JBNews.id — Tiga petinggi perusahaan teknologi global, yaitu CEO Snap Evan Spiegel, CEO Qualcomm Cristiano Amon, dan CEO Meta Mark Zuckerberg, secara terpisah meramalkan bahwa era kejayaan smartphone akan segera berakhir dan digantikan oleh perangkat wearable, khususnya kacamata pintar (AR glasses). Ramalan ini muncul di tengah kelelahan konsumen terhadap layar ponsel dan hadirnya teknologi komputasi baru yang lebih imersif.
Meskipun smartphone masih menjadi perangkat utama manusia dan diperkirakan tidak akan tergantikan dalam waktu dekat, keyakinan para petinggi ini didasari oleh data dan perubahan perilaku konsumen. Mereka melihat adanya celah pasar yang siap diisi oleh perangkat yang menawarkan pengalaman hands-free dan interaksi yang lebih alami dengan dunia digital.
Evan Spiegel, CEO Snap, menjadi yang paling vokal dengan memperkenalkan Specs, kacamata augmented reality (AR) pertama untuk masyarakat luas. Perangkat ini dibanderol dengan harga USD 2.195, atau lebih dari 15 kali lipat lebih mahal dibandingkan pendahulunya, Spectacles, yang hanya berfungsi sebagai kamera dan diluncurkan pada 2016. Spiegel yakin konsumen sudah sangat lelah menatap layar HP dan akan rela membayar mahal untuk solusi baru.
“Hampir 20 tahun sejak peluncuran iPhone, orang-orang kini siap memandang teknologi komputasi dengan cara berbeda,” ujar Spiegel yang dikutip JBNews.id dari CNBC. Ia menambahkan bahwa Specs dirancang untuk memberikan cara baru menikmati teknologi komputasi secara bersama-sama. “Specs benar-benar menghadirkan cara menikmati teknologi komputasi secara bersama-sama melalui pengalaman berbagi di dunia nyata, yakni dengan melihat lurus ke depan melalui lensa tembus pandang, alih-alih menatap layar pekat,” jelasnya.
Spiegel mengidentifikasi beberapa faktor yang mendorong perubahan ini, seperti nyeri leher akibat terus menunduk menatap layar ponsel dan perasaan kehilangan momen berharga sehari-hari. “Makin banyak orang mulai mempertanyakan kembali hubungan mereka dengan layar,” ungkapnya. Perangkat Specs direncanakan mulai dikirim akhir tahun 2026 di Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis.
Senada dengan Spiegel, CEO Qualcomm Cristiano Amon juga meyakini kacamata pintar akan menyaingi smartphone. Menurut Amon, menjamurnya agen AI dan perubahan cara kita menggunakan aplikasi akan mengubah interaksi pengguna dengan smartphone. Ia memperkirakan akan muncul kelas perangkat baru yang berpusat pada agen AI.
“Ponsel akan berpusat di sekitar agen. Kelas perangkat yang baru juga akan berpusat pada agen. Dan agen inilah yang akan memahami niat manusia dan akan melakukan banyak hal untuk Anda, jadi ada pergeseran mengenai apa yang menjadi titik pusatnya,” jelas Amon. Ia optimistis terhadap masa depan kacamata pintar, meskipun menambahkan bahwa ponsel tidak akan hilang sepenuhnya. Saat ini, pengiriman kacamata pintar mencapai puluhan juta unit per tahun, dan Amon memprediksi dalam beberapa tahun ke depan angkanya akan mencapai ratusan juta, setara dengan pasar smartphone saat ini.
Sementara itu, CEO Meta Mark Zuckerberg sudah lama menyuarakan prediksi serupa. Dalam visinya untuk satu dekade ke depan, perangkat wearable seperti kacamata pintar secara alami akan menggantikan HP. Perangkat ini menawarkan kebebasan lebih bagi pengguna dan mengurangi waktu menatap layar. Zuckerberg membayangkan dunia di mana kebiasaan terus-menerus menggenggam HP atau menunduk hingga leher pegal untuk scrolling akan ditinggalkan.
“Miliaran orang mengenakan kacamata atau lensa kontak untuk mengoreksi penglihatan. Dan saya rasa kita sedang berada di momen yang mirip dengan saat ponsel pintar pertama kali muncul, di mana jelas (saat itu) hanya tinggal menunggu waktu sampai semua ponsel lipat beralih menjadi ponsel pintar,” ujar Zuckerberg. Ia menambahkan, “Sulit membayangkan dunia beberapa tahun lagi di mana sebagian besar kacamata yang dikenakan orang bukanlah kacamata AI.”
Ketiga petinggi ini sepakat bahwa transisi menuju era pasca-smartphone tidak akan terjadi dalam semalam, namun momentumnya sudah mulai terlihat. Perubahan perilaku, kelelahan layar, dan kemajuan teknologi AR dan AI menjadi katalis utama pergeseran ini. Bagi industri teknologi di Indonesia dan global, prediksi ini menjadi sinyal untuk mulai berinvestasi pada ekosistem perangkat wearable.
Implikasinya bagi konsumen, terutama para pengguna awal (early adopter), adalah bahwa dalam beberapa tahun ke depan mereka akan dihadapkan pada pilihan perangkat yang lebih beragam. Kacamata pintar tidak lagi sekadar aksesori, tetapi perlahan menjadi pusat komputasi baru. Namun, adopsi massal masih membutuhkan waktu, terutama karena harga yang masih sangat tinggi dan infrastruktur yang belum matang.
Bagi para pengembang aplikasi dan pelaku bisnis, ramalan ini membuka peluang baru untuk menciptakan konten dan layanan yang dioptimalkan untuk platform AR. Agen AI yang diprediksi oleh Amon akan menjadi antarmuka utama, mengubah cara pengguna berinteraksi dengan aplikasi. Ini adalah pergeseran fundamental dari model aplikasi sentuh ke model interaksi suara dan gestur.
Meskipun demikian, Fitur Terbaru pada smartphone flagship masih akan terus menjadi primadona dalam jangka pendek. Pasar smartphone diprediksi masih akan bertahan setidaknya lima hingga sepuluh tahun ke depan, namun pertumbuhannya akan melambat seiring dengan bermunculannya alternatif baru seperti kacamata pintar.
Para analis industri menilai bahwa pernyataan para petinggi ini bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan cerminan dari riset internal yang serius. Snap, Qualcomm, dan Meta sama-sama memiliki investasi besar di bidang augmented reality. Langkah mereka untuk secara terbuka memprediksi “kematian smartphone” adalah upaya untuk membentuk persepsi pasar dan mempercepat adopsi.
Di sisi lain, konsumen mungkin masih skeptis. Kenyamanan dan fungsionalitas smartphone yang sudah mapan tidak akan mudah tergantikan. Namun, sejarah menunjukkan bahwa inovasi disruptif sering kali datang dari arah yang tidak terduga, dan para pemain besar ini sedang bertaruh bahwa kacamata pintar adalah masa depan komputasi personal.
Kesimpulannya, era smartphone mungkin belum berakhir, tetapi babak barunya sudah mulai ditulis. Para pentolan teknologi memberikan sinyal jelas bahwa perangkat wearable, khususnya kacamata pintar yang didukung AI, adalah penerus tahta smartphone. Bagi para pelaku industri dan konsumen di Indonesia, inilah saatnya untuk mulai mempersiapkan diri menyambut era komputasi baru yang lebih imersif dan hands-free.
