerja bagi warga,” ujar Fadli.

Sorotan ini muncul di tengah perayaan yang baru saja digelar. Sebagai informasi, Pemkot Cilegon sebelumnya telah menggelar acara Riung Mungpulung dalam rangkaian HUT ke-27. Acara tersebut menjadi ajang silaturahmi antara pemerintah dan masyarakat. Namun, di balik kemeriahan tersebut, KNPI justru mengingatkan bahwa problem struktural seperti pengangguran tidak boleh terabaikan.

Data Angle: Angka Pengangguran Jadi Perhatian

Meskipun data spesifik angka pengangguran di Kota Cilegon tidak disebutkan secara rinci dalam pernyataan KNPI, sorotan ini merujuk pada fenomena yang lebih luas di wilayah sekitarnya. Sebagai perbandingan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di beberapa daerah di Jawa Barat masih menjadi tantangan. Misalnya, data terbaru menunjukkan bahwa TPT Bandung Barat turun tipis ke 6,6 persen, dengan dominasi lulusan rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa masalah pengangguran tidak hanya terjadi di Cilegon, melainkan juga di wilayah lain.

Fadli menekankan bahwa tingginya angka pengangguran di Cilegon menjadi ironi, mengingat kota ini merupakan salah satu pusat industri di Provinsi Banten. Banyak perusahaan besar beroperasi di Cilegon, namun lapangan kerja yang tersedia belum sepenuhnya mampu menyerap tenaga kerja lokal. “Ini menjadi pertanyaan besar. Mengapa di kota industri, masih banyak warga yang menganggur?” tegasnya.

Penyebab dan Dampak Pengangguran

KNPI mengidentifikasi beberapa faktor yang berkontribusi terhadap tingginya angka pengangguran di Cilegon. Pertama, adanya ketidaksesuaian antara kompetensi tenaga kerja lokal dengan kebutuhan industri. Banyak lulusan sekolah menengah dan perguruan tinggi yang belum memiliki keterampilan yang sesuai dengan permintaan pasar kerja. Kedua, minimnya program pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia yang efektif dari pemerintah daerah.

Dampak dari pengangguran ini sangat terasa, terutama bagi generasi muda. Fadli menyebutkan bahwa pengangguran dapat memicu berbagai masalah sosial, mulai dari meningkatnya angka kriminalitas hingga menurunnya kesejahteraan masyarakat. “Kami mendorong Pemkot Cilegon untuk lebih serius dalam mengatasi masalah ini. Jangan hanya fokus pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga pada pembangunan sumber daya manusia,” imbuhnya.

Solusi dan Rekomendasi

Menanggapi sorotan ini, DPD KNPI Kota Cilegon memberikan sejumlah rekomendasi kepada Pemkot Cilegon. Pertama, mendorong program pelatihan vokasi yang terintegrasi dengan kebutuhan industri lokal. Kedua, memperkuat peran Balai Latihan Kerja (BLK) untuk menghasilkan tenaga kerja yang siap pakai. Ketiga, memfasilitasi kemitraan antara perusahaan dan lembaga pendidikan untuk program magang dan penempatan kerja.

Selain itu, KNPI juga mendorong pengembangan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai alternatif penyerapan tenaga kerja. Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya yang dilakukan oleh daerah lain. Sebagai contoh, Pemkot Tangsel perkuat UMKM demi jaga stabilitas ekonomi di wilayahnya. Strategi serupa diyakini dapat diadopsi oleh Kota Cilegon untuk mengurangi ketergantungan pada sektor industri formal.

Konteks Regional dan Nasional

Sorotan KNPI terhadap pengangguran di Cilegon tidak bisa dilepaskan dari konteks regional dan nasional. Di tingkat provinsi, masalah pengangguran masih menjadi pekerjaan rumah bagi banyak pemerintah daerah. Di sisi lain, investasi asing yang masuk ke beberapa daerah di Jawa Barat, seperti yang terjadi di Subang, diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru. Seperti yang diberitakan, investasi asing Subang groundbreaking industri masa depan menjadi angin segar bagi penyerapan tenaga kerja di wilayah tersebut.

Namun, perlu dicatat bahwa investasi saja tidak cukup. Diperlukan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan untuk memastikan bahwa tenaga kerja lokal dapat memanfaatkan peluang yang ada. Tanpa itu, investasi justru bisa menjadi bumerang jika lebih banyak tenaga kerja dari luar daerah yang terserap.

Penutup

Peringatan HUT ke-27 Kota Cilegon menjadi pengingat bahwa pembangunan sebuah kota tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur, tetapi juga dari kesejahteraan warganya. Sorotan dari KNPI ini diharapkan menjadi dorongan bagi Pemkot Cilegon untuk mengambil langkah konkret dalam mengatasi masalah pengangguran. Ke depan, publik akan menanti realisasi program-program yang dapat membuka lapangan kerja dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kota Baja.