Category: Tekno

  • Gugatan Robot Pengantar: Wanita 73 Tahun Tuntut Starship Technologies

    Gugatan Robot Pengantar: Wanita 73 Tahun Tuntut Starship Technologies

    JBNews.id — Seorang wanita berusia 73 tahun di Phoenix, Arizona, melanjutkan gugatan perdata terhadap perusahaan robot pengantar, Starship Technologies, setelah insiden pada 2023 lalu. Trudy Perez, yang saat itu bekerja sebagai petugas tempat parkir, mengaku robot pengantar milik Starship Technologies berulang kali menabraknya hingga ia terjatuh dan kembali terlindas saat sudah tergeletak di tanah.

    Insiden yang terjadi di kampus Arizona State University ini dilaporkan oleh stasiun radio lokal KJZZ. Menurut laporan polisi, Perez menderita luka robek sepanjang empat inci di lengannya, serta nyeri punggung dan masalah mobilitas akibat kejadian tersebut. Kini, ia menuntut ganti rugi kompensasi yang mencakup biaya pengobatan, rasa sakit dan penderitaan, serta upah yang hilang.

    Gugatan ini menyoroti tanggung jawab perusahaan atas kerusakan yang disebabkan oleh robot otonom mereka. Starship Technologies, yang mengoperasikan ribuan robot pengantar di berbagai kampus universitas di Amerika Serikat, kini menghadapi tuntutan hukum yang berpotensi menjadi preseden penting bagi industri ini.

    Kronologi Insiden dan Tuduhan Kelalaian

    Dalam gugatannya, Perez menuduh bahwa robot pengantar Starship Technologies gagal berfungsi dengan baik. Lebih spesifik, pengajuan hukum tersebut menyatakan bahwa unit robot eksperimental itu sedang dikendalikan oleh seorang karyawan dari lokasi jarak jauh. Karyawan yang tidak disebutkan namanya ini, menurut pengajuan, lalai dalam “melaksanakan kendali” atas robot pengantar selama insiden berlangsung, yang mengakibatkan cedera pada Perez.

    Tuduhan ini membuka pertanyaan kritis tentang sejauh mana kendali manusia dalam pengoperasian robot otonom. Apakah operator jarak jauh memiliki tanggung jawab penuh atas tindakan robot, atau apakah sistem otonom itu sendiri yang harus bertanggung jawab? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi inti dari kasus hukum yang sedang berlangsung.

    Di sisi lain, Starship Technologies berusaha membatasi tanggung jawabnya. Menurut laporan KJZZ, pengacara perusahaan memiliki daftar panjang alasan pembelaan. Mereka mengklaim bahwa cedera Perez disebabkan oleh kelalaiannya sendiri, dan bahkan menyatakan bahwa cedera tersebut sudah ada sebelumnya. Strategi hukum ini umum digunakan dalam kasus-kasus serupa untuk mengurangi atau meniadakan kewajiban perusahaan.

    Kasus ini mengingatkan pada tantangan hukum yang dihadapi oleh perusahaan teknologi baru. Seperti halnya Startup Skyfall AI yang mengakuisisi perusahaan demi CEO buatan, pertanggungjawaban atas tindakan teknologi otonom menjadi isu yang semakin kompleks.

    Dampak Potensial dan Preseden Hukum

    Sidang pertama kasus ini dijadwalkan pada Februari mendatang. Keputusan juri nantinya bisa menjadi preseden besar dalam hal meminta pertanggungjawaban perusahaan atas kekacauan yang disebabkan oleh robot pengantar mereka. Ini adalah isu yang semakin penting seiring dengan menyebarnya perangkat-perangkat ini ke lebih banyak kota di seluruh AS.

    Pengadilan Phoenix ini akan menguji sejauh mana doktrin hukum tradisional dapat diterapkan pada teknologi baru. Konsep seperti kelalaian, tanggung jawab produk, dan kewajiban pengawasan akan menjadi sorotan utama. Jika juri memutuskan bahwa Starship Technologies bersalah, hal ini dapat membuka pintu bagi gelombang gugatan serupa di masa depan.

    Kasus ini juga menyoroti perlunya regulasi yang lebih jelas untuk robot otonom di ruang publik. Saat ini, banyak kota masih belum memiliki kerangka hukum yang memadai untuk mengatasi insiden yang melibatkan robot pengantar. Keputusan dalam kasus ini bisa mendorong pembuat kebijakan untuk bertindak lebih cepat.

    Lebih luas lagi, kasus ini menjadi ujian bagi model bisnis perusahaan robot pengantar. Jika biaya kompensasi dan litigasi menjadi terlalu tinggi, hal ini dapat mempengaruhi kelayakan ekonomi dari layanan mereka. Investor dan pemangku kepentingan industri akan mengamati hasil persidangan dengan saksama.

    Bagi Perez, yang berusia 73 tahun dan bekerja sebagai petugas tempat parkir, insiden ini telah mengubah hidupnya secara drastis. Selain cedera fisik, ia juga mengalami tekanan psikologis dan kehilangan pendapatan. Tuntutannya untuk ganti rugi kompensasi mencerminkan dampak nyata dari kegagalan teknologi pada individu.

    Ilustrasi foto robot pengantar Starship Technologies.

    Kasus ini juga relevan dengan perkembangan di industri startup secara umum. Banyak perusahaan rintisan, termasuk yang bergerak di bidang teknologi luar angkasa seperti Startup Uji Coba Pendorong Satelit, menghadapi tantangan regulasi dan hukum yang serupa.

    Implikasi untuk Masa Depan Robot Otonom

    Keputusan dalam kasus ini akan memiliki implikasi luas bagi pengembangan dan penerapan robot otonom. Perusahaan seperti Starship Technologies, yang mengandalkan robot untuk pengiriman jarak pendek, harus mempertimbangkan risiko hukum yang terkait dengan operasi mereka. Jika tanggung jawab hukum dibebankan secara penuh kepada perusahaan, hal ini dapat mendorong peningkatan fitur keselamatan dan pengawasan yang lebih ketat.

    Di sisi lain, putusan yang menguntungkan Starship Technologies dapat memberikan lampu hijau bagi perusahaan untuk terus beroperasi dengan pengawasan yang minimal. Namun, hal ini juga dapat meningkatkan risiko bagi publik yang berinteraksi dengan robot-robot tersebut.

    Kasus ini juga menyoroti pentingnya asuransi dan mekanisme perlindungan konsumen dalam ekosistem robot otonom. Seperti halnya kendaraan otonom, robot pengantar harus memiliki cakupan asuransi yang memadai untuk menutupi potensi kerusakan.

    Bagi pembaca, kasus ini mengingatkan bahwa teknologi canggih tidak selalu berjalan mulus. Di balik kemudahan yang ditawarkan oleh robot pengantar, ada risiko nyata yang harus dikelola. Keputusan pengadilan nantinya akan menjadi tolok ukur bagi bagaimana masyarakat menyeimbangkan inovasi dengan perlindungan publik.

    Dengan sidang pertama yang dijadwalkan pada Februari mendatang, semua mata tertuju pada pengadilan Phoenix. Keputusan yang diambil akan bergema di seluruh industri teknologi dan dapat membentuk masa depan interaksi manusia dengan robot otonom.

    Kasus ini juga menjadi pengingat bagi perusahaan startup lainnya. Seperti Laboratorium Luar Angkasa Startup Inggris yang menguji riset penyakit, setiap inovasi harus mempertimbangkan dampak hukum dan etisnya.

    Bagi Trudy Perez, keadilan yang dicarinya mungkin akan memakan waktu. Namun, perjuangannya telah membuka diskusi penting tentang tanggung jawab di era robot otonom. Keputusan akhir nantinya akan menentukan sejauh mana perusahaan teknologi harus bertanggung jawab atas tindakan ciptaan mereka.

  • Hak Pemerintah Sita Lahan Warga Demi Infrastruktur Data Center

    Hak Pemerintah Sita Lahan Warga Demi Infrastruktur Data Center

    JBNews.id — Perusahaan listrik di sejumlah negara bagian Amerika Serikat mulai mempertimbangkan penggunaan hak eminent domain untuk membangun jalur transmisi guna memasok kebutuhan energi data center AI. Langkah ini memicu kekhawatiran di kalangan pemilik lahan karena properti pribadi berpotensi disita tanpa persetujuan pemiliknya.

    Dalam analisis terbaru di The Conversation, pakar hukum dari University of Dayton, Aaron Walayat, mengungkapkan bahwa perusahaan listrik di negara bagian seperti Georgia dan Pennsylvania tengah mengkaji penggunaan eminent domain. Hak ini memberikan pemerintah wewenang untuk menyita lahan demi kepentingan publik, dengan memberikan kompensasi yang dianggap “pantas” kepada pemilik lahan.

    Proses penyitaan ini dikenal dengan istilah condemnation. Umumnya, tindakan ini dilakukan oleh pemerintah negara bagian dan lokal. Namun, Walayat menjelaskan bahwa perusahaan listrik dan air yang berstatus sebagai common carrier juga dapat menggunakan wewenang ini jika didelegasikan oleh pemerintah.

    Meskipun banyak negara bagian telah menerapkan pembatasan ketat terhadap penggunaan condemnation, pengadilan cenderung mengizinkan perusahaan utilitas untuk menjalankannya. Bahkan, ada kasus di mana rumah penduduk dihancurkan atas nama “kepentingan publik” dan pembangunan ekonomi.

    Preseden hukum paling terkenal terjadi pada 2005, ketika Mahkamah Agung AS memenangkan kota New London, Connecticut. Keputusan itu mengizinkan penyitaan rumah warga untuk proyek pengembangan properti swasta di sekitar fasilitas Pfizer. Ironisnya, proyek tersebut tidak pernah terwujud. Akibatnya, 45 negara bagian memberlakukan undang-undang reformasi eminent domain yang lebih ketat.

    Dampak bagi Pemilik Lahan

    Bagi pemilik lahan yang menolak tawaran kompensasi dari perusahaan listrik, perusahaan tersebut dapat meminta pemerintah daerah untuk menyita lahan tersebut. Dalam kasus pembangunan jalur transmisi, perusahaan biasanya membeli easement (hak guna) atas properti pemilik lahan, bukan membeli tanahnya secara penuh.

    Kasus serupa kini terjadi di Maryland. Sebuah jalur transmisi sepanjang 76 mil direncanakan melintasi negara bagian tersebut untuk memasok listrik ke data center AI di Virginia utara, yang dikenal sebagai ibu kota data center dunia. Pemilik lahan yang tanahnya berada di jalur tersebut menentang keras pembangunan ini. Mereka berargumen bahwa negara bagian Maryland hanya dijadikan “kabel ekstensi” untuk data center AI.

    Perusahaan listrik di balik proyek tersebut, PSEG, menggugat pemilik lahan untuk mendapatkan akses ke properti mereka guna melakukan survei. Pengadilan federal mengizinkan perusahaan itu melanjutkan rencana survei. Namun, pemilik lahan mengajukan banding dan kasus tersebut masih menunggu keputusan.

    Konflik serupa juga terjadi di Georgia, di mana keluarga terpaksa jual rumah akibat perluasan data center. Situasi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pemilik lahan semakin nyata seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur AI.

    Preseden Hukum dan Tantangan

    Walayat mencatat bahwa setiap upaya penyitaan untuk jalur transmisi akan menghadapi banyak tantangan hukum. Namun, langkah tersebut bukannya tanpa preseden. Mahkamah Agung South Dakota dan Vermont telah mendukung penyitaan oleh perusahaan listrik. Dasar keputusannya adalah bahwa jalur transmisi tersebut menyediakan energi bagi pelanggan di negara bagian itu dan memperkuat jaringan listrik lokal.

    Namun, tidak semua kasus berakhir demikian. Pada 1984, Mahkamah Agung Mississippi menolak penyitaan oleh perusahaan listrik karena jalur transmisi yang direncanakan dari Mississippi ke Louisiana tidak akan memberikan manfaat bagi pelanggan Mississippi.

    Perbedaan keputusan ini menunjukkan bahwa argumen mengenai apakah jalur transmisi tambahan benar-benar melayani pelanggan di negara bagian tersebut dapat menjadi dasar bagi pemilik lahan untuk mengajukan gugatan. Walayat memprediksi bahwa argumen semacam ini akan menjadi senjata utama bagi pemilik lahan yang menolak penyitaan.

    Setiap negara bagian memiliki aturan yang berbeda. Kasus Maryland menggambarkan bahwa perusahaan listrik akan menghadapi banyak hambatan jika ingin begitu saja merampas tanah masyarakat.

    Implikasi bagi Industri Data Center

    Ketegangan antara kebutuhan energi data center dan hak properti warga menjadi isu yang semakin relevan. Lonjakan permintaan listrik dari industri AI memaksa perusahaan untuk mencari cara baru dalam membangun infrastruktur. Penggunaan eminent domain menjadi salah satu opsi yang kontroversial.

    Bagi pemilik lahan, situasi ini menimbulkan ketidakpastian hukum. Mereka bisa kehilangan properti yang telah diwariskan secara turun-temurun. Sementara itu, perusahaan data center membutuhkan pasokan listrik yang stabil dan andal untuk menjalankan operasi mereka.

    Dalam konteks yang lebih luas, persoalan ini juga relevan dengan perkembangan teknologi AI di Indonesia. Baru-baru ini, domain .ai.id resmi diluncurkan, menandai semakin besarnya ekosistem AI di tanah air. Pertanyaan tentang infrastruktur pendukung, termasuk ketersediaan lahan untuk data center, menjadi semakin penting.

    Kasus di Amerika Serikat memberikan pelajaran berharga. Tanpa regulasi yang jelas dan perlindungan hukum yang kuat bagi pemilik lahan, ekspansi infrastruktur data center berpotensi menimbulkan konflik sosial. Di sisi lain, kebutuhan akan data center tidak bisa diabaikan di era digital ini.

    Keseimbangan antara kepentingan publik dan hak individu menjadi kunci. Regulator perlu merumuskan kebijakan yang memastikan pembangunan infrastruktur berjalan tanpa mengorbankan hak properti warga. Jika tidak, konflik serupa dengan yang terjadi di Maryland dan Georgia bisa terulang di berbagai tempat lain.

    Perkembangan ini juga menjadi perhatian bagi para pelaku industri di Indonesia. Dengan meningkatnya investasi di sektor data center, penting untuk memastikan bahwa proses pembebasan lahan dilakukan secara transparan dan adil. Pengalaman negara lain bisa menjadi referensi untuk menghindari kesalahan yang sama.

    Pada akhirnya, pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah: sejauh mana kepentingan pembangunan infrastruktur teknologi dapat mengesampingkan hak properti individu? Jawabannya akan menentukan masa depan industri data center dan hubungannya dengan masyarakat.

  • Uji Coba V2G di Massachusetts Tekan Biaya Listrik

    Uji Coba V2G di Massachusetts Tekan Biaya Listrik

    JBNews.id — Sejumlah perusahaan utilitas di Amerika Serikat tengah menjajaki teknologi vehicle-to-grid (V2G) yang memungkinkan kendaraan listrik (EV) mengirimkan daya kembali ke jaringan listrik. Sebuah koalisi yang terdiri dari Eversource, National Grid, EnergyHub, Sunrun, dan Mobility House baru saja meluncurkan uji coba awal teknologi ini di Massachusetts agar pelanggan utilitas dapat mencobanya langsung. Pelajaran yang didapat dari proyek ini diyakini dapat mendorong teknik V2G menjadi arus utama, membuat jaringan listrik lebih andal dan tarif listrik lebih murah, bahkan bagi mereka yang tidak memiliki EV.

    “Sangat bagus melihat Massachusetts memimpin dalam hal ini karena pembelajaran dari sini akan memungkinkan teknologi ini berkembang,” ujar Chip Silverman, direktur layanan jaringan di Sunrun, perusahaan energi surya dan baterai. Dalam sistem baru ini, peserta bergabung dengan program yang sudah ada bernama ConnectedSolutions, yang memungkinkan rumah beroperasi menggunakan baterai residensial mereka. Ketika terjadi “demand response” — seperti saat gelombang panas — baterai EV dapat membantu jaringan listrik tetap stabil. Peserta pun mendapat kompensasi, mirip dengan pemilik rumah yang menyuplai energi dari panel surya mereka.

    “Ini sebenarnya hanya beberapa jam per tahun di mana Anda mengeluarkan daya dari baterai,” kata Russell Vare, wakil presiden integrasi kendaraan-ke-jaringan di Mobility House North America, penyedia infrastruktur pengisian daya. “Tidak harus setiap hari. Hanya pada saat puncak ketika peristiwa itu dipanggil.”

    Mengapa Utilitas Membutuhkan V2G

    Perusahaan utilitas semakin tertarik pada V2G karena menghadapi tantangan yang saling tumpang tindih dan meningkat. Permintaan listrik terus bertambah seiring bertambahnya pusat data yang boros energi dan peralihan masyarakat dari mobil berbahan bakar bensin ke EV, serta dari tungku gas ke pompa panas. Di saat yang sama, utilitas berusaha meninggalkan gas dan batu bara demi energi terbarukan seperti angin dan surya. Teknologi bersih ini bersifat intermiten — angin tidak selalu bertiup dan matahari tidak selalu bersinar. Utilitas membutuhkan cara untuk menyimpan energi untuk digunakan nanti, sehingga mereka membangun fasilitas penyimpanan dan bahkan menggunakan bumi sebagai baterai raksasa.

    Orang Amerika saat ini juga bergulat dengan kenaikan harga energi yang melonjak karena berbagai alasan. Pemegang saham utilitas menuai keuntungan, misalnya, dan pelanggan menanggung biaya perbaikan seperti menanam kabel listrik agar tidak memicu kebakaran hutan atau putus saat badai. Membangun fasilitas baterai dan memasang jalur transmisi akan menambah biaya lebih besar — harga yang harus dibayar untuk jaringan yang lebih bersih dan andal. Namun, sebagian dari pengeluaran itu mungkin bisa dihindari: Janji V2G adalah dapat membuat listrik lebih murah.

    Meskipun peserta memerlukan pengisi daya dua arah untuk mengirim energi kembali ke jaringan, utilitas tidak perlu menciptakan ulang sistem secara keseluruhan. Baterai EV adalah sumber energi cadangan yang sudah ada, tersebar luas, dan andal untuk dimanfaatkan saat permintaan tinggi, seperti saat musim panas ketika semua orang menyalakan AC. “Ini adalah biaya penyimpanan energi fleksibel termurah yang akan tersedia untuk jaringan,” kata Vare.

    Potensi Besar EV untuk Jaringan Listrik

    Semakin panas planet ini, semakin menarik V2G bagi utilitas. Orang membutuhkan AC tambahan untuk tetap sehat, tetapi perangkat tersebut membutuhkan banyak daya. Jika energi itu tidak berasal dari sumber terbarukan, hal itu justru menyebabkan pemanasan lebih lanjut dan meningkatkan permintaan AC, dan seterusnya. Dalam sistem V2G, kendaraan yang mengikuti jadwal dapat diprediksi, seperti bus sekolah dan armada kota, akan sangat berguna, selain baterainya yang merupakan penyimpan energi besar.

    Baterai EV tipikal memiliki kapasitas sekitar enam kali lipat dari unit cadangan yang dipasang di luar rumah. Meskipun tidak semua EV memiliki perangkat keras yang diperlukan untuk memanfaatkan V2G, semakin banyak model, seperti Nissan Leaf, yang sudah dilengkapi. Seperti halnya teknologi lainnya, pengisi daya dua arah akan semakin murah seiring waktu. “Seiring turunnya biaya perangkat keras, instalasi menjadi lebih sederhana, dan standar terus matang, kami berharap vehicle-to-grid menjadi jauh lebih mudah diakses dalam beberapa tahun ke depan,” ujar Seth Frader-Thompson, presiden EnergyHub, dalam sebuah pernyataan.

    Dengan EV yang parkir di seluruh kota, total dayanya sangat besar. Faktanya, hanya sebagian kecil pemilik yang perlu berpartisipasi agar suatu program dapat mendukung jaringan secara memadai. Namun, semakin banyak orang yang ikut serta, semakin baik, karena itu memberi utilitas basis yang lebih luas untuk ditarik. “Jika Anda memiliki lebih banyak baterai di luar sana dalam pembangkit listrik virtual, Anda sebenarnya dapat menggunakan lebih sedikit energi dari setiap baterai individu,” kata Silverman. “Tetapi secara kolektif, ketika Anda menggabungkan semuanya, itu menjadi sumber daya yang sangat besar. Dan di situlah letak keajaibannya.”

    Proyek-proyek awal ini sedang mencari cara terbaik untuk mengoordinasikan hal ini, misalnya dengan aplikasi yang memungkinkan orang menentukan kapan mereka biasanya menggunakan kendaraan mereka, misalnya untuk berangkat kerja. (Peserta dalam program Massachusetts yang baru dapat melakukan ini.) Ide utamanya adalah EV mengirim daya kembali ke jaringan saat permintaan tertinggi, seperti ketika orang pulang kerja dan menyalakan peralatan. Kemudian, saat malam berlangsung, kendaraan dapat mengisi daya. Ini akan dipasangkan dengan teknik lain, yang dikenal sebagai active managed charging, yang mengatur waktu pengisian EV sepanjang malam dan dini hari — artinya, mereka tidak semuanya melakukannya pada pukul 10 malam, yang akan meningkatkan permintaan jaringan secara tiba-tiba dan dramatis.

    Secara keseluruhan, V2G menjanjikan untuk mengubah konsumen listrik menjadi peserta yang lebih aktif dalam jaringan, dengan aliran daya dua arah. Jauh dari membebani jaringan hingga titik runtuh, EV justru akan membantu menyelamatkannya. Teknologi ini juga berpotensi diadopsi di berbagai negara, termasuk Indonesia, di mana adopsi EV mulai meningkat. Pelaku industri di Tanah Air dapat mempelajari model bisnis seperti ini untuk menekan biaya infrastruktur kelistrikan. Sementara itu, inovasi di sektor teknologi lain, seperti Solusi ICT Terintegrasi dari Arthatel, juga menunjukkan bagaimana transformasi digital dapat mempercepat efisiensi di berbagai sektor.

    Kisah ini awalnya diterbitkan oleh Grist dan direproduksi di sini sebagai bagian dari kolaborasi Climate Desk.

  • Optimasi Layar HP agar Nyaman Dibaca seperti E-Reader

    Optimasi Layar HP agar Nyaman Dibaca seperti E-Reader

    JBNews.id — Kebiasaan membaca artikel panjang atau buku digital melalui ponsel pintar kerap memicu kelelahan mata akibat pancaran cahaya biru dan kepadatan elemen di layar. Namun, pengguna Android dan iOS dapat mengubah pengaturan perangkat untuk menciptakan pengalaman membaca yang lebih nyaman, mendekati sensasi e-reader atau halaman cetak. Melalui sejumlah penyesuaian di menu pengaturan, aplikasi browser, hingga pemasangan aplikasi khusus, risiko ketegangan mata bisa ditekan secara signifikan.

    Data menunjukkan rata-rata pengguna menghabiskan lebih dari tiga jam per hari untuk membaca konten di layar ponsel. Angka ini belum termasuk aktivitas menonton video atau bermain game. Tanpa optimasi yang tepat, paparan terus-menerus terhadap layar beresolusi tinggi dan kecerahan standar pabrik dapat menyebabkan mata kering, sakit kepala, hingga gangguan tidur. Oleh karena itu, langkah pertama yang paling mudah adalah menyesuaikan pengaturan tampilan bawaan sistem operasi.

    Sesuaikan Pengaturan Tampilan

    Baik Android maupun iOS menyediakan kontrol mendalam terhadap ukuran font, gaya huruf, dan warna yang digunakan di seluruh antarmuka. Pengguna tidak perlu menginstal aplikasi tambahan untuk merasakan perbedaan signifikan. Pada perangkat Android, khususnya seri Pixel, navigasi menuju Display size and text memungkinkan pengguna menggeser slider ukuran font default dan elemen layar lainnya. Opsi Bold Text juga tersedia untuk mempertegas huruf tanpa mengubah ukuran. Selain itu, fitur Dark theme bisa diaktifkan untuk mengurangi silau di ruangan gelap.

    Sementara itu, pengguna iPhone dapat membuka menu Display & Brightness di aplikasi Settings. Di sana terdapat slider Text Size untuk memperbesar atau memperkecil huruf, serta sakelar Bold Text. Tema gelap (Dark) juga bisa dipilih langsung dari bagian atas layar untuk meredupkan keseluruhan warna antarmuka iOS. Kedua platform ini juga memiliki mode membaca malam yang mengurangi emisi cahaya biru dan membuat layar lebih hangat. Di Android Pixel, fitur ini bernama Night Light yang bisa diakses melalui Display and touch. Di iOS, fitur serupa bernama Night Shift yang berada di bawah Display & Brightness. Keduanya dapat diaktifkan secara manual atau dijadwalkan otomatis.

    Manfaatkan Mode Membaca Browser

    Mayoritas aktivitas membaca di ponsel dilakukan melalui browser web. Kabar baiknya, hampir semua browser modern menyertakan mode membaca khusus yang membersihkan kekacauan visual, menyederhanakan skema warna, dan menampilkan teks artikel sebagai fokus utama. Google Chrome di Android, misalnya, menyediakan opsi Show Reading mode setelah mengetuk ikon tiga titik di pojok kanan atas. Pengguna bisa menggeser panel di bagian bawah layar untuk mengubah opsi font dan warna. Ikon mode membaca yang muncul di sebelah kanan bilah alamat berfungsi untuk kembali ke tampilan normal.

    Di Safari pada iOS, ikon mode membaca berbentuk persegi panjang kecil di atas dua garis horizontal muncul di sebelah kiri bilah alamat saat pengguna membuka artikel yang kompatibel. Cukup ketuk ikon tersebut, lalu pilih Show Reader. Setelah mode aktif, ikon berubah menjadi simbol halaman yang bisa diketik untuk mengonfigurasi pengaturan lebih lanjut. Pengguna juga tidak terbatas pada browser bawaan. Firefox untuk Android dan iOS, misalnya, menampilkan ikon Reader View berbentuk halaman cetak di bilah alamat untuk halaman yang didukung. Jika yang muncul adalah ikon petir (untuk ringkasan artikel), tekan dan tahan ikon tersebut untuk beralih ke Reader View.

    Instal Aplikasi Baca Khusus

    Bagi pengguna yang menginginkan pengalaman membaca paling bersih dan bebas gangguan, solusi terbaik adalah menginstal aplikasi baca-tunda (read-it-later app) khusus. Standar emas di kategori ini adalah Instapaper, yang tersedia untuk Android dan iOS. Aplikasi ini memungkinkan pengguna mengimpor dan menyinkronkan artikel dari berbagai perangkat, sehingga bacaan dapat diakses kapan saja. Untuk menambahkan artikel ke Instapaper, cukup pilih opsi bagikan (share) di browser seluler saat melihat artikel, lalu pilih Instapaper sebagai tujuan. Alternatif lain, pengguna bisa menambahkan tautan langsung melalui aplikasi Instapaper dengan mengetuk tombol menu (pojok kiri atas) lalu tombol + (plus).

    Instapaper juga tersedia dalam versi web, sehingga item bacaan bisa ditambahkan dari desktop. Setelah artikel masuk ke daftar bacaan, mengetuknya akan menyajikan tampilan yang sangat bersih tanpa gangguan. Ikon Aa di pojok kanan atas memungkinkan pengguna mengubah pengaturan antarmuka, termasuk warna halaman, ukuran font, gaya font, dan paginasi. Aplikasi ini dapat digunakan secara gratis, namun tersedia langganan premium sebesar $3 per bulan yang memberikan fitur tambahan seperti pencarian artikel tingkat lanjut, catatan tanpa batas, dan kemampuan mendengarkan artikel yang disimpan.

    Dengan kombinasi ketiga pendekatan di atas—pengaturan tampilan sistem, mode membaca browser, dan aplikasi baca khusus—pengguna dapat secara drastis meningkatkan kenyamanan membaca di ponsel tanpa harus mengganti perangkat. Langkah-langkah ini tidak hanya mengurangi ketegangan mata, tetapi juga membuat aktivitas membaca digital menjadi lebih produktif dan menyenangkan.

  • Binus University Perluas Program AI ke 5 Kampus Baru

    Binus University Perluas Program AI ke 5 Kampus Baru

    JBNews.id — Binus University secara resmi memperluas program kecerdasan buatan (AI) unggulannya ke lima kampus di Indonesia, sebagai respons terhadap tingginya permintaan tenaga kerja spesialis AI di berbagai sektor industri. Ekspansi ini akan menjangkau kampus Binus di Bekasi, Bandung, Semarang, Malang, dan Medan, dengan fokus mencetak talenta yang mampu menciptakan dan mengembangkan solusi AI secara mandiri.

    Dekan School of Computer Science Binus University, Prof. Dr. Ir. Derwin Suhartono, menekankan bahwa transformasi digital telah mengubah lanskap kebutuhan sumber daya manusia secara fundamental. “AI bukan lagi teknologi masa depan. AI adalah bagian dari kehidupan kita. Oleh karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan menggunakan perangkat dasar AI, tetapi kemampuan memahami, mengevaluasi, dan mengembangkan solusi berbasis AI secara bertanggung jawab,” jelas Derwin dalam keterangan resminya.

    Kurikulum program AI di Binus dirancang dengan fondasi praktis yang kuat, mencakup spektrum teknologi tingkat lanjut yang menjadi tulang punggung industri modern. Mahasiswa akan mendalami materi seperti Machine Learning & Deep Learning, Natural Language Processing (NLP), Computer Vision, serta Internet of Things (IoT) & Robotics. Melalui perpaduan kurikulum tersebut, lulusan diharapkan memiliki daya analitis tajam untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi dan mampu berinovasi membangun masyarakat yang lebih cerdas.

    Rektor Binus University, Dr. Nelly, menegaskan bahwa langkah ekspansi ini merupakan perwujudan visi universitas untuk memberdayakan masyarakat melalui pendidikan teknologi yang merata. “Kami ingin memastikan bahwa setiap mahasiswa di mana pun mereka berada, mendapatkan kesempatan yang sama untuk menguasai teknologi masa depan, sehingga mereka dapat menjadi agen perubahan yang memberdayakan masyarakat melalui inovasi,” ungkap Nelly.

    Kesuksesan implementasi program AI di kampus Kemanggisan dan Alam Sutera kini akan diteruskan ke empat kampus lainnya. Binus @Bekasi, Binus @Bandung, Binus @Semarang, dan Binus @Malang akan menjadi lokasi baru program unggulan ini. Sebagai tambahan, program ilmu komputer (Computer Science) di kampus Binus @Medan juga akan memperkuat fokus pembelajarannya pada streaming khusus AI.

    Ke depannya, pihak universitas akan segera mengomunikasikan detail teknis serta agenda peresmian lebih lanjut bagi tiap-tiap kampus kepada seluruh komunitas akademik dan publik. Langkah ini diharapkan dapat memeratakan akses pendidikan AI ke berbagai kota di Indonesia, sehingga lebih banyak mahasiswa mendapatkan kesempatan menguasai teknologi masa depan.

    Pemanfaatan kecerdasan buatan yang semakin masif di berbagai sektor industri memang memicu tingginya permintaan akan tenaga kerja spesialis. Lembaga pendidikan tinggi dituntut untuk tidak hanya mengajarkan mahasiswanya cara menggunakan perangkat AI, melainkan mencetak talenta yang mampu menjadi kreator dan pengembang andal di bidang ini.

    Program AI di Binus dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan memahami, mengevaluasi, dan mengembangkan solusi berbasis AI secara bertanggung jawab. Pendalaman materi mencakup spektrum teknologi tingkat lanjut yang menjadi tulang punggung industri modern, termasuk Machine Learning & Deep Learning, Natural Language Processing (NLP), Computer Vision, serta Internet of Things (IoT) & Robotics.

    Ekspansi ini menjadi langkah strategis Binus University dalam menjawab tantangan transformasi digital yang semakin cepat. Dengan membuka akses pendidikan AI ke lebih banyak kota, universitas berharap dapat menciptakan ekosistem talenta digital yang lebih merata di Indonesia. Hal ini sejalan dengan kebutuhan industri yang terus meningkat akan tenaga kerja yang tidak hanya paham teknologi, tetapi juga mampu berinovasi.

    Bagi calon mahasiswa yang tertarik mendalami AI, program ini menawarkan kesempatan untuk belajar langsung dari praktisi dan akademisi berpengalaman. Kurikulum yang dirancang dengan pendekatan praktis diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang siap bersaing di pasar kerja global. Informasi lebih lanjut mengenai pendaftaran dan persyaratan dapat diakses melalui situs resmi Binus University.

    Dengan perluasan ini, Binus University menegaskan komitmennya untuk menjadi pionir dalam pendidikan AI di Indonesia. Langkah ini juga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekosistem teknologi nasional, seiring dengan meningkatnya adopsi AI di berbagai sektor seperti kesehatan, finansial, manufaktur, dan pendidikan.

    Para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan industri, menyambut positif langkah Binus University ini. Mereka menilai bahwa investasi di bidang pendidikan AI merupakan kunci untuk mempersiapkan Indonesia menghadapi era industri 4.0 dan society 5.0. Dengan tersedianya lebih banyak talenta AI, diharapkan daya saing bangsa di kancah global dapat meningkat secara signifikan.

    Ke depannya, Binus University berencana untuk terus mengembangkan program AI dengan menambahkan spesialisasi baru yang relevan dengan kebutuhan industri. Kolaborasi dengan perusahaan teknologi global juga akan diperkuat untuk memberikan pengalaman praktis bagi mahasiswa. Semua ini dilakukan untuk memastikan bahwa lulusan Binus tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menjadi pemimpin di bidang teknologi.

    Bagi Anda yang tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang Fitur Terbaru di dunia teknologi, jangan lewatkan artikel-artikel menarik lainnya di JBNews.id. Kami akan terus menyajikan informasi terkini dan terpercaya seputar perkembangan teknologi di Indonesia dan dunia.

    Dengan langkah ekspansi ini, Binus University menunjukkan bahwa pendidikan AI bukan lagi monopoli kampus-kampus di kota besar. Pemerataan akses ini diharapkan dapat menciptakan lebih banyak inovasi dari berbagai daerah, yang pada akhirnya akan memperkuat fondasi ekonomi digital nasional.

  • Digitalisasi Layanan Kehutanan Dikebut Demi Pangkas Birokrasi

    Digitalisasi Layanan Kehutanan Dikebut Demi Pangkas Birokrasi

    JBNews.id — Kementerian Kehutanan mempercepat transformasi digital pada berbagai layanan publik guna menghadirkan proses perizinan dan pelayanan yang lebih cepat, mudah, transparan, serta mendukung iklim investasi di sektor kehutanan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya reformasi birokrasi yang menjadi agenda utama pemerintahan saat ini.

    Transformasi digital tersebut akan menyasar beragam layanan, mulai dari e-ticket Taman Nasional, sistem pengaduan penegakan hukum kehutanan (Gakkum), Portal Elektronik Surat Angkut Tumbuhan Alam dan Satwa Liar (PESATS), hingga Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi). Inisiatif ini diharapkan mampu memangkas waktu layanan secara signifikan.

    Dalam rapat bersama jajaran Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan perubahan di lingkungan kementerian mulai menunjukkan hasil, tidak hanya dari sisi regulasi tetapi juga budaya kerja yang semakin berorientasi pada pelayanan publik.

    “Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman di pusat maupun di balai. Saya merasakan progres yang luar biasa. Dulu yang rasanya tidak mungkin, sekarang jadi mungkin, dengan perubahan mindset, kultur maupun regulasi yang kita lakukan. Kita perbaiki pelayanan kita terutama kepada publik,” ujar Raja Juli Antoni dikutip dari keterangan tertulis, Minggu (26/7/2026).

    Ia meminta seluruh unit eselon I memetakan seluruh layanan yang dimiliki agar dapat ditentukan mana yang menjadi prioritas untuk didigitalisasi. Menurutnya, digitalisasi layanan kehutanan tidak cukup hanya memindahkan proses administrasi ke platform online, tetapi juga harus mengubah pengalaman masyarakat ketika mengakses layanan pemerintah.

    Meninggalkan Sistem Loket Konvensional

    Salah satu pembenahan yang menjadi perhatian adalah sistem antrean pelayanan. Kementerian Kehutanan ingin meninggalkan model loket konvensional menuju layanan digital yang memungkinkan masyarakat mengatur jadwal kedatangan secara daring dan mengetahui nomor antrean sebelum tiba di lokasi.

    “Saya kira kita bisa kumpulkan semua layanan dari masing-masing direktorat jenderal, lalu kita lihat mana yang menjadi prioritas untuk diperbaiki dengan sistem online dan antrean. Saya masih melihat ada loket yang seperti loket pembayaran listrik zaman dulu. Padahal pelayanan yang baik sudah seperti di perbankan, terbuka, antreannya tertata, bahkan masyarakat bisa memilih jadwal kedatangan dan mengetahui nomor antreannya sebelum datang,” katanya.

    Digitalisasi tersebut diharapkan tidak hanya memangkas waktu layanan, tetapi juga meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi proses perizinan di sektor kehutanan. Sistem berbasis digital juga dinilai dapat memudahkan masyarakat maupun pelaku usaha dalam mengakses berbagai layanan pemerintah tanpa harus melalui proses administrasi yang berbelit.

    Langkah Kementerian Kehutanan ini sejalan dengan upaya digitalisasi di berbagai sektor yang tengah digencarkan pemerintah. Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Digital bersama Kementerian Sosial juga telah melakukan uji coba digitalisasi perlindungan sosial di Surabaya.

    Dukung Kemudahan Berusaha dan Reformasi Birokrasi

    Raja Juli Antoni menegaskan pembenahan pelayanan publik menjadi salah satu agenda utama Kementerian Kehutanan untuk mendukung target pemerintah dalam meningkatkan kemudahan berusaha (ease of doing business) sekaligus memperkuat reformasi birokrasi.

    “Ini agenda yang akan saya perbaiki, supaya apa yang diinginkan Bapak Presiden terkait ease of doing business bisa terwujud. Orang bisa berbisnis dengan baik karena pelayanannya cepat, sementara kita juga memperoleh kepuasan dalam memberikan layanan dan meningkatkan indeks reformasi birokrasi,” pungkasnya.

    Transformasi digital di sektor kehutanan ini juga membuka peluang bagi integrasi dengan berbagai solusi teknologi terkini. Operator telekomunikasi seperti XLSmart telah meluncurkan solusi 5G dan AI untuk mendukung digitalisasi industri, yang dapat diadopsi untuk memperkuat infrastruktur digital layanan publik.

    Selain itu, Kementerian Kehutanan juga dapat memanfaatkan ekosistem digital korporasi yang dikembangkan oleh berbagai pihak. XLSmart baru-baru ini meluncurkan ESTA Prime untuk digitalisasi korporasi, sebuah platform yang dapat menjadi referensi dalam membangun sistem layanan terintegrasi.

    Dengan percepatan digitalisasi ini, Kementerian Kehutanan optimistis dapat mewujudkan pelayanan publik yang lebih modern, efisien, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat serta pelaku usaha di sektor kehutanan. Transformasi ini menjadi bagian penting dari upaya pemerintah dalam memperkuat reformasi birokrasi nasional.

    Ilustrasi Manfaat Hutan

    Ke depan, Kementerian Kehutanan akan terus mengevaluasi dan mengembangkan sistem digital yang telah diterapkan. Fokus utama adalah memastikan bahwa setiap layanan yang didigitalisasi benar-benar memberikan kemudahan dan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar perubahan format administrasi.

    Reformasi birokrasi melalui digitalisasi ini diharapkan dapat menjadi model bagi kementerian dan lembaga lain dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik di Indonesia. Dengan dukungan infrastruktur digital yang memadai, target pemerintah untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif dapat tercapai.

    Sementara itu, hasil lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang menyumbang PNBP Rp30 triliun menjadi modal penting bagi pengembangan infrastruktur telekomunikasi yang mendukung digitalisasi layanan publik di seluruh Indonesia.

  • Produktivitas Melesat Pakai Layar Besar Motorola Razr Fold

    Produktivitas Melesat Pakai Layar Besar Motorola Razr Fold

    JBNews.id — Motorola Razr Fold hadir sebagai ponsel layar lipat berbentuk buku yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas pengguna. Perangkat ini menawarkan layar besar 8,1 inci, dukungan kecerdasan buatan (AI), dan baterai 6.000 mAh yang diklaim mampu bertahan seharian penuh.

    Dari luar, Razr Fold tampak seperti smartphone konvensional. Namun, ketika dibuka, pengguna akan disuguhkan layar utama LTPO OLED berukuran 8,1 inci. Layar ini memiliki resolusi 2K, refresh rate 120Hz, dan tingkat kecerahan puncak hingga 6.200 nits. Tingkat kecerahan tersebut memastikan konten di layar tetap terlihat jelas, bahkan di bawah sinar matahari terik sekalipun.

    Motorola Razr Fold

    Multitasking Tanpa Batas

    Layar besar Razr Fold memungkinkan pengguna membuka hingga tiga aplikasi sekaligus dalam mode split screen. Pengguna bisa berpindah antar aplikasi hanya dengan sekali ketuk. Jika masih kurang, pengguna dapat membuka aplikasi keempat dalam mode floating. Daftar aplikasi yang baru saja dibuka juga bisa diakses dengan cepat lewat taskbar yang ada di bagian bawah layar.

    Integrasi AI yang Mendalam

    AI telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ponsel Motorola. Razr Fold dilengkapi aplikasi Moto AI yang menawarkan fitur ‘Catch me up’ untuk mendapatkan ringkasan notifikasi penting dan ‘Pay attention’ untuk transkripsi percakapan secara real-time. Pengguna juga bisa memilih satu dari tiga aplikasi chatbot AI yang tersedia, yaitu Microsoft Copilot, Google Gemini, atau Perplexity AI.

    Performa AI dan kinerja ponsel secara keseluruhan ditopang oleh chipset Snapdragon 8 Gen 5 dengan RAM LPDDR5X 12GB yang mendukung RAM Boost. Penyimpanan internal 256GB memastikan foto, video, dan aplikasi bisa disimpan rapi tanpa khawatir kehabisan ruang. Agar performa tetap optimal, Motorola menyematkan sistem liquid cooling canggih yang diklaim mampu memberikan performa stabil saat bermain game, streaming, maupun menjalankan beberapa aplikasi secara bersamaan.

    Multitasking menggunakan Motorola Razr Fold

    Daya Tahan Baterai dan Pengisian Cepat

    Razr Fold mengadopsi teknologi baterai silikon yang memungkinkan Motorola menyisipkan baterai berkapasitas 6.000 mAh di dalam ponsel yang tebalnya kurang dari 10mm. Baterai besar ini dilengkapi dengan pengisian cepat 80W. Hanya dengan mengisi daya selama 12 menit, pengguna bisa mendapatkan daya hingga lebih dari 12 jam penggunaan. Ini memungkinkan pengguna untuk langsung kembali beraktivitas tanpa harus menunggu lama.

    Form factor Razr Fold juga memungkinkan ponsel ini dipakai dalam berbagai mode. Bagi yang sering menulis dan mengedit dokumen on-the-go, terdapat Laptop Mode yang akan aktif ketika layar Razr Fold dibuka 90 derajat. Fitur ini sangat berguna bagi para profesional yang membutuhkan produktivitas tinggi saat bepergian.

    Dengan spesifikasi dan fitur yang ditawarkan, Motorola Razr Fold menjadi pilihan menarik bagi pengguna yang menginginkan perangkat lipat dengan performa tinggi. Bagi Anda yang tertarik dengan perangkat lipat lainnya, Spesifikasi Lengkap dari kompetitor juga patut dipertimbangkan. Selain itu, perkembangan Rahasia Samsung di era AI menunjukkan persaingan yang semakin ketat di segmen ini.

    Bagi pengguna yang mencari laptop bisnis dengan dukungan AI, Harga Terbaru dari Asus ExpertBook P5 G2 juga bisa menjadi alternatif.

  • HP Lipat Tak Lagi Sekadar Gaya, Banyak yang Ketagihan Beli

    HP Lipat Tak Lagi Sekadar Gaya, Banyak yang Ketagihan Beli

    JBNews.id — HP layar lipat atau foldable kini bukan lagi sekadar perangkat bergaya. Samsung melaporkan tingkat pembelian kembali (repurchase rate) yang tinggi di kawasan Asia Tenggara dan Oseania, mendekati 40%, menandakan konsumen mulai merasakan manfaat nyata dari teknologi ini dalam aktivitas sehari-hari.

    Data tersebut diungkapkan CU Kim, President and CEO Samsung Electronics Southeast Asia & Oceania, dalam sebuah kesempatan di London. Menurutnya, strategi Samsung sejak awal bukan sekadar memperkenalkan teknologi baru, melainkan menghadirkan pengalaman yang relevan bagi pengguna. “Inti dari strategi perangkat lipat Samsung tidak pernah sekadar membuat pengguna beradaptasi dengan teknologi atau perangkat baru. Sebaliknya, strategi berfokus pada bagaimana menghadirkan perangkat foldable secara mulus ke dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat memperkaya cara orang bekerja, berkomunikasi, dan berkreasi,” ujar CU Kim.

    Angka repurchase rate yang tinggi menjadi bukti utama pergeseran persepsi ini. CU Kim merinci, untuk Galaxy Z Fold7 angkanya mencapai 32%, sementara Galaxy Z Flip7 mencapai 37%. Khusus di kawasan Asia Tenggara dan Oseania, angkanya bahkan mendekati 40%. “Saya percaya hal ini menunjukkan bahwa konsumen benar-benar merasakan manfaat nyata foldable dalam aktivitas sehari-hari, bukan sekadar mengejar sesuatu yang baru,” lanjutnya. Angka ini juga menunjukkan bahwa teknologi layar lipat Samsung semakin matang dan diterima pasar.

    Teknologi Lipat ke Pengalaman Lebih Personal

    Setiap model HP lipat Samsung terbaru menghadirkan karakter yang berbeda. CU Kim menjelaskan, Galaxy Z Fold8 Ultra dirancang untuk pengguna yang membutuhkan produktivitas tinggi, Galaxy Z Fold8 untuk konsumsi konten, sementara Galaxy Z Flip8 mengedepankan ekspresi diri dan portabilitas. “Fold 8 Ultra dirancang untuk memaksimalkan produktivitas, Fold 8 dioptimalkan untuk konsumsi konten, dan Flip 8 berfokus pada ekspresi diri serta portabilitas,” ujarnya.

    Perbedaan kebutuhan ini juga terlihat dari pengalaman pengguna. Pengguna Galaxy Z Fold7 paling puas dengan layar besar dan kemampuan kamera, sedangkan pengguna Galaxy Z Flip7 lebih mengapresiasi bentuk perangkat yang ringkas. Hal ini menunjukkan bahwa segmen pasar untuk perangkat lipat sudah mulai terdefinisi dengan jelas.

    Di sisi lain, perubahan kebiasaan konsumsi digital menjadi peluang besar. Samsung menyebut lebih dari empat dari sepuluh milenial di Asia Tenggara menonton video setiap hari. Perangkat dengan layar besar dan fleksibel dinilai mumpuni untuk kebutuhan hiburan. “Saya yakin perangkat lipat baru ini akan menjadi pilihan terbaik bagi konsumen yang menginginkan pengalaman menonton yang imersif,” kata CU Kim.

    Carl Nordenberg, Vice President and Regional Head of Mobile Experience Business Samsung Electronics Southeast Asia & Oceania, menambahkan bahwa banyak pengguna baru memahami manfaat HP lipat setelah mencoba langsung. “Sederhananya, satu hal penting yang perlu dilakukan adalah mencobanya sendiri,” ujar Carl. Ia menegaskan bahwa pengalaman langsung menjadi faktor penting karena perangkat lipat menawarkan cara penggunaan yang berbeda dibanding smartphone konvensional. “Banyak orang berkata, ‘Saya tidak benar-benar memahaminya sampai saya memilikinya.’ Ini khususnya berlaku untuk faktor bentuk lipat kami yang baru,” jelasnya. Carl juga menilai teknologi layar foldable saat ini sudah jauh berkembang dibandingkan generasi awal. “Teknologi perangkat lipat telah berkembang pesat. Ini bukan lagi seperti tujuh generasi yang lalu. Perangkat-perangkat ini kini sangat canggih dan telah disempurnakan. Begitu mencobanya, Anda pasti akan menginginkannya,” ujarnya.

    Data dan pernyataan dari para eksekutif Samsung ini mengonfirmasi bahwa tren HP lipat telah bertransformasi dari sekadar gawai premium menjadi kebutuhan fungsional. Tingkat pembelian kembali yang tinggi, terutama di Asia Tenggara, menjadi indikator kuat bahwa konsumen tidak lagi ragu untuk beralih ke faktor bentuk ini. Seiring dengan peluncuran tiga ponsel lipat baru pada Galaxy Unpacked Juli 2026, Samsung optimistis dapat terus memperluas pangsa pasar perangkat foldable di kawasan ini.

  • Peneliti Hadapi Hambatan Akses Data Platform Digital di Eropa

    Peneliti Hadapi Hambatan Akses Data Platform Digital di Eropa

    JBNews.id — Peneliti misinformasi di Eropa menghadapi hambatan sistematis dalam mengakses data dari platform media sosial meskipun telah dijamin oleh Undang-Undang Layanan Digital (DSA) Uni Eropa. Data dari inisiatif DSA40 menunjukkan bahwa dari 46 permohonan akses yang dilacak, 20 disetujui dan 14 ditolak, dengan tingkat persetujuan yang sangat bervariasi antar platform.

    Fenomena ini terungkap setelah pemilu presiden Rumania pada November 2024 diguncang oleh kampanye disinformasi massal. Calon independen Călin Georgescu, yang sebelumnya hanya memiliki polling dukungan satu digit, mengejutkan banyak pihak dengan meraih 23 persen suara di putaran pertama. Konten-kontennya yang menyebarkan pandangan keras tentang imigrasi dan trop antisemit telah ditonton sebanyak 120 juta kali sebelum pemungutan suara.

    Adriana Iamnitchi, ketua ilmu sosial komputasional di Maastricht University, mengamati fenomena ini dengan saksama. Pada 28 Oktober 2025, sebulan sebelum Georgescu memenangkan putaran pertama, timnya mengajukan akses ke Application Programming Interface (API) TikTok berdasarkan DSA. Permohonan mereka ditolak dengan alasan tidak dapat membuktikan status sebagai peneliti mapan atau menjelaskan kepentingan komersial mereka.

    Dua bulan kemudian, TikTok menandai 116.000 akun sebagai potensial terkompromi sebelum mengambil tindakan terhadap lebih dari 27.000 akun palsu dalam jaringan terkoordinasi yang dijalankan oleh “vendor keterlibatan palsu” pihak ketiga yang mempromosikan Georgescu dan partainya, Aliansi untuk Persatuan Rumania (AUR). TikTok mengaku tidak mengetahui siapa yang mengoperasikan jaringan tersebut atau dari mana asalnya.

    Putaran pertama pemilu akhirnya dibatalkan, dan pada putaran kedua Mei 2025, calon independen dan mantan wali kota Bukares Nicușor Dan berhasil mengalahkan George Simion dari AUR. Georgescu menyebut pembatalan hasil pemilu 2024 sebagai “kudeta formal” oleh Mahkamah Konstitusi Rumania. Dokumen intelijen Rumania yang dideklasifikasi menunjukkan ia “diuntungkan” oleh eksposur masif dan perlakuan istimewa dari TikTok, serta Rusia diduga mengoordinasikan kampanye daring untuk memenangkannya.

    Iamnitchi yakin timnya mungkin dapat mengidentifikasi siapa yang menciptakan dan mendapat keuntungan dari konten pro-Georgescu jika mereka mendapatkan akses data. “Jika Anda adalah akademisi yang tertarik pada bagaimana media sosial membentuk masyarakat, beberapa tahun terakhir ini sulit,” tulisnya. “Ketika Anda membutuhkan data untuk menyelidiki dampak itu, dan data tersebut dimiliki secara privat, hampir mustahil untuk meneliti ruang ini.”

    Iamnitchi adalah salah satu dari beberapa peneliti misinformasi yang mengatakan kepada WIRED bahwa meskipun secara hukum berhak mendapatkan data platform berdasarkan hukum Uni Eropa, mereka menghadapi hambatan, pengelabuan, dan dalam beberapa kasus, pertempuran hukum untuk mendapatkannya. Tahun lalu, undang-undang diperluas untuk meningkatkan akses peneliti, tetapi para peneliti mengatakan implementasi, bukan cakupan hukum itu sendiri, yang menjadi masalah.

    Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan media sosial menutup alat akses publik seperti CrowdTangle milik Meta dan menggantinya dengan pustaka konten, atau seperti X, memaywalling data API mereka, memaksa akademisi membayar “ratusan dolar per bulan,” kata Duncan Allen, petugas riset di Democracy Reporting International (DRI) di Jerman.

    Peneliti mengatakan tanpa akses API, apa yang digambarkan Iamnitchi sebagai “lubang hitam” dalam pengetahuan masyarakat tentang bagaimana platform ini merekomendasikan konten atau menangani laporan mengenai konten sensitif hanya akan bertambah besar. Platform lain, seperti TikTok, membatasi berapa banyak unggahan yang dapat ditarik oleh akun peneliti setiap hari, yang menurut Allen dapat membuat “mustahil untuk mempelajari apa pun dalam skala besar.”

    Hambatan Akses Data untuk Riset

    DSA dirancang untuk mengatasi masalah ini dengan mengizinkan peneliti yang telah terverifikasi di institusi kredibel untuk memiliki akses ke data API jika mereka dapat menunjukkan bahwa hal itu akan membantu dalam mempelajari risiko sistemik, mulai dari konten ilegal hingga ancaman terhadap hak-hak fundamental. Namun dua tahun setelah undang-undang tersebut berlaku, peneliti mengatakan mereka kesulitan memenuhi persyaratan keamanannya dan menghadapi interpretasi sempit dari platform tentang apa yang memenuhi syarat sebagai risiko sistemik.

    Formulir aplikasi berbeda antar platform, tetapi sebagian besar mensyaratkan data untuk disimpan pada infrastruktur yang tidak dapat dikompromikan — seperti mesin yang secara fisik terputus dari internet — sumber daya yang tidak dimiliki sebagian besar universitas, kata Iamnitchi. Bahkan untuk peneliti yang mendapatkan persetujuan, “tidak ada jaminan bahwa data tersebut baik,” kata L. K. Seiling, koordinator DSA40 Collaboratory, inisiatif Jerman yang melacak 46 aplikasi DSA.

    Data API seringkali sulit untuk direproduksi oleh rekan sejawat, sehingga pekerjaan peneliti tidak dapat diperiksa kesalahannya, yang menurut Iamnitchi merupakan “persyaratan dasar sains.” Data DSA40 menunjukkan dari 46 aplikasi yang dilacak, 20 disetujui dan 14 ditolak. Namun tingkat persetujuan sangat bervariasi: TikTok menyetujui 11 dari 13 aplikasi, sementara X menolak 11 dari 23 aplikasi. Tingkat penolakan sebenarnya mungkin lebih tinggi karena pelacak bergantung pada pelaporan sukarela, kata Seiling.

    “Tidak ada keuntungan terstruktur bagi peneliti untuk menggunakan jalur ini,” kata Seiling. “Akses data sebagaimana diatur saat ini mencoba untuk menghilangkan insentif bagi peneliti.” Juru bicara TikTok mengatakan kepada WIRED bahwa perusahaan telah memberikan akses kepada lebih dari 1.500 tim peneliti ke alatnya, menyetujui 130 aplikasi di Uni Eropa pada paruh kedua tahun lalu, dan bahwa kuota harian 1.000 permintaan API memungkinkan peneliti menarik hingga 100.000 catatan video dan komentar per hari, atau hingga 2 juta catatan pengikut. TikTok mengatakan alat penelitiannya dianggap sesuai dengan DSA tetapi “akan menyambut baik panduan publik lebih lanjut.”

    Juru bicara Meta mengatakan CrowdTangle hanya mencakup sebagian kecil dari data publik perusahaan, sementara Meta Content Library dan API yang menggantikannya adalah “alat penelitian paling komprehensif hingga saat ini.” Alat-alat tersebut mencakup Facebook, Instagram, WhatsApp Channels, dan Threads dengan “perlindungan privasi yang kuat,” dan peneliti nirlaba yang memenuhi syarat, termasuk jurnalis, dapat mendaftar.

    Upaya Hukum dan Regulasi Baru

    Ada beberapa solusi lain. Iamnitchi dan Allen mengatakan mereka beralih ke scraping di platform yang mengizinkannya, sebuah proses yang memakan waktu yang mengekspor data situs web ke spreadsheet. Bahkan dengan alat canggih, scraping “tidak terlalu komprehensif,” kata Allen. Scraping tidak dapat menangkap daftar pengikut lengkap suatu akun, membuat jaringan disinformasi terkoordinasi sulit dipetakan.

    Salah satu cara untuk menantang permohonan yang ditolak adalah dengan membawa platform ke pengadilan. Allen mengatakan DRI dan Society for Civil Rights mengajukan akses ke API X pada April 2024 untuk mempelajari wacana politik menjelang pemilu federal Jerman. X menolak permohonan tersebut pada November, mendorong DRI untuk menggugat pada Februari 2025. Pengadilan memutuskan X seharusnya memberikan akses, dalam apa yang diyakini DRI dapat menjadi kasus preseden.

    Namun berbulan-bulan kemudian organisasi tersebut kembali ke pengadilan setelah X menolak akses untuk penelitian menjelang pemilu Hongaria. Kasus itu hampir runtuh ketika pengadilan Berlin memutuskan peneliti seharusnya menggugat di Irlandia, tempat X berbasis. DRI menang banding. “Hukum Uni Eropa masih tidak diterapkan secara seragam,” katanya, merenungkan kasus Hongaria. “Ini menghabiskan banyak waktu dan energi, dan ada kalkulasi berkelanjutan apakah layak melakukan gugatan ini setiap kali kami mengajukan akses data.”

    Pada Desember 2025, Komisi Eropa menjatuhkan denda DSA pertamanya, mendenda X sebesar €120 juta ($137 juta) sebagian karena menciptakan “hambatan yang tidak perlu” untuk akses peneliti yang “secara efektif merusak penelitian ke dalam beberapa risiko di Uni Eropa.” Pada 20 Februari 2026, X mengajukan banding, menyebut investigasi itu “tidak lengkap dan dangkal” dan menuduh Uni Eropa melakukan “pelanggaran sistematis terhadap hak pembelaan dan persyaratan proses hukum dasar.”

    Pekan lalu, komisi menerima rencana aksi X untuk memperbaiki proses penyaringan peneliti, menyediakan data gratis, memotong waktu pemrosesan, dan mencabut pembatasan pada scraping data. X memiliki waktu enam bulan untuk menerapkan perubahan ini. Allen menyebut rencana itu “langkah ke arah yang benar” tetapi tetap skeptis tentang bagaimana implementasinya. Ia ingin X lebih spesifik tentang bagaimana akan meningkatkan proses vetting yang digunakan untuk menentukan apakah peneliti memenuhi syarat untuk akses API berdasarkan DSA.

    Uni Eropa, setelah mengatakan dalam investigasi DSA lain bahwa Meta dan TikTok “mungkin telah menetapkan prosedur dan alat yang memberatkan bagi peneliti untuk meminta akses ke data publik,” meninggalkan mereka dengan data parsial atau tidak dapat diandalkan, mulai bertemu dengan platform pada Mei untuk mengerjakan standar baru untuk memverifikasi peneliti. Akhir tahun lalu, komisi juga memperluas akses peneliti ke data platform nonpublik untuk mempelajari risiko termasuk konten ilegal, penipuan keuangan, dan sistem rekomendasi.

    Peneliti mengatakan ketentuan baru tersebut belum diuji, tetapi mereka optimis hati-hati. Regulasi baru tentang data nonpublik dapat memaksa X untuk merilis daftar pengikut lengkap suatu akun. Ini memberikan pandangan yang jauh lebih jelas bagi peneliti disinformasi tentang bagaimana serangan terkoordinasi menyebar secara daring, karena mereka dapat menggunakan data ini untuk memetakan akun mana yang berinteraksi atau saling mengikuti dan bagaimana mereka memperkuat konten, kata Allen.

    Kasus ini menunjukkan betapa rumitnya hubungan antara platform digital, regulator, dan peneliti di Eropa. Di satu sisi, DSA telah memberikan kerangka hukum yang jelas. Di sisi lain, implementasi di lapangan masih jauh dari harapan. Para peneliti berharap dengan tekanan dari Komisi Eropa dan putusan pengadilan, akses data akan semakin terbuka. Namun tanpa infrastruktur yang memadai di universitas dan proses vetting yang lebih transparan, “lubang hitam” dalam penelitian disinformasi masih akan terus ada.

    Implikasi dari situasi ini sangat luas. Tanpa akses data yang memadai, peneliti tidak dapat mengidentifikasi pola disinformasi secara dini, memetakan jaringan bot, atau mengevaluasi efektivitas kebijakan platform. Ini berarti masyarakat tetap rentan terhadap kampanye manipulasi digital, seperti yang terjadi di Rumania. Sementara itu, Cincin Satelit dan teknologi baru lainnya terus berkembang, menambah kompleksitas lanskap digital yang perlu diteliti.

    Bagi akademisi dan jurnalis yang bergantung pada data platform untuk riset mereka, situasi ini menimbulkan dilema: apakah terus berjuang melalui jalur hukum yang mahal dan memakan waktu, atau mencari alternatif seperti scraping yang terbatas akurasinya. Sementara itu, publik tetap menjadi pihak yang paling dirugikan karena tanpa penelitian yang memadai, risiko disinformasi tidak dapat diukur dan diantisipasi secara efektif.

  • Laba Google Melesat, Tapi Sinyal Gelembung AI Makin Kuat

    Laba Google Melesat, Tapi Sinyal Gelembung AI Makin Kuat

    JBNews.id — Alphabet, perusahaan induk Google, mencatatkan lonjakan laba empat kali lipat menjadi USD 112 miliar pada kuartal II 2026. Namun di balik angka fantastis tersebut, struktur pendapatan dan arus kas negatif justru memperkuat kekhawatiran investor terhadap gelembung kecerdasan buatan (AI bubble) yang semakin mendekati titik rawan.

    Berdasarkan laporan laba kuartalan yang dirilis Rabu (15/7/2026), laba bersih Alphabet melesat dari sekitar USD 25 miliar pada periode yang sama tahun lalu menjadi USD 112 miliar. Namun, seperti diwartakan The New York Times, USD 99 miliar dari total laba tersebut tidak berasal dari pendapatan operasional AI atau layanan Google lainnya. Sebagian besar justru berasal dari investasi raksasa Alphabet di perusahaan teknologi lain yang juga mengejar pasar AI, termasuk SpaceX milik Elon Musk dan Anthropic, pengembang chatbot Claude.

    Fenomena ini memicu kembali narasi klasik gelembung AI: keuntungan besar di atas kertas yang ditopang oleh sirkulasi modal antarperusahaan teknologi. Selama pasar AI masih tumbuh, skema ini berjalan mulus. Namun jika terjadi koreksi, rantai keuangan tersebut bisa runtuh secara bersamaan.

    Ilustrasi foto gaya dengan ikon Google 'G' pada papan petunjuk.

    Belanja Modal Meroket, Arus Kas Justru Negatif

    Di bawah permukaan hijau laporan laba, terdapat tanda bahaya yang tidak bisa diabaikan. Alphabet merevisi proyeksi belanja modal (capital expenditure/capex) tahun 2026 dari kisaran USD 180–190 miliar menjadi USD 195–205 miliar. Angka ini melonjak signifikan dari tahun-tahun sebelumnya dan mencerminkan tekanan besar untuk membangun infrastruktur komputasi AI.

    Lebih penting lagi, Alphabet mencatatkan free cash flow negatif untuk pertama kalinya sejak menjadi perusahaan publik. Artinya, kas yang dihasilkan setelah dikurangi biaya operasional dan belanja modal justru minus. Kondisi ini menjadi sinyal klasik bahwa pengeluaran infrastruktur telah melampaui kemampuan pendapatan operasional untuk mendanainya.

    Kepala keuangan Alphabet, Anat Ashkenazi, bahkan menyatakan kepada investor bahwa angka capex diproyeksikan akan “meningkat signifikan pada 2027.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa puncak belanja modal belum tercapai dan tekanan likuiditas akan berlanjut.

    Reaksi Pasar: Saham Anjlok 6,89 Persen

    Reaksi pasar terhadap laporan ini sangat keras. Sehari setelah rilis laporan, Kamis (16/7/2026), saham Alphabet terkoreksi 6,89 persen. Penurunan ini mengindikasikan bahwa investor mulai skeptis terhadap prospek jangka pendek AI, meskipun laba kertas menunjukkan angka spektakuler.

    CEO Alphabet, Sundar Pichai, dalam pernyataan resmi menyebut bahwa “investasi AI mendefinisikan ulang apa yang mungkin dilakukan di setiap bagian bisnis kami.” Namun data arus kas negatif dan ketergantungan pada investasi ekuitas menunjukkan bahwa fundamental bisnis AI masih jauh dari kata matang.

    Implikasi bagi Ekosistem AI Global

    Kasus Alphabet menjadi cermin bagi seluruh ekosistem AI global. Pola “laba dari investasi, bukan dari operasional” kini menjadi ciri umum perusahaan teknologi besar yang berlomba membangun dominasi AI. Selama valuasi startup AI terus naik, keuntungan investasi silang ini tampak sehat. Namun ketika gelembung mulai mengempis, rantai tersebut bisa berbalik menjadi kerugian berantai.

    Bagi pelaku industri teknologi di Indonesia, pola ini perlu dicermati. Investasi AI di dalam negeri yang masih bergantung pada pendanaan dari raksasa global berpotensi terdampak jika terjadi koreksi pasar di Amerika Serikat. Perusahaan rintisan AI lokal yang mengandalkan suntikan dana dari korporasi global harus bersiap menghadapi potensi pengetatan likuiditas.

    Sementara itu, Google terus mengembangkan layanan AI konsumen seperti Gemini yang kini diakses oleh jutaan pelanggan melalui kerja sama dengan operator seluler seperti XLSmart. Langkah ini menunjukkan bahwa Google tetap optimistis terhadap potensi pendapatan AI jangka panjang, meskipun tekanan keuangan jangka pendek semakin nyata.

    Kesimpulan: Antara Optimisme dan Realitas Fiskal

    Laporan laba Alphabet kali ini memberikan gambaran paradoks yang jelas: optimisme besar terhadap masa depan AI berhadapan dengan realitas fiskal yang menekan. Laba USD 112 miliar adalah pencapaian luar biasa, tetapi jika disertai arus kas negatif dan ketergantungan pada investasi ekuitas, maka stabilitas jangka panjang perusahaan patut dipertanyakan.

    Bagi investor dan pelaku industri, sinyal ini menegaskan bahwa era AI masih berada dalam fase investasi berat sebelum menghasilkan imbal hasil operasional yang berkelanjutan. Pertanyaan besarnya bukan lagi apakah AI akan mengubah dunia, melainkan kapan perusahaan-perusahaan seperti Alphabet bisa membuktikan bahwa model bisnis AI mereka benar-benar menghasilkan uang dari pelanggan, bukan dari sesama perusahaan teknologi.

    Di tengah ketidakpastian ini, Google juga menghadapi tantangan regulasi di Eropa setelah didenda oleh Komisi Eropa karena melanggar aturan pasar digital. Tekanan dari berbagai sisi membuat posisi Google semakin kompleks di tengah perlombaan AI global.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan terbaru Google dan AI, simak juga artikel tentang Samsung-Google Smart Glasses yang menjadi salah satu proyek ambisius perusahaan di segmen perangkat keras.