Category: Tekno

  • Meta Terancam Denda USD 1,4 Triliun, Terbesar Sepanjang Sejarah

    Meta Terancam Denda USD 1,4 Triliun, Terbesar Sepanjang Sejarah

    JBNews.id — Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram yang dipimpin Mark Zuckerberg, terancam menghadapi denda sebesar USD 1,4 triliun. Angka tersebut merupakan sanksi terbesar sepanjang sejarah penegakan hukum perlindungan konsumen di Amerika Serikat. Tuduhan datang dari empat negara bagian AS yang menuduh Meta sengaja merancang platformnya agar membuat pengguna muda kecanduan.

    Angka denda fantastis itu diungkapkan sendiri oleh Meta dalam dokumen pengadilan terbaru. Jumlah tersebut nyaris setara dengan nilai pasar perusahaan yang saat ini berkisar USD 1,5 triliun. Dengan kata lain, denda yang dihadapi hampir menyamai seluruh kapitalisasi pasar Meta.

    Empat negara bagian yang menggugat adalah California, Colorado, Kentucky, dan New Jersey. Mereka menuduh Meta melanggar undang-undang perlindungan konsumen negara bagian. Tuduhan intinya adalah Meta menciptakan produk yang membuat anak-anak dan remaja kecanduan, sekaligus menyesatkan publik mengenai keamanan platform.

    Persidangan penting akan dimulai bulan Agustus di Oakland, California. Sidang tersebut akan dipimpin oleh Hakim Distrik AS Yvonne Gonzalez Rogers. Selain gugatan dari empat negara bagian, hakim juga akan mempertimbangkan gugatan terpisah dari 29 negara bagian lainnya. Gugatan kolektif ini menuduh Meta melanggar UU dengan mengumpulkan data anak-anak tanpa persetujuan sah orang tua.

    Kronologi dan Perhitungan Denda

    Meski dokumen pengadilan dari negara-negara bagian tersebut masih dirahasiakan, persidangan bulan Juni lalu mengungkapkan metode perhitungan mereka. Negara bagian menghitung potensi denda dengan mengalikan jumlah dugaan pelanggaran dengan nilai denda yang diizinkan berdasarkan UU negara bagian. Dugaan pelanggaran didasarkan pada perkiraan jumlah anak dan remaja yang terdampak.

    Meta membantah seluruh tuduhan tersebut. Perusahaan menyebut usulan hukuman itu tidak didukung bukti. “Sanksi sebesar itu tidak memiliki padanan dalam sejarah penegakan hukum perlindungan konsumen,” ungkap perusahaan yang dikutip dari Independent.

    Meta juga berpendapat bahwa kecanduan media sosial bukan diagnosis psikiatri yang diakui resmi. Oleh karena itu, pernyataan mereka yang menyangkal bahwa platformnya menyebabkan kecanduan tidak bisa dianggap sebagai kebohongan. Argumen ini menjadi salah satu garis pertahanan utama perusahaan.

    Tekanan Hukum Bertubi-tubi

    Meta tidak hanya menghadapi satu gugatan. Perusahaan ini tengah berhadapan dengan rentetan pertarungan hukum tambahan di luar persidangan bulan Agustus. Empat belas negara bagian lainnya tengah mengajukan tuntutan serupa berdasarkan UU masing-masing. Persidangan terpisah untuk gugatan tersebut telah dijadwalkan pada bulan Februari mendatang.

    Jaksa Agung California Rob Bonta mengecam keras praktik Meta. Ia menuduh perusahaan lebih mementingkan keuntungan daripada keselamatan anak-anak. Bonta berjanji akan menuntut Meta bertanggung jawab penuh atas dugaan peran mereka dalam krisis kesehatan mental remaja.

    Meta bukan satu-satunya perusahaan media sosial yang menghadapi tekanan hukum besar. Snap, YouTube, dan TikTok juga tengah berjuang menghadapi ribuan gugatan. Gugatan-gugatan itu menuduh mereka sengaja merancang platform agar anak dan remaja terus terpaku, sehingga berkontribusi pada meluasnya masalah kesehatan mental.

    Kasus ini menjadi preseden penting bagi industri teknologi global. Jika Meta benar-benar dihukum dengan denda sebesar itu, dampaknya akan terasa hingga ke rantai pasok dan mitra bisnis di berbagai negara, termasuk Indonesia. Perusahaan rintisan dan platform digital lokal bisa terkena imbas regulasi yang lebih ketat ke depannya.

    Di sisi lain, perkembangan ini juga menjadi pengingat bagi perusahaan teknologi bahwa perlindungan data dan keselamatan pengguna, terutama anak-anak, adalah prioritas yang tidak bisa ditawar. Persaingan bisnis yang ketat tidak boleh mengorbankan aspek etika dan kepatuhan hukum.

    Implikasinya bagi pembaca di Indonesia: pengguna media sosial, terutama orang tua, perlu lebih waspada terhadap dampak platform digital pada anak. Regulator di Indonesia juga bisa menjadikan kasus ini sebagai referensi dalam merumuskan kebijakan perlindungan anak di ranah digital.

  • Apple Gugat OpenAI atas Pencurian Rahasia Dagang

    Apple Gugat OpenAI atas Pencurian Rahasia Dagang

    JBNews.id — Apple menggugat OpenAI di pengadilan federal California Utara atas tuduhan pencurian rahasia dagang. Pembuat ChatGPT itu dituding mengambil kekayaan intelektual milik Apple untuk mengembangkan produk hardware mereka sendiri.

    “Di setiap tingkatan, mulai dari anggota Staf Teknis hingga Chief Hardware Officer, serta dalam koordinasinya dengan para mitra bisnis, OpenAI mencuri rahasia dagang dan informasi rahasia Apple,” sebut perusahaan tersebut dalam dokumen hukumnya.

    Gugatan ini merupakan perubahan situasi yang mengejutkan bagi kedua belah pihak. Sebelumnya, mereka sempat menjalin kemitraan besar tahun 2024 ketika ChatGPT diintegrasikan ke sistem operasi iPhone. Hubungan kedua perusahaan mendingin sejak OpenAI mengumumkan rencana merambah industri hardware tahun lalu, ditandai akuisisi startup milik mantan desainer Apple, Jony Ive, yang bernama IO Products senilai USD 6,4 miliar. Imbasnya, versi baru asisten virtual Siri beralih menggunakan AI Gemini dari Google.

    Sebagian besar tuduhan Apple melibatkan mantan karyawan yang diwawancarai atau bergabung dengan OpenAI. Apple menuduh kepala hardware OpenAI, Tang Tan, yang juga mantan wakil presiden Apple, mengarahkan karyawan Apple yang diwawancarai OpenAI untuk membagi rahasia sebagai bagian proses rekrutmen. Tan adalah salah satu tergugat.

    “Ia telah mengarahkan para kandidat pelamar yang masih bekerja di Apple untuk membawa komponen asli dari Apple ke sesi wawancara. Dalam sesi tampil dan ceritakan tersebut, ia dan timnya di OpenAI dapat memancing lebih banyak lagi informasi rahasia Apple,” ungkap Apple yang dikutip dari CNBC.

    Apple juga menuding OpenAI melatih karyawan Apple yang hendak mengundurkan diri tentang cara menghindari prosedur keamanan saat meninggalkan perusahaan. Selain itu, Apple menuduh Chang Liu, mantan karyawannya yang kini bergabung OpenAI, mencuri laptop Apple. Dokumen tersebut juga menyebutkan keyakinan Apple bahwa OpenAI meminta perusahaan hardware melakukan teknik finishing logam yang diciptakan Apple. OpenAI dituduh menyesatkan mitra dengan membuat mereka percaya bahwa mereka mendapatkan izin Apple untuk melakukannya.

    OpenAI

    “Baru-baru ini, muncul bukti signifikan yang menunjukkan bahwa sejumlah individu yang dipekerjakan OpenAI mengambil informasi rahasia Apple secara tidak sah, khususnya terkait teknologi, proses, dan produk kami yang belum dirilis,” jelas perwakilan Apple.

    Perwakilan OpenAI memberikan pernyataan balasan. “Kami sama sekali tidak tertarik rahasia dagang perusahaan lain. Kami tetap fokus membangun teknologi inovatif yang dapat memberdayakan masyarakat di mana saja,” sebut mereka.

    Rentetan masalah hukum ini menghadirkan risiko baru bagi OpenAI, ketika mereka tengah bersiap menuju Penawaran Saham Perdana (IPO) yang diproyeksi mencetak sejarah. Gugatan Apple muncul dua bulan setelah OpenAI menang persidangan melawan CEO Tesla, Elon Musk. Juri memutuskan Musk yang ikut mendirikan OpenAI terlalu lama menunggu untuk menggugat. Gugatan Musk didasari klaim bahwa Altman, co-founder Greg Brockman, dan perusahaan melanggar kesepakatan awal untuk menjalankan entitas sebagai organisasi nirlaba.

    Kasus ini menjadi salah satu perseteruan hukum terbesar di industri teknologi. Persaingan antara Apple dan OpenAI semakin memanas, terutama setelah Apple beralih menggunakan AI Gemini dari Google untuk asisten virtual Siri. Langkah ini menunjukkan perpecahan yang semakin dalam antara kedua perusahaan yang sebelumnya merupakan mitra strategis.

    Analis industri memprediksi gugatan ini akan berdampak signifikan terhadap rencana IPO OpenAI yang diproyeksikan menjadi salah satu penawaran saham terbesar dalam sejarah. Investor kini akan lebih berhati-hati menilai risiko hukum yang dihadapi perusahaan pengembang ChatGPT tersebut.

    Apple sendiri terus mengembangkan teknologi AI secara internal melalui Apple Neural Engine, sebuah chip AI yang awalnya dikembangkan dari proyek mobil otonom. Perusahaan juga tengah mempersiapkan 5 iPhone baru hingga 2027 dan mulai melirik chip buatan China.

    Sidang perdana kasus ini dijadwalkan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Apple meminta ganti rugi yang belum disebutkan jumlahnya serta perintah pengadilan untuk menghentikan penggunaan rahasia dagang yang diduga dicuri oleh OpenAI.

    Implikasinya bagi industri teknologi sangat luas. Kasus ini bisa menjadi preseden baru dalam perlindungan kekayaan intelektual di era kecerdasan buatan. Perusahaan teknologi kini harus lebih berhati-hati dalam merekrut karyawan dari kompetitor, terutama yang memiliki akses ke informasi sensitif. Bagi pengguna biasa, kasus ini menunjukkan betapa ketatnya persaingan di industri AI dan bagaimana rahasia dagang menjadi aset paling berharga yang diperebutkan oleh raksasa teknologi global.

  • Matahari Buatan China Catat Rekor Baru, Target Listrik Fusi 2030

    Matahari Buatan China Catat Rekor Baru, Target Listrik Fusi 2030

    JBNews.id — China mengumumkan kemajuan terbaru dalam pengembangan ‘Matahari buatan’ atau reaktor fusi nuklir eksperimental. Setelah mencapai tonggak penting, para ilmuwan kini menargetkan pembangkit listrik pertama dari energi fusi dapat direalisasikan sekitar tahun 2030.

    Kemajuan itu diumumkan oleh China National Nuclear Corporation (CNNC) melalui proyek China Circulation-3, yang dikenal sebagai salah satu perangkat tokamak paling canggih di negara tersebut. Pencapaian terbaru ini dinilai menjadi langkah penting menuju pemanfaatan energi fusi sebagai sumber listrik masa depan.

    Direktur proyek China Circulation-3, Qin Xiaoguang, mengatakan pengembangan reaktor fusi merupakan tantangan teknologi yang sangat kompleks. Namun, ia optimistis target berikutnya mulai terlihat realistis.

    “Fusi nuklir tanpa diragukan lagi merupakan salah satu teknologi yang paling sulit untuk dikuasai. Namun setelah puluhan tahun mengalami kemajuan, kini kami mulai melihat titik terang di ujung terowongan. Target kami tetap sama, yaitu mendemonstrasikan pembangkitan listrik pertama dari fusi nuklir sekitar tahun 2030,” kata Qin seperti dikutip dari Global Times.

    Apa Itu Matahari Buatan

    Matahari menghasilkan energi melalui proses fusi nuklir, yakni penggabungan inti atom hidrogen menjadi helium yang menghasilkan energi sangat besar. Para ilmuwan berupaya meniru proses tersebut di Bumi menggunakan reaktor berbentuk donat yang disebut tokamak.

    Di dalamnya, plasma dipanaskan hingga suhu ratusan juta derajat Celsius dan dikendalikan menggunakan medan magnet superkuat agar reaksi fusi tetap stabil. Karena menghasilkan energi sangat besar tanpa emisi karbon dan limbah radioaktif jangka panjang seperti pembangkit listrik tenaga fisi, fusi nuklir dianggap sebagai salah satu sumber energi bersih paling menjanjikan di masa depan.

    Menurut CNNC, China Circulation-3 baru saja menyelesaikan serangkaian eksperimen penting yang menunjukkan peningkatan kemampuan dalam mengendalikan plasma pada kondisi operasi yang lebih kompleks. Keberhasilan tersebut menjadi fondasi untuk tahap berikutnya, yakni meningkatkan efisiensi reaksi dan menghasilkan listrik dari energi fusi.

    Meski begitu, para peneliti mengakui perjalanan menuju pembangkit listrik komersial masih panjang. Selain mempertahankan plasma tetap stabil dalam waktu lama, mereka juga harus memastikan energi yang dihasilkan lebih besar daripada energi yang digunakan untuk memicu reaksi.

    Persaingan Global Energi Fusi

    China bukan satu-satunya negara yang berlomba mengembangkan teknologi ini. Amerika Serikat, Inggris, Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan juga mengembangkan reaktor fusi melalui berbagai proyek nasional maupun kolaborasi internasional seperti ITER di Prancis.

    Namun, China termasuk negara yang paling agresif meningkatkan investasi di sektor tersebut. Selain China Circulation-3, negara itu juga membangun berbagai fasilitas penelitian fusi untuk mempercepat pengembangan pembangkit listrik berbasis energi fusi.

    Qin mengatakan keberhasilan proyek ini bukan sekadar pencapaian ilmiah, tetapi juga bagian dari upaya membangun sistem energi bersih jangka panjang. “Kami mulai melihat harapan nyata untuk mewujudkan pembangkitan listrik dari energi fusi,” ujarnya.

    Sebagai perbandingan, sejumlah studi global juga tengah mengkaji dampak teknologi matahari terhadap iklim. Salah satu studi terkini bahkan meneliti potensi meredupkan matahari buatan untuk mengurangi dampak El Niño ekstrem.

    Dengan target operasi 2030 yang semakin dekat, dunia kini menanti apakah China benar-benar dapat mewujudkan mimpan energi fusi sebagai sumber listrik bersih tanpa batas. Jika berhasil, lanskap energi global akan berubah secara fundamental.

  • Meta Diminta Ubah Desain Instagram dan Facebook karena Dianggap Candu

    Meta Diminta Ubah Desain Instagram dan Facebook karena Dianggap Candu

    JBNews.id — Komisi Eropa secara resmi menyatakan bahwa Meta melanggar Undang-undang Layanan Digital (DSA) Uni Eropa karena desain Instagram dan Facebook yang dinilai membuat ketagihan. Perusahaan teknologi milik Mark Zuckerberg itu kini terancam harus mengubah desain kedua platformnya dan menghadapi denda hingga USD 12 miliar.

    Temuan awal Komisi Eropa menyebut Meta tidak cukup menilai risiko dari desain aplikasinya yang adiktif terhadap kesejahteraan fisik dan mental pengguna. Risiko ini mencakup pengguna di bawah umur maupun orang dewasa yang rentan terhadap dampak negatif penggunaan media sosial berlebihan.

    Fitur-fitur yang menjadi sorotan utama meliputi rekomendasi yang personal, pemutaran otomatis (autoplay), dan scroll tanpa batas. Komisi Eropa mengklaim fitur-fitur tersebut memicu pengguna untuk terus scrolling dan mengubah otak ke mode autopilot, sehingga sulit berhenti menggunakan aplikasi.

    Laporan investigasi awal juga mengkritik fitur manajemen waktu yang disediakan Meta. Menurut Komisi Eropa, fitur tersebut dapat diabaikan dengan mudah oleh pengguna. Kontrol orang tua dinilai membutuhkan keahlian teknis, upaya, dan waktu yang signifikan agar efektif. Langkah kesadaran kesehatan mental dari Meta juga dinilai masih terbatas untuk mengurangi risiko kecanduan secara nyata.

    Meta juga dituduh mengabaikan informasi tentang seberapa banyak waktu yang dihabiskan anak muda di Instagram dan Facebook pada malam hari. Investigasi menyoroti bagaimana format konten seperti Reels dan Stories dapat menyebabkan penggunaan berlebihan pada kelompok usia tersebut.

    Potensi Denda hingga Rp190 Triliun

    Komisi Eropa meminta Meta untuk merancang ulang Instagram dan Facebook secara fundamental. Rekomendasi yang diberikan mencakup penonaktifan fitur pemutaran otomatis dan scrolling tanpa batas secara default, penerapan istirahat screen time yang efektif, serta pembuatan algoritma rekomendasi yang tidak berorientasi pada engagement semata.

    Saat ini Meta diberi kesempatan untuk membela diri terhadap temuan awal Komisi Eropa. Namun, jika keputusan sudah final, perusahaan besutan Mark Zuckerberg itu terancam didenda hingga 6% dari omset tahunan globalnya. Dengan omset Meta pada tahun 2025 sebesar USD 200,97 miliar, potensi denda yang dihadapi mencapai USD 12 miliar atau setara sekitar Rp190 triliun.

    Juru bicara Meta menanggapi temuan ini dengan pernyataan resmi. “Kami tidak setuju dengan temuan awal ini, yang tidak secara akurat memperhitungkan langkah-langkah signifikan yang telah kami ambil untuk melindungi pengguna remaja,” kata juru bicara Meta, seperti dikutip dari CNBC, Senin (13/7/2026).

    Sejarah Penyelidikan dan Langkah Meta

    Penyelidikan Komisi Eropa terhadap Meta dimulai pada Mei 2024. Sejak penyelidikan itu dimulai, Meta sudah meluncurkan fitur Teen Accounts yang secara otomatis membuat akun remaja menjadi private. Fitur tersebut juga membatasi akses di malam hari serta membatasi screen time maksimal 15 menit sehari.

    Ini merupakan kedua kalinya di tahun 2026 Komisi Eropa menemukan Meta melanggar aturannya. Pada bulan April sebelumnya, Meta disebut gagal mencegah pengguna berusia di bawah 13 tahun untuk mengakses platformnya. Christopher Nolan sebelumnya juga menyoroti kekhawatiran generasi muda terhadap dominasi teknologi besar.

    Kasus ini menjadi preseden penting bagi regulasi platform digital global. Keputusan Komisi Eropa dapat mempengaruhi bagaimana perusahaan teknologi besar merancang produk mereka ke depan, terutama dalam hal perlindungan pengguna muda dan mitigasi risiko kecanduan digital. Inovasi teknologi yang bertanggung jawab menjadi tuntutan yang semakin mengemuka di berbagai belahan dunia.

    Bagi pengguna Instagram dan Facebook di Indonesia, perkembangan ini berarti potensi perubahan signifikan pada pengalaman menggunakan kedua platform tersebut. Jika Meta akhirnya mematuhi permintaan Komisi Eropa, perubahan desain kemungkinan akan diterapkan secara global, termasuk di Indonesia.

  • Tianwen-2 China Dekati Asteroid Kamo’oalewa, Pecahkan Rekor

    Tianwen-2 China Dekati Asteroid Kamo’oalewa, Pecahkan Rekor

    JBNews.id — Wahana antariksa China, Tianwen-2, kini berada dalam jarak 12,5 mil dari permukaan asteroid Kamo’oalewa, menjadikannya negara pertama yang mendekati objek misterius yang dikenal sebagai quasi-bulan Bumi tersebut. Pencapaian ini menandai tonggak baru dalam eksplorasi luar angkasa China.

    Diluncurkan pada Mei 2025, Tianwen-2 membutuhkan waktu 400 hari perjalanan untuk mencapai asteroid yang hanya berdiameter beberapa puluh kaki itu. Setelah menempuh jarak sekitar 620 juta mil, wahana ini akan menghabiskan hampir satu tahun untuk mengiringi batu antariksa tersebut, mengumpulkan data tentang komposisi dan strukturnya.

    Menurut laporan dari Xinhua, badan antariksa China, Tianwen-2 telah mengirimkan foto pertama yang jelas dari Kamo’oalewa. Asteroid ini pertama kali diidentifikasi oleh teleskop survei Hawaii pada April 2016 dan merupakan salah satu dari tujuh quasi-bulan yang diketahui, yaitu objek yang mengelilingi Bumi tetapi terlalu jauh untuk dianggap sebagai Bulan.

    Tantangan Misi Pengambilan Sampel

    Salah satu tantangan terbesar misi ini adalah ukuran Kamo’oalewa yang relatif kecil. Cristina Thomas, ilmuwan planet di Northern Arizona University, mengatakan kepada New York Times bahwa “Kamo’oalewa adalah objek terkecil yang pernah dikunjungi manusia dengan wahana antariksa.”

    Batu antariksa ini berputar dengan cepat saat melayang di kosmos, berotasi sekali setiap sekitar setengah jam waktu Bumi. Hal ini membuat jendela target yang sudah kecil menjadi semakin sempit, dan menambah elemen ketepatan waktu dalam setiap upaya pengumpulan sampel.

    Tianwen-2, dengan berat hampir dua ton, harus sangat hati-hati dalam pendekatannya agar tidak mengubah jalur orbit Kamo’oalewa. Wahana ini akan menggunakan metode “anchor-and-attach” dan “touch-and-go” untuk mengumpulkan sampel permukaan.

    Metode Anchor-and-Attach yang Inovatif

    Jika berhasil, China akan menjadi negara ketiga yang berhasil mengambil sampel dari asteroid, dan bisa menjadi yang pertama menggunakan metode anchor-and-attach. Metode ini melibatkan wahana yang mengamankan dirinya ke quasi-bulan sebelum menggunakan bor ultrasonik untuk mengebor permukaannya.

    Keberhasilan metode ini akan menunjukkan ketangkasan teknologi antariksa China. Proses pengambilan sampel diperkirakan akan memakan waktu berbulan-bulan dengan perhitungan yang cermat dan langkah-langkah yang hati-hati.

    Misi Tianwen-2 merupakan bagian dari ambisi besar China dalam eksplorasi luar angkasa. Selain proyek-proyek unggulan seperti stasiun luar angkasa orbital miliknya sendiri dan pengembangan roket yang dapat digunakan kembali, China juga memelopori sejumlah inisiatif antariksa yang jauh jangkauannya.

    Implikasi bagi Eksplorasi Antariksa Global

    Keberhasilan Tianwen-2 mendekati Kamo’oalewa menunjukkan kemampuan China dalam mencapai target antariksa yang sangat kecil dan menantang. Data yang dikumpulkan dari misi ini akan memberikan wawasan berharga tentang komposisi dan struktur quasi-bulan, yang dapat membantu pemahaman kita tentang tata surya.

    Bagi para pengamat industri antariksa, misi ini menegaskan posisi China sebagai pemain kunci di orbit Bumi dan sekitarnya. Dengan pendekatan yang metodis dan inovatif, program antariksa China terus menunjukkan kemajuan yang signifikan.

    Meskipun berat pasti batuan ini belum diketahui — sesuatu yang akan dipecahkan oleh Tianwen-2 — ukurannya yang relatif kecil menghadirkan tantangan besar bagi para pengembang proyek. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh sejarah terkini, jika ada negara yang program antariksanya mampu menghadapi tugas besar ini, itu adalah China.

    Ke depannya, data dari Tianwen-2 akan sangat penting untuk memahami asal-usul dan evolusi quasi-bulan. Misi ini tidak hanya menjadi prestasi teknis tetapi juga langkah maju dalam eksplorasi ilmiah antariksa.

    Untuk informasi lebih lanjut tentang inovasi teknologi China, Anda dapat membaca artikel tentang Misteri Sinyal Radio yang terpecahkan baru-baru ini.

    Dengan pencapaian ini, China semakin memperkuat posisinya sebagai kekuatan antariksa dunia. Misi Tianwen-2 adalah bukti nyata dari ambisi dan kemampuan teknologi China dalam menjelajahi batas-batas baru di luar angkasa.

  • NASA Cari Relawan Tinggal Setahun di Simulasi Mars

    NASA Cari Relawan Tinggal Setahun di Simulasi Mars

    JBNews.id — Badan antariksa Amerika Serikat (NASA) membuka pendaftaran bagi empat relawan untuk tinggal selama satu tahun di simulasi Bulan dan Mars. Program bertajuk Moon and Mars Exploration Analog (MMEA) ini akan berlangsung di fasilitas Johnson Space Center, Houston, Texas, mulai Agustus 2027.

    Program MMEA dirancang untuk meniru perjalanan dan kehidupan di luar angkasa. Meski seluruh aktivitas dilakukan di Bumi, para relawan akan tinggal di habitat sempit yang menyerupai kondisi di Bulan dan Mars. Mereka juga akan menjalankan tugas-tugas astronaut, seperti bercocok tanam, menjaga kesehatan, dan melakukan simulasi spacewalk.

    Menurut juru bicara NASA, proyek ini bertujuan mempelajari bagaimana anggota awak beradaptasi dengan kehidupan di Mars. Satu hari di Mars, yang disebut sol, berdurasi sekitar 40 menit lebih lama dibandingkan satu hari di Bumi. Perbedaan ini dapat mempengaruhi pola tidur serta berpotensi menimbulkan masalah kesehatan dan kinerja lainnya.

    Simulasi Planet Mars buatan NASA

    “Para peserta penelitian sukarelawan memberikan kontribusi besar pada basis pengetahuan dengan membantu NASA mengkarakterisasi risiko dan menguji tindakan penanggulangan untuk meningkatkan kinerja manusia selama misi eksplorasi luar angkasa jangka panjang,” kata juru bicara NASA, seperti dikutip dari CNN, Senin (13/7/2026).

    Calon peserta harus siap mengikuti program selama total 14 bulan di Johnson Space Center. Rinciannya, 12 bulan untuk misi di dalam dua habitat sempit, dan dua bulan tambahan untuk pelatihan sebelum dan sesudah misi.

    Misi ini akan dibagi dalam tiga fase yang melibatkan dua habitat berbeda. Segmen pertama dilakukan di dalam replika pesawat ruang angkasa seluas 60 meter persegi. Di fase ini, relawan seolah-olah sedang menempuh perjalanan dari Bumi ke Bulan.

    Fase kedua beralih ke kehidupan di planet lain. Relawan akan pindah ke fasilitas seluas 84 meter persegi. Di sana mereka akan bercocok tanam, menjaga kesehatan, serta berlatih berjalan di kotak pasir yang dirancang meniru permukaan planet lain. Fase ketiga adalah perjalanan kembali ke Bumi menggunakan pesawat luar angkasa yang sama dengan fase pertama.

    Kedua habitat tersebut sudah pernah digunakan untuk misi riset sebelumnya. Ukurannya sengaja dibuat lebih kecil untuk meniru kondisi misi yang berbeda.

    Persyaratan Calon Relawan

    NASA menetapkan persyaratan ketat bagi para pendaftar. Calon relawan harus lolos pemeriksaan fisik dan psikologis. Mereka tidak boleh memiliki batasan diet, dan tidak boleh memiliki riwayat berjalan dalam tidur atau mengonsumsi obat tidur.

    Dari segi pendidikan, pelamar harus memiliki kualifikasi setingkat astronaut. Syaratnya adalah gelar sarjana di bidang teknik, ilmu biologi, ilmu fisika, atau matematika. Mereka yang memiliki gelar lebih lanjut di bidang STEM juga dapat mendaftar. Pengalaman militer juga akan dipertimbangkan.

    Program simulasi semacam ini menjadi langkah penting dalam persiapan misi berawak ke Mars di masa depan. Dengan memahami bagaimana manusia beradaptasi dengan isolasi, ruang terbatas, dan perbedaan waktu, NASA berharap dapat meminimalkan risiko bagi astronaut sungguhan.

    Bagi masyarakat yang bosan dengan kehidupan di Bumi, program ini menawarkan pengalaman unik. Namun, persaingan dipastikan ketat mengingat hanya empat orang yang akan terpilih dari seluruh pendaftar di dunia.

    Ketertarikan pada eksplorasi luar angkasa terus meningkat seiring kemajuan teknologi. Inovasi seperti Quantum-AI Hibrid yang menciptakan peptida untuk vaksin masa depan hingga Matahari Buatan China yang mendekati kenyataan menunjukkan betapa pesatnya riset di bidang sains dan teknologi.

    Program MMEA menjadi bukti komitmen NASA dalam mempersiapkan misi luar angkasa jangka panjang. Dengan data yang dikumpulkan dari simulasi ini, badan antariksa tersebut berharap dapat mengirim manusia ke Mars dalam beberapa dekade mendatang.

    Bagi para profesional di bidang STEM, kesempatan ini bisa menjadi batu loncatan karier yang luar biasa. Selain berkontribusi pada sains, pengalaman tinggal di simulasi Mars akan menjadi nilai tambah yang tak ternilai.

    NASA membuka pendaftaran secara online melalui situs resminya. Proses seleksi diperkirakan berlangsung beberapa bulan ke depan sebelum empat relawan terpilih memulai pelatihan pada pertengahan 2027.

  • 4 Teknologi Indonesia yang Diadopsi Negara Lain

    4 Teknologi Indonesia yang Diadopsi Negara Lain

    JBNews.id — Indonesia memiliki sejumlah inovasi teknologi yang kemudian diadopsi oleh negara lain, mulai dari sistem pembayaran QRIS hingga aplikasi super (super app). Fakta ini menunjukkan bahwa riset dan pengembangan anak bangsa mampu bersaing di kancah global dan menjadi acuan bagi negara maju sekalipun.

    Dalam laporan detikINET pada Senin (13/7/2026), setidaknya ada empat terobosan buatan Indonesia yang berhasil menembus pasar internasional dan ditiru oleh negara lain. Inovasi-inovasi ini mencakup sektor keuangan digital, infrastruktur konstruksi, layanan berbasis aplikasi, hingga teknologi telekomunikasi dasar.

    1. QRIS: Pelopor Sistem Pembayaran Terintegrasi

    Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang diperkenalkan pada 2019 menjadi salah satu teknologi Indonesia yang paling sukses ditiru negara lain. Malaysia baru saja mengadopsi sistem serupa melalui aturan Bank Sentral Malaysia yang menghapus jaringan pembayaran QR milik setiap penyedia secara bertahap selama dua tahun ke depan. Sistem ini akan menjadi satu pembayaran QR yang terintegrasi dan saling terhubung (interoperable). Di Malaysia, sistem ini disebut Real-time Retail Payments Platform yang mendukung DuitNow Transfer dan DuitNow QR, dioperasikan oleh Payments Network Malaysia Sdn Bhd (PayNet).

    Sebelum Malaysia, Singapura sudah lebih dulu meniru sistem pembayaran ala QRIS. Per pertengahan 2026, QRIS telah digunakan lebih dari 30 juta pedagang dan 45 juta pengguna aktif di seluruh Indonesia. QRIS juga telah digunakan lintas negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan baru-baru ini sudah bisa dipakai di China.

    2. Sosrobahu: Teknologi Konstruksi Jalan Layang

    Teknologi Sosrobahu yang ditemukan oleh Dr. Ir. Tjokorda Raka Sukawati menjadi andalan dalam pembangunan jalan layang tanpa mengganggu arus lalu lintas di bawahnya. Inovasi ini diadopsi oleh banyak negara seperti Filipina, Malaysia, Thailand, dan Singapura. Bahkan para insinyur dari Jepang dan Amerika Serikat sempat datang langsung untuk mempelajari metode ini.

    Konsepnya sederhana namun revolusioner: lengan beton yang beratnya ribuan ton dicor dalam posisi sejajar dengan garis jalan di bawahnya. Setelah beton kering dan siap, lengan beton tersebut diputar sebesar 90 derajat hingga posisinya melintang tegak lurus dengan jalan. Dengan cara ini, badan jalan di bawah tetap bisa dilewati selama proses pembangunan, sangat cocok untuk jalan di kota padat.

    Perkembangan teknologi olah sampah juga menjadi perhatian di Indonesia, namun Sosrobahu membuktikan bahwa inovasi konstruksi buatan dalam negeri mampu mendunia.

    3. Super App: Model Bisnis Gojek yang Mendunia

    Hadirnya Gojek oleh Nadiem Makarim dan tim menjadi tonggak perubahan besar dalam cara kerja aplikasi on-demand. Dengan konsep super app, berbagai layanan seperti pengantaran makanan, barang, pembayaran digital, dan lainnya terhubung dalam satu aplikasi tunggal. Model ini kemudian ditiru oleh raksasa teknologi global di Asia Tenggara, Amerika Serikat, bahkan Eropa, menjadikan Gojek sebagai platform percontohan dunia.

    Keberhasilan Gojek menginspirasi banyak perusahaan teknologi global untuk mengadopsi model serupa. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi dari Indonesia mampu menjadi standar industri di tingkat internasional.

    4. Komponen Dasar 4G: Temuan Dr. Khoirul Anwar

    Dr. Khoirul Anwar menemukan konsep Fast Fourier Modulation (FFT) yang kemudian dipatenkan. Inovasi ini memecahkan masalah penurunan sinyal pada frekuensi tinggi akibat penghalang fisik. Yang menarik, FFT telah diadopsi oleh seluruh industri telekomunikasi global dan menjadi standar wajib dalam teknologi broadband 4G LTE.

    Inovasi di bidang telekomunikasi ini membuktikan bahwa peneliti Indonesia mampu berkontribusi pada fondasi teknologi global, bukan hanya sebagai pengguna teknologi.

    Keempat inovasi ini menunjukkan bahwa teknologi Indonesia memiliki kualitas yang diakui dunia. Mulai dari QRIS yang menjadi standar pembayaran lintas negara, Sosrobahu yang diadopsi negara maju, model super app Gojek yang menjadi acuan global, hingga temuan FFT yang menjadi fondasi jaringan 4G di seluruh dunia. Semua ini menjadi bukti bahwa anak bangsa mampu bersaing dan memberikan dampak nyata bagi perkembangan teknologi global.

    Menu GoFood di aplikasi Gojek

    Meskipun demikian, tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga momentum inovasi ini agar terus berlanjut. Seperti yang disoroti dalam kasus teknologi global, persaingan inovasi seringkali diwarnai isu etika dan hak kekayaan intelektual. Indonesia perlu memastikan bahwa setiap inovasi yang lahir mendapatkan perlindungan paten yang kuat agar tidak hanya menjadi inspirasi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi bangsa.

  • Uber Lobi Aturan Robotaxi, Wajibkan 85% Pengemudi Manusia

    Uber Lobi Aturan Robotaxi, Wajibkan 85% Pengemudi Manusia

    JBNews.id — Uber secara agresif melobi pemerintah negara bagian dan federal di Amerika Serikat untuk mewajibkan platform ride-hailing otonom beroperasi dalam sistem “jaringan hibrida” yang mewajibkan 85 persen perjalanan dilayani pengemudi manusia selama tiga tahun pertama. Strategi ini terungkap dari dokumen yang diperoleh WIRED dan permintaan catatan publik, yang memperlihatkan upaya perusahaan teknologi asal San Francisco itu membentuk regulasi yang menguntungkan posisi bisnisnya di tengah persaingan ketat industri kendaraan otonom (AV).

    Langkah lobi ini merupakan eskalasi dari strategi Uber yang telah berjalan sejak 2024, ketika CEO Dara Khosrowshahi menyatakan kepada investor bahwa perusahaan ingin menjadi platform komersial utama bagi semua pemain AV global. Saat ini, Uber telah menandatangani perjanjian dengan lebih dari 25 pemain robotaxi besar, termasuk Waymo, Nuro, Baidu, dan Volkswagen’s MOIA, yang kendaraan tanpa pengemudinya tersedia atau akan segera tersedia di aplikasi Uber di berbagai kota dunia.

    Dokumen yang dilihat WIRED menunjukkan perwakilan Uber mendesak para pembuat undang-undang untuk mengerahkan kendaraan otonom melalui apa yang disebut “hybrid networks,” di mana pengemudi manusia bekerja berdampingan dengan robot saat teknologi baru berkembang. Pendekatan ini, menurut Uber, memastikan transisi yang mulus yang mendukung baik teknologi maupun pengemudi manusia.

    Lobi di New Jersey: Pembatasan Ketat untuk Pesaing

    Di New Jersey, seorang pelobi yang mewakili Uber mengambil langkah lebih jauh dengan mengedarkan bahasa legislatif yang akan, untuk periode tiga tahun, mewajibkan platform ride-hailing tanpa pengemudi untuk memiliki pengemudi manusia yang melayani 85 persen perjalanannya. Bahasa tersebut kemungkinan akan mencegah pengembang kendaraan otonom, termasuk Waymo, Zoox, dan Tesla, untuk mengoperasikan aplikasi ride-hail mereka sendiri di negara bagian itu — secara efektif memaksa mereka masuk ke aplikasi ride-hail lain jika ingin memasuki pasar dan membatasi persaingan bagi Uber, pemimpin ride-hail nasional.

    Seorang perwakilan Uber menyampaikan versi proposal tersebut kepada senator negara bagian New Jersey Andrew Zwicker, menurut kepala stafnya, Ayla Rios. Zwicker adalah sponsor rancangan undang-undang yang saat ini sedang dipertimbangkan oleh legislatif negara bagian yang akan menetapkan seperangkat aturan pertama New Jersey yang mengatur mobil self-driving di jalan umum. Bahasa yang diusulkan pelobi Uber yang membatasi aplikasi ride-hailing robotaxi mandiri saat ini belum menjadi bagian dari RUU tersebut, yang bisa naik untuk pemungutan suara musim gugur ini.

    RUU New Jersey adalah yang pertama diusulkan di negara itu yang akan membatasi pengoperasian robotaxis Tesla, karena mewajibkan pengembang AV untuk menggunakan banyak sensor untuk menyalakan perangkat lunaknya, bukan hanya kamera, seperti teknologi Tesla. RUU itu juga akan mewajibkan kendaraan untuk dioperasikan dalam keadaan darurat menggunakan setir dan pedal rem, yang tidak dimiliki robotaxi buatan khusus seperti milik Zoox.

    Strategi di Washington DC

    Di Washington DC, di mana pengembang kendaraan otonom, termasuk Waymo, terlibat dalam pertempuran berbulan-bulan untuk mengizinkan layanan robotaxi beroperasi di distrik tersebut, perwakilan Uber juga berusaha memastikan bahwa “jaringan hibrida” akan menjadi masa depan ride-hail. Sebuah RUU yang diperkenalkan oleh anggota dewan kota Charles Allen pada bulan April akan mengizinkan layanan tanpa pengemudi di jalan umum DC dalam kondisi tertentu.

    Dalam email yang dikirim lebih dari seminggu sebelum pengenalan undang-undang dan diperoleh WIRED melalui permintaan catatan publik, pelobi Uber LáVita Gardner berterima kasih kepada staf Allen karena berkomitmen untuk mengizinkan perusahaan ride-hail seperti Uber berpartisipasi dalam program kendaraan otonom distrik tersebut. “Mengizinkan jaringan hibrida akan sangat penting untuk transisi yang mulus yang mendukung teknologi dan pengemudi manusia,” tulis Gardner. (RUU DC akan menjadi subjek sidang pada hari Senin, dan belum naik untuk pemungutan suara.)

    Dalam pernyataan tertulis kepada WIRED, juru bicara Uber Noah Edwardsen mengatakan bahwa perusahaan mendukung perluasan teknologi kendaraan otonom, tetapi proposal kebijakan dari industri AV sebagian besar “tidak dapat dijalankan” karena gagal mengatasi masalah pekerja atau “mencoba secara sinis mengunci pesaing dan menciptakan monopoli.” Edwardsen mengatakan bahwa kegagalan industri untuk mengesahkan peraturan kendaraan otonom di beberapa negara bagian tahun ini, termasuk Maryland dan New York, adalah bukti bahwa “jelas sudah waktunya untuk mencoba pendekatan yang berbeda.”

    Edwardsen mengatakan proposal New Jersey adalah “kompromi yang kami pikir dapat membantu melewati garis akhir” mengingat oposisi serikat pekerja terhadap RUU kendaraan otonom. Dia mengatakan Uber berjuang di Washington DC untuk menjamin bahwa perusahaan ride-hail dapat berpartisipasi dalam program kendaraan otonom yang diusulkan bersama perusahaan AV yang menjalankan aplikasi mereka sendiri. “Baik proposal New Jersey dan DC yang kami lawan memiliki elemen yang akan mengurangi persaingan AV,” katanya.

    Dalam pernyataan tertulis, juru bicara Waymo Ethan Teicher mengatakan perusahaan “tidak mendukung upaya untuk membatasi AV ke jenis jaringan tertentu, dan kami akan menyambut perubahan yang memperjelas bahwa berbagai jenis jaringan dapat beroperasi.” Zoox tidak menanggapi permintaan komentar.

    Waymo dan Uber adalah mitra bisnis, dengan Uber menawarkan akses eksklusif ke perjalanan Waymo tanpa pengemudi melalui aplikasinya di Atlanta dan Austin. Namun, bukti hubungan yang tegang telah bocor ke publik dalam beberapa bulan terakhir, seperti yang dilaporkan Business Insider. Pada akhir April, CTO Uber Praveen Neppalli memposting di X sebuah video tentang apa yang disebutnya “momen Waymo yang menakutkan,” ketika salah satu kendaraan self-driving perusahaan tampak hampir menabrak bus umum. Waymo dan Uber menghentikan kemitraan percontohan yang lebih terbatas di Phoenix bulan lalu.

    Waymo memimpin perlombaan kendaraan tanpa pengemudi di AS. Perusahaan itu mengatakan menyediakan 500.000 perjalanan per minggu di sebelas wilayah metropolitan, dan berencana untuk memperluas ke lebih banyak lagi tahun ini, termasuk London.

    Jaringan Hibrida: Strategi Baru Uber

    Strategi lobi ini merupakan eskalasi bagi Uber, tetapi konsisten dengan bagaimana perusahaan secara publik mempromosikan cara terbaik dan teraman untuk memperkenalkan teknologi kendaraan otonom ke dalam layanan ride-hail. Pada bulan Mei, perusahaan menerbitkan makalah kebijakan yang berargumen bahwa “transisi bertahap” ke kendaraan tanpa pengemudi akan melindungi pengendara, pengemudi, dan kota itu sendiri. Jaringan hibrida, perusahaan berpendapat, memastikan bahwa pengemudi manusia (dan bisnis yang didukung oleh mereka) akan memiliki peran untuk dimainkan di tahun-tahun mendatang.

    “Jalan ke depan harus dibangun dengan sengaja, diinformasikan oleh bukti, dan didasarkan pada tanggung jawab bersama,” kata makalah itu. Dalam kesaksian yang disiapkan untuk disampaikan di depan Dewan Kota DC pada hari Senin, direktur kebijakan kendaraan otonom dan AI Uber Harry Hartfield akan mengatakan bahwa AV dan pengemudi manusia sudah bersaing secara langsung di San Francisco dan Los Angeles, di mana pendapatan pengemudi menurun tahun lalu. “Satu AV di California sekarang kira-kira melakukan pekerjaan empat pengemudi,” katanya, menurut kesaksian yang disiapkan.

    Seruan untuk kehati-hatian ini merupakan perubahan haluan bagi Uber, yang menghabiskan tahun-tahun awalnya mengeksploitasi area abu-abu dalam peraturan taksi kota dan negara bagian dan kadang-kadang, seperti yang dilaporkan The New York Times, secara terang-terangan menipu pembuat undang-undang saat mereka mencoba menindak layanan ride-hail yang berkembang. Uber telah selama bertahun-tahun mendapat kritik dari serikat pekerja dan pengemudi sendiri karena upah yang tidak memadai, dan karena berjuang untuk mengklasifikasikan pekerja sebagai kontraktor independen daripada karyawan yang berhak atas tunjangan.

    Uber sebelumnya menolak regulasi kendaraan otonom saat mencoba membangun teknologi self-driving-nya sendiri. Pada 2016, kepala program saat itu Anthony Levandowski mengirim semua AV pengujian Uber dari California ke Arizona setelah regulator California bersikeras untuk mengajukan izin untuk menguji mobil tanpa pengemudi di sana. Dua tahun kemudian, Arizona melarang mobil self-driving Uber setelah kendaraan pengujian menabrak dan menewaskan seorang wanita. Uber secara resmi menutup program kendaraan otonomnya pada 2020. Pada tahun yang sama, Levandowski dijatuhi hukuman 18 bulan penjara karena mencuri ribuan file dari program mobil self-driving Google saat itu, tempat dia bekerja. (Levandowski diampuni oleh Presiden Donald Trump pada 2021.)

    Dalam posting LinkedIn yang diterbitkan pada bulan Mei, setelah Uber merilis makalah kebijakan “jaringan hibrida,” presiden dan COO Uber Andrew Macdonald mengakui posisi baru perusahaan tentang peraturan “mungkin terasa ironis.” “Kami tidak cukup terlibat dengan implikasi sosial atau mempertimbangkan bagaimana dunia di luar tembok Uber HQ merasa tentang bagaimana kami akan membangun,” tulis Macdonald. “Konsekuensinya terdokumentasi dengan baik: pertempuran regulasi dan krisis perusahaan yang merusak kepercayaan selama bertahun-tahun.”

    Strategi lobi Uber ini mencerminkan bagaimana perusahaan teknologi besar berusaha membentuk regulasi untuk keuntungan kompetitif. Dengan mewajibkan Fitur Terbaru dalam regulasi, Uber berpotensi memperlambat masuknya pemain robotaxi murni seperti Waymo dan Tesla ke pasar ride-hailing utama. Jika berhasil, aturan ini bisa menjadi preseden bagi negara bagian lain dan secara fundamental mengubah lanskap persaingan industri transportasi.

    Implikasinya bagi konsumen adalah potensi keterlambatan adopsi layanan robotaxi penuh yang mungkin lebih murah. Bagi pengemudi manusia, regulasi ini bisa menjadi jaring pengaman yang memperpanjang masa kerja mereka di tengah otomatisasi. Namun, YouTuber Nekat mungkin akan menemukan konten menarik dari dinamika persaingan ini. Sementara itu, isu regulasi teknologi juga menjadi perhatian di Indonesia, seperti yang dibahas dalam Celah Regulasi Data Center Texas dan pembentukan Jarjatel Resmi Dibentuk.

  • Instagram Raup Untung dari Iklan CSAM di India, Meta Kena Sanksi

    Instagram Raup Untung dari Iklan CSAM di India, Meta Kena Sanksi

    JBNews.id — Investigasi BBC mengungkap bahwa Instagram meraup keuntungan dari iklan berbayar yang mempromosikan child sexual abuse material (CSAM) di India. Temuan ini memperlihatkan celah besar dalam upaya Meta, perusahaan induk Instagram, memberantas konten ilegal di platformnya.

    Menurut laporan BBC yang dirilis pekan ini, sejumlah iklan yang ditinjau menggunakan istilah eksplisit seperti “rape video” dan “child video”. Iklan-iklan tersebut mengarahkan pengguna ke saluran Telegram ilegal, di mana materi tersebut bisa dibeli dengan harga semurah satu dolar AS.

    Praktik ini berlangsung di tengah klaim Meta bahwa perusahaan telah beralih ke kecerdasan buatan (AI) untuk mengurangi ketergantungan pada moderator manusia pihak ketiga. Namun, sistem AI tersebut terbukti tidak mampu mendeteksi dan menyaring konten yang sangat mengganggu ini.

    Pemerintah India langsung bereaksi keras. Kementerian Elektronik dan Teknologi Informasi India mengeluarkan pemberitahuan resmi kepada Meta, meminta perusahaan segera menonaktifkan semua iklan dan konten yang mempromosikan penjualan CSAM. Meta diberi waktu hingga 11 Juli untuk memberikan penjelasan terperinci.

    Menanggapi BBC, Meta mengklaim telah menonaktifkan beberapa iklan dan menangguhkan akun terkait karena melanggar kebijakan. Seorang juru bicara Meta menyatakan, “Tidak ada sistem yang sempurna, dan proses peninjauan kami mungkin tidak mendeteksi semua pelanggaran kebijakan.”

    Juru bicara itu menambahkan, “Kami terus menjalankan teknologi deteksi proaktif pada iklan setelah ditayangkan, dan siapa pun dapat melaporkan iklan yang dianggap melanggar aturan kami.” Telegram juga menyatakan telah menghapus lebih dari 274.000 grup dan saluran terkait CSAM sepanjang tahun 2026.

    Kritik dari Mantan Eksekutif Meta

    Mantan wakil presiden Facebook, Brian Boland, menuding algoritma Instagram dirancang untuk memaksimalkan keuntungan. “Yang menyedihkan dan tragis adalah seiring waktu, trade-off antara pendapatan dan pengalaman pengguna menjadi bagian inti dari percakapan,” ujarnya kepada BBC.

    Boland sebelumnya bersaksi melawan Meta dalam persidangan di New Mexico, di mana juri memutuskan perusahaan bersalah menyesatkan pengguna tentang keamanan platformnya bagi anak-anak. Putusan pada Maret lalu menyimpulkan bahwa Meta membiarkan proliferasi CSAM dan mengubah platformnya menjadi pasar untuk perdagangan seks anak.

    “Eksekutif Meta tahu produk mereka membahayakan anak-anak, mengabaikan peringatan dari karyawan mereka sendiri, dan berbohong kepada publik tentang apa yang mereka ketahui,” kata Jaksa Agung New Mexico, Raúl Torrez, dalam pernyataannya. “Hari ini juri bergabung dengan keluarga, pendidik, dan pakar keselamatan anak untuk mengatakan cukup sudah.”

    Dampak dan Skala Masalah

    India menempati posisi kedua setelah Amerika Serikat dalam jumlah laporan CSAM, dengan 1,9 juta laporan masuk ke saluran pelaporan utama. Kelompok advokasi hak anak memperingatkan bahwa masih banyak kejahatan yang luput dari deteksi.

    Kasus ini menambah daftar panjang masalah moderasi konten yang dihadapi Meta. Perusahaan sebelumnya dituduh sengaja membongkar pedoman keselamatan anak dan meremehkan tingkat keparahan masalah CSAM di platformnya.

    Bagi pengguna Instagram di Indonesia, temuan ini menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan terhadap konten berbahaya. Meski Meta mengklaim telah meningkatkan sistem deteksi AI, efektivitasnya masih dipertanyakan. Pengguna dapat mempelajari cara blokir foto dari akses AI Meta untuk melindungi privasi mereka.

    Selain itu, Meta baru-baru ini mengambil langkah untuk mematikan fitur AI yang menghasilkan gambar dari akun publik, sebagai respons terhadap kekhawatiran privasi. Namun, kasus iklan CSAM ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap konten ilegal masih jauh dari memadai.

    Implikasi dari temuan BBC ini sangat jelas: sistem moderasi konten berbasis AI Meta belum cukup kuat untuk menghentikan penyebaran CSAM. Pemerintah India memberi tenggat waktu ketat, dan jika Meta gagal memberikan penjelasan yang memuaskan, sanksi lebih berat bisa dijatuhkan. Bagi publik, ini berarti tekanan kepada platform media sosial untuk meningkatkan keamanan anak harus terus didorong.

    Meski Meta mengandalkan AI untuk moderasi, insiden terbaru seperti pencemaran air oleh pusat data AI menunjukkan bahwa infrastruktur AI perusahaan masih bermasalah. Sementara itu, Telegram yang menjadi saluran distribusi CSAM juga terus berupaya membersihkan platformnya dengan menghapus ratusan ribu grup ilegal.

    Kasus ini menjadi ujian kredibilitas bagi Meta dalam menangani CSAM. Dengan tekanan dari regulator global dan publik, perusahaan harus membuktikan bahwa mereka serius memberantas konten ilegal, bukan sekadar menjalankan langkah-langkah kosmetik.

  • OpenAI Hentikan Browser Atlas, Gagal Saingi Chrome

    OpenAI Hentikan Browser Atlas, Gagal Saingi Chrome

    JBNews.id – OpenAI resmi menghentikan browser berbasis AI bernama Atlas hanya sembilan bulan setelah peluncurannya. Keputusan ini diambil setelah produk tersebut menghadapi berbagai masalah kritis, mulai dari kerentanan keamanan siber hingga kinerja agen AI yang sangat lambat.

    Browser Atlas diperkenalkan oleh OpenAI pada Oktober 2025 sebagai langkah ambisius untuk mengintegrasikan ChatGPT secara langsung ke dalam pengalaman menjelajah web. Dalam pernyataan peluncurannya, OpenAI menyebut Atlas dirancang untuk membantu pengguna “memahami dunia Anda” dan “mencapai tujuan Anda.” Fitur unggulannya adalah “agent mode,” sebuah mode khusus yang memungkinkan ChatGPT memesan tiket pesawat atau membeli bahan makanan secara online tanpa intervensi pengguna.

    “Browser baru saja berubah,” ujar kepala ChatGPT OpenAI saat itu, menyebut Atlas sebagai langkah besar dalam evolusi ChatGPT menjadi sistem operasi AI yang utuh. Namun, kenyataan di lapangan jauh dari klaim tersebut.

    Masalah Keamanan dan Kinerja yang Menghantui

    Hampir segera setelah dirilis, berbagai celah keamanan mulai terlihat. Kerentanan terhadap serangan prompt injection menjadi sorotan utama, di mana peretas dapat memanipulasi AI untuk melakukan tindakan yang tidak diinginkan. Selain itu, kinerja agen Atlas dinilai sangat lambat. Sebuah pengujian yang dilakukan The Verge menemukan bahwa browser tersebut membutuhkan waktu sepuluh menit penuh hanya untuk menambahkan tiga item ke keranjang belanja Amazon.

    Atlas juga dilaporkan mengabaikan sebagian besar konten internet, sebuah keputusan yang terkait erat dengan sengketa hukum hak cipta yang masih berlangsung. Hal ini membatasi utilitas browser dan membuatnya kurang berguna bagi pengguna yang membutuhkan akses informasi yang luas.

    Pengumuman Penghentian dan Pembelajaran

    Dalam pengumuman resmi, OpenAI menyatakan bahwa mereka akan memperbarui ekstensi browser yang dirancang untuk Google Chrome—yang masih mendominasi pasar browser global—dengan membangun “apa yang kami pelajari dari Atlas.” Perusahaan juga merilis catatan rilis ChatGPT terpisah yang menyatakan, “Atlas dijadwalkan berhenti berfungsi pada 9 Agustus 2026.”

    Atlas bergabung dalam kuburan produk OpenAI yang gagal berkembang, yang oleh CEO aplikasi OpenAI Fidji Simo disebut sebagai “side quests” yang mengganggu. Simo sendiri kini meninggalkan perusahaan. Kegagalan Atlas menyoroti bagaimana perusahaan yang dipimpin Sam Altman dan industri AI secara keseluruhan kesulitan menghasilkan produk bermakna berdasarkan teknologi yang ada.

    Contoh lain adalah aplikasi AI teks-ke-video Sora yang hanya bertahan kurang dari lima bulan. Sora menjadi pusat konten yang melanggar hak cipta, membuka pintu bagi masalah hukum besar bagi OpenAI.

    Fokus Baru: ChatGPT Work

    Seiring ditinggalkannya upaya membangun browser AI sendiri, OpenAI meluncurkan platform baru bernama ChatGPT Work. Platform ini merupakan rangkaian perangkat lunak yang dirancang untuk pekerjaan kantor. “Ini dapat mengumpulkan informasi di seluruh aplikasi dan alur kerja Anda untuk membuat materi jadi seperti lembar kerja, slide, dokumen, dan aplikasi web, serta tetap mengerjakan proyek kompleks selama berjam-jam dengan memecahnya menjadi langkah-langkah yang lebih kecil dan menyelesaikannya secara independen,” demikian pernyataan perusahaan.

    Nasib aplikasi baru ini masih belum pasti, terutama mengingat implikasi keamanan siber yang signifikan dari memberikan akses ekstensif kepada agen AI ke data yang berpotensi sensitif. Kegagalan Atlas menjadi pengingat bahwa inovasi teknologi harus diimbangi dengan keandalan, keamanan, dan nilai guna yang nyata.

    Bagi pengguna, penghentian Atlas berarti satu opsi browser berbasis AI yang ambisius namun bermasalah telah hilang. Google Chrome tetap menjadi pilihan utama, sementara OpenAI harus membuktikan bahwa ChatGPT Work dapat memberikan nilai lebih dibandingkan produk-produk sebelumnya yang gagal. Apple Gugat OpenAI atas dugaan pencurian rahasia dagang juga menambah tekanan pada perusahaan.

    Kegagalan Atlas dan Sora menunjukkan bahwa meskipun AI memiliki potensi besar, jalan menuju produk yang sukses dan bermakna masih panjang. Miles Brundage Tinggalkan OpenAI untuk fokus pada advokasi keamanan AI, menandakan adanya pergeseran prioritas di kalangan ahli keamanan AI.