JBNews.id — Amazon melalui MGM Studios secara mendadak menghentikan produksi film biografi OpenAI berjudul “Artificial” yang hampir rampung, sementara Google DeepMind menggelontorkan investasi senilai US$75 juta atau sekitar Rp1,2 triliun ke studio film independen A24 untuk mengembangkan alat kecerdasan buatan (AI). Dua keputusan kontras ini menunjukkan tarik-ulur hubungan antara industri film dan teknologi di Amerika Serikat.
Keputusan Amazon menghentikan “Artificial” memicu kritik karena dianggap sebagai bentuk keberpihakan kepada CEO OpenAI Sam Altman. Film yang disutradarai oleh sineas di balik Call Me by Your Name dan Challengers ini mengisahkan momen “The Blip” pada November 2023 ketika Altman dipecat oleh dewan direksi OpenAI lalu dipekerjakan kembali setelah hampir seluruh perusahaan melakukan revolusi. Dengan biaya produksi US$40 juta, film ini dibintangi Andrew Garfield sebagai Sam Altman dan Monica Barbaro sebagai mantan CTO OpenAI Mira Murati.
“Keputusan ini telah menuai kritik karena dianggap sebagai bentuk dukungan Amazon kepada Sam Altman, yang digambarkan secara negatif dalam film tersebut,” tulis laporan WIRED. Amazon sendiri memiliki investasi senilai US$50 miliar di OpenAI serta baru saja menandatangani kesepakatan komputasi senilai US$38 miliar. Altman juga disebut-sebut menjadi tamu di pernikahan pendiri Amazon Jeff Bezos tahun lalu, memperkuat dugaan konflik kepentingan.
Di sisi lain, Google DeepMind justru memperkuat hubungan dengan industri film melalui investasi di A24. Kesepakatan senilai US$75 juta ini bertujuan mengembangkan alat AI untuk proses produksi film seperti papan cerita (storyboarding) dan rotoscoping, bukan untuk melatih model AI menggunakan katalog film A24. “Ini adalah area padat karya yang sangat spesifik dalam proses produksi film yang dulu membutuhkan banyak tenaga manusia dan sangat mahal, dan sekarang bisa diotomatisasi secara otentik,” tulis laporan tersebut.
Ketua Redaksi Eksekutif WIRED Brian Barrett mencatat bahwa industri film dan teknologi semakin terintegrasi. “Amazon memiliki MGM. Paramount sedang diakuisisi oleh keluarga Ellison, Larry Ellison, pendiri Oracle. Semua miliarder teknologi ini kini sepenuhnya terintegrasi dengan industri film, yang benar-benar akan menentukan film apa yang dibuat dan apa yang tidak,” ujarnya.
Gelombang Penolakan Terhadap Pusat Data
Di luar industri film, penolakan terhadap pembangunan pusat data (data center) terus meluas. Data Pew Research Center menunjukkan bahwa lebih dari 40 persen rumah tangga di AS saat ini berada dalam radius 8 kilometer dari pusat data yang beroperasi. Lonjakan pembangunan ini didorong oleh kebutuhan komputasi raksasa AI yang menggelontorkan miliaran dolar untuk infrastruktur.
Penolakan tidak hanya datang dari warga sekitar yang mengeluhkan tagihan listrik membengkak, kelangkaan air, dan kebisingan, tetapi juga dari pekerja konstruksi. Sejumlah tukang listrik (electricians) yang sangat penting dalam pembangunan pusat data mulai mempertanyakan etika pekerjaan mereka. “Beberapa dari mereka kini mengatakan, ‘Tunggu dulu, apakah ini membuatmu menjadi pengkhianat? Apakah bekerja di pusat data berarti kamu semacam mengkhianati prinsip-prinsip yang lebih luas, bukan hanya prinsip tukang listrik, tetapi prinsip kemanusiaan?’” tulis laporan WIRED.
Di tingkat politik, Senator Bernie Sanders dan Anggota DPR Alexandria Ocasio-Cortez memperkenalkan Undang-Undang Moratorium Pusat Data yang akan menghentikan pembangunan pusat data AI baru sampai ada perlindungan nasional yang jelas. “Ini terdengar seperti isu yang sangat khas sayap kiri, tetapi mengejutkannya, ini cukup bipartisan. Ada orang-orang dari semua sisi yang terlibat karena konstituen mereka menghubungi mereka,” ujar Direktur Politik dan Sains WIRED Leah Feiger.
Baca Juga:
Sementara itu, sekelompok karyawan Amazon baru-baru ini mendesak Dewan Kota Seattle untuk mengatur pusat data. Bahkan pekerja yang secara finansial diuntungkan oleh industri ini ikut mendorong regulasi yang lebih ketat. “Ini menunjukkan bahwa penolakan datang dari dalam perusahaan itu sendiri, bukan hanya dari komunitas yang terdampak langsung,” tulis laporan tersebut.
Di Meta, skandal privasi internal baru-baru ini memaksa perusahaan menunda program pengumpulan data karyawan. Meta memasang perangkat lunak di perangkat karyawan untuk melacak setiap ketukan tombol dan aktivitas layar guna melatih AI, tetapi kemudian meninggalkan data sensitif tersebut terbuka dan dapat diakses oleh siapa pun di dalam Meta. Perusahaan kemudian mengumumkan jeda program tersebut sambil menyelidiki insiden kebocoran data.
Di sisi hubungan pemerintah, Anthropic mengalami kemajuan dalam pembicaraan dengan pemerintahan Trump setelah menunjuk perwakilan baru. “Pemerintahan sangat senang bahwa Tom Brown, salah satu pendiri Anthropic, dan Sarah Heck, kepala kebijakan publik perusahaan, yang memimpin komunikasi. Seorang pejabat bahkan mengatakan, ‘Tom Brown tidak menjadi orang aneh seperti Dario dan benar-benar bisa berkomunikasi secara efektif,’” tulis laporan WIRED.
Kebuntuan ini bermula ketika Badan Keamanan Nasional (NSA) menyatakan bahwa model AI canggih Anthropic, Fable 5 dan Mythos 5, memiliki celah keamanan yang memungkinkan peretasan. Pemerintah kemudian menerapkan kontrol ekspor yang melarang warga negara asing mengakses model tersebut. Karena tidak ada cara teknis untuk membedakan pengguna berdasarkan kewarganegaraan, Anthropic terpaksa menarik akses ke kedua model untuk semua pengguna.
Implikasi dari rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa industri AI dan hiburan kini berada dalam persimpangan yang rumit. Di satu sisi, investasi besar-besaran terus mengalir, menciptakan ketergantungan ekonomi yang sulit dihindari. Di sisi lain, gelombang penolakan dari berbagai lapisan masyarakat—dari warga, pekerja, hingga politisi lintas partai—menunjukkan bahwa era ekspansi tanpa hambatan mungkin akan segera berakhir. Bagi pembaca di Indonesia, dinamika ini relevan karena keputusan yang diambil oleh raksasa teknologi global akan memengaruhi arah kebijakan dan investasi AI di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
