JBNews.id — Apple melipatgandakan target produksi MacBook Neo dari 5 juta menjadi 10 juta unit pada 2026 setelah ledakan permintaan pasar. Langkah agresif ini diambil di tengah ancaman krisis komponen global yang berpotensi mendorong kenaikan harga laptop entry-level seharga USD 600 (sekitar Rp 9,7 jutaan) tersebut.
Kehadiran MacBook Neo seharga USD 600 ternyata sukses besar memicu ledakan permintaan di pasar. Saking larisnya, Apple dilaporkan sampai melipatgandakan target produksi laptop ‘murah’ tersebut di tengah ancaman krisis komponen global.
Laporan dari analis kenamaan Ming-Chi Kuo mengungkap bahwa Apple telah merevisi target pengiriman internal MacBook Neo untuk tahun ini, dari 5 juta unit melesat menjadi 10 juta unit. Menurut data terbaru dari IDC, laptop entry-level ini berhasil terjual sekitar 1,1 juta unit hanya dalam waktu kurang dari tiga minggu pada kuartal lalu. Angka ini secara mengejutkan berhasil menyalip penjualan saudaranya yang lebih premium, yakni MacBook Air dan MacBook Pro.
Daya tarik laptop Apple di bawah harga Rp 10 jutaan tampaknya terlalu menggoda. Konsumen bahkan rela memaklumi spesifikasi “seadanya” dari MacBook Neo, yang diketahui ‘hanya’ menggunakan chip prosesor daur ulang dari iPhone serta kapasitas RAM bawaan yang cuma 8GB.
Baca Juga:
Dihantui Krisis Pasokan dan Ancaman Harga Naik
Namun, melipatgandakan produksi di situasi industri saat ini bukanlah perkara mudah. Saat pabrikan lain terpaksa menaikkan harga laptop akibat kelangkaan RAM, Apple juga dihadapkan pada masalah serupa. Pasokan memori (DRAM dan NAND) global saat ini tengah tersedot habis-habisan untuk kebutuhan pusat data AI.
Masalah lain muncul dari dapur pacu itu sendiri. Prosesor iPhone daur ulang yang menjadi rahasia di balik harga murah MacBook Neo mungkin akan segera habis karena penjualannya melampaui prediksi awal. Di sisi lain, kapasitas produksi pabrik chip TSMC untuk fabrikasi 3-nanometer saat ini sudah penuh sesak.
Imbasnya, Apple mungkin akan kesulitan mempertahankan harga miring USD 599 untuk produk cetakan baru, atau bahkan harus mencari cara lain agar margin keuntungannya tidak merugi. Situasi ini menjadi tantangan serius bagi strategi Apple dalam menguasai pasar laptop kelas entry-level.
Kesuksesan MacBook Neo ini juga menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana Apple terus berinovasi, termasuk belajar dari ketertinggalan AI untuk meningkatkan daya saing produknya.
Serangan Balik Windows
Kesuksesan gila-gilaan MacBook Neo ini rupanya membuat para produsen laptop Windows panik. Mereka kini bersiap meluncurkan serangan balik untuk merebut kembali pasar laptop kelas budget. Mengandalkan jajaran prosesor Intel Wildcat Lake terbaru, pabrikan raksasa seperti Asus, HP, dan Dell mulai membanjiri pasar dengan laptop seharga di bawah USD 600.
Dell bahkan langsung menantang Apple secara head-to-head dengan menghidupkan kembali lini XPS 13 versi murah. Lucunya, layaknya MacBook Neo, Dell XPS 13 versi murah ini juga hanya dibekali RAM 8GB. Padahal, mayoritas pakar teknologi sangat merekomendasikan RAM minimal 16GB agar sistem operasi Windows 11 bisa berjalan mulus.
Dalam laporan yang sama, Kuo juga sempat menyinggung soal tren AI lokal melalui peluncuran chip Nvidia RTX Spark. Namun, Kuo mencatat bahwa meski industri gencar mempromosikan pemrosesan AI langsung di perangkat (on-device), faktanya mayoritas pengguna saat ini masih lebih suka menggunakan AI berbasis cloud, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Senin (8/6/2026).
Bagi konsumen yang menantikan inovasi terbaru dari Apple, Apple Siapkan Kejutan Besar di WWDC 2026 yang bisa menjadi momentum penting bagi pengumuman produk-produk anyar.
Implikasi dari strategi produksi masif ini sangat jelas: Apple harus menyeimbangkan antara memenuhi permintaan yang melonjak dan menjaga profitabilitas di tengah tekanan biaya komponen. Jika harga MacBook Neo naik, daya tarik utamanya sebagai laptop Apple termurah akan berkurang. Sebaliknya, jika Apple mempertahankan harga, margin keuntungan bisa tergerus.
Bagi konsumen Indonesia yang menanti kehadiran MacBook Neo, situasi ini menjadi pertanda bahwa harga bisa berubah sewaktu-waktu. Keputusan Apple dalam beberapa bulan ke depan akan menentukan apakah laptop ini tetap menjadi pilihan paling terjangkau di ekosistem Apple atau justru kehilangan posisinya akibat tekanan biaya produksi.
