Category: Tekno

  • Spesifikasi Galaxy Z Fold 8 Bocor Jelang Peluncuran Juli

    Spesifikasi Galaxy Z Fold 8 Bocor Jelang Peluncuran Juli

    JBNews.id — Spesifikasi Galaxy Z Fold 8 bocor ke publik hanya beberapa hari sebelum acara peluncuran yang dijadwalkan pada 22 Juli 2026. Bocoran yang dibagikan oleh leaker ternama Evan Blass mengungkap sejumlah detail teknis ponsel lipat terbaru Samsung tersebut, termasuk prosesor dan konfigurasi kameranya.

    Gambar bocoran yang diterima The Verge menunjukkan desain Galaxy Z Fold 8 yang lebih pendek dan lebih lebar, sesuai dengan bocoran sebelumnya. Perubahan dimensi ini menjadi salah satu sorotan utama karena menunjukkan upaya Samsung untuk memperbaiki ergonomi perangkat lipatnya.

    Bocoran spesifikasi Galaxy Z Fold 8 mengonfirmasi penggunaan prosesor Qualcomm Snapdragon 8 Elite For Galaxy, chipset yang dirancang khusus untuk perangkat flagship Samsung. Ponsel ini juga disebutkan memiliki kamera belakang 50MP wide dan 50MP ultra wide, serta kamera selfie 10MP di layar dalam dan luar.

    Salah satu data yang menonjol adalah klaim daya tahan baterai yang diiklankan mencapai “hingga 26 jam pemutaran video.” Angka ini menjadi indikasi peningkatan signifikan dari generasi sebelumnya, meskipun kapasitas baterai spesifik belum diungkap dalam bocoran tersebut.

    Blass juga membagikan gambar Galaxy Z Flip 8 yang menyertakan beberapa spesifikasi. Menurut gambar tersebut, Galaxy Z Flip 8 akan memiliki baterai 4.300mAh, kamera utama layar 10MP, dan kamera sampul 50MP wide / 12MP ultrawide — konfigurasi yang sama dengan kamera Z Flip 7 saat ini.

    Selain dua model utama, bocoran juga mencakup Galaxy Z Fold 8 Ultra yang mengiklankan baterai 5.000mAh dengan daya tahan hingga 27 jam pemutaran video. Model Ultra ini tampaknya memiliki kamera belakang 50MP ultra wide / 200MP wide / 10MP telephoto, bersama dengan kamera layar sampul dan utama 10MP.

    Bocoran Blass ini cocok dengan cuplikan kedua ponsel yang ditampilkan dalam teaser Spider-Man yang dirilis Samsung awal pekan ini. Kesesuaian visual ini memperkuat kredibilitas bocoran yang beredar.

    Dari segi desain, perubahan rasio aspek pada Galaxy Z Fold 8 menjadi lebih pendek dan lebar merupakan respons terhadap kritik pengguna tentang proporsi layar sampul yang terlalu sempit pada model sebelumnya. Perubahan ini diharapkan meningkatkan pengalaman penggunaan sehari-hari, terutama saat mengetik dan menjelajah web dengan satu tangan.

    Prosesor Snapdragon 8 Elite For Galaxy yang digunakan pada Galaxy Z Fold 8 merupakan varian khusus dari chipset Qualcomm yang di-overclock untuk performa lebih tinggi. Chip ini dioptimalkan untuk tugas-tugas berat seperti gaming, multitasking, dan aplikasi AI generatif yang membutuhkan daya komputasi besar.

    Di sektor kamera, Galaxy Z Fold 8 membawa peningkatan signifikan dengan dua kamera 50MP di bagian belakang. Sementara itu, Galaxy Z Fold 8 Ultra melangkah lebih jauh dengan sensor utama 200MP yang dikombinasikan dengan kamera telephoto 10MP untuk zoom optik. Konfigurasi ini menempatkan Z Fold 8 Ultra sejajar dengan flagship kamera Samsung lainnya.

    Baterai menjadi salah satu fokus utama pada lini Galaxy Z Fold 8. Model standar menawarkan daya tahan 26 jam pemutaran video, sementara model Ultra mencapai 27 jam. Meskipun kapasitas baterai pasti belum dikonfirmasi, klaim ini menunjukkan efisiensi daya yang lebih baik dari chipset dan optimasi perangkat lunak.

    Galaxy Z Flip 8, meskipun membawa peningkatan baterai menjadi 4.300mAh, mempertahankan konfigurasi kamera yang sama dengan pendahulunya. Hal ini menunjukkan bahwa Samsung mungkin lebih fokus pada peningkatan daya tahan dan performa untuk model lipat vertikalnya, daripada perubahan besar di sektor kamera.

    Acara peluncuran Samsung pada 22 Juli 2026 diperkirakan akan menjadi ajang pengumuman resmi ketiga perangkat ini. Samsung biasanya memanfaatkan acara Galaxy Unpacked untuk memperkenalkan lini ponsel lipat terbarunya setiap tahun.

    Bagi penggemar teknologi di Indonesia, kehadiran Galaxy Z Fold 8, Z Flip 8, dan Z Fold 8 Ultra menjadi kabar menarik. Samsung secara konsisten memasarkan ponsel lipatnya di pasar Indonesia dengan harga yang kompetitif, meskipun masih berada di segmen premium.

    Bocoran spesifikasi ini memberikan gambaran awal tentang apa yang akan ditawarkan Samsung pada jajaran ponsel lipat generasi terbarunya. Dengan peningkatan di sektor prosesor, kamera, dan baterai, Galaxy Z Fold 8 series tampaknya siap mempertahankan posisi Samsung sebagai pemimpin pasar ponsel lipat global.

    Pengumuman resmi pada 22 Juli nanti akan menjadi konfirmasi akhir dari seluruh bocoran yang beredar. Hingga saat itu, informasi dari Evan Blass ini menjadi referensi paling detail tentang apa yang bisa diharapkan konsumen dari lini Galaxy Z Fold 8.

    Untuk informasi lebih lanjut tentang ponsel Samsung lainnya, Anda dapat membaca artikel tentang Harga Terbaru Galaxy A27 5G yang baru saja dirilis di Indonesia.

  • AI China Kimi-K3 Kalahkan Model AS di Benchmark Coding

    AI China Kimi-K3 Kalahkan Model AS di Benchmark Coding

    JBNews.id — Model bahasa besar (LLM) buatan China, Kimi-K3, secara mengejutkan melompat dari peringkat 17 ke posisi 1 di benchmark “Frontend Code Arena” Arena.ai, mengalahkan model-model canggih AS seperti Claude Fable 5 dan GPT-5.6 Sol. Pencapaian ini terjadi saat pasar saham AS tengah tertekan oleh kekhawatiran akan gelembung AI yang selama ini didominasi perusahaan Amerika.

    Pada Kamis lalu, platform benchmark AI Arena.ai mengumumkan bahwa Kimi-K3, yang dikembangkan oleh perusahaan asal Beijing, Moonshot AI, mencatat lonjakan dramatis. Model ini sukses menggeser Claude Fable 5 dan GPT-5.6 Sol dari posisi puncak dalam kemampuan pengembangan web multi-langkah. Prestasi ini menandai perubahan lanskap kompetitif yang signifikan antara AS dan China di bidang kecerdasan buatan.

    Selain itu, dalam “Text Arena” — yang mengukur kemampuan model dalam tugas teks-ke-teks seperti penulisan kreatif — Kimi-K3 berhasil meraih peringkat sembilan. Ini merupakan peningkatan besar dari model pendahulunya, Kimi-K2.6, yang sebelumnya berada di peringkat 38. Data ini menunjukkan konsistensi peningkatan performa dari Moonshot AI dalam waktu singkat.

    Kabar ini datang di tengah tekanan berat di Wall Street. Saham semikonduktor AS anjlok pada Jumat pagi, sementara indeks Nasdaq yang sarat teknologi turun 1,4 persen. Kerugian ini memperpanjang pekan buruk bagi saham teknologi yang sebelumnya sudah terpengaruh kekhawatiran akan gelembung AI di Amerika. Fenomena serupa pernah terjadi saat model China lainnya, DeepSeek, mengguncang pasar saham AS tahun lalu.

    Keunggulan utama Kimi-K3 tidak hanya pada performanya. Model ini menggunakan pendekatan yang sangat berbeda dari model-model milik AS. Kimi adalah model open-weight, yang berarti cara kerja internalnya dapat diakses publik. Sebaliknya, model kepemilikan (proprietary) seperti GPT-5.6 dijaga ketat kerahasiaannya. Data menunjukkan bahwa model terbuka ini rata-rata enam kali lebih murah bagi pengguna, meskipun performanya secara historis sedikit di bawah model tertutup.

    Menanggapi berita ini, Xiaoyin Qu, mantan product manager senior Meta yang kini menjadi pengusaha AI, mengajukan pertanyaan kritis. “Ketika model open-weight terbaik melampaui model closed-source terbaik, bagaimana [Anthropic] membenarkan harga Fable-nya? Mengapa ada orang yang mau membayar untuk itu?” ujarnya. Pertanyaan ini menjadi relevan mengingat kesenjangan performa yang kini menipis drastis.

    Bahkan sebelum Kimi-K3 dirilis, proposisi membayar hingga enam kali lebih mahal untuk peningkatan performa tipis dari model tertutup sudah mendorong perusahaan AS beralih ke AI buatan China. Kini, dengan kesenjangan performa yang semakin mengecil, semakin sedikit alasan bagi perusahaan atau individu untuk membayar harga mahal model-model Silicon Valley. Perhitungan sederhana ini menjadi kabar buruk bagi industri teknologi AS yang selama ini mengklaim butuh investasi triliunan dolar untuk membuat AI bekerja.

    Seperti yang diamati Qu, “Putaran pendanaan terbaru Kimi menilai perusahaan itu sebesar 20 miliar dolar AS dua bulan lalu. Anthropic bernilai hampir 1 triliun, 50 kali lipat. Mengapa?” Perbandingan valuasi ini menyoroti potensi inefisiensi di pasar AI global. Fenomena China yang unggul dalam AI juga tercermin dalam Survei Global yang menunjukkan persepsi publik internasional.

    Implikasi dari pencapaian Kimi-K3 sangat luas. Bagi pengembang dan perusahaan rintisan (startup) di Indonesia, model open-weight yang mumpuni seperti Kimi-K3 menawarkan akses ke teknologi AI canggih dengan biaya jauh lebih rendah. Ini bisa mempercepat adopsi AI di berbagai sektor, dari pengembangan aplikasi hingga riset akademik, tanpa harus bergantung pada ekosistem mahal milik perusahaan AS.

    Pasar AI global kini berada di titik balik. Dominasi AS yang selama ini tak tergoyahkan mulai terusik oleh inovasi China yang lebih efisien dan terjangkau. Bagi pelaku industri di Jawa Barat dan Banten, tren ini membuka peluang kolaborasi dan pengembangan solusi AI yang lebih kompetitif secara global.

    Keputusan pengadilan China baru-baru ini yang menyatakan bahwa seorang pekerja tidak dapat digantikan oleh AI menambah dimensi baru dalam diskusi etika dan regulasi AI. Sementara teknologi terus melesat, kerangka hukum dan sosial harus beradaptasi untuk memastikan manfaat AI dapat dinikmati secara luas tanpa mengorbankan hak-hak tenaga kerja. Pertanyaan kunci yang diajukan para pengamat kini adalah: mampukah Silicon Valley merespons tantangan ini dengan inovasi atau justru akan tergerus oleh efisiensi model-model terbuka dari China?

  • Codex OpenAI Meledak di RI, Separuh Penggunanya Bukan Programmer

    Codex OpenAI Meledak di RI, Separuh Penggunanya Bukan Programmer

    JBNews.id — Penggunaan Codex OpenAI meledak di RI dengan data mengejutkan: separuh penggunanya bukan programmer. Lonjakan ini didorong oleh pekerja kantoran, analis, peneliti, dan pelaku bisnis yang memanfaatkan agen AI untuk meningkatkan produktivitas.

    OpenAI mengungkapkan bahwa sejak awal tahun hingga akhir April 2026, jumlah pengguna Codex di Indonesia meningkat lebih dari 12 kali lipat. Sementara itu, interaksi hariannya melonjak lebih dari 16 kali lipat. Yang lebih menarik, sekitar 50% penggunaan Codex di Indonesia berkaitan dengan tugas non-coding.

    “Komunitas builder di Indonesia sangat pragmatis. Mereka tidak sekadar membahas AI secara abstrak, tetapi menggunakannya untuk menjawab kebutuhan nyata dalam pekerjaan, bisnis, komunitas, dan produk yang mereka bangun,” ujar Gabriel Chua, DX Engineer OpenAI, saat dihubungi detikINET.

    Codex OpenAI

    Menurut Gabriel, tingginya adopsi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memanfaatkan Codex untuk mengotomatisasi pekerjaan berulang, meningkatkan produktivitas, hingga merancang prototipe berbagai ide. Ia menilai para builder di Indonesia juga memiliki keunggulan dalam memahami konteks lokal, mulai dari bahasa, kebutuhan UMKM, pendidikan, hingga tantangan yang dihadapi masyarakat sehari-hari. Hal itu membuat solusi berbasis AI yang mereka bangun menjadi lebih relevan.

    Bukan Hanya untuk Programmer

    Meski namanya identik dengan coding, OpenAI menegaskan bahwa Codex kini digunakan jauh melampaui kebutuhan pengembangan perangkat lunak. Gabriel menjelaskan bahwa banyak pekerjaan berbasis pengetahuan (knowledge work) sebenarnya memiliki alur yang terstruktur dan berulang, sehingga cocok dibantu oleh agen AI.

    “Pembuatan laporan, spreadsheet, presentasi, peninjauan kontrak, pengisian dashboard, hingga proses internal lainnya umumnya mengikuti alur yang berulang. Di sinilah agen AI seperti Codex dan ChatGPT Work dapat membantu memetakan alur tersebut agar lebih mudah ditinjau, digunakan kembali, dan disempurnakan,” jelasnya.

    Secara global, Codex dan ChatGPT Work kini telah memiliki lebih dari 7 juta pengguna aktif mingguan. Bahkan lebih dari 1 juta orang menggunakan Codex untuk pekerjaan di luar pengembangan perangkat lunak, seperti membersihkan data, menyiapkan laporan rutin, memahami codebase, hingga menguji alat internal.

    Gabriel Chua, DX Engineer, OpenAI

    Dipakai Tim Komunikasi hingga Product Manager

    OpenAI juga membagikan sejumlah contoh penggunaan Codex oleh kalangan non-developer. Tim komunikasi, misalnya, memanfaatkan Codex untuk menyusun kalender konten, membuat template yang dapat digunakan berulang, hingga membangun alur kerja sederhana untuk memantau unggahan media sosial. Sementara analis dan peneliti menggunakan Codex untuk membersihkan data, memetakan pola, lalu mengubah hasil analisis menjadi laporan yang siap digunakan.

    Bagi product manager, Codex bahkan dapat berfungsi sebagai asisten pribadi yang membantu menyiapkan agenda kerja setiap hari. Salah satu contoh datang dari manajer produk di tim Codex yang menggunakan AI untuk mengumpulkan konteks dari Slack, dokumen, Linear, dan email, kemudian mengubah ide awal menjadi prototipe yang dapat langsung diuji.

    Contoh lain berasal dari maskapai Virgin Atlantic. Tim produk digital perusahaan tersebut menggunakan ChatGPT Work yang didukung teknologi Codex untuk membandingkan pengalaman pelanggan dengan kompetitor dan menyusun strategi lima tahun ke depan. Proses yang sebelumnya membutuhkan waktu berminggu-minggu dapat diselesaikan hanya dalam hitungan jam.

    Meski demikian, Gabriel menegaskan bahwa Codex tidak dimaksudkan untuk menggantikan manusia. “Codex tidak menggantikan keahlian manusia. Teknologi ini dirancang untuk membantu mempercepat terciptanya draf awal lebih cepat, sementara pertimbangan dan peninjauan mendalam tetap berada di tangan manusia,” tutupnya.

    Fenomena ini menunjukkan bahwa adopsi Codex OpenAI meledak di RI tidak hanya mengubah cara kerja programmer, tetapi juga membuka peluang baru bagi berbagai profesi. Bagi pekerja kantoran, analis, atau product manager, ini adalah momentum untuk mengintegrasikan AI ke dalam rutinitas harian demi efisiensi yang lebih tinggi.

    Dengan tren yang terus meningkat, Indonesia diprediksi akan menjadi salah satu pasar terbesar untuk agen AI di Asia Tenggara. Para pengguna yang belum mencoba Codex disarankan untuk mulai mengeksplorasi fitur-fiturnya, terutama yang relevan dengan tugas non-coding.

    Perkembangan ini juga sejalan dengan inovasi lain dari OpenAI, seperti Fitur Terbaru speaker AI tanpa layar yang direncanakan rilis pada 2027, menunjukkan komitmen perusahaan untuk terus memperluas ekosistem AI bagi berbagai kalangan.

  • San Francisco Tuntut Apple-Google Hapus Aplikasi Deepfake Porno

    San Francisco Tuntut Apple-Google Hapus Aplikasi Deepfake Porno

    JBNews.id — San Francisco secara resmi menuntut Apple dan Google untuk menghapus 13 aplikasi deepfake dari toko aplikasi mereka yang memungkinkan pengguna membuat gambar telanjang nonkonsensual berbasis AI. Jaksa Kota San Francisco David Chiu mengirimkan surat peringatan hukum kepada kedua raksasa teknologi itu pada Kamis, menuduh mereka “membantu dan bersekongkol” dalam penjualan gambar deepfake eksplisit. Tindakan hukum ini menandai eskalasi terbaru dalam upaya memberantas konten pornografi palsu yang merajalela di platform digital.

    Surat tersebut menyatakan bahwa Apple dan Google seharusnya memutus hubungan bisnis dengan pengembang aplikasi yang menawarkan fitur “nudifikasi” ilegal. “Menghasilkan gambar intim nonkonsensual adalah ilegal, berbahaya, dan sama sekali tidak dapat diterima,” kata Chiu kepada WIRED. Kantor jaksa kota sebelumnya telah mengambil tindakan hukum terhadap 16 situs web deepfake populer, dan kini menargetkan aplikasi yang beredar di toko aplikasi utama dunia.

    Chiu menambahkan bahwa Apple dan Google kemungkinan telah “menghasilkan jutaan dolar dalam bentuk biaya” dari aplikasi yang menawarkan layanan nudifikasi. “Perusahaan-perusahaan ini memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa aplikasi di platform mereka tidak memfasilitasi pelecehan seksual,” tegasnya. Surat hukum tersebut merujuk pada undang-undang California yang melarang layanan pendukung yang menciptakan pornografi deepfake.

    Skala Masalah yang Mengkhawatirkan

    Peneliti telah berulang kali menemukan dan melaporkan aplikasi di App Store milik Apple dan Play Store milik Google yang memungkinkan pengguna menghasilkan gambar seksual menggunakan AI. Beberapa aplikasi bahkan diberi peringkat cocok untuk digunakan oleh anak-anak. Meskipun undang-undang dan larangan baru bertujuan mengatasi wabah deepfake eksplisit secara daring, perusahaan teknologi dan media sosial secara konsisten mengarahkan jutaan orang menuju teknologi berbahaya ini.

    Google melalui juru bicaranya, Dan Jackson, menyatakan bahwa perusahaan telah menghapus “ratusan” aplikasi dengan fitur nudifikasi karena melanggar kebijakan. “Google Play tidak mengizinkan aplikasi yang mengandung konten seksual, dan kami terus mengambil langkah proaktif untuk mendeteksi dan menghapus aplikasi dengan konten berbahaya,” ujar Jackson dalam pernyataannya. Ia menambahkan bahwa Google telah menangguhkan ratusan aplikasi yang melanggar dan membatasi istilah pencarian terkait seperti ‘nudify’ di tokonya. Sementara itu, Apple tidak memberikan komentar sebelum publikasi.

    Dalam lima tahun terakhir, teknologi deepfake “nudification” yang sangat menguntungkan telah muncul secara masif. Sebuah host aplikasi, situs web, dan bot memungkinkan orang (kebanyakan pria) untuk mengunggah gambar orang lain (mayoritas perempuan dan anak perempuan) dan secara digital “menghapus” pakaian atau menempatkan mereka ke dalam skenario seksual grafis. Seringkali, yang dibutuhkan hanyalah foto referensi dan beberapa klik, dengan hasil yang tersedia dalam hitungan detik.

    Dampak pada Korban dan Sekolah

    Pelaporan sebelumnya oleh WIRED dan Indicator Media telah mengungkap insiden di setidaknya 90 sekolah di mana gambar deepfake pelecehan seksual dibuat terhadap anak di bawah umur. “Gambar-gambar ini digunakan untuk menindas, mempermalukan, dan mengancam perempuan dan anak perempuan,” kata Chiu. “Industri ini memiliki dampak mengerikan pada reputasi, kesehatan mental, dan hilangnya otonomi seseorang. Ada korban yang menjadi bunuh diri.”

    Ketiga belas aplikasi yang diselidiki oleh Kantor Jaksa Kota—delapan di App Store dan lima di Play Store—secara umum mengiklankan diri sebagai alat “tukar wajah” (face-swapping), dengan kemampuan untuk membuat deepfake seksual tersedia setelah orang menggunakannya. Situs web salah satu aplikasi, yang memiliki lebih dari 1 juta unduhan, menampilkan lebih dari selusin gaya gambar AI yang akan dihasilkan, termasuk “bikini queen curvy,” “calm busty,” dan “cinematic intimacy.” Banyak gaya yang menampilkan gambar perempuan seksual bersama deskripsinya. Halaman utama aplikasi lain yang ditargetkan mengklaim memproduksi video “gratis dan tanpa sensor.”

    Respons dan Temuan Penelitian

    Masalah ini bukanlah hal baru bagi Apple dan Google. Sepanjang tahun lalu, berbagai laporan telah mengidentifikasi aplikasi di platform perusahaan yang dapat memungkinkan orang membuat gambar atau video telanjang nonkonsensual. Pada Januari dan April tahun ini, Tech Transparency Project (TTP), kelompok pengawas independen, menemukan sekitar 100 aplikasi di App Store dan Play Store, serta beberapa iklan untuk teknologi nudifikasi di platform tersebut. Aplikasi yang diidentifikasi diperkirakan telah diunduh secara kolektif sekitar 480 juta kali dan mungkin telah menghasilkan pendapatan sekitar $120 juta.

    “Kami tidak mengira setelah laporan pertama bahwa kami akan melihat ini sebagai masalah lagi—dan ternyata sama buruknya, jika tidak lebih buruk, setelah laporan kedua,” kata Katie Paul, direktur TTP. “Apple dan Google membuat banyak janji dalam pemasaran mereka tentang seberapa tepercaya dan aman toko aplikasi mereka. Dan itu tidak sesuai dengan kenyataan.”

    Sementara itu, dalam makalah penelitian pracetak yang diterbitkan pada Mei, peneliti dari Cornell University dan Georgetown University mengidentifikasi 420 aplikasi yang menawarkan kemampuan tukar wajah umum di toko aplikasi Google dan Apple. Mereka menguji 155 aplikasi untuk melihat apakah aplikasi tersebut dapat digunakan untuk membuat tukar wajah dengan gambar telanjang; dalam 70 persen kasus, hal itu dimungkinkan, dengan aplikasi tidak menyertakan langkah-langkah keamanan untuk mencegahnya. “Tak satu pun dari aplikasi ini diiklankan sebagai aplikasi nudifikasi,” kata penelitian tersebut. “Ini menunjukkan bahwa aplikasi tukar wajah, dan banyak bentuk aplikasi pembuatan dan pengeditan gambar AI lainnya, secara efektif bersifat ‘penggunaan ganda’: aplikasi yang menghindari moderasi konten oleh platform karena tampak tidak berbahaya, tetapi memiliki kemampuan untuk membuat konten berbahaya.”

    Implikasi dan Langkah Selanjutnya

    Chiu menegaskan bahwa kantornya akan terus mengejar masalah ini setelah merasa “sangat ngeri” melihat dampak dan skala teknologi tersebut. “Harapan saya adalah Apple dan Google akan segera menghapus aplikasi-aplikasi ini dan memperkuat sistem penyaringan mereka untuk memastikan bahwa aplikasi seperti ini tidak pernah masuk ke platform mereka di masa depan,” katanya. “Kami berharap perusahaan-perusahaan ini akan melakukan hal yang benar—tetapi jika tidak, kami harus mempertimbangkan semua opsi hukum kami.”

    Bagi pengguna di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat penting tentang risiko aplikasi deepfake yang beredar bebas. Dengan maraknya penggunaan AI, penting untuk waspada terhadap aplikasi yang menjanjikan fitur manipulasi gambar tanpa batas. Regulasi dan pengawasan ketat dari platform seperti Apple dan Google menjadi kunci untuk melindungi masyarakat dari penyalahgunaan teknologi yang merusak privasi dan martabat.

  • Foundation Siapkan Robot Humanoid Bersenjata untuk Militer

    Foundation Siapkan Robot Humanoid Bersenjata untuk Militer

    JBNews.id — Sebuah perusahaan robotik asal Amerika Serikat, Foundation, mengumumkan rencana untuk membekali robot humanoid buatannya dengan kemampuan mematikan dalam waktu dekat. Langkah ini menandai babak baru dalam pengembangan teknologi militer otonom yang selama ini menjadi perhatian utama berbagai angkatan bersenjata dunia.

    Pathak, CEO Foundation, menyatakan kepada WIRED bahwa perusahaannya tengah menjajaki beberapa opsi untuk sistem persenjataan pada robot humanoid mereka. “Kami memiliki beberapa hal kinetik yang sedang kami eksplorasi,” ujarnya, merujuk pada sistem senjata. “Kami mungkin akan mengungkapkan sesuatu dalam beberapa bulan ke depan,” tambahnya. Selain untuk pertempuran, perusahaan menyebut robot mereka juga berguna untuk logistik, pengintaian, dan inspeksi.

    Militer AS memiliki ketertarikan jangka panjang pada robot humanoid. Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) mendanai kompetisi humanoid besar antara 2012 dan 2015, dan Angkatan Darat AS memiliki program bernama xTechHumanoids yang mendanai pengembangan teknologi yang relevan untuk “kemampuan humanoid yang dimiliterisasi.” Militer di seluruh dunia dengan cepat mengeksplorasi dan mengadopsi sistem otonom atau semi-otonom baru, termasuk drone udara, kapal kecil, dan kendaraan kompak.

    Sistem berkaki dapat melintasi medan yang lebih menantang, dan harapannya adalah robot humanoid dapat mengambil alih banyak tugas yang kini dilakukan oleh tentara manusia. Perang di Ukraina telah menjadi laboratorium bagi pengembangan dan pengujian banyak sistem ini; Foundation mengatakan telah menguji humanoidnya, Phantom MK1, bersama pasukan Ukraina.

    Fokus Pasar Militer yang Unik

    Foundation unik dalam penargetannya pada pasar militer, dan sejauh ini terbukti menguntungkan. Perusahaan ini memiliki kontrak pemerintah senilai jutaan dolar dan pendukung profil tinggi untuk menyebarkan pesan mereka: Eric Trump, putra presiden, adalah investor dan kepala penasihat strategis perusahaan. “Orang tidak menyadari bahwa dia sebenarnya adalah seorang insinyur, jadi dia melakukan banyak penggilingan dan hal-hal seperti itu di rumahnya,” kata Pathak.

    Dalam wawancara dengan Fox Business pada 23 April, Eric Trump memuji robot perusahaan tersebut. “Ketika Anda pergi dan berinteraksi dengan robot-robot ini, dan mereka melakukan fist-bump, high-five, mengikuti perintah Anda,” katanya. “Anda menghadirkan otonomi AI, itu akan mengubah industri, mengubah aplikasi militer, mengubah perhotelan. Penggunaannya tidak terbatas, dan saya pikir itu adalah hal yang sangat indah.”

    Foundation didirikan pada tahun 2024. Beberapa bulan kemudian, perusahaan itu mengakuisisi perusahaan bernama Boardwalk Robotics, yang bekerja erat dengan Institute for Human and Machine Cognition (IHMC), sebuah lembaga penelitian nirlaba di Florida yang dikenal karena karyanya pada robot humanoid. Selama segmen Fox, pembawa acara menyebutkan “kontrak senilai $24 juta dengan Pentagon” yang dimenangkan perusahaan, meskipun hal itu tampak agak kabur. Ketika WIRED meminta informasi lebih lanjut tentang kontrak Foundation, perusahaan membagikan rincian dua kontrak yang diwarisi dari Boardwalk dan tiga kontrak yang diperoleh melalui IHMC. Perusahaan tampaknya belum mengamankan dana baru secara independen dari pemerintah.

    Meskipun demikian, beberapa orang percaya ini adalah ceruk yang menjanjikan. “Jika Anda memakai topi militer, itu masuk akal, karena di situlah tentara masih mati—masuk pertama melalui pintu,” kata seorang ahli robotika yang akrab dengan Foundation, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya agar tidak mempengaruhi hubungan bisnis. “Jika Anda melihat Fallujah, Perang Teluk pertama, Anda memiliki beberapa ribu pemberontak bersembunyi di 10.000 bangunan dan [pasukan AS] hanya pergi dari pintu ke pintu.” “Saya pikir ini sudah sangat dekat untuk layak sehingga saya terkejut mereka belum digunakan,” tambah mereka.

    Tantangan Teknis dan Etis yang Masih Besar

    Seperti perusahaan humanoid lainnya, Foundation sering menggambarkan robotnya melakukan tugas secara otonom—dan para ahli lain mengatakan tentara robot yang sepenuhnya otonom masih merupakan mimpi yang jauh. “Saat ini, sulit untuk memisahkan keadaan seni saat ini dari potensi keadaan seni” dengan humanoid, kata Robert Griffin, seorang ilmuwan peneliti senior yang mengerjakan robotika di IHMC yang memimpin proyek yang melibatkan Boardwalk dan menjadi penasihat teknis perusahaan. “Ada banyak tantangan, mencakup seluruh spektrum robotika, untuk gagasan membangun tentara manusia yang sebenarnya,” kata Griffin.

    Robot humanoid telah maju dalam beberapa tahun terakhir, berkat motor, sensor, dan perangkat keras lain yang lebih murah dan lebih efisien, serta algoritma AI yang melatih sistem ini untuk melakukan gerakan dinamis tertentu seperti parkour dan kung fu. Namun, persepsi dan navigasi adalah masalah utama ketika robot humanoid ditempatkan dalam situasi yang tidak dikenal. Meskipun mereka dapat menunjukkan keseimbangan yang luar biasa, mereka sering memerlukan pelatihan khusus untuk medan yang berbeda. Dan manipulasi fisik—yang akan sangat penting bagi robot untuk melakukan banyak tugas rutin, termasuk mengambil senjata—tetap menjadi tantangan besar yang belum terpecahkan.

    Rodney Brooks, pionir robotika dan profesor emeritus di MIT, mengatakan dia memperkirakan akan memakan waktu lebih dari satu dekade bagi robot humanoid untuk beroperasi secara andal di lingkungan yang kompleks dan asing. Bahkan di laboratorium, humanoid tempur harus mampu melintasi berbagai medan dan jenis bangunan, menavigasi puing-puing di tangga, dan melewati pintu yang terhalang. Dan setelah itu, “beralih dari demo lab yang solid ke penerapan awal dalam robotika selalu setidaknya 10 tahun,” kata Brooks.

    Penerapan jenis otonomi militer baru juga menimbulkan berbagai pertanyaan etis seputar keandalan dan kurangnya masukan manusia dalam keputusan tentang penggunaan kekuatan mematikan. Gagasan menempatkan robot humanoid dalam pertempuran, secara sederhana, sedikit menakutkan, membangkitkan gambar fiksi ilmiah dari The Terminator. Pathak menepis kekhawatiran itu. “Dari perspektif saya, skenario kiamat sangat, sangat berlebihan untuk humanoid,” katanya. Dia juga tampaknya tidak khawatir tentang kemanjuran dan percaya bahwa robot dan teknologi lain dapat membuat perang lebih tepat dan efisien. “Saya berharap saya bisa mengakhiri perang, tapi saya tidak berpikir saya bisa,” katanya. “Tapi saya pasti bisa berkontribusi dalam membuat perang lebih tepat, mengurangi kerusakan tambahan sebanyak mungkin.”

    Itu mungkin masih jauh. Pathak mengatakan bahwa versi berikutnya dari humanoid perusahaan, Phantom MK2, akan menjadi versi pertama robot yang kedap air dan tahan debu.

    Perkembangan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang masa depan peperangan dan etika penggunaan robot humanoid di medan perang. Sementara Foundation optimis, banyak ahli yang mengingatkan bahwa jalan menuju tentara robot yang andal masih panjang dan penuh tantangan, baik secara teknis maupun etis. Ketegangan antara ambisi komersial dan realitas teknis ini akan terus menjadi sorotan di tahun-tahun mendatang.

  • Apjatel Dorong Skema Konsorsium Fiber Optik Tekan Biaya Relokasi

    Apjatel Dorong Skema Konsorsium Fiber Optik Tekan Biaya Relokasi

    JBNews.id — Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) mendorong pembentukan skema konsorsium fiber optik sebagai solusi untuk menekan tingginya biaya relokasi jaringan di tengah masifnya penataan kabel udara oleh pemerintah daerah. Langkah ini menjadi salah satu keputusan strategis yang dihasilkan dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) II Apjatel.

    Ketua Umum Apjatel, Jerry Mangasas Swandy, mengungkapkan bahwa skema konsorsium memungkinkan empat hingga lima kabel fiber optik ditempatkan dalam satu pipa HDPE. Dengan cara ini, biaya pembangunan dan relokasi jaringan menjadi lebih efisien, terutama bagi perusahaan skala kecil dan menengah yang menjadi anggota asosiasi.

    “Apjatel membuat skema konsorsium yang terdiri atas empat hingga lima kabel yang dapat masuk dalam satu HDPE. Tujuannya untuk menekan biaya relokasi kabel udara maupun penggelaran jaringan fiber optik. Ini merupakan bentuk keberpihakan kami kepada seluruh anggota, baik perusahaan besar maupun UMKM,” ujar Jerry dalam keterangan tertulis, Jumat (17/6/2027).

    Munaslub II Apjatel tidak hanya menyepakati penyempurnaan Anggaran Dasar (AD) organisasi, tetapi juga menghasilkan sejumlah langkah strategis untuk menjawab tantangan penataan jaringan fiber optik di berbagai daerah. Asosiasi ini menyiapkan mekanisme menghadapi semakin banyaknya pemerintah daerah yang mendorong penataan kabel udara demi meningkatkan estetika kawasan perkotaan sekaligus aspek keselamatan.

    Ketua Umum Apjatel, Jerry Mangasas Swandy

    Menurut Jerry, setiap permintaan penataan dari pemerintah daerah akan melalui proses verifikasi terlebih dahulu untuk menentukan solusi yang paling tepat. Opsi yang tersedia meliputi perapihan kabel, pembangunan tiang bersama, atau relokasi jaringan ke bawah tanah. Keputusan mengenai teknis, harga, hingga pelaksanaan dilakukan secara terbuka melalui musyawarah anggota.

    “Perapihan, pembangunan tiang bersama, maupun relokasi kabel bawah tanah akan dilakukan oleh vendor yang dipilih berdasarkan kesepakatan anggota. Semua keputusan mengenai teknis, harga, hingga pelaksanaan dilakukan secara terbuka,” jelas Jerry.

    Skema konsorsium ini dirancang agar seluruh anggota Apjatel, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor telekomunikasi, tetap mampu mengikuti program penataan jaringan tanpa terbebani biaya yang terlalu besar. Hal ini menjadi krusial mengingat banyak operator kecil yang kesulitan memenuhi biaya relokasi jika harus dilakukan secara mandiri.

    Jerry menegaskan Apjatel akan terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam pembangunan infrastruktur telekomunikasi nasional. Organisasi akan menjembatani kepentingan anggotanya dalam menghadapi berbagai regulasi dari pemerintah pusat maupun daerah, sekaligus memastikan pembangunan jaringan berjalan lebih efektif.

    “Setiap keputusan terkait teknis, harga, dan pelaksanaan selalu berdasarkan musyawarah anggota. Apjatel berkomitmen menjalankan setiap langkah dengan prinsip demokrasi, transparansi, dan akuntabilitas. Tidak ada yang kami tutupi,” tegasnya.

    Dengan hasil Munaslub II tersebut, Apjatel optimistis mampu memperkuat sinergi antaranggota sekaligus mempercepat pembangunan jaringan fiber optik yang lebih efisien. Operator telekomunikasi diharapkan dapat menghadirkan layanan internet yang semakin berkualitas bagi masyarakat di seluruh Indonesia.

    Organisasi ini juga menargetkan menjadi salah satu motor penggerak pemerataan konektivitas digital melalui kolaborasi yang lebih erat antara pelaku industri, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong pemerataan konektivitas digital di seluruh wilayah Indonesia.

    Munaslub II Apjatel berlangsung kondusif dan menjadi momentum memperkuat soliditas organisasi di tengah meningkatnya kebutuhan pembangunan infrastruktur digital nasional. Jerry menyampaikan bahwa dinamika yang muncul selama proses organisasi merupakan hal yang wajar dalam sebuah wadah yang mengedepankan demokrasi.

    “Perbedaan pendapat justru memperkaya proses pengambilan keputusan. Kami di Apjatel menjadikan dinamika ini sebagai energi untuk mencari solusi terbaik, bukan sebagai penghalang. Yang terpenting, seluruh insan Apjatel memiliki visi yang sama, yaitu memperkuat infrastruktur digital untuk Indonesia yang lebih maju,” kata Jerry.

    Ia menegaskan, setelah Munaslub, fokus Apjatel adalah mempererat kolaborasi dengan seluruh anggota serta para pemangku kepentingan guna mendukung percepatan transformasi digital yang tengah didorong pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital. Tantangan ke depan termasuk mempersiapkan diri menghadapi era baru telekomunikasi, termasuk alokasi spektrum frekuensi untuk teknologi masa depan.

    Penataan kabel udara yang kian masif di berbagai kota besar di Indonesia menjadi pendorong utama lahirnya skema konsorsium ini. Pemerintah daerah di sejumlah wilayah mulai menertibkan kabel-kabel yang semrawut untuk meningkatkan estetika dan keselamatan. Apjatel merespons dengan menyiapkan solusi yang tidak hanya efisien secara biaya, tetapi juga adil bagi semua anggota.

    Kehadiran skema konsorsium diharapkan dapat menjadi model baru dalam pengelolaan infrastruktur fiber optik di Indonesia. Dengan berbagi pipa HDPE, operator telekomunikasi dapat mengurangi biaya investasi yang signifikan, terutama saat harus merelokasi jaringan dari udara ke bawah tanah.

    Bagi perusahaan skala kecil dan menengah, skema ini menjadi angin segar. Mereka tidak perlu lagi khawatir dengan biaya relokasi yang bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah per titik. Dengan bergabung dalam konsorsium, biaya tersebut dapat dibagi bersama operator lain yang menggunakan jalur yang sama.

    Apjatel juga menyiapkan mekanisme pemilihan vendor yang transparan. Pelaksanaan pekerjaan nantinya dilakukan oleh vendor yang dipilih melalui mekanisme lelang atau penunjukan langsung berdasarkan kesepakatan anggota. Dengan demikian, seluruh aspek teknis maupun pembiayaan diputuskan secara terbuka.

    Jerry menambahkan bahwa Apjatel akan terus mengawal implementasi skema konsorsium ini agar berjalan sesuai rencana. Asosiasi juga akan melakukan sosialisasi kepada seluruh anggota mengenai mekanisme dan manfaat dari skema ini.

    Ke depannya, Apjatel berharap skema konsorsium dapat menjadi standar dalam penataan jaringan fiber optik di Indonesia. Dengan kolaborasi yang erat antara pelaku industri dan pemerintah, pembangunan infrastruktur digital nasional dapat berjalan lebih cepat, efisien, dan merata.

    Langkah Apjatel ini juga dinilai sejalan dengan upaya pemerintah dalam mewujudkan Indonesia Digital Nation. Infrastruktur telekomunikasi yang tertata dengan baik menjadi fondasi penting bagi transformasi digital di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi.

    Dengan semangat kebersamaan yang terbangun dalam Munaslub II, Apjatel optimistis mampu menghadapi tantangan ke depan. Organisasi ini berkomitmen untuk terus menjadi garda terdepan dalam pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang berkualitas dan terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia.

    Melalui skema konsorsium, biaya relokasi yang sebelumnya menjadi beban berat bagi operator kecil kini dapat ditekan secara signifikan. Ini adalah langkah konkret Apjatel dalam mewujudkan pemerataan konektivitas digital di Indonesia.

  • Fulu Beri Hadiah Rp160 Juta untuk Retas PS5

    Fulu Beri Hadiah Rp160 Juta untuk Retas PS5

    JBNews.id — Sebuah organisasi advokasi hak kepemilikan perangkat menawarkan hadiah hingga Rp160 juta bagi peretas pertama yang berhasil membobol kunci perangkat lunak milik Sony pada konsol PlayStation 5. Langkah ini membuka kembali perdebatan tentang sejauh mana pemilik perangkat berhak mengendalikan barang yang sudah mereka beli.

    Fulu, yang digagas oleh YouTuber Louis Rossmann dan advokat konsumen Kevin O’Reilly, memberikan imbalan kepada orang pertama yang membuktikan mampu memperbaiki atau melewati fitur produk yang dianggap merugikan pemilik perangkat. Fulu menyediakan dana awal sebesar $10.000, kemudian akan menyamai donasi hingga tambahan $10.000. Sejak dimulai pada akhir 2025, Fulu telah membayarkan dua hadiah — satu untuk perbaikan termostat Nest lama milik Google dan satu lagi untuk pembersih udara Molekule yang terkunci DRM.

    Pada Selasa lalu, Fulu mengumumkan hadiah yang akan memberi imbalan kepada peretas yang bisa menonaktifkan kunci perangkat lunak milik Sony pada konsol PlayStation 5 dan, secara teori, memungkinkan pengguna memasang sistem operasi seperti Linux di konsol game tersebut.

    “Jadikan PlayStation sebagai komputer lagi,” kata O’Reilly kepada WIRED. “Mari kita kembali ke komputasi serba guna dan memahami bahwa jika kita memiliki perangkat kerasnya, kita harus bisa memasang perangkat lunak yang kita inginkan ke dalamnya.”

    Latar Belakang Kontroversi Sony

    Pada awal Juli, Sony mengumumkan akan menghentikan produksi cakram fisik untuk semua game baru di konsol PS5. Langkah ini kontroversial dan memicu keresahan dari para gamer dan kelompok advokasi. Banyak dari mereka yang menyukai media fisik dan keberatan dengan persyaratan layanan PlayStation yang secara spesifik menyatakan bahwa membeli salinan digital sebuah game tidak berarti Anda memilikinya.

    “Banyak pemilik PlayStation yang khawatir tentang apa yang akan terjadi pada konsol mereka,” kata O’Reilly. “Mereka takut bahwa mereka bisa dirugikan kapan saja.”

    Kelangkaan RAM yang terus berlangsung telah menaikkan biaya di berbagai barang, termasuk teknologi konsumen seperti konsol milik Sony. Seiring kenaikan harga, Fulu ingin menunjukkan bahwa cara untuk bertahan dari badai mahal itu adalah dengan menemukan cara baru untuk mengandalkan perangkat yang sudah Anda miliki.

    Dampak dan Risiko Hukum

    “Konsol game memiliki daya komputasi yang signifikan,” kata O’Reilly. “Kenapa saya tidak bisa menggunakan ulang itu? Jika saya mencoba membuat kode atau menyiapkan sistem AI agen, kenapa saya tidak bisa menggunakan kotak ini, komputer yang saya beli — yang saya miliki — untuk melakukan apa yang saya inginkan?”

    Seperti semua target Fulu, ada risiko yang melekat. Menembus batasan perangkat lunak perusahaan dapat melanggar Bagian 1201 dari Digital Millennium Copyright Act, undang-undang yang disahkan pada tahun 1998 yang melarang pengguna untuk melewati kunci digital pada layanan perangkat lunak. Undang-undang ini dapat dihukum dengan denda dan bahkan hukuman penjara.

    Untuk memenangkan hadiah Fulu, seseorang harus membuktikan bahwa mereka memiliki perbaikan, tetapi mereka tidak diwajibkan untuk merilisnya ke publik jika khawatir menghadapi konsekuensi hukum. Itu berarti bahkan jika jailbreak PS5 berhasil dilakukan, mungkin tidak tersedia untuk digunakan secara luas oleh masyarakat.

    Fulu mengatakan idenya bukanlah tentang benar-benar membuat kasus penggunaan yang relatif khusus untuk PS5 ini menjadi mungkin, melainkan lebih tentang mendorong orang untuk melihat secara berbeda kendali yang mereka miliki atas perangkat mereka.

    “Hak kepemilikan kita terus-menerus diserang,” kata O’Reilly. “Sudah waktunya kita mengadakan percakapan dan kembali pada gagasan bahwa komputer adalah komputer dan kita harus bisa menggunakannya sesuai keinginan kita.”

    Implikasinya bagi pemilik PS5 cukup jelas: hak untuk mengontrol perangkat yang sudah dibeli masih menjadi medan pertempuran antara konsumen dan produsen. Sementara Fulu menawarkan insentif finansial, risiko hukum tetap menjadi penghalang utama. Bagi para gamer dan pengguna teknologi di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa kepemilikan perangkat keras tidak selalu berarti kebebasan penuh untuk menggunakannya.

    Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana komunitas peretas dan advokat konsumen terus mendorong batasan keamanan digital dan hak pengguna. Dengan perkembangan teknologi yang semakin cepat, perdebatan tentang siapa yang sebenarnya “memiliki” perangkat yang kita beli kemungkinan akan terus berlanjut.

  • Misteri Bola Emas di Laut Dalam Akhirnya Terpecahkan

    Misteri Bola Emas di Laut Dalam Akhirnya Terpecahkan

    JBNews.id — Hampir tiga tahun setelah membingungkan para ilmuwan, misteri bola emas yang ditemukan di dasar laut Alaska akhirnya terpecahkan. Benda berwarna keemasan yang sempat memicu berbagai spekulasi, mulai dari telur makhluk laut hingga organisme baru, ternyata merupakan bagian dari seekor anemon laut raksasa yang hidup di kedalaman ekstrem.

    Objek tersebut pertama kali ditemukan pada 30 Agustus 2023 saat kendaraan bawah laut tanpa awak (ROV Deep Discoverer) milik NOAA Ocean Exploration menjelajahi Teluk Alaska di kedalaman sekitar 3.300 meter. Benda berbentuk kubah berdiameter sekitar 10 sentimeter itu menempel pada batu dan memiliki sebuah lubang kecil di bagian bawahnya. Penampilannya yang tidak biasa membuat tim ekspedisi tak mampu langsung mengenalinya.

    Bahkan, saat siaran langsung ekspedisi berlangsung, salah seorang peneliti sempat berkomentar, “Saya benar-benar tidak tahu benda apa itu. Saya hanya berharap saat kita menyentuhnya, tidak ada sesuatu yang keluar dari dalamnya. Rasanya seperti awal film horor.” Pernyataan ini mencerminkan betapa membingungkannya penemuan tersebut pada saat itu.

    Setelah diangkat menggunakan penyedot khusus, spesimen itu dikirim ke Smithsonian National Museum of Natural History untuk diteliti lebih lanjut. Awalnya, para peneliti menduga misteri tersebut dapat dipecahkan melalui DNA barcoding, metode identifikasi genetik yang umum digunakan. Namun hasilnya tidak meyakinkan karena sampel dipenuhi materi genetik dari berbagai mikroorganisme yang hidup menempel di permukaannya.

    Di bawah mikroskop, ilmuwan juga tidak menemukan organ tubuh yang lazim dimiliki hewan. Yang terlihat hanyalah lapisan serat tebal berisi spirocyst, yakni sel penyengat khusus yang hanya dimiliki kelompok Hexacorallia, keluarga yang mencakup anemon laut dan karang batu. Temuan itu mempersempit daftar kandidat penyebab terbentuknya bola emas tersebut.

    Untuk memastikan identitasnya, tim kemudian menggunakan whole-genome sequencing, teknik yang membaca keseluruhan materi genetik organisme. Hasil analisis menunjukkan DNA benda tersebut hampir identik dengan Relicanthus daphneae, spesies anemon laut raksasa yang hidup pada kedalaman 2.400 hingga 4.400 meter.

    Para peneliti menyimpulkan bahwa bola emas itu bukanlah hewan utuh maupun telur, melainkan lapisan luar (cuticle) yang pernah menjadi bagian dasar tubuh anemon saat menempel pada batu di dasar laut. Setelah terlepas, lapisan tersebut tertinggal sementara hewannya berpindah ke tempat lain.

    Allen Collins, zoolog sekaligus Direktur National Systematics Laboratory NOAA Fisheries, mengatakan kasus ini jauh lebih rumit dibanding identifikasi spesimen laut pada umumnya. “Kami menangani ratusan sampel berbeda dan awalnya saya mengira prosedur rutin akan menyelesaikan misteri ini. Namun ternyata kasus ini memerlukan keahlian dari banyak bidang, mulai dari morfologi, genetika, biologi laut dalam, hingga bioinformatika,” ujarnya.

    Meski identitas bola emas akhirnya terungkap, ilmuwan menilai penemuan ini justru menunjukkan betapa sedikitnya pengetahuan manusia tentang laut dalam. William Mowitt, Pelaksana Tugas Direktur NOAA Ocean Exploration, mengatakan kemajuan teknologi seperti pengurutan DNA memungkinkan semakin banyak misteri dasar laut terpecahkan. “Dalam eksplorasi laut dalam, kami sering menemukan misteri yang memikat seperti ‘bola emas’ ini. Dengan teknik canggih seperti pengurutan DNA, kami kini mampu memecahkan semakin banyak misteri tersebut. Itulah alasan kami terus menjelajah laut dalam.”

    Relicanthus daphneae sendiri merupakan spesies yang relatif langka. Anemon ini pertama kali dideskripsikan pada 2006 dan memiliki tentakel yang dapat mencapai panjang lebih dari dua meter. Hewan tersebut hidup menempel pada batu di sekitar ventilasi hidrotermal, rembesan metana, dan dasar laut berbatu di kedalaman ribuan meter.

    Penemuan ini juga mengingatkan pada misteri sinyal inframerah yang baru-baru ini terungkap di Titan dan Pluto, menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang dengan temuan-temuan baru yang mengejutkan.

    Bagi para peneliti, terpecahkannya misteri bola emas bukanlah akhir, melainkan awal dari pemahaman baru mengenai kehidupan di salah satu lingkungan paling ekstrem di Bumi. Laut dalam masih menyimpan ribuan spesies yang belum dikenal, dan setiap ekspedisi berpotensi menghadirkan kejutan baru. Kasus serupa juga pernah terjadi ketika Shenlong melepaskan objek misterius di orbit Bumi, yang memicu spekulasi serupa di kalangan ilmuwan antariksa.

    Keberhasilan memecahkan misteri ini menunjukkan pentingnya kolaborasi multidisiplin dalam penelitian ilmiah. Tanpa kombinasi keahlian dari morfologi, genetika, biologi laut dalam, hingga bioinformatika, identitas bola emas mungkin akan tetap menjadi teka-teki. Para ilmuwan berharap metode serupa dapat diterapkan untuk mengungkap misteri sinyal radio kosmik yang baru terpecahkan melalui bintang katai putih.

    Laut dalam tetap menjadi salah satu frontier terakhir eksplorasi Bumi. Dengan kedalaman yang mencapai ribuan meter dan tekanan yang ekstrem, lingkungan ini menyimpan keanekaragaman hayati yang luar biasa namun belum banyak dipahami. Setiap penemuan baru, termasuk terpecahkannya misteri bola emas, membuka jendela pemahaman yang lebih luas tentang kehidupan di planet ini.

    NOAA Ocean Exploration sendiri terus melakukan ekspedisi rutin ke berbagai lokasi laut dalam di seluruh dunia. Dengan peralatan canggih seperti ROV Deep Discoverer dan teknik analisis modern seperti whole-genome sequencing, para peneliti optimistis dapat mengungkap lebih banyak misteri yang tersembunyi di kedalaman samudra.

    Implikasinya bagi pembaca: misteri bola emas ini mengingatkan kita bahwa masih banyak hal yang belum diketahui tentang planet kita sendiri. Setiap penemuan baru membuka peluang untuk memahami lebih dalam tentang keanekaragaman hayati dan evolusi kehidupan di Bumi, sekaligus menunjukkan betapa pentingnya pendanaan dan dukungan untuk penelitian ilmiah di bidang oseanografi dan biologi laut dalam.

    Bola emas misterius

  • SoftBank Investasi Rp 89 Ribu Triliun Per Tahun Demi AI

    SoftBank Investasi Rp 89 Ribu Triliun Per Tahun Demi AI

    JBNews.id — Chairman dan CEO SoftBank Group, Masayoshi Son, menyatakan kesiapannya menggelontorkan dana hingga USD 5 triliun atau setara Rp 89 ribu triliun setiap tahunnya untuk mewujudkan revolusi kecerdasan buatan (AI) di masyarakat. Komitmen ini disampaikan Son dalam konferensi tahunan SoftBank di Tokyo, di tengah kekhawatiran pasar akan adanya gelembung AI.

    Son meyakini bahwa pengembangan dan penerapan AI untuk masyarakat luas akan membutuhkan biaya fantastis tersebut hingga tahun 2040. Ia mengaku yakin angka tersebut mencerminkan biaya nyata dari sebuah revolusi AI. Alasannya sederhana: jika pendapatan terkait AI pada akhirnya menyumbang 20% dari PDB global pada tahun 2040, maka pengeluaran USD 5 triliun per tahun untuk mencapainya hanyalah nilai yang sangat kecil.

    Berbekal keyakinan tersebut, Son menepis mentah-mentah narasi tentang adanya gelembung AI. Menurutnya, mempertanyakan hal itu adalah sebuah gagasan konyol, dan orang-orang yang melontarkannya sama sekali tidak memahami apa itu AI. Dalam kesempatan terpisah, Son juga menyebut bahwa tuduhan gelembung AI adalah tidak masuk akal.

    Keyakinan di Tengah Kekhawatiran Pasar

    SoftBank selama beberapa tahun terakhir memang menjadi salah satu pendukung paling antusias terhadap AI generatif dan chatbot. Mereka telah berinvestasi besar-besaran di OpenAI dan beberapa unicorn AI lainnya. Son bahkan sempat memprediksi bahwa Artificial General Intelligence (AGI) sejati akan terwujud pada tahun 2030.

    Meski Son sangat percaya diri, pasar memiliki kekhawatirannya sendiri. SoftBank memang pernah mencetak sejarah manis dengan memberikan investasi awal kepada raksasa China, Alibaba, dan membawa iPhone ke pasar Jepang. Namun, konglomerat ini juga pernah melakukan kesalahan fatal yang merugikan, seperti kasus WeWork yang divaluasi USD 47 miliar pada 2019 namun berujung bangkrut.

    Beberapa survei menunjukkan bahwa banyak CEO secara pribadi meyakini gelembung AI itu nyata, namun mereka tetap berinvestasi karena dihantui rasa takut tertinggal (FOMO). Di sisi lain, analis Deutsche Bank menyebut bahwa ledakan AI saat ini mungkin menjadi satu-satunya hal yang menjaga ekonomi AS dari jurang resesi. Namun, hampir setengah dari proyek data center di AS yang direncanakan rampung pada 2026 terancam molor dari jadwal, ditambah dengan ketidakpastian geopolitik global.

    Visi Ekstrem: Era Dominasi Agen AI

    Visi paling ekstrem yang dilontarkan Son adalah mengenai masa depan peradaban. Dalam satu setengah dekade ke depan, ia percaya bahwa agen AI akan mengambil alih kendali kehidupan, dengan jumlah mencapai 100 triliun agen pada tahun 2040.

    “Kita akan beralih dari dunia yang berpusat pada manusia menjadi dunia yang berpusat pada agen. Era di mana manusia menjadi bentuk kehidupan tertinggi di Bumi akan berakhir. Baik atau buruk, hal itu akan terjadi, dan tidak bisa dihentikan,” pungkas Son, demikian dikutip dari Techspot.

    Revolusi AI ini bisa jadi memberikan SoftBank aliran keuntungan masif layaknya “Alibaba kedua”, atau justru berubah menjadi gelembung dot-com raksasa yang siap menghanguskan dunia finansial. Di tengah ketidakpastian ini, Son tetap teguh pada pendiriannya bahwa investasi besar-besaran adalah satu-satunya jalan untuk mewujudkan masa depan AI. Ia bahkan menegaskan bahwa tuduhan gelembung AI adalah sebuah penistaan terhadap kemajuan teknologi.

    Implikasinya bagi pembaca: investasi besar SoftBank ini akan mempercepat adopsi AI di berbagai sektor, mulai dari layanan pelanggan hingga manufaktur. Namun, risiko kegagalan juga tidak bisa diabaikan, terutama jika proyeksi pendapatan tidak sesuai harapan. Bagi pelaku industri dan investor, perkembangan ini menandakan bahwa persaingan di sektor AI akan semakin ketat, dan hanya perusahaan dengan strategi jangka panjang yang akan bertahan.

  • Apple-1 Batch Pertama Dilelang hingga Rp8,97 Miliar

    Apple-1 Batch Pertama Dilelang hingga Rp8,97 Miliar

    JBNews.id — Komputer Apple-1 dari batch pertama yang dipasarkan melalui Byte Shop pada 1976 akan dilelang di Sotheby’s New York. Perangkat yang masih berfungsi itu diperkirakan terjual antara US$300 ribu hingga US$500 ribu atau sekitar Rp5,38 miliar hingga Rp8,97 miliar (kurs Rp17.948 per dolar AS).

    Apple-1 merupakan komputer pertama yang dirancang oleh Steve Wozniak dan menjadi produk perdana Apple Inc. Unit yang akan dilelang ini berasal dari pesanan pertama Byte Shop yang hanya berjumlah 50 perangkat, menjadikannya salah satu artefak paling langka dalam sejarah komputer pribadi.

    Lelang ini menjadi bagian dari Sotheby’s Geek Week di New York, Amerika Serikat. Sebelum dilelang, perangkat tersebut dipamerkan kepada publik untuk memberikan kesempatan bagi kolektor dan penggemar teknologi melihat langsung salah satu ikon revolusi komputer personal.

    Menurut informasi yang dihimpun, Apple-1 yang akan dilelang masih dalam kondisi berfungsi penuh. Detail papan sirkuitnya masih terjaga dengan baik, menjadi bukti ketelitian desain era awal komputasi personal. Unit ini menjadi incaran utama kolektor teknologi dunia karena nilai historisnya yang tinggi.

    Apple-1 menjadi produk pertama Apple yang membuka jalan bagi perkembangan komputer personal modern. Dari papan sirkuit sederhana ini, lahirlah ekosistem teknologi yang kini mendunia. Kehadirannya di lelang Sotheby’s menunjukkan betapa berharganya perangkat tersebut bagi sejarah inovasi teknologi.

    Bagi para kolektor, memiliki Apple-1 bukan sekadar investasi finansial, melainkan juga kepemilikan atas potongan sejarah yang membentuk industri komputer seperti sekarang. Estimasi harga yang fantastis mencerminkan kelangkaan dan signifikansi perangkat ini dalam evolusi teknologi.

    Lelang ini diprediksi akan menarik perhatian kolektor dari seluruh dunia, termasuk dari Asia dan Eropa. Perangkat Teknologi Kuno seperti Apple-1 selalu menjadi primadona di setiap ajang lelang barang antik teknologi.

    Proses lelang akan berlangsung secara langsung di Sotheby’s New York. Bagi yang tidak bisa hadir, tersedia opsi penawaran secara online melalui platform lelang resmi Sotheby’s.

    Keberhasilan penjualan Apple-1 ini akan menjadi indikator pasar bagi barang-barang antik teknologi lainnya. Semakin tinggi harga yang tercapai, semakin besar minat kolektor terhadap artefak sejarah komputasi.

    Selain Apple-1, Sotheby’s Geek Week juga akan melelang berbagai barang antik teknologi lainnya. Acara ini menjadi ajang tahunan yang dinanti para penggemar sejarah teknologi dan komputasi.

    Bagi para penggemar teknologi di Indonesia, lelang ini menjadi pengingat betapa berharganya inovasi awal dalam industri komputer. Meski jarak geografis jauh, perkembangan teknologi informasi membuat informasi ini mudah diakses.

    Dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap barang antik teknologi terus meningkat. Kolektor tidak hanya mencari nilai investasi, tetapi juga kepuasan memiliki bagian dari sejarah inovasi manusia.

    Apple-1 yang masih berfungsi menjadi sangat langka. Sebagian besar unit yang pernah diproduksi kini sudah tidak berfungsi atau hilang. Keberadaan unit yang masih berfungsi menjadi incaran utama museum teknologi dan kolektor pribadi.

    Lelang ini juga menjadi momen refleksi bagi industri teknologi. Dari papan sirkuit sederhana yang dirancang di garasi, Apple tumbuh menjadi perusahaan teknologi terbesar di dunia. Fenomena Langka seperti ini jarang terjadi dalam dunia lelang barang antik.

    Bagi para pengusaha dan investor, lelang Apple-1 ini menunjukkan bahwa investasi pada barang antik teknologi bisa menjadi alternatif yang menarik. Nilai apresiasi perangkat ini dalam beberapa dekade terakhir sangat signifikan.

    Proses verifikasi keaslian Apple-1 dilakukan secara ketat oleh tim ahli Sotheby’s. Setiap komponen diperiksa untuk memastikan bahwa perangkat tersebut benar-benar asli dan berasal dari batch pertama Byte Shop.

    Dokumentasi historis yang menyertai unit ini juga menambah nilai jualnya. Kolektor tidak hanya membeli perangkat keras, tetapi juga cerita dan sejarah yang melekat padanya.

    Lelang Apple-1 ini menjadi bukti bahwa inovasi teknologi tidak lekang oleh waktu. Perangkat yang lahir di era 1970-an masih relevan dan bernilai tinggi di era digital saat ini.

    Bagi generasi muda yang tumbuh dengan smartphone dan komputer modern, Apple-1 mungkin terlihat primitif. Namun, tanpa perangkat ini, revolusi komputer personal mungkin tidak akan terjadi secepat yang kita alami sekarang.

    Lelang Sotheby’s Geek Week akan menjadi ajang unjuk gigi bagi para kolektor teknologi dunia. Apple-1 menjadi bintang utama dalam acara tersebut, dengan estimasi harga yang menjadi perbincangan hangat di kalangan penggemar teknologi.

    Kesimpulannya, lelang Apple-1 batch pertama ini bukan sekadar transaksi jual beli barang antik. Ini adalah perayaan atas sejarah inovasi yang telah mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, dan hidup. Bagi para kolektor dan penggemar teknologi, memiliki Apple-1 adalah memiliki secuil sejarah yang tak ternilai harganya.

    Bagi pembaca JBNews.id yang tertarik dengan perkembangan teknologi terkini, informasi tentang Tablet Terbaru dan inovasi lainnya bisa menjadi bacaan menarik untuk melengkapi wawasan tentang evolusi perangkat elektronik.