Category: Tekno

  • Bos Epic Games Sindir Kenaikan Harga Steam Deck demi Megayacht Gabe Newell

    Bos Epic Games Sindir Kenaikan Harga Steam Deck demi Megayacht Gabe Newell

    JBNews.id — Handheld gaming milik Valve, Steam Deck, resmi mengalami kenaikan harga yang signifikan pada 27 Mei 2026. Kenaikan ini langsung menuai sorotan, bukan hanya dari konsumen, tetapi juga dari bos Epic Games, Tim Sweeney, yang secara satir menyebut bahwa kenaikan tersebut digunakan untuk membiayai kapal pesiar mewah milik bos Valve, Gabe Newell.

    Harga PC genggam dengan ruang penyimpanan 1TB naik drastis sebesar USD 300 atau sekitar Rp 5,3 juta. Sebelumnya, harga eceran Steam Deck varian 1TB adalah USD 649 atau sekitar Rp 11,5 juta. Kenaikan ini terjadi di tengah kondisi industri yang disebut-sebut mengalami tekanan biaya komponen.

    Sehari setelah pengumuman kenaikan harga tersebut, tepatnya pada 28 Mei 2026, Tim Sweeney memposting di platform X (sebelumnya Twitter) untuk memberikan dukungan atas keputusan Valve. Namun, dalam unggahannya, ia melontarkan kalimat satir yang langsung merujuk pada gaya hidup mewah Gabe Newell.

    “Semua orang terlalu keras dalam penilaian mereka. Telah terjadi peningkatan signifikan dalam biaya komponen yang pada akhirnya didanai oleh pengeluaran pelanggan Steam, dan tren ekonomi telah menciptakan gangguan serius dalam rantai pasokan komponen untuk Megayacht,” tulis Sweeney, dikutip dari Dexerto, Selasa (2/6/2026).

    Referensi tentang Megayacht dalam pernyataan Sweeney bukanlah kebetulan. Gabe Newell memang dikenal memiliki ketertarikan terhadap barang-barang mewah. Perseteruan antara Sweeney dan Valve yang sudah berlangsung lama juga menjadi latar belakang dari sindiran tajam tersebut.

    Respon Warganet terhadap Sindiran Tim Sweeney

    Sindiran yang dilontarkan Tim Sweeney langsung mendapatkan respons yang begitu banyak dari warganet di platform X. Banyak yang menanggapi dengan berbagai komentar, mulai dari yang mendukung hingga yang justru mengkritik balik bos Epic Games tersebut.

    Salah satu warganet dengan akun bernama 404oops mengingatkan Sweeney untuk lebih fokus pada produknya sendiri. “Daripada ngejek Gaben, bagaimana kalau kamu investasikan duitmu untuk bikin launcher yang nggak jalan kayak sampah dan nggak minta login tiap detik sialan,” tulis akun tersebut. Komentar ini menyoroti keluhan umum pengguna terhadap platform Epic Games Launcher yang kerap dianggap kurang optimal.

    Koleksi Kapal Pesiar Mewah Gabe Newell

    Berdasarkan laporan Premier Boating, setidaknya hingga saat ini Gabe Newell memiliki enam kapal pesiar mewah. Nilai keseluruhan dari armada kapal pesiar ini disinyalir mencapai USD 1 miliar atau setara dengan Rp 17,7 triliun.

    Dari seluruh koleksinya, kapal pesiar terbesar milik Newell bernama Leviathan. Kapal ini memiliki panjang 111 meter yang dibangun oleh galangan kapal mewah Oceanco dan diserahkan pada tahun 2025. Kapal andalan ini diperkirakan menelan biaya antara USD 350 hingga USD 500 juta.

    Berikutnya ada Tranquility, sebuah yacht mewah berukuran 91 meter. Kapal ini bernilai sekitar USD 250 juta dan kabarnya saat ini sedang diubah menjadi kapal pendukung untuk Leviathan. Selain itu, terdapat Rocinante, sebuah kapal pesiar buatan Lürssen sepanjang 79 meter yang mewakili perpaduan sempurna antara kemewahan dan desain, dengan nilai mencapai USD 100 juta.

    Leviathan sebagai kapal pesiar terbesar memiliki beragam fasilitas mewah. Beberapa bangunan di dalamnya antara lain laboratorium sains mutakhir, rumah sakit, fasilitas spa, pusat penyelaman profesional, dan masih banyak lagi fasilitas eksklusif lainnya.

    Kenaikan harga Steam Deck dan sindiran Tim Sweeney ini menjadi perbincangan hangat di kalangan penggemar game. Bagi konsumen, kenaikan harga sebesar Rp 5,3 juta tentu menjadi pertimbangan serius sebelum memutuskan untuk membeli handheld gaming besutan Valve tersebut.

  • Merpati Punya Sistem GPS Alami, Tak Perlu Satelit

    Merpati Punya Sistem GPS Alami, Tak Perlu Satelit

    JBNews.id — Burung merpati memiliki sistem navigasi yang tak kalah canggih dari GPS modern. Makhluk ini tidak perlu satelit, karena organ tubuhnya akan menunjukkan jalan.

    Diketahui kalau sel darah putih di hati burung tersebut mengakumulasi zat besi dan bertindak sebagai kompas internal. Hal ini dapat membantunya mencari jalan pulang, meskipun awan menghalangi sinar matahari yang biasanya membantu mereka bernavigasi, demikian laporan para peneliti pada 28 Mei di jurnal Science, dilansir Science News, Selasa (2/6/2026).

    Meskipun para ilmuwan umumnya sepakat bahwa beberapa hewan menggunakan medan magnet Bumi untuk memandu migrasi, mereka belum menemukan cara pastinya. Namun penelitian yang baru-baru ini dilakukan menawarkan penjelasan yang mengejutkan.

    Selama beberapa dekade, para peneliti telah memperdebatkan dengan sengit, terkait apakah dan bagaimana burung merasakan medan magnet, lalu menggunakannya untuk navigasi. Salah satu gagasan yang menonjol melibatkan protein yang berada di mata mereka. Sayangnya tidak ada yang mampu membuktikan secara tepat bagaimana atau apa yang disebut efek kuantum ini berperan. Hal ini mengingat, hewan lain yang berorientasi menggunakan magnetisme Bumi, seperti kelelawar dan hiu, tidak memiliki protein tersebut, sehingga perdebatan ini tetap tidak terselesaikan.

    Ahli biologi sel Clivia Lisowski dari Universitas Bonn memeriksa apakah sel-sel dari organ tubuh burung seperti, paruh, mata, limpa dan hati bersifat magnetik. Ia pun menemukan bahwa hanya makrofag di hati merpati yang menempel pada kolom magnetik.

    Di dalam hati, para ilmuwan menemukan jutaan sel darah putih yang mengandung zat besi di dekat jaringan saraf organ tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa sel-sel tersebut dapat memberi tahu otak ke arah mana harus bergerak berdasarkan medan magnet Bumi.

    Makrofag yang dimaksud adalah sel darah putih besar dalam sistem kekebalan tubuh, yang berfungsi menelan dan menghancurkan kuman, sel mati, serta zat asing.

    Eksperimen di Hari Mendung

    Ide memfokuskan makrofag pada penelitian ini datang dari lebih dari satu dekade lalu oleh ahli ornitologi, Martin Wikelski, dari Institut Perilaku Hewan Max Planck di Radolfzell dan ahli imunologi, Christian Kurts, dari Universitas Bonn di Jerman.

    Untuk mengungkap peran makrofag, tim mengamati cuaca untuk mencari hari-hari mendung. Alasannya adalah karena merpati lebih suka menggunakan sinar matahari untuk memandu perjalanan dan menggunakan medan magnet hanya sebagai pilihan terakhir.

    “Sangat penting agar burung-burung itu tidak tahu di mana posisi matahari,” kata Kurts.

    Sebelum itu, peneliti membunuh makrofag pada setengah dari 34 merpati yang akan dites. Mereka membawa merpati-merpati itu sejauh 19 km dan melepaskannya dengan alat pelacak.

    Merpati yang makrofagnya masih utuh sampai ke rumah dalam waktu sekitar 70 menit. Merpati yang persediaan makrofagnya menipis terbang ke segala arah, dan baru kembali ke rumah saat matahari terbit keesokan harinya.

    Sementara ketika hari sedang cerah, merpati yang makrofagnya dihilangkan terbang langsung pulang.

    Mengenai temuan tersebut, ahli neuroetologi, John Phillips, dari Virginia Tech di Blacksburg, yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengatakan, pasti akan ada orang yang tidak percaya. Tetapi, dirinya menyampaikan, penelitian ini dilakukan dengan sangat baik, sehingga bahkan orang yang belum percaya pun tidak dapat mengabaikannya.

    Penemuan ini membuka wawasan baru tentang bagaimana sistem navigasi alami bekerja pada hewan. Temuan ini juga menginspirasi pengembangan teknologi navigasi yang lebih efisien di masa depan.

    Penelitian ini menegaskan bahwa alam menyediakan solusi navigasi yang sangat canggih, jauh sebelum teknologi modern ditemukan. Sistem GPS alami pada merpati ini menjadi bukti betapa kompleksnya mekanisme biologis yang dimiliki oleh makhluk hidup.

    Implikasinya, bagi para ilmuwan, temuan ini membuka jalan untuk penelitian lebih lanjut tentang bagaimana prinsip-prinsip biologis ini dapat diterapkan dalam pengembangan teknologi navigasi masa depan. Sementara bagi masyarakat umum, penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang keajaiban alam yang seringkali luput dari perhatian.

    Dengan adanya bukti ilmiah yang kuat ini, perdebatan selama puluhan tahun tentang mekanisme navigasi burung akhirnya menemukan titik terang. Penelitian ini tidak hanya menjawab pertanyaan fundamental dalam biologi, tetapi juga membuka peluang baru dalam berbagai disiplin ilmu.

  • Media Sosial Bayar Damai Rp 418 Miliar, Ada Apa?

    Media Sosial Bayar Damai Rp 418 Miliar, Ada Apa?

    JBNews.id — Instagram, TikTok, Snapchat, dan YouTube sepakat membayar uang damai senilai total USD 27 juta atau sekitar Rp 418 miliar untuk menyelesaikan gugatan dari distrik sekolah pedesaan di Kentucky, Amerika Serikat. Gugatan ini menuding platform media sosial bersifat adiktif dan berkontribusi pada krisis kesehatan mental remaja.

    Kesepakatan yang diumumkan pada awal Mei 2026 ini memungkinkan perusahaan-perusahaan teknologi raksasa itu menghindari persidangan pertama di Amerika Serikat yang dijadwalkan pada 12 Juni 2026 di pengadilan federal Oakland, California. Meski demikian, kesepakatan ini tidak menghentikan lebih dari 1.300 gugatan serupa dari distrik sekolah lain yang masih menunggu proses hukum.

    Menurut dokumen yang dirilis berdasarkan undang-undang keterbukaan informasi negara bagian, Meta—pemilik Instagram dan Facebook—membayar jumlah terbesar, yaitu USD 9 juta atau sekitar Rp 160,6 miliar. Snap Inc dan TikTok masing-masing membayar USD 8 juta atau sekitar Rp 142,7 miliar. Sementara itu, YouTube milik Google membayar USD 2 juta atau sekitar Rp 35,6 miliar setelah melakukan negosiasi.

    Uniknya, Google menjadi satu-satunya perusahaan yang sepakat menyediakan program pelatihan di distrik sekolah tersebut. Program ini bertujuan membantu guru menggunakan produk video Google dengan lebih baik di ruang kelas.

    Krisis Kesehatan Mental Remaja Jadi Pemicu

    Gugatan yang diajukan distrik sekolah di Breathitt County, Kentucky, ini berfokus pada dampak negatif media sosial terhadap kesehatan mental siswa. Platform seperti Instagram dan TikTok dituding memiliki fitur-fitur yang sengaja dirancang untuk membuat pengguna, terutama remaja, terus-menerus berlama-lama di aplikasi.

    Dalam pernyataan tertulis, perusahaan-perusahaan tersebut mengatakan bahwa mereka telah menyelesaikan kasus ini secara damai dan akan terus berinvestasi dalam pengamanan yang lebih kuat bagi pengguna mereka, seperti dilansir Yahoo Finance, Selasa (2/6/2026).

    Kesepakatan dengan sekolah-sekolah Kentucky ini dipandang sebagai indikasi bahwa raksasa teknologi terbuka untuk penyelesaian massal dengan distrik sekolah yang tersisa. Diperkirakan, kumpulan tuntutan hukum tersebut dapat menelan biaya hingga USD 400 miliar, menurut informasi dari Bloomberg Intelligence.

    Jadwal persidangan berikutnya untuk gugatan-gugatan lainnya dijadwalkan pada Februari 2027. Para pengamat hukum memperkirakan bahwa kasus ini bisa menjadi preseden penting bagi regulasi media sosial di Amerika Serikat ke depannya.

    Pembayaran uang damai ini menjadi sorotan global karena melibatkan nama-nama besar seperti Meta, TikTok, Snapchat, dan YouTube. Ke depannya, pengguna media sosial di Indonesia juga perlu lebih waspada terhadap dampak penggunaan platform digital, terutama bagi anak-anak dan remaja.

    Fenomena serupa juga pernah terjadi di Indonesia, di mana isu kesehatan mental akibat media sosial menjadi perbincangan hangat. Beberapa figur publik seperti Bunda Corla dan Al Ghazali juga pernah menyoroti dampak negatif dunia digital terhadap kehidupan pribadi.

    Implikasi bagi Pengguna dan Industri

    Bagi pengguna biasa, kesepakatan ini menjadi pengingat bahwa platform media sosial memiliki tanggung jawab besar terhadap kesehatan mental penggunanya. Sementara itu, bagi industri teknologi, kasus ini membuka pintu bagi gelombang tuntutan hukum serupa yang bisa mengubah cara perusahaan merancang produk mereka.

    Data dari Bloomberg Intelligence menunjukkan bahwa potensi biaya penyelesaian massal bisa mencapai USD 400 miliar. Angka ini menunjukkan betapa seriusnya dampak yang ditimbulkan oleh platform media sosial terhadap generasi muda.

    Dengan semakin banyaknya gugatan yang menunggu persidangan, industri media sosial global mungkin akan menghadapi tekanan regulasi yang lebih ketat dalam waktu dekat. Hal ini bisa berdampak pada kebijakan privasi, fitur keamanan, hingga algoritma yang digunakan oleh platform-platform tersebut.

    Di Indonesia, isu serupa juga mulai mengemuka. Beberapa figur publik seperti Citra Kirana dan Atta Halilintar telah berbagi pengalaman mereka terkait dampak media sosial terhadap kehidupan pribadi dan profesional.

    Kesimpulannya, pembayaran uang damai Rp 418 miliar oleh Instagram, TikTok, Snapchat, dan YouTube bukan sekadar penyelesaian hukum biasa. Ini adalah sinyal bahwa era di mana platform media sosial beroperasi tanpa pengawasan ketat mungkin akan segera berakhir. Bagi pengguna, ini adalah saat yang tepat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan menjaga kesehatan mental.