Blog

  • Robot Humanoid Phantom MK-1 Dikerahkan ke Medan Perang Ukraina

    Robot Humanoid Phantom MK-1 Dikerahkan ke Medan Perang Ukraina

    JBNews.id – Foundation Future Industries, startup robotika asal San Francisco, mencatat sejarah dengan mengirimkan dua unit robot humanoid Phantom MK-1 ke Ukraina. Langkah ini menandai pengerahan perdana robot berbentuk manusia di zona konflik aktif, membawa era baru dalam peperangan modern.

    CEO Foundation Future Industries, Sankaet Pathak, menyatakan bahwa tujuan utama perusahaan adalah menciptakan mesin yang mampu mengambil alih peran berbahaya dari manusia, khususnya untuk misi-misi di zona konflik. Kehadiran robot ini menjadi sorotan global, mengingat potensinya untuk mengubah lanskap pertempuran di masa depan.

    Meski demikian, berdasarkan uji coba di Ukraina, kemampuan Phantom MK-1 saat ini masih terbatas pada tugas logistik dasar. Robot ini difungsikan untuk mengambil dan mengantar pasokan, bukan sebagai “mesin pembunuh” otonom seperti yang digambarkan dalam film fiksi ilmiah. Keterbatasan teknis yang ada membuatnya belum bisa diandalkan untuk misi tempur skala penuh.

    Keterbatasan Teknis Phantom MK-1

    Phantom MK-1 masih memiliki sejumlah kekurangan yang signifikan. Kapasitas angkut maksimal robot ini hanya sekitar 20 kilogram, jauh dari cukup untuk membawa perlengkapan tempur berat. Selain itu, robot ini belum mengantongi sertifikasi tahan air, yang berarti operasinya sangat rentan terhadap kondisi cuaca buruk. Daya tahan baterai yang kurang memadai juga menjadi kendala utama untuk pengerahan dalam skala besar dan waktu yang lama.

    Namun, perusahaan tidak tinggal diam. Foundation berencana untuk mengirimkan generasi penerusnya, Phantom 2, ke Ukraina pada tahun ini juga. Model terbaru ini diklaim memiliki “kemampuan super” dengan kapasitas muatan dua kali lipat lebih besar dari pendahulunya, yang diharapkan dapat mengatasi keterbatasan teknis yang ada.

    Perkembangan teknologi militer seperti ini seringkali memicu perdebatan etis. Sebelumnya, penggunaan Robot Anjing untuk patroli keamanan di ajang olahraga internasional juga telah memicu kontroversi serupa.

    Ambisius Garis Depan Militer AS

    Ambisi militer Foundation telah melampaui sekadar tahap perencanaan. Perusahaan dilaporkan telah mengantongi kontrak penelitian pemerintah Amerika Serikat senilai USD 24 juta (sekitar Rp 390 miliar). Kontrak ini melibatkan Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara AS untuk menguji kelayakan robot dalam berbagai tugas, termasuk inspeksi area berbahaya, logistik dan suplai amunisi, hingga penanganan senjata.

    Pathak menargetkan agar robot-robot produksinya siap diuji di garis depan bersama militer AS dalam kurun waktu 12 hingga 18 bulan ke depan. Ia juga berencana meningkatkan skala produksinya hingga ribuan unit pada tahun ini, menunjukkan keseriusan perusahaan dalam memasuki industri pertahanan global.

    Di balik inovasi canggihnya, perusahaan ini juga tengah disorot secara politik. Kehadiran Eric Trump yang baru-baru ini bergabung sebagai Kepala Penasihat Strategi perusahaan telah memicu tuduhan korupsi dan kritik tajam dari Senator Demokrat, Elizabeth Warren. Isu ini menambah dimensi kompleks pada pengembangan teknologi militer yang kontroversial.

    Bayang-bayang Perang Otonom di Masa Depan

    AS bukan satu-satunya negara yang gencar menguji aplikasi militer dari robot humanoid. China, yang saat ini diyakini lebih unggul dalam skala manufaktur, efisiensi biaya, dan kecepatan komersialisasi, juga telah merilis sejumlah laporan terkait potensi mesin humanoid untuk peperangan. Bahkan, China telah mengambil langkah maju dengan mewajibkan robot humanoid untuk memiliki identitas resmi, seperti yang diatur dalam kebijakan KTP Nasional.

    Tren ini memicu kekhawatiran global yang semakin membesar. Dengan hadirnya agen AI yang mendorong senjata otonom penuh—seperti kapal perang nirawak hingga jet tempur yang dikendalikan AI—potensi penghapusan manusia dari rantai keputusan mematikan (kill-chain) menjadi isu etis yang sangat serius.

    Generasi pertama robot humanoid mungkin saat ini hanya terlihat tertatih-tatih di medan perang sambil membawa ransum dan amunisi. Namun, arah perkembangan teknologi ini di masa depan menjadi peringatan yang patut diwaspadai. Penggunaan robot dalam konflik bersenjata bukan lagi sekadar imajinasi, melainkan realitas yang tengah berlangsung.

    Implikasinya bagi pembaca sangat jelas: dunia sedang menyaksikan lahirnya era baru dalam peperangan. Kemampuan untuk mengambil keputusan hidup dan mati secara perlahan bergeser dari tangan manusia ke mesin. Ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang masa depan etika perang dan kemanusiaan itu sendiri.

    Sementara itu, isu lingkungan global seperti ancaman Sampah Antariksa yang mengancam Bumi juga menjadi pengingat bahwa teknologi, jika tidak dikelola dengan bijak, dapat membawa dampak negatif yang luas.

  • AS Gunakan Madis untuk Lumpuhkan Drone Iran Tanpa Rudal Mahal

    AS Gunakan Madis untuk Lumpuhkan Drone Iran Tanpa Rudal Mahal

    JBNews.id — Amerika Serikat mulai menerapkan taktik baru untuk melumpuhkan drone kamikaze Iran tanpa harus mengandalkan rudal mahal, melalui sistem pertahanan udara bergerak bernama Marine Air Defense Integrated System atau Madis. Langkah ini muncul sebagai respons terhadap gelombang serangan drone Shahed buatan Iran yang membanjiri pertahanan udara AS di Timur Tengah, memaksa penggunaan rudal dengan biaya produksi hingga sepuluh kali lipat lebih mahal.

    Bagi Korps Marinir AS, Madis menjadi bagian penting dari solusi. Sistem ini terdiri dari dua unit Joint Light Tactical Vehicles (JLTV), kendaraan taktis penerus Humvee, yang diproduksi oleh Kongsberg Defence & Aerospace. Satu kendaraan dilengkapi radar untuk penargetan objek terbang seperti drone, sementara sistemnya juga memiliki kemampuan perang elektronik seperti pengacauan sinyal. Platform Madis mengintegrasikan serangkaian sensor dan senjata pada sasis JLTV, memungkinkan pertahanan udara bergerak yang lebih fleksibel di medan operasi.

    Dalam konflik di Timur Tengah, AS dan negara-negara Teluk selama ini menggunakan helikopter serta pesawat yang dilengkapi senapan untuk menembak drone Iran. Namun, mereka masih bergantung pada rudal udara ke udara yang mahal dan sulit diproduksi, seperti AIM-120 yang harganya mencapai USD 1 juta atau sekitar Rp 16 miliar per unit, menurut laporan Center for Strategic and International Studies. Gagasan utama Madis adalah memberikan opsi bagi komandan di lapangan—baik senapan, rudal, maupun perang elektronik—sehingga mereka dapat memilih cara terbaik melindungi pasukan tanpa menguras anggaran.

    Senapan Rantai XM914 sebagai Andalan

    Madis menggunakan senapan rantai XM914 30mm buatan Northrop Grumman untuk serangan tembakan cepat terhadap drone dan ancaman ketinggian rendah lainnya. Peluru-peluru yang digunakan dirancang khusus untuk meningkatkan efektivitas terhadap target udara berukuran kecil dan bergerak cepat, yang umumnya sulit diserang dengan sistem pertahanan udara tradisional. Selain senapan mesin, Madis juga memiliki opsi rudal Stinger untuk hantaman yang lebih besar jika diperlukan.

    Meskipun jauh lebih murah dibandingkan rudal, para produsen pertahanan AS masih menghadapi tantangan dalam memproduksi peluru senapan tersebut dalam jumlah memadai. “Ada begitu banyak jenis drone di luar sana, Anda tidak tahu persis apa yang akan Anda hadapi. Anda hanya bisa berharap data intelijen akurat, lalu Anda maju ke medan dengan semua persenjataan yang Anda miliki, sambil berharap yang terbaik,” kata Sersan Staf Konie dari militer AS yang dikutip detikINET dari WSJ.

    Implikasi bagi Pertahanan Global

    Penggunaan Madis menandai pergeseran strategi pertahanan udara AS dari pendekatan berbasis rudal mahal menuju solusi yang lebih ekonomis dan adaptif. Dengan biaya per rudal AIM-120 yang mencapai Rp 16 miliar, setiap drone Shahed yang berhasil ditembak jatuh menggunakan senapan XM914 dapat menghemat anggaran pertahanan secara signifikan. Bagi industri pertahanan global, langkah ini mendorong pengembangan sistem serupa yang mengintegrasikan perang elektronik dan persenjataan konvensional untuk menghadapi ancaman drone yang semakin masif.

    Kemampuan Madis untuk beroperasi secara mobile dan mengintegrasikan berbagai jenis sensor serta senjata dalam satu platform menjadikannya solusi yang relevan tidak hanya bagi AS, tetapi juga bagi negara-negara sekutu yang menghadapi ancaman drone murah namun mematikan. Sistem ini menawarkan fleksibilitas yang sebelumnya tidak dimiliki oleh sistem pertahanan udara tradisional yang cenderung statis dan mahal.

    Dalam konteks yang lebih luas, persaingan di kancah teknologi pertahanan juga terjadi di sektor lain. Misalnya, di bidang teknologi sipil, Microsoft Build 2026 baru saja meluncurkan inovasi seperti Surface AI PC dan chip quantum baru yang menandai kemajuan signifikan di industri komputasi. Sementara itu, di sektor pendidikan dan industri, Dedi Mulyadi targetkan 100 siswa beasiswa industri sebagai upaya menciptakan kelas menengah baru di Jawa Barat.

    Bagi pembaca, implikasi dari pengembangan Madis sangat jelas: biaya perang melawan drone semakin terjangkau, namun tetap efektif. Ini berarti perlindungan terhadap aset militer dan personel dapat dilakukan tanpa harus mengorbankan anggaran pertahanan yang besar. Di masa depan, sistem serupa kemungkinan akan diadopsi oleh lebih banyak negara untuk menghadapi ancaman drone yang terus berkembang.

    Tantangan terbesar tetap pada produksi amunisi yang memadai dan akurasi data intelijen untuk mengidentifikasi jenis drone yang akan dihadapi. Namun, dengan integrasi radar, perang elektronik, dan persenjataan dalam satu platform mobile, Madis menawarkan solusi yang lebih adaptif dibandingkan pendekatan konvensional. Dunia pertahanan kini menyaksikan perubahan paradigma: dari rudal mahal menuju senjata cerdas yang lebih ekonomis namun tetap mematikan.

  • Robot Anjing Tempur Taiwan: Teknologi Perang Masa Depan

    Robot Anjing Tempur Taiwan: Teknologi Perang Masa Depan

    JBNews.id, Jakarta — Taiwan memamerkan robot anjing tempur canggih buatan Ghost Robotics, Amerika Serikat, di fasilitas riset militernya. Teknologi ini dirancang untuk mendukung operasi militer masa depan dengan kemampuan bergerak di medan berisiko tinggi.

    Demonstrasi yang digelar di Taipei ini memperlihatkan robot berkaki empat yang mampu berjalan, berlari, bermanuver, dan menjaga keseimbangan di permukaan tidak rata. Kemampuan tersebut menjadikannya aset potensial untuk misi pengintaian, patroli, dan pemantauan wilayah.

    Produk dari Ghost Robotics ini merupakan salah satu pemasok utama robot anjing untuk kebutuhan militer dan keamanan global. Taiwan sendiri terus memperkuat pertahanannya di tengah dinamika keamanan kawasan yang semakin kompleks.

    Para pengamat menilai robot darat berkaki empat ini dapat mengurangi risiko terhadap personel militer dalam situasi berbahaya. Teknologi ini dipandang sebagai elemen penting dalam peperangan modern, melengkapi dominasi kendaraan tanpa awak dan drone sebelumnya.

    Kemunculan robot ini menunjukkan bahwa era teknologi perang masa depan bukan lagi imajinasi, melainkan mulai hadir di hadapan publik. Taiwan berupaya meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai tantangan melalui pengembangan dan pengenalan teknologi baru.

    Dalam demonstrasi tersebut, anjing robot memperlihatkan kemampuannya bergerak di berbagai medan dengan stabil dan lincah. Robot mampu berjalan, berlari, bermanuver, serta menjaga keseimbangan di permukaan yang tidak rata. Kemampuan tersebut menjadikannya salah satu teknologi yang dinilai cocok untuk mendukung operasi di lingkungan berisiko tinggi.

    Robot Anjing Tempur Taiwan

    Taiwan sendiri terus berupaya memperkuat kemampuan pertahanannya di tengah dinamika keamanan kawasan yang semakin kompleks. Pengembangan dan pengenalan teknologi baru, termasuk robot militer, menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

    Kemunculan anjing robot tempur ini juga memperlihatkan bagaimana teknologi militer terus berkembang pesat. Jika sebelumnya kendaraan tanpa awak dan drone mendominasi inovasi pertahanan, kini robot darat berkaki empat mulai dipandang sebagai elemen penting dalam peperangan modern.

    Robot Anjing Tempur Taiwan

    Para pengamat menilai robot berkaki empat seperti ini dapat digunakan untuk berbagai misi militer, mulai dari pengintaian, patroli, pemantauan wilayah, hingga membantu pasukan di daerah yang sulit dijangkau manusia. Kehadirannya diharapkan mampu mengurangi risiko terhadap personel militer dalam situasi berbahaya.

    Demonstrasi di Taipei menjadi salah satu bukti bahwa era teknologi perang masa depan bukan lagi sekadar imajinasi, melainkan mulai hadir di hadapan publik.

    Perkembangan ini sejalan dengan tren global adopsi robot militer oleh berbagai negara. Fenomena serupa juga terlihat di ajang olahraga internasional, seperti Robot Anjing Boston Dynamics yang memicu kontroversi saat dipakai patroli Piala Dunia 2026. Sementara itu, China mengambil langkah berbeda dengan wajibkan robot humanoid miliki KTP Nasional.

    Robot Anjing Tempur Taiwan

    Bagi pembaca, implikasi dari pengembangan ini jelas: teknologi robot militer semakin matang dan siap diimplementasikan. Ini berarti potensi perubahan signifikan dalam strategi pertahanan global, di mana risiko terhadap personel dapat diminimalkan dengan kehadiran robot darat yang andal.

    Robot Anjing Tempur Taiwan

    Pameran ini juga menjadi sinyal bagi negara-negara lain untuk mulai mengadopsi teknologi serupa guna menjaga keamanan dan kesiapan militer mereka. Taiwan, dengan langkah ini, menunjukkan komitmennya dalam memanfaatkan inovasi terkini untuk pertahanan.

    Robot Anjing Tempur Taiwan

    Dengan demikian, robot anjing tempur bukan sekadar alat, melainkan representasi dari masa depan pertahanan yang lebih cerdas, aman, dan efisien.

  • Wisata Studi Robot Humanoid Jadi Tren Baru Pendidikan di China

    Wisata Studi Robot Humanoid Jadi Tren Baru Pendidikan di China

    JBNews.id, Beijing — Industri robot humanoid yang berkembang pesat di China tidak hanya menjadi hasil penting dari strategi pembangunan berbasis inovasi pemerintah, tetapi juga memicu tren baru di kalangan anak muda: wisata studi robot humanoid. Program-program ini dengan cepat menjadi pilihan baru yang menarik untuk pembelajaran di luar kelas, mengubah pola pendidikan dari ruang kelas pasif menjadi interaksi langsung dengan teknologi industri.

    Wisata Studi Dalam Praktik Beijing berada di garis depan tren tersebut. Pada 16 Mei, Distrik Shijingshan meluncurkan program wisata studi teknologi di Pusat Pelatihan Data Robot Humanoid setempat, yang memadukan unsur budaya, pariwisata, teknologi, industri, dan kreativitas untuk menghadirkan pengalaman edukatif yang imersif. Pusat pelatihan tersebut merupakan fasilitas terbesar dari jenisnya di China dengan luas lebih dari 10.000 meter persegi dan menghasilkan lebih dari 6 juta sampel data setiap tahun, mengundang para pelajar untuk menjadi “pelatih magang” dengan terlibat dalam pengumpulan data serta pengendalian robot secara langsung.

    Selain di ibu kota China, pusat-pusat teknologi lainnya juga menawarkan pengalaman yang khas. Di Hangzhou, ibu kota Provinsi Zhejiang di China timur sekaligus rumah bagi Unitree Robotics, perusahaan robotika terkemuka yang dikenal dengan robot humanoid dan robot berkaki empatnya, para pelajar menjelajahi teknologi dalam lingkungan yang kreatif. Pusat pengalaman eksplorasi robot berwujud di sebuah taman laut setempat memadukan pameran bertema kelautan dengan lebih dari 300 robot canggih, yang memungkinkan para pelajar mengoperasikan robot anjing, berkompetisi dalam sepak bola robot, serta berinteraksi dengan pendamping berbasis kecerdasan buatan (AI).

    Program Mendalam di Shenzhen

    Di Shenzhen, pusat inovasi nasional sekaligus basis EngineAI Robotics, perusahaan terdepan dalam pengembangan robot humanoid full-stack mulai dari desain sendi hingga algoritma inti, program wisata studi berkembang ke tingkat yang lebih mendalam. Inisiatif bertajuk “Perhatian Anak-Anak Tertuju pada Manufaktur Pintar” (Children’s Eyes on Smart Manufacturing) di kota tersebut memilih 80 lokasi wisata industri mutakhir yang mencakup sektor AI, robotika, dan semikonduktor.

    Kemitraan perintis antara STEMHUB, platform inovatif lokal yang berfokus pada penelitian dan praktik pendidikan STEM mutakhir, dan EngineAI Robotics telah memperkenalkan model robot humanoid SA01 milik EngineAI ke ruang-ruang kelas tingkat K-12, disertai pengembangan bersama kursus STEM yang memungkinkan para siswa memprogram serta berinteraksi langsung dengan robot humanoid.

    Booming Robot Humanoid di China

    Berbagai kegiatan edukatif yang dinamis tersebut tidak muncul begitu saja. Semua itu merupakan hasil langsung dari sektor robotika humanoid China yang berkembang semakin matang, sebuah industri yang kini tengah berkembang dengan laju yang sangat pesat. Menurut Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) China, badan perencana ekonomi tertinggi negara tersebut, sektor kecerdasan berwujud yang dicontohkan oleh robot humanoid tumbuh dengan laju tahunan lebih dari 50 persen dan diproyeksikan mencapai nilai pasar lebih dari 1 triliun yuan (1 yuan = Rp2.642) atau sekitar 146,66 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.883) pada 2035.

    Data resmi menunjukkan bahwa hingga akhir 2025, China memiliki lebih dari 150 perusahaan robot humanoid. Pemerintah China telah mengangkat kecerdasan berwujud sebagai prioritas strategis nasional, dengan kebijakan-kebijakan yang bertujuan untuk mempercepat terobosan dalam teknologi inti dan menetapkan standar industri.

    Siswa menyaksikan pertunjukan robot anjing cerdas di Meishan, Sichuan

    Namun, industri yang didukung oleh inovasi mutakhir tidak dapat berkembang tanpa tenaga kerja yang terlatih untuk masa depan, yang telah mendorong pendidikan iptek ke puncak agenda kebijakan nasional. Pada November 2025, Kementerian Pendidikan China bersama enam departemen pemerintah lainnya mengeluarkan sebuah pemberitahuan tentang penguatan pendidikan iptek di sekolah dasar dan menengah, yang menjadi dokumen kebijakan pertama yang secara resmi memperkenalkan konsep pendidikan iptek dalam sistem pendidikan dasar China.

    Dokumen tersebut dengan jelas menyatakan bahwa penguatan pendidikan iptek di sekolah dasar dan menengah merupakan jalur penting untuk mendukung strategi pembangunan nasional yang didorong oleh inovasi serta membina talenta inovasi iptek masa depan. Dokumen tersebut juga menetapkan target yang jelas: pada 2030, China bertujuan membangun sebuah sistem pendidikan iptek yang komprehensif. Pada 2035, ekosistem pendidikan iptek yang lengkap akan terbentuk, dengan sistem pendukung sumber daya sosial terus ditingkatkan serta pembelajaran berbasis proyek, berbasis inkuiri, dan interdisipliner diadopsi secara luas.

    Dampak Langsung bagi Pelajar

    Dengan pemerintah mendorong sumber daya sosial untuk mendukung pembelajaran berbasis proyek dan sektor swasta berinvestasi besar-besaran dalam robotika, wisata studi robot humanoid ini berada pada posisi yang tepat untuk menjadi program unggulan dalam lanskap pendidikan generasi muda di China. Di Shanghai, anak-anak muda dari kelompok minat iptek setempat mengunjungi pusat inkubator inovasi robot humanoid kota tersebut pada awal Mei lalu. Di sana, mereka berjabat tangan dengan robot humanoid, bermain “batu-kertas-gunting” melawan tangan robot, menyelesaikan tantangan pelacakan visual, serta menyaksikan robot anjing cerdas berlari dan merespons perintah di luar ruangan.

    Bagi Zhang Zhenkun, siswa kelas lima, wisata studi robot humanoid membuat apa yang selama ini hanya dia lihat di televisi menjadi kenyataan. Setelah berjabat tangan dengan robot humanoid Unitree, model yang sama dengan yang melenggang di atas panggung peragaan busana pada Shanghai Fashion Week beberapa pekan sebelumnya, Zhang hampir tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya. “Robot ini benar-benar canggih. Desainnya dekat dengan kehidupan sehari-hari namun sekaligus melampauinya,” ujar Zhang. “Saya pasti akan menceritakan hal ini kepada teman-teman saya besok.”

    Fenomena ini menunjukkan bagaimana integrasi antara industri robotika dan pendidikan di China menciptakan model pembelajaran baru yang relevan dengan kebutuhan era digital. Bagi para pengamat pendidikan dan pelaku industri di Indonesia, perkembangan ini bisa menjadi referensi berharga. Sebagai perbandingan, Penemuan Arkeologi yang mengubah sejarah juga menunjukkan bagaimana inovasi bisa lahir dari berbagai bidang. Sementara itu, kesiapan infrastruktur menjadi kunci, seperti yang terlihat dalam persiapan Porprov Banten VII 2026 yang membutuhkan koordinasi matang.

    Implikasi faktual dari tren ini sangat jelas: China sedang membangun fondasi sumber daya manusia yang siap menghadapi era kecerdasan buatan dan robotika. Dengan target sistem pendidikan iptek yang komprehensif pada 2030 dan ekosistem lengkap pada 2035, investasi di sektor ini tidak hanya akan menghasilkan tenaga kerja terampil tetapi juga memperkuat posisi China sebagai pemimpin global dalam teknologi robot humanoid.

  • Indonesia Kurang Serap Pajak dari Raksasa Teknologi Global

    Indonesia Kurang Serap Pajak dari Raksasa Teknologi Global

    JBNews.id — Indonesia dinilai belum optimal dalam menyerap kewajiban perpajakan dari perusahaan over-the-top (OTT) global, meskipun memiliki pasar digital yang besar dan terus bertumbuh. Ketimpangan kontribusi antara raksasa teknologi global dan pelaku usaha lokal ini menjadi sorotan berbagai kalangan, yang mendorong pemerintah untuk segera memperkuat regulasi demi menciptakan keadilan fiskal dan kedaulatan digital nasional.

    Direktur Ekonomi Celios, Nailul Huda, menilai Indonesia sebenarnya telah memiliki landasan hukum untuk mengenakan kewajiban perpajakan kepada perusahaan digital yang memperoleh manfaat ekonomi signifikan dari pasar domestik, meskipun tidak memiliki kantor fisik di Indonesia. “Kita punya preseden di Undang-Undang Cipta Kerja dimana ada pasal terkait dengan significant economic presence. Jadi meskipun dia tidak punya kantor fisik di Indonesia, kalau mempunyai aktivitas yang signifikan di Indonesia, kita punya hak untuk menerapkan pajak termasuk PPh badan,” ujar Huda dikutip dari pernyataan tertulis, Rabu (3/6/2026).

    Menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan transparansi dan validasi data dalam mekanisme perpajakan digital yang sudah berjalan saat ini. “Hingga saat ini belum ada mekanisme bahwa kita memvalidasi yang disetorkan Netflix itu berdasarkan data subscriber yang benar atau tidak. Sampai sekarang itu belum ada,” kata Huda. Ia menegaskan bahwa pembahasan mengenai OTT tidak semata-mata berkaitan dengan penerimaan negara. “Kita harapkan ada keadilan fiskal ketika perusahaan OTT global pendapatannya signifikan dan sustain, tetapi pelaku industri di dalam negeri termasuk ekonomi kreatif tidak mendapatkan fair share yang optimal. Kondisi ini harus diregulasi oleh pemerintah demi pemerataan pembangunan dan peningkatan kontribusi industri ke negara,” tuturnya.

    Senada, Ketua Kelompok Fraksi PDI Perjuangan Komisi XI DPR RI, Harris Turino, menekankan bahwa aturan yang diterapkan Indonesia harus berlaku universal kepada seluruh platform global tanpa membedakan asal negaranya. “Perusahaan global digital, baik dari Arab, China, Amerika, kalau masuk Indonesia harus ikut aturan Indonesia, berarti harus membayar pajak. Jangan hanya mengambil keuntungan saja dari Indonesia,” tegas Harris.

    Disampaikan Harris, selama ini terdapat ketimpangan yang cukup besar antara pelaku usaha lokal dan platform digital global. Pelaku usaha nasional diwajibkan membayar pajak, mematuhi berbagai regulasi, membangun infrastruktur, serta menciptakan lapangan kerja, sementara sebagian platform global hanya berkontribusi terbatas melalui mekanisme PPN yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen. “Ini tidak adil. Kalau mereka ambil keuntungan dari rakyat Indonesia, ya mereka juga harus bayar keadilan untuk Indonesia,” ucapnya.

    Ia juga menilai Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat untuk menerapkan kebijakan tersebut. Harris berpandangan bahwa Indonesia punya nilai tawar yang cukup untuk mengatasi persoalan tersebut, terutama kepada perusahaan teknologi global yang beroperasi di Tanah Air. Selain aspek perpajakan, Harris menilai isu kedaulatan digital juga perlu mendapat perhatian lebih besar, termasuk melalui penguatan kebijakan lokalisasi data.

    Sementara itu, Ketua Tim Ekonomi Digital Kementerian PPN/Bappenas, Reza Adityan, menilai tujuan utama kebijakan digital seharusnya adalah menciptakan level playing field antara pelaku lokal dan global. Ia mengatakan pengembangan kebijakan digital harus melihat keseluruhan ekosistem, termasuk kreator, rumah produksi, bioskop, dan pelaku industri kreatif lainnya. “Jadi menurut kami sekalian saja ekosistemnya dibuat luas,” katanya. Reza menambahkan bahwa lokalisasi data menjadi salah satu faktor penting untuk memperkuat pengawasan, transparansi, dan tata kelola industri digital nasional.

    Berbagai usulan tersebut mengemuka dalam Diseminasi Hasil Studi Tata Kelola Industri Over the Top (OTT) di Indonesia yang diselenggarakan Center of Economic and Law Studies (Celios) di Jakarta, Selasa (2/6/2026). Forum tersebut mempertemukan perwakilan pemerintah, DPR, akademisi, dan lembaga riset untuk membahas berbagai opsi kebijakan dalam mendorong kontribusi industri OTT terhadap perekonomian nasional, penerimaan negara, serta penguatan kedaulatan digital Indonesia.

    Ketimpangan kontribusi ini menjadi isu krusial di tengah pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang pesat. Pemerintah didorong untuk segera mengambil langkah konkret, termasuk dengan memanfaatkan Harga Terbaru dari regulasi yang ada, guna memastikan bahwa setiap perusahaan yang menikmati keuntungan dari pasar Indonesia memberikan kontribusi yang adil. Implikasinya bagi pembaca adalah bahwa kebijakan ini berpotensi meningkatkan penerimaan negara yang dapat digunakan untuk pembangunan, serta menciptakan iklim persaingan yang lebih sehat antara pelaku usaha lokal dan global.

    Dengan pasar digital yang bernilai triliunan rupiah, Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat untuk menuntut keadilan. Langkah tegas pemerintah dalam meregulasi Sampah Antariksa mungkin tidak relevan, namun regulasi terhadap platform digital adalah keniscayaan. Tanpa regulasi yang kuat, Indonesia dikhawatirkan akan terus kehilangan potensi penerimaan yang signifikan dari sektor digital yang justru menjadi salah satu motor penggerak ekonomi nasional.

    Ke depannya, pemerintah diharapkan tidak hanya fokus pada aspek perpajakan, tetapi juga memperkuat aspek kedaulatan digital melalui lokalisasi data dan pengawasan yang ketat. Langkah ini akan memastikan bahwa data warga negara Indonesia tidak dimanfaatkan secara sepihak oleh perusahaan global tanpa adanya transparansi dan manfaat timbal balik yang jelas bagi negara.

    Forum yang digelar Celios ini menjadi momentum penting untuk mendorong percepatan kebijakan yang adil dan berkelanjutan di sektor digital. Dengan sinergi antara pemerintah, DPR, akademisi, dan pelaku industri, Indonesia diharapkan dapat segera mewujudkan tata kelola industri OTT yang lebih baik, yang tidak hanya menguntungkan perusahaan global, tetapi juga memberikan manfaat maksimal bagi perekonomian dan kedaulatan digital nasional.

  • Microsoft Build 2026: Surface AI PC, Scout, dan Chip Quantum Baru

    Microsoft Build 2026: Surface AI PC, Scout, dan Chip Quantum Baru

    JBNews.id — Microsoft resmi membuka konferensi Build 2026 dengan serangkaian pengumuman besar, mulai dari perangkat Surface baru berbasis AI, asisten pribadi yang selalu aktif, hingga chip quantum generasi terbaru. CEO Satya Nadella memimpin keynote yang sarat dengan inovasi di bidang kecerdasan buatan dan komputasi.

    Salah satu sorotan utama adalah kehadiran Surface RTX Spark Dev Box, sebuah PC mini yang dirancang khusus untuk pengembang AI. Perangkat ini dibekali chip Spark RTX buatan Nvidia berbasis arsitektur Arm dan 128GB memori terpadu, menjadikannya alternatif bagi pengembang yang ingin menjalankan model AI secara lokal. Perangkat ini juga telah dipasangi aplikasi pra-instal seperti Visual Studio Code dan GitHub Copilot, serta versi Windows 11 Pro yang dikonfigurasi khusus dengan mode gelap sebagai bawaan, taskbar yang disederhanakan, dan tanpa widget.

    Microsoft belum mengumumkan harga atau spesifikasi lengkap Surface RTX Spark Dev Box, namun perangkat ini dijadwalkan tersedia di Amerika Serikat pada tahun ini. Langkah ini merupakan respons langsung atas pembatalan perangkat dev kit milik Qualcomm, sekaligus menegaskan komitmen Microsoft dalam menyediakan perangkat keras khusus untuk ekosistem AI.

    Selain perangkat keras, Microsoft juga memperkenalkan sejumlah pembaruan pada sistem operasi Windows yang ditujukan untuk meningkatkan produktivitas pengembang. Fitur baru seperti Coreutils, yang oleh Microsoft disebut sebagai “utilitas baris perintah ala Linux yang berjalan secara native” di Windows 11, menjadi salah satu andalan. Tidak hanya itu, Microsoft juga meluncurkan kemampuan untuk membuat, menjalankan, dan berinteraksi dengan kontainer Linux melalui Windows Subsystem for Linux (WSL). Sebuah Intelligent Terminal baru juga diperkenalkan untuk memberikan konteks kepada agen AI pilihan pengembang.

    Dalam sesi keynote, Microsoft juga memberikan gambaran sekilas tentang Project Solara, sebuah sistem operasi berbasis Android yang dirancang untuk menjalankan agen AI di berbagai perangkat. Microsoft bekerja sama dengan Qualcomm dan MediaTek dalam pengembangan sistem ini. Solara diharapkan dapat berfungsi sebagai pendamping PC atau memfasilitasi perpindahan tugas antar perangkat. Dalam demonstrasi, Microsoft menampilkan beberapa perangkat contoh yang mungkin menjalankan teknologi ini, termasuk hub desktop dan lencana digital.

    Salah satu pengumuman yang paling menarik perhatian adalah peluncuran Scout, asisten yang selalu aktif yang dibangun di atas platform OpenClaw. Scout bekerja dengan aplikasi Microsoft 365 termasuk Outlook, OneDrive, dan Microsoft Teams. Asisten ini dirancang untuk melakukan tugas di latar belakang, membantu bisnis dalam mengatur kalender, mengelola pelaporan biaya, menulis email, dan banyak lagi. Scout merupakan bagian dari rangkaian agen “Autopilot” yang lebih luas yang direncanakan Microsoft, di mana setiap agen akan memiliki “identitas” sendiri. Saat ini, Scout diluncurkan dalam pratinjau desktop untuk pelanggan Frontier di AS, dengan rencana perluasan ketersediaan di masa mendatang.

    Di bidang kecerdasan buatan, Microsoft memperkenalkan tujuh model AI baru, termasuk MAI-Thinking-1 yang disebut sebagai model penalaran pertama buatan Microsoft. Model ini memiliki 35 miliar parameter aktif dan jendela konteks 128K yang dirancang untuk “instruksi multi-langkah yang kompleks, penalaran konteks panjang, dan pembuatan kode.” Selain itu, Microsoft juga mengumumkan pembaruan di berbagai model yang berfokus pada gambar, suara, dan pembuatan kode, serta transkripsi.

    Untuk meningkatkan keamanan agen AI, Microsoft meluncurkan Microsoft Execution Containers (MXC). Fitur ini memungkinkan pengembang menetapkan batasan bagi agen AI tentang apa yang dapat mereka akses di perangkat. Microsoft juga meluncurkan aplikasi pendamping OpenClaw yang memungkinkan pengguna untuk menyiapkan agen sendiri atau terhubung dengan agen yang sudah ada, yang akan berjalan di lingkungan sandbox.

    Terakhir, Microsoft mengungkapkan chip komputasi quantum generasi terbaru yang disebut Majorana 2. Chip ini mengandung qubit — unit informasi dalam komputasi quantum — yang 1.000 kali lebih akurat dibandingkan generasi sebelumnya. Microsoft mengaitkan peningkatan kinerja ini dengan tumpukan material baru yang menggunakan timbal dan senyawa lainnya. Dengan perkembangan ini, Microsoft optimistis dapat mencapai targetnya untuk menciptakan komputer quantum yang praktis pada tahun 2029. Informasi lebih lanjut tentang chip ini dapat dibaca pada artikel Chip Quantum 1.000 Kali Lebih Andal.

    Seluruh rangkaian pengumuman di Build 2026 menunjukkan arah baru Microsoft yang semakin fokus pada integrasi AI di setiap lapisan produknya, dari perangkat keras hingga sistem operasi dan layanan cloud. Bagi pengembang dan profesional TI, ini adalah sinyal bahwa ekosistem Microsoft akan semakin bergantung pada kecerdasan buatan untuk meningkatkan produktivitas dan keamanan. Sementara itu, bagi pengguna umum, kehadiran Scout dan peningkatan pada Windows 11 menjanjikan pengalaman yang lebih personal dan efisien.

    Implikasi dari pengumuman ini sangat luas. Dengan kehadiran Surface RTX Spark Dev Box, Microsoft secara tidak langsung menantang dominasi perangkat keras AI dari pesaing. Sementara itu, Scout dan agen Autopilot lainnya dapat mengubah cara bisnis mengelola tugas administratif sehari-hari. Di sisi lain, kemajuan di bidang komputasi quantum melalui Majorana 2 membuka pintu bagi pemecahan masalah yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan oleh komputer klasik. Bagi pelaku industri, ini adalah momen untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi era baru komputasi yang didorong oleh AI dan quantum.

    Microsoft Build 2026 telah menetapkan standar baru dalam inovasi teknologi. Dengan fokus pada pengembang, keamanan, dan kecerdasan buatan, perusahaan ini menunjukkan bahwa masa depan komputasi akan sangat berbeda dari apa yang kita kenal saat ini. Para pengembang dan pengguna teknologi di Indonesia, khususnya di Jawa Barat dan Banten, perlu mencermati perkembangan ini karena akan berdampak pada cara mereka bekerja dan berinteraksi dengan teknologi dalam beberapa tahun ke depan.

  • Martin Scorsese Dukung AI, Industri Film Bereaksi Keras

    Martin Scorsese Dukung AI, Industri Film Bereaksi Keras

    JBNews.id — Sutradara legendaris Martin Scorsese memicu kontroversi setelah secara resmi mempromosikan startup AI bernama Black Forest Labs, dengan menyatakan bahwa ia telah menggunakan teknologi tersebut untuk membantu perencanaan film-film terbarunya. Langkah ini mengejutkan banyak pihak mengingat Scorsese adalah salah satu ikon perfilman yang paling dihormati.

    Dalam sebuah pernyataan kepada The New York Times pada Selasa lalu, Scorsese mengungkapkan kolaborasi ini bersamaan dengan dirilisnya video promosi dari Black Forest Labs. Video tersebut menampilkan sutradara berusia 83 tahun itu menggunakan alat generasi gambar AI untuk storyboarding, yaitu proses memvisualisasikan adegan menggunakan ilustrasi sebagai persiapan syuting. Menurut laporan, Scorsese telah menandatangani kontrak sebagai mitra dan penasihat perusahaan rintisan tersebut sejak tahun lalu.

    Keputusan Scorsese untuk mendukung AI langsung menuai reaksi keras dari komunitas film. Banyak sineas dan penggemar merasa kecewa karena sang maestro dianggap mengkhianati nilai-nilai artistik yang selama ini diperjuangkannya. “Tidak bisa cukup ditekankan betapa mengecewakannya Martin Scorsese berkolaborasi dengan perusahaan AI dan menodai namanya di akhir hidup dan kariernya,” tulis seorang pengamat film di media sosial.

    Kekhawatiran utama yang muncul adalah dampak AI terhadap mata pencaharian para seniman, terutama storyboard artist. “Membuat storyboard artist kehilangan pekerjaan itu buruk dan seharusnya bukan menjadi pendapat yang kontroversial,” tulis pengguna lain dengan nada kesal. Jurnalis film Richard Newby bahkan mengungkapkan reaksi yang lebih ekstrem. “Saya merasa seperti ingin muntah,” cuitnya di Twitter.

    Kekecewaan ini mudah dipahami mengingat posisi Scorsese dalam industri perfilman. Sutradara di balik film “GoodFellas” dan “Mean Streets” ini mempelopori gerakan yang melepaskan belenggu sistem studio lama dan melahirkan Renaisans perfilman Hollywood. Gaya sinematiknya yang khas, dengan penghormatan mendalam terhadap sineas asing seperti Akira Kurosawa hingga duo Michael Powell dan Emeric Pressburger, telah menciptakan karya-karya yang lebih stilistik dan transgresif. Scorsese juga dikenal karena pandangannya yang tajam terhadap isu-isu sosial.

    Di luar perannya di belakang kamera, Scorsese juga merupakan pelopor penting yang memperjuangkan film-film internasional yang terabaikan dan membantu melestarikan sejarah perfilman melalui Film Foundation-nya. Dukungannya terhadap AI dianggap sebagai kemenangan besar bagi industri teknologi, namun menjadi pukulan telak bagi para seniman yang melihat AI sebagai ancaman tidak hanya bagi mata pencaharian mereka, tetapi juga bagi kreativitas itu sendiri.

    Meskipun demikian, Scorsese secara sengaja membatasi cara ia memuji AI, meskipun hal ini kemungkinan kecil akan meredakan kemarahan kelompok anti-AI. Dalam video promosi dan pernyataannya kepada NYT, ia berhati-hati untuk menekankan bahwa ia hanya menggunakan AI untuk storyboarding. Ia mengklaim bahwa alat tersebut memungkinkan timnya “bergerak lebih cepat tanpa mengorbankan kualitas atau keahlian” selama tahap praproduksi.

    “Selama 70 tahun, saya telah membuat storyboard saya sendiri,” kata Scorsese kepada NYT dalam sebuah pernyataan yang terkesan lebih seperti rilis resmi perusahaan daripada wawancara mendalam yang biasa ia berikan. “Selalu ada masalah tentang bagaimana Anda mengomunikasikan apa yang Anda lihat di kepala Anda kepada para pemain dan kru. Ada beberapa hal yang harus Anda lihat dan rasakan.”

    “Sekarang dengan alat ini,” tambahnya, “saya bisa membagikan apa yang saya visualisasikan dengan lebih jelas dan efisien kepada tim kreatif saya—production designer, art designer, dan sinematografer.”

    Namun, pembelaan ini tidak cukup meyakinkan banyak pihak. Rasa pengkhianatan terasa sangat dekat bagi salah satu penggemar Scorsese. “Storyboard Scorsese untuk Taxi Driver adalah inspirasi besar bagi saya, seorang seniman miskin, untuk merasa percaya diri menggambar ide untuk dibagikan kepada ilustrator kami,” keluh seorang pengembang gim indie. “Saya tidak bisa mengerti mengapa begitu banyak seniman generasi tua tergoda oleh sampah ini ketika mereka sudah memiliki segalanya.”

    Polemik ini menyoroti perdebatan yang lebih luas tentang peran AI dalam industri kreatif. Di satu sisi, teknologi seperti yang dikembangkan Black Forest Labs menawarkan efisiensi dan kemudahan dalam proses produksi. Di sisi lain, penggunaannya memicu pertanyaan etis tentang penggantian tenaga kerja manusia dan dampaknya terhadap orisinalitas artistik.

    Bagi para sineas dan pekerja kreatif, kasus Scorsese menjadi contoh nyata bagaimana tokoh yang paling dihormati sekalipun dapat terbelah antara inovasi teknologi dan nilai-nilai tradisional. Dampak dari kolaborasi ini kemungkinan akan terus bergema di industri film, memicu diskusi lebih lanjut tentang batasan penggunaan AI dalam seni.

    Implikasinya jelas: keputusan Scorsese untuk mendukung AI bukan sekadar langkah pribadi, melainkan sinyal kuat tentang arah industri film ke depan. Bagi para seniman yang menggantungkan hidup pada keterampilan manual dan tradisional, ini adalah pengingat bahwa batas antara alat bantu dan pengganti semakin kabur.

    Dengan Scorsese sebagai sosok terkemuka yang justru merangkul AI, banyak pihak kini bertanya-tanya: apakah ini awal dari era baru di mana teknologi mengambil alih peran kreatif manusia? Atau justru sebaliknya, ini adalah kesempatan untuk mendefinisikan ulang hubungan antara seniman dan alat yang mereka gunakan? Jawabannya mungkin akan menentukan masa depan industri perfilman global.

  • Robot Anjing Boston Dynamics Patroli Piala Dunia 2026 Picu Kontroversi

    Robot Anjing Boston Dynamics Patroli Piala Dunia 2026 Picu Kontroversi

    JBNews.id — Pengamanan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat menggunakan robot anjing buatan Boston Dynamics memicu kontroversi dan kekhawatiran publik terkait potensi pelanggaran privasi, meskipun perusahaan mengklaim teknologi tersebut tidak dilengkapi fitur pengenalan wajah.

    Kekhawatiran ini muncul di tengah suasana yang sudah tegang menjelang turnamen sepak bola terbesar di dunia yang akan digelar di berbagai kota di Amerika Utara bulan ini. Kebijakan deportasi keras dan penindasan terhadap pengunjuk rasa yang menentang Immigration and Customs Enforcement (ICE) oleh pemerintahan Trump telah menciptakan nada yang tidak menyenangkan. Wakil Presiden JD Vance bahkan pernah membuat pernyataan mencekam dengan memperingatkan pengunjung asing untuk “pulang” setelah acara, atau mereka harus berurusan dengan Menteri Keamanan Dalam Negeri.

    Kemunculan robot-robot tersebut di AT&T Stadium, Arlington, Texas, dengan cepat menjadi viral di media sosial. Banyak warganet yang mengkhawatirkan bahwa robot-robot itu menggunakan teknologi pemindaian wajah pada orang-orang yang lewat. Tuduhan ini menyebar luas di platform seperti Reddit dan X (sebelumnya Twitter), memicu perbandingan dengan episode “Black Mirror” berjudul “Metalhead”, yang menggambarkan dunia pasca-apokaliptik di mana seorang wanita diburu oleh robot anjing otonom yang canggih.

    “Yah, itu bikin merinding di punggungku,” tulis seorang pengguna Reddit sebagai tanggapan atas video yang memperlihatkan robot anjing itu menggerakkan kepalanya ke depan dan ke belakang sambil menatap orang yang merekam, memberikan kesan sedang memindai wajah mereka. “Aku tidak habis pikir bagaimana mereka membuatnya menari sambil melakukan pengawasan tekno-otoriter,” tulis pengguna lain.

    Klaim Resmi Boston Dynamics

    Menanggapi spekulasi yang meluas, juru bicara Boston Dynamics memberikan klarifikasi kepada Chron. Pihaknya menegaskan bahwa robot-robot tersebut “tidak memiliki kemampuan pengenalan wajah” dan akan digunakan untuk “membantu petugas keamanan dalam menyelidiki hal-hal seperti paket mencurigakan atau bahan berbahaya potensial lainnya.”

    Robot-robot ini merupakan bagian dari inisiatif “Security Spot” yang lebih luas oleh pemilik Boston Dynamics, Hyundai. Dalam situs web resminya, perusahaan mengklaim bahwa mereka “mengerahkan armada mobilitas terbesar dan tercanggih hingga saat ini dan, melalui kolaborasinya dengan Boston Dynamics, menjadi mitra resmi pertama dan satu-satunya yang menyediakan robotika untuk turnamen tersebut.” Hyundai juga menyatakan bahwa “Security Spot, robot patroli berkaki empat, akan mendukung operasi keamanan di lokasi, membantu menciptakan lingkungan turnamen yang lebih aman.”

    Meskipun ada jaminan dari perusahaan, kekhawatiran publik tetap tinggi. Penggunaan teknologi pengawasan oleh penegak hukum, terutama di tengah meningkatnya ketegangan politik dan sosial, menjadi isu sensitif. Kehadiran robot-robot ini semakin memperkuat persepsi bahwa turnamen ini akan diawasi secara ketat, sebuah langkah yang dianggap berlebihan oleh beberapa kelompok hak asasi manusia dan penggemar sepak bola.

    Robot Anjing Juga Berpatroli di Meksiko

    Selain di Amerika Serikat, Meksiko yang menjadi tuan rumah pertandingan di tiga venue Piala Dunia juga berencana memanfaatkan teknologi serupa. Menurut laporan Wired, pihak berwenang Meksiko akan mematroli area pertandingan menggunakan empat robot anjing yang disebut “K9-X.” Robot-robot ini berfungsi sebagai semacam petugas pertama. Pihak berwenang tidak mengungkapkan siapa produsen robot tersebut atau detail teknis lainnya.

    Pejabat Meksiko mengatakan kepada Wired bahwa robot-robot itu akan melakukan intervensi jika terjadi perkelahian atau keributan akibat mabuk-mabukan untuk melindungi keselamatan petugas. Mengingat reputasi penggemar sepak bola, skenario seperti ini dianggap bukanlah hal yang mustahil.

    Kontroversi seputar penggunaan robot ini juga menyoroti kekhawatiran yang lebih luas tentang militerisasi penegakan hukum dan kehadiran agen ICE selama persiapan turnamen. Piala Dunia diperkirakan akan menarik jutaan pengunjung internasional, dan ketegangan antara kebutuhan keamanan dan perlindungan hak-hak sipil menjadi perdebatan yang semakin memanas.

    Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pelajaran berharga. Jika ingin menjadi tuan rumah acara olahraga internasional besar seperti Piala Asia Sepak Bola Mini 2026 atau acara serupa, pemerintah perlu menyeimbangkan aspek keamanan dan privasi. Pengalaman di Amerika Serikat dan Meksiko menunjukkan bahwa teknologi keamanan canggih sekalipun dapat memicu reaksi publik yang negatif jika tidak dikomunikasikan dengan baik.

    Di sisi lain, insiden ini juga menjadi pengingat akan pentingnya regulasi yang jelas tentang penggunaan kecerdasan buatan dan robotika di ruang publik. Tanpa aturan yang tegas, teknologi yang dimaksudkan untuk melindungi justru bisa menimbulkan ketakutan dan ketidakpercayaan di kalangan masyarakat. Seiring dengan perkembangan teknologi, dialog antara pemerintah, perusahaan teknologi, dan masyarakat sipil menjadi semakin krusial untuk memastikan bahwa inovasi digunakan secara etis dan bertanggung jawab.

    Implikasi dari penggunaan robot pengintai ini tidak hanya terbatas pada Piala Dunia 2026. Ini adalah preseden yang akan membentuk bagaimana teknologi keamanan diterapkan di acara-acara besar di masa depan. Keputusan yang diambil sekarang akan berdampak pada standar keamanan global dan persepsi publik terhadap teknologi otonom. Bagi para penggemar sepak bola dan warga biasa, pertanyaan mendasarnya adalah: seberapa besar pengawasan yang bisa kita terima dengan imbalan rasa aman?

    Robot anjing Boston Dynamics berwarna ungu dan hijau membungkuk ke arah kamera saat berpatroli di stadion Piala Dunia 2026.

  • China Wajibkan Robot Humanoid Miliki KTP Nasional

    China Wajibkan Robot Humanoid Miliki KTP Nasional

    JBNews.id — China resmi menerapkan sistem identitas nasional untuk robot humanoid guna melacak aktivitas, memantau risiko, dan menstandardisasi industri robotika yang tengah berkembang pesat. Sistem bernama Humanoid Full Lifecycle Management Service Platform ini diluncurkan pekan lalu, menurut laporan lembaga penyiaran negara CCTV.

    Inisiatif ini dirancang khusus untuk robot bipedal berbentuk manusia yang digerakkan oleh kecerdasan buatan (AI). Platform tersebut memungkinkan pihak berwenang dan produsen memantau robot sepanjang masa operasional, seiring langkah China mempercepat peluncuran komersial robot humanoid di berbagai industri.

    Yu Xiuming, Wakil Kepala China Electronics Standardization Institute, mengatakan inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan pengawasan keselamatan dan tata kelola robot humanoid. Setiap robot akan menerima kode ID unik yang memuat empat bagian: dua digit kode negara untuk melacak pengiriman dan penjualan, empat digit kode produsen, enam digit kode model produk, serta 17 digit nomor seri untuk identifikasi setiap unit secara spesifik.

    Beberapa robot humanoid di Provinsi Hubei diperkirakan akan menjadi mesin pertama yang menerima nomor kartu identitas resmi ini. Liu Chuanhou, Chief Operating Officer Hubei Humanoid Robotics Innovation Center di Wuhan, menegaskan bahwa sistem ini dirancang tidak sekadar untuk menyimpan data registrasi.

    Platform tersebut mampu melacak catatan pemeliharaan, skenario penerapan, hingga kinerja operasional sepanjang hidup robot. Informasi real time termasuk kondisi baterai, tingkat keausan sendi, dan akurasi operasional juga dapat dipantau secara langsung.

    Liu Jieni, Direktur Bisnis perusahaan robotika Maxnova, menyebut beberapa robot humanoid andalan mereka telah menyelesaikan registrasi. Ia menambahkan bahwa perusahaannya secara sukarela bergabung dalam inisiatif ini.

    Dominasi China di Industri Robot Humanoid Global

    Berdasarkan laporan Maret dari Beijing CCID Publishing and Media serta China Electronics News, China saat ini memimpin industri robot humanoid global. Laporan tersebut mencatat pengiriman robot humanoid global mencapai sekitar 17.000 unit pada tahun 2025, dengan nilai 2,88 miliar yuan.

    China menyumbang 14.400 unit pengiriman atau setara 84,7 persen dari total global. Sementara pasar robot humanoid domestiknya tembus 1,55 miliar yuan, mewakili 53,8 persen total pasar global. Negara ini memiliki lebih dari 140 produsen robot humanoid, didukung rantai pasokan kuat, teknologi mumpuni, serta terus meluasnya aplikasi komersial.

    Terlepas dari pertumbuhan industri yang pesat, pihak industri menyadari tantangan besar. Terdapat keluhan masih banyak perusahaan robotika China yang beroperasi dengan standar tidak selaras. Kehadiran ID diharapkan dapat membantu menetapkan standar yang seragam serta mendukung pengembangan robot humanoid massal.

    “Dalam insiden keselamatan atau potensi bahaya data, nomor ID dapat mendukung pelacakan yang cepat serta penegasan terkait siapa yang harus bertanggung jawab. Ini akan sangat membantu mencegah berbagai risiko fatal, seperti penyalahgunaan teknologi maupun kebocoran informasi,” pungkas Liu Chuanhou.

    Langkah China ini menjadi preseden global dalam tata kelola robot humanoid. Dengan sistem identitas nasional, negara tersebut tidak hanya memperkuat pengawasan tetapi juga membangun kerangka regulasi yang dapat menjadi acuan bagi negara lain. Kebijakan ini juga relevan dengan perkembangan AI Voluntary Framework di berbagai negara.

    Bagi industri robotika global, langkah China ini menandai era baru regulasi teknologi. Sistem identitas ini memungkinkan pelacakan rantai pasok yang lebih transparan dan akuntabilitas yang lebih jelas. Hal ini penting mengingat potensi risiko keamanan dan privasi yang melekat pada teknologi humanoid.

    Implementasi sistem ini juga berdampak pada investor dan pelaku bisnis. Dengan standar yang seragam, investasi di sektor robot humanoid menjadi lebih terukur dan aman. Hal ini sejalan dengan tren investasi China di berbagai sektor teknologi, termasuk proyek LNG terbesar RI yang melibatkan investor China.

    Ke depan, sistem identitas ini diperkirakan akan diadopsi secara lebih luas. Dengan data real time yang dapat dipantau, pemerintah China dapat mengidentifikasi potensi masalah sebelum berkembang menjadi krisis. Ini menjadi langkah proaktif dalam mengelola teknologi yang semakin otonom dan terintegrasi dalam kehidupan manusia.

    Bagi konsumen dan masyarakat umum, sistem ini memberikan jaminan keamanan dan transparansi. Robot humanoid yang terdaftar dan terpantau secara ketat akan mengurangi risiko penyalahgunaan teknologi. Ini menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap adopsi robot humanoid di berbagai sektor, mulai dari manufaktur hingga layanan publik.

    Dengan dominasi pasar dan inovasi teknologi yang terus berlanjut, China memposisikan diri sebagai pemimpin dalam tata kelola robot humanoid. Sistem identitas nasional ini bukan hanya alat pengawasan, tetapi juga fondasi untuk pengembangan industri yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.

  • Xiaomi 17T Pro Dukung AirDrop, Transfer Foto ke iPhone Makin Mudah

    Xiaomi 17T Pro Dukung AirDrop, Transfer Foto ke iPhone Makin Mudah

    JBNews.id — Xiaomi 17T Pro menjadi perangkat Android terbaru yang mendukung fitur AirDrop melalui Quick Share, memungkinkan pengguna mentransfer foto dan video ke iPhone tanpa perlu mengunduh aplikasi tambahan. Fitur ini diumumkan langsung dalam peluncuran seri Xiaomi 17T di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

    Kehadiran fitur ini pertama kali diumumkan oleh akun Xiaomi HyperOS di Twitter/X. Jeksen, Product Marketing Lead Xiaomi Indonesia, turut mengonfirmasi kabar tersebut dalam acara peluncuran. Ia menjelaskan bahwa fitur ini merupakan bagian dari pengalaman lintas ekosistem yang semakin seamless di HyperOS 3.

    “Aspek lain dari Xiaomi HyperOS 3 yang dapat banyak feedback positif adalah pengalaman lintas ekosistem yang semakin seamless,” kata Jeksen dalam peluncuran Xiaomi 17T series di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

    “Kami menghadirkan dukungan AirDrop di Xiaomi 17T Pro sehingga Anda bisa transfer foto secara seamless dengan perangkat ekosistem lain tanpa perlu mengunduh aplikasi tambahan,” sambungnya.

    Fitur AirDrop via Quick Share

    Perangkat Xiaomi yang menjalankan HyperOS 3 sebenarnya sudah mendukung transfer data instan ke perangkat Apple menggunakan Xiaomi Share. Namun, sebelumnya pengguna harus mengunduh aplikasi Xiaomi Interconnectivity di iPhone atau iPad jika ingin mengirim atau menerima data.

    Berkat update baru ini, pengguna Xiaomi 17T Pro bisa langsung mengirim foto atau video ke iPhone dan perangkat Apple lainnya tanpa perlu mengunduh aplikasi tambahan. Fitur ini menjadi solusi bagi pengguna yang sering bertukar file antar perangkat dengan sistem operasi berbeda.

    Menurut pantauan detikINET, fitur AirDrop via Quick Share sudah tersedia di Xiaomi 17T Pro di Indonesia tanpa perlu melakukan update. Namun, ketika dipakai untuk mengirimkan foto, iPhone yang menjadi tujuan tidak muncul di daftar perangkat sehingga pengiriman foto tidak berhasil.

    Fitur AirDrop di Xiaomi 17T Pro

    Untuk mengirimkan foto atau video dari Xiaomi 17T Pro menggunakan AirDrop via Quick Share, pengguna harus memastikan visibilitas AirDrop di iPhone disetel ke mode ‘Everyone for 10 minutes’. Jika ingin mengirim dari iPhone ke Xiaomi 17T Pro, pastikan tab ‘Receive’ di layar Quick Share tetap terbuka.

    Ketersediaan Fitur

    Saat ini fitur AirDrop via Quick Share baru tersedia di Xiaomi 17T Pro. Belum diketahui apakah fitur ini akan dibawa ke ponsel Xiaomi lainnya dengan HyperOS 3 mengingat ada batasan level hardware yang dapat mencegah ekspansi fitur ini.

    Bagi pengguna yang penasaran dengan spesifikasi lengkap perangkat ini, Anda dapat membaca artikel tentang Xiaomi 17T Pro yang telah kami bahas sebelumnya. Informasi mengenai Harga Terbaru dari seri ini juga bisa Anda simak.

    Fitur AirDrop via Quick Share menjadi salah satu nilai tambah bagi Xiaomi 17T Pro di tengah persaingan smartphone flagship. Kemampuan transfer file lintas platform ini menjawab kebutuhan pengguna yang memiliki perangkat dari ekosistem berbeda.

    Dengan hadirnya fitur ini, pengguna Xiaomi 17T Pro tidak perlu lagi bergantung pada aplikasi pihak ketiga untuk bertukar file dengan pengguna iPhone. Implikasinya, pengalaman pengguna menjadi lebih praktis dan efisien, terutama bagi mereka yang bekerja di lingkungan dengan perangkat beragam.

    Bagi Anda yang tertarik dengan ekosistem Xiaomi, kami juga telah membahas Smartwatch Terbaru dari merek ini yang dirilis bersamaan dengan seri 17T.