JBNews.id — Sekitar 150 pakar matematika dunia menandatangani deklarasi yang memperingatkan pemerintah agar tidak mudah percaya pada klaim berlebihan mengenai kemampuan kecerdasan buatan (AI) dalam memecahkan masalah matematika kompleks. Langkah ini merupakan respons terhadap serangkaian pengumuman sensasional dari industri teknologi yang dinilai melebih-lebihkan kapabilitas produk AI mereka.
Awal tahun ini, seorang pemuda berusia 23 tahun tanpa pelatihan matematika mengklaim berhasil menggunakan ChatGPT untuk memecahkan salah satu soal menantang dari matematikawan Hungaria, Paul Erdos. Klaim serupa kembali mencuat bulan lalu ketika OpenAI mengumumkan bahwa AI mereka berhasil mematahkan konjektur “jarak satuan” yang telah berusia 80 tahun, juga dirumuskan oleh Erdos.
“Ini menandai pertama kalinya AI secara otonom memecahkan masalah terbuka terkemuka yang menjadi pusat di bidang matematika,” sebut OpenAI dalam pernyataan resminya.
Namun, para ahli matematika justru menyambut klaim tersebut dengan skeptisisme mendalam. Dalam teguran publik yang disebut sebagai salah satu yang terkeras, para pakar menerbitkan “Deklarasi Leiden tentang AI dan Matematika” yang terdiri dari 11 halaman. Deklarasi ini menyerukan regulasi ketat dan pengawasan terhadap pengembangan AI di bidang matematika.
Baca Juga:
Kekhawatiran di Balik Klaim AI
Wakil Presiden International Mathematical Union, Ulrike Tillmann, menegaskan bahwa AI menimbulkan berbagai pertanyaan yang tidak boleh dibiarkan tanpa pengkajian serius. “Masa depan penelitian matematika harus dipandu penilaian manusia, praktik adil dan transparan, serta nilai-nilai bersama dari komunitas matematika global,” ujar Tillmann.
Deklarasi tersebut secara eksplisit menyoroti adanya “insentif komersial kuat di pihak industri teknologi untuk melebih-lebihkan kemampuan produk mereka.” Para pakar mendesak pembuat kebijakan untuk berkonsultasi dengan para ahli, termasuk matematikawan, sebelum mengambil keputusan terkait regulasi AI.
Lebih mengkhawatirkan lagi, model AI saat ini dinilai dapat menghasilkan solusi yang terdengar meyakinkan namun sebenarnya tidak valid. “Teknik otomatisasi saat ini dapat menghasilkan argumen yang terdengar masuk akal namun tak dapat diandalkan (atau bahkan salah) yang sulit dibedakan dari pembuktian matematika yang benar,” kata Kepala Ilmu Komputer Universitas Oxford, Leslie Ann Goldberg.
Dampak pada Akademisi dan Regulasi
Deklarasi Leiden juga menyoroti posisi rentan banyak akademisi di tengah hiruk-pikuk AI. Mendapatkan pendanaan baru menjadi sangat sulit sementara minat terhadap AI terus melonjak, yang sering kali memaksa para peneliti untuk mendukung teknologi tersebut dengan cara apa pun.
Dokumen tersebut juga mencatat adanya berbagai alasan lain untuk menyerukan regulasi yang melampaui bidang matematika. Ini termasuk keterlibatan industri AI dalam militer dan pengawasan massal, pengembangan teknologi yang mempromosikan misinformasi dan merusak demokrasi, serta dampak negatif terhadap lingkungan.
Antropolog AI Universitas Leiden, Rodrigo Ochigame, menyoroti isu etika lain yang tak kalah penting. “Matematikawan yang tak pernah berniat berkontribusi pada pengembangan AI mendapati karya mereka digunakan untuk tujuan ini tanpa persetujuan. Saya pikir itu adalah situasi yang sangat mengkhawatirkan,” katanya.
Fenomena ini mengingatkan pada dominasi AI influencer yang juga menimbulkan kekhawatiran serupa di ranah media sosial. Dalam kedua kasus, teknologi AI digunakan tanpa transparansi yang memadai, berpotensi menyesatkan publik.
Para pakar matematika menekankan bahwa klaim keberhasilan AI dalam memecahkan masalah matematika harus diverifikasi secara ketat oleh komunitas ilmiah sebelum diterima sebagai fakta. Mereka memperingatkan bahwa publikasi yang terburu-buru dan sensasional hanya akan merusak kredibilitas penelitian matematika dan AI itu sendiri.
Implikasinya bagi pembaca dan masyarakat luas sangat jelas: klaim tentang kemampuan AI, terutama dalam bidang yang membutuhkan presisi tinggi seperti matematika, harus disikapi dengan kritis. Jangan mudah terpengaruh oleh janji manis industri teknologi tanpa verifikasi dari para ahli independen.
Di sisi lain, insiden startup robot yang menghancurkan rumah sewa Airbnb untuk uji coba menunjukkan bahwa risiko dari teknologi yang tidak diatur dengan baik bisa sangat nyata dan mahal. Regulasi yang tepat menjadi krusial untuk mencegah kerugian lebih lanjut.
Deklarasi Leiden menjadi pengingat bahwa di tengah euforia AI, suara para ahli fundamental seperti matematikawan harus didengar. Mereka bukan menolak kemajuan, tetapi menuntut kejujuran, transparansi, dan akuntabilitas dalam pengembangan teknologi yang semakin memengaruhi kehidupan manusia.
