Jbnews.id – Banjir dan longsor yang dipicu cuaca ekstrem melanda lima desa di Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada Minggu malam hingga Senin dini hari. Peristiwa ini mengakibatkan empat rumah rusak dan sembilan jiwa terpaksa mengungsi sementara.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur, Asep Sudrajat, menyatakan bahwa bencana tersebut terjadi di Desa Wangunjaya, Karyamukti, Mekarjaya, Susukan, dan Campaka. Selain merusak rumah warga, banjir dan longsor juga merusak fasilitas umum seperti jalan dan jembatan, sehingga akses transportasi sempat terputus.
“Bencana alam longsor dan banjir kembali terjadi di wilayah Kecamatan Campaka dan Cibeber. Petugas langsung turun ke lokasi untuk melakukan pendataan dan penanganan cepat, rata-rata ketinggian air 50 sentimeter merendam perkampungan karena luapan sungai,” ujar Asep dalam keterangannya, Senin (14/4/2026).
Data sementara dari BPBD Cianjur mencatat bahwa banjir merendam lebih dari 100 rumah di Kecamatan Campaka dan 30 rumah di Desa Karangnunggal, Kecamatan Cibeber. Meskipun demikian, tidak ada laporan kerusakan rumah maupun warga yang mengungsi dari kedua lokasi tersebut. Setelah hujan reda, warga bersama petugas gabungan dari TNI/Polri, Damkar Cianjur, PMI Cianjur, dan relawan mulai membersihkan lingkungan dari sampah dan material sisa banjir.
Longsor paling parah terjadi di Desa Wangunjaya. Bencana ini menyebabkan dua rumah rusak sedang, dua rumah rusak ringan, serta 12 rumah lainnya terancam. Material longsor juga menutup jalan penghubung antardesa, menyulitkan akses warga dan petugas.
Menghadapi cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Cianjur, terutama pada petang dan malam hari, BPBD mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah rawan bencana, untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Segera mengungsi ketika melihat tanda alam, terutama ketika hujan deras dengan intensitas lebih dari dua jam pada malam hari,” tegas Asep.
Kejadian banjir dan longsor di Cianjur ini menambah daftar panjang bencana hidrometeorologi yang melanda Indonesia. Fenomena cuaca ekstrem yang dipicu oleh perubahan iklim global menjadi ancaman serius bagi masyarakat di daerah rawan. Pemerintah daerah dan pusat diharapkan dapat memperkuat sistem peringatan dini dan infrastruktur penanggulangan bencana untuk meminimalkan dampak korban jiwa dan kerugian materi.
Sementara itu, proses evakuasi dan pembersihan masih terus dilakukan di lokasi terdampak. Petugas gabungan dari berbagai instansi terus berkoordinasi untuk memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi dan akses transportasi segera pulih. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan dari petugas di lapangan.
