Nothing Hentikan CMF Phone 2 Pro Akibat Kenaikan Harga RAM

Ilustrasi ponsel Nothing CMF Phone 2 Pro yang dibatalkan karena kenaikan harga RAM

JBNews.id — Nothing secara resmi menghentikan pengembangan penerus CMF Phone 2 Pro tahun ini. Keputusan tersebut diambil karena lonjakan harga komponen memori yang membuat perusahaan tidak mampu menghadirkan produk dengan harga yang kompetitif.

Co-founder Nothing, Akis Evangelidis, mengumumkan melalui unggahan di platform X bahwa timnya telah memutuskan untuk tidak meluncurkan ponsel CMF baru pada 2026. “Kami sedang mengerjakan penerusnya, tetapi dengan harga memori saat ini, kami tidak bisa membangun ponsel yang terasa seperti langkah maju yang sesungguhnya dengan harga yang masuk akal untuk CMF,” tulis Evangelidis.

Keputusan ini menjadi dampak langsung dari fenomena yang disebut sebagai ‘RAMageddon’ — lonjakan harga komponen memori global yang mempengaruhi seluruh rantai pasok industri smartphone. Nothing bergabung dengan sejumlah produsen lain yang terpaksa menyesuaikan strategi produk mereka akibat tekanan biaya ini.

Biaya Memori Melonjak Dua Kali Lipat

Pekan lalu, CEO dan co-founder Nothing, Carl Pei, mengungkapkan bahwa kelangkaan RAM telah berdampak signifikan terhadap biaya produksi ponsel kelas menengah perusahaan. “Untuk Phone 4A, biaya memori berlipat ganda antara saat kami memutuskan untuk membangun perangkat dan saat diluncurkan. Biaya itu telah berlipat ganda lagi sejak saat itu,” ujar Pei.

Menurut Pei, memori kini menjadi komponen termahal dalam sebuah smartphone. Pernyataan ini menegaskan pergeseran besar dalam struktur biaya produksi ponsel, di mana sebelumnya prosesor atau layar biasanya menjadi komponen dengan biaya tertinggi.

Fenomena ini tidak hanya dialami Nothing. Awal pekan ini, Tim Cook mengumumkan bahwa Apple akan menaikkan harga produknya, dengan menyatakan “situasi ini telah menjadi tidak berkelanjutan.” Hal ini menunjukkan bahwa tekanan biaya memori telah mencapai level yang memaksa pemain besar sekalipun untuk mengambil tindakan.

Situasi serupa telah memicu kenaikan harga ponsel di berbagai merek, terutama segmen entry-level dan mid-range yang margin keuntungannya lebih tipis.

CMF Masih Punya Produk Baru

Meskipun tidak akan ada ponsel CMF baru tahun ini, Evangelidis menambahkan dalam unggahannya bahwa CMF masih memiliki “beberapa produk baru yang akan diluncurkan serta beberapa kategori yang benar-benar baru.” Hal ini mengindikasikan bahwa sub-merek Nothing tersebut masih aktif mengembangkan perangkat di luar kategori smartphone.

Evangelidis juga memberikan isyarat bahwa “musim peluncuran smartphone di Nothing belum berakhir.” Pernyataan ini membuka kemungkinan bahwa perusahaan tetap akan merilis perangkat lain di bawah merek utama Nothing pada tahun 2026.

Dampak bagi Konsumen dan Industri

Keputusan Nothing untuk menghentikan CMF Phone 2 Pro mencerminkan tantangan struktural yang dihadapi industri smartphone saat ini. Kenaikan harga komponen memori — yang telah berlangsung sejak akhir 2024 — memaksa produsen untuk memilih antara menaikkan harga jual atau mengorbankan spesifikasi.

Bagi konsumen, implikasinya jelas: pilihan ponsel di segmen harga terjangkau akan semakin terbatas. CMF selama ini dikenal sebagai lini yang menawarkan spesifikasi kompetitif dengan harga di bawah Rp 3 jutaan. Tanpa penerus CMF Phone 2 Pro, celah di segmen ini akan semakin terasa.

Sementara itu, strategi diversifikasi produk Nothing — termasuk kemungkinan memasuki kategori perangkat baru — menunjukkan bahwa perusahaan berusaha tetap bertahan di tengah tekanan biaya. Langkah serupa juga diambil oleh produsen lain yang mulai mencari sumber pendapatan alternatif di luar smartphone.

Tekanan Biaya Meluas

Fenomena ‘RAMageddon’ tidak hanya berdampak pada Nothing. Apple, Samsung, dan Xiaomi juga dilaporkan menghadapi tekanan serupa. Kenaikan harga DRAM dan NAND flash — yang disebabkan oleh berkurangnya pasokan dari pemasok utama seperti Samsung Semiconductor, SK Hynix, dan Micron — telah mendorong biaya produksi naik secara signifikan.

Analis industri memperkirakan bahwa tekanan harga ini akan berlangsung setidaknya hingga paruh kedua 2026, tergantung pada seberapa cepat kapasitas produksi global dapat pulih. Jika tidak ada perubahan signifikan, konsumen mungkin harus bersiap menghadapi harga ponsel yang lebih tinggi di semua segmen.

Bagi Nothing, keputusan untuk menunda peluncuran CMF Phone 2 Pro adalah langkah pragmatis. Namun, hal ini juga menunjukkan bahwa bahkan merek dengan basis penggemar yang loyal pun tidak kebal terhadap dinamika pasar global.

Dengan tidak adanya ponsel CMF baru tahun ini, perhatian kini beralih ke strategi Nothing untuk merek utamanya. Apakah Phone 4A akan menjadi satu-satunya ponsel Nothing di 2026, atau akankah ada kejutan lain? Jawabannya mungkin akan terungkap dalam beberapa bulan mendatang.

Untuk pembaca yang ingin mengikuti perkembangan terbaru industri teknologi, perubahan harga komponen ini juga berpotensi mempengaruhi segmen lain seperti layanan berlangganan. Sebagai contoh, kenaikan harga layanan digital juga mulai terlihat di berbagai sektor.

Sementara itu, inovasi di luar perangkat keras tetap berlanjut. Beberapa perusahaan mulai mengembangkan agen AI sebagai pusat digital baru, yang bisa menjadi alternatif ketika harga perangkat keras terus meningkat.