Category: Bapak Aing

  • Dedi Mulyadi Siapkan Rp9 Miliar Revitalisasi Museum Pajajaran

    Dedi Mulyadi Siapkan Rp9 Miliar Revitalisasi Museum Pajajaran

    Jbnews.id – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengalokasikan anggaran Rp9 miliar untuk merevitalisasi Museum Pajajaran di Kota Bogor. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda yang digelar beberapa pekan lalu, dengan fokus utama pada penataan kawasan budaya di sekitar museum.

    Program revitalisasi ini tidak hanya menyasar bangunan museum, tetapi juga mencakup penataan kawasan dari Museum Pajajaran hingga Lawang Suryakencana. Kawasan tersebut merupakan rute utama Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda yang menjadi agenda tahunan pelestarian budaya Sunda.

    “Sebagai tindak lanjut, akan ada penataan jalan, trotoar, lampu penerangan, serta taman. Agar Pak Wali Kota bisa fokus pada penataan kelurahan-kelurahan. Nanti kawasannya akan dinamakan Palataran Binokasih,” ucap Dedi Mulyadi dikutip dari Antara, Senin (1/6/2026).

    Anggaran Rp9 miliar tersebut merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) memperkuat fasilitas seni dan budaya. Revitalisasi ini juga bertujuan memperbaiki kawasan yang menjadi jalur kegiatan budaya masyarakat secara berkelanjutan.

    Gubernur yang akrab disapa KDM itu menekankan bahwa penataan kawasan budaya ini bersifat komprehensif. Tidak hanya fokus pada fisik bangunan, tetapi juga infrastruktur pendukung seperti akses jalan dan ruang publik. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan pengunjung dan pelaku kegiatan budaya.

    Museum Pajajaran sendiri merupakan salah satu ikon sejarah di Kota Bogor yang menyimpan koleksi benda-benda bersejarah dari era Kerajaan Pajajaran. Revitalisasi ini diharapkan mampu mengembalikan fungsi museum sebagai pusat edukasi dan destinasi wisata budaya yang representatif.

    Langkah Pemprov Jabar ini sejalan dengan program revitalisasi di sejumlah kawasan bersejarah lainnya di Jawa Barat. Sebelumnya, revitalisasi Gedung Sate-Gasibu juga menjadi sorotan DPRD Jabar dengan anggaran Rp12 miliar. Proyek serupa di kawasan yang sama dengan nilai Rp15,8 miliar bahkan sempat memicu aksi Kamisan di Bandung.

    Penataan kawasan budaya juga menjadi perhatian di berbagai daerah. Di Bandung Barat, misalnya, lokakarya budaya digelar dalam rangka menyambut Hari Lahir Pancasila. Inisiatif-inisiatif semacam ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam melestarikan warisan budaya.

    Dengan adanya revitalisasi Museum Pajajaran, diharapkan kawasan tersebut dapat menjadi pusat kegiatan seni dan budaya yang lebih hidup. Nama Palataran Binokasih yang akan disematkan pada kawasan ini memiliki nilai historis yang kuat, merujuk pada istilah dalam tradisi Sunda.

    Pemprov Jabar optimistis program ini dapat berjalan lancar dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Selain meningkatkan aspek budaya, revitalisasi juga diharapkan mampu mendongkrak sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Kota Bogor dan sekitarnya.

    Ke depan, Pemprov Jabar akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Bogor untuk memastikan penataan kawasan berjalan sesuai rencana. Sinergi antara pemerintah provinsi dan kota menjadi kunci keberhasilan program revitalisasi ini.

    Masyarakat diharapkan dapat mendukung dan berpartisipasi aktif dalam menjaga serta memanfaatkan fasilitas budaya yang telah direvitalisasi. Dengan demikian, Museum Pajajaran dan kawasan sekitarnya dapat menjadi kebanggaan bersama.

    Informasi lebih lanjut mengenai perkembangan revitalisasi Museum Pajajaran akan diumumkan secara berkala oleh Pemprov Jabar melalui kanal resmi mereka.

  • Replika Rumah Pohon Korowai Diserahkan ke Dedi Mulyadi, Ini Pesannya

    Replika Rumah Pohon Korowai Diserahkan ke Dedi Mulyadi, Ini Pesannya

    Jbnews.id – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menerima replika rumah pohon khas suku Korowai dari pedalaman Papua usai menghadiri Konferensi Tahunan Analisis Papua Strategis (APS) di Jayapura. Benda itu bukan sekadar cenderamata, melainkan simbol penghormatan sekaligus pesan keras tentang pentingnya menjaga hutan dan keberlangsungan hidup masyarakat adat.

    Replika rumah pohon itu diserahkan melalui perwakilan Pemerintah Kabupaten Boven Digoel sebagai titipan masyarakat adat Korowai yang masih bergantung pada hutan di wilayah pedalaman Papua. Perwakilan Pemkab Boven Digoel, Franky, mengatakan masyarakat adat berharap pesan yang mereka sampaikan dapat diteruskan kepada para pemimpin di Indonesia, terutama terkait perlindungan lingkungan dan penghormatan terhadap kearifan lokal.

    “Mereka berdoa mudah-mudahan ada pemimpin yang amanah, yang baik, yang menghargai pemberian alam yang Tuhan kasih. Tuhan menciptakan tanah, air, pohon, dan semua kekayaan alam yang hari ini masih dijaga oleh masyarakat Papua,” ujarnya.

    Menurut Franky, bagi masyarakat Korowai, hutan bukan hanya ruang hidup, tetapi juga sumber pangan, tempat tinggal, serta bagian dari identitas budaya yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Pesan ini menjadi pengingat bagi para pemimpin daerah, termasuk Dedi Mulyadi, untuk terus mengedepankan kebijakan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

    Penyerahan replika ini terjadi di tengah berbagai tantangan lingkungan di Jawa Barat, seperti banjir dan longsor akibat alih fungsi lahan. Sebelumnya, Dedi Mulyadi juga telah menegaskan prioritas penataan daerah aliran sungai (DAS), jalan, dan gerbang tol di Jawa Barat. Langkah ini sejalan dengan pesan dari masyarakat adat Papua tentang pentingnya menjaga alam.

    Dalam konteks yang lebih luas, pesan dari suku Korowai ini relevan dengan berbagai program lingkungan yang tengah digalakkan di Jawa Barat. Misalnya, ajakan kepada warga untuk beralih ke biogas sebagai alternatif energi yang lebih ramah lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan keberlanjutan lingkungan menjadi isu lintas daerah.

    Replika rumah pohon ini juga menjadi simbol bahwa kearifan lokal, seperti yang dipegang oleh suku Korowai, dapat menjadi inspirasi dalam pengelolaan lingkungan yang lebih baik. Dedi Mulyadi, yang dikenal dengan program-program peduli lingkungan, diharapkan dapat meneruskan pesan ini dalam kebijakan di Jawa Barat.

    Ke depannya, pesan dari masyarakat adat Papua ini diharapkan dapat mengingatkan semua pihak bahwa pembangunan tidak boleh mengorbankan kelestarian alam. Seperti yang disampaikan oleh Franky, alam adalah anugerah yang harus dijaga untuk generasi mendatang.

    Pembunuhan

    Penerimaan replika ini juga menjadi momen penting bagi Dedi Mulyadi untuk memperkuat komitmennya dalam pelestarian lingkungan. Sebagai pemimpin daerah dengan populasi besar, Jawa Barat memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam.

    Selain itu, pesan dari suku Korowai ini juga relevan dengan upaya pelestarian budaya dan lingkungan di berbagai daerah. Di Jawa Barat sendiri, berbagai lokakarya budaya kerap digelar untuk merawat kearifan lokal, seperti yang terlihat dalam perayaan Hari Lahir Pancasila.

    Dengan diterimanya replika rumah pohon ini, Dedi Mulyadi diharapkan dapat menjadi jembatan antara pesan masyarakat adat Papua dengan kebijakan di Jawa Barat. Ini adalah langkah kecil namun bermakna dalam upaya pelestarian lingkungan dan penghormatan terhadap kearifan lokal.

  • Dedi Mulyadi Targetkan 100 Siswa Beasiswa Industri Ciptakan Kelas Menengah Baru

    Dedi Mulyadi Targetkan 100 Siswa Beasiswa Industri Ciptakan Kelas Menengah Baru

    Jbnews.id – Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Gubernur Dedi Mulyadi memulai program beasiswa penuh bagi 100 siswa dari keluarga tidak mampu untuk masuk ke sekolah unggulan berbasis industri. Langkah ini merupakan strategi untuk menciptakan kelas menengah baru dan mendorong mobilitas sosial di wilayah tersebut.

    Program ini diumumkan Dedi usai menghadiri Forum Industri Jawa Barat di Bandung, Kamis (23/4/2026). Ia menegaskan kebijakan ini dirancang agar kelompok ekonomi bawah memiliki akses setara ke institusi pendidikan dengan tingkat serapan kerja tinggi, yang selama ini sulit dijangkau.

    “Semangatnya adalah harus lahir kelas menengah baru dari Jawa Barat dari sekolah-sekolah industri unggulan. Selama ini jarang sekali masyarakat ekonomi menengah ke bawah bisa sekolah di situ,” ujar Dedi dalam forum tersebut.

    Pada tahap awal, program beasiswa menyasar 100 siswa. Pemerintah provinsi menargetkan jumlah penerima meningkat hingga 800 orang ke depan untuk memperluas dampak sosial dan ekonomi. Akses ke sekolah unggulan tidak hanya membuka peluang kerja, tetapi juga jalur karier jangka panjang bagi penerima beasiswa.

    Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya Pemprov Jabar untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan vokasi. Sekolah berbasis industri dipilih karena lulusannya memiliki kompetensi yang langsung dibutuhkan pasar kerja, terutama di sektor manufaktur dan teknologi.

    Dedi Mulyadi menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri dalam mendesain kurikulum. Hal ini agar lulusan benar-benar siap kerja dan mampu bersaing di era industri 4.0. Program beasiswa ini juga diharapkan dapat mengurangi kesenjangan akses pendidikan antara kelompok kaya dan miskin.

    Data dari Dinas Pendidikan Jawa Barat menunjukkan bahwa angka partisipasi sekolah di jenjang menengah kejuruan masih timpang. Banyak siswa dari keluarga prasejahtera yang tidak mampu melanjutkan ke sekolah unggulan karena biaya tinggi. Beasiswa ini diharapkan menjadi solusi konkret.

    Langkah serupa sebelumnya telah dilakukan melalui program Sekolah Maung Jabar yang siap dibuka tahun ajaran ini. Inisiatif tersebut juga menyasar siswa dari keluarga kurang mampu dengan pendekatan pendidikan berbasis karakter dan keterampilan.

    Forum Industri Jawa Barat yang dihadiri Dedi Mulyadi juga membahas kesiapan tenaga kerja lokal dalam menghadapi investasi baru. Gubernur menegaskan bahwa ketersediaan SDM terampil menjadi kunci agar investasi tidak hanya menguntungkan perusahaan, tetapi juga masyarakat setempat.

    Program beasiswa ini mendapat sambutan positif dari kalangan akademisi dan pengamat pendidikan. Mereka menilai kebijakan ini tepat sasaran karena menyasar sekolah dengan tingkat serapan kerja tinggi, sehingga lulusan langsung terserap pasar.

    Ke depan, Pemprov Jabar akan terus memonitor pelaksanaan program dan mengevaluasi dampaknya terhadap penurunan angka kemiskinan. Target 800 penerima beasiswa diharapkan tercapai dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

    Selain beasiswa, pemerintah juga tengah memperbaiki infrastruktur pendidikan di berbagai daerah. Contohnya, Dinas PUPR Cianjur mulai perbaiki jalan berlubang di kawasan Ciherang-Kadupandak untuk mendukung akses transportasi siswa ke sekolah.

    Dedi Mulyadi menegaskan bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang. Dengan memberikan akses ke sekolah unggulan, ia yakin lahir kelas menengah baru yang mandiri dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Barat.

    Program ini juga menjadi bagian dari visi besar Pemprov Jabar untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Semua anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi, berhak mendapatkan pendidikan berkualitas.

    Langkah konkret ini diharapkan menjadi contoh bagi provinsi lain dalam mengatasi kesenjangan akses pendidikan. Dengan fokus pada sekolah industri, Pemprov Jabar optimistis dapat mencetak tenaga kerja terampil yang siap bersaing di tingkat nasional maupun global.

    Informasi lebih lanjut mengenai program beasiswa ini dapat diakses melalui kanal resmi Pemprov Jawa Barat. Masyarakat juga diimbau untuk memantau perkembangan program melalui media massa dan media sosial pemerintah.

  • Dedi Mulyadi Ajak Warga Jabar Beralih ke Biogas Atasi Harga Elpiji Naik

    Dedi Mulyadi Ajak Warga Jabar Beralih ke Biogas Atasi Harga Elpiji Naik

    Jbnews.id – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendorong warga untuk beralih menggunakan biogas dan energi alternatif lainnya sebagai respons atas kenaikan harga elpiji nonsubsidi yang melonjak sejak 18 April 2026. Langkah ini dinilai sebagai solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap gas elpiji yang harganya terus meningkat.

    Menurut Dedi, potensi limbah lingkungan seperti kotoran hewan dan sampah rumah tangga sangat besar untuk diolah menjadi sumber energi yang dapat menggantikan elpiji. “Bisa mengelola kotoran sapi berubah jadi energi gas, bisa, sampah, bisa, listrik bisa,” kata Dedi dalam keterangan resmi pada Jumat (24/4/2026).

    Lonjakan harga elpiji nonsubsidi menjadi pemicu utama dorongan diversifikasi energi ini. Harga tabung 12 kilogram mencapai Rp228.000, sementara ukuran 5,5 kilogram dibanderol Rp107.000. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah untuk mencari alternatif energi yang lebih terjangkau dan berkelanjutan, terutama berbasis kearifan lokal.

    Praktik pemanfaatan biogas telah menunjukkan hasil positif di sejumlah wilayah seperti Kabupaten Bandung Barat. Para peternak di sana mampu mengonversi limbah kotoran sapi menjadi bahan bakar memasak dengan tekanan api yang stabil dan berkelanjutan. Inisiatif ini tidak hanya mengurangi biaya energi rumah tangga, tetapi juga memberikan solusi pengelolaan limbah yang ramah lingkungan.

    Langkah Dedi Mulyadi ini sejalan dengan tren global menuju energi terbarukan. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, warga Jawa Barat diharapkan dapat lebih mandiri secara energi dan tidak terlalu bergantung pada pasokan elpiji yang harganya fluktuatif. Program ini juga dinilai mampu mendorong perekonomian pedesaan melalui pengembangan energi alternatif berbasis peternakan.

    Gubernur menegaskan bahwa pemerintah provinsi siap mendukung penuh inisiatif masyarakat dalam mengembangkan biogas. Pendampingan teknis dan akses terhadap peralatan pengolahan akan difasilitasi agar program ini dapat berjalan optimal. Dedi optimistis bahwa dengan kolaborasi antara pemerintah, peternak, dan komunitas, target diversifikasi energi di Jawa Barat dapat tercapai dalam waktu dekat.

    Sejumlah pihak menilai kebijakan ini tepat sasaran. Kenaikan harga elpiji nonsubsidi memang memberatkan masyarakat, terutama di sektor rumah tangga dan usaha mikro. Dengan adanya alternatif biogas, beban ekonomi warga dapat diringankan sekaligus mendukung program pemerintah pusat dalam transisi energi bersih.

    Namun, tantangan tetap ada. Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat menjadi kunci keberhasilan program ini. Tidak semua warga familiar dengan teknologi biogas, sehingga diperlukan pendekatan yang intensif dan partisipatif. Pemerintah daerah juga perlu memastikan ketersediaan infrastruktur pendukung, seperti instalasi pengolahan limbah dan distribusi gas.

    Ke depan, Dedi Mulyadi berencana memperluas program ini ke seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat. Ia berharap inisiatif ini dapat menjadi model bagi daerah lain di Indonesia dalam menghadapi lonjakan harga energi. Dengan memanfaatkan potensi lokal, ketahanan energi nasional dapat diperkuat secara bertahap.

    Langkah konkret yang diambil Gubernur Jabar ini menunjukkan bahwa solusi terhadap krisis energi tidak selalu harus bergantung pada impor atau subsidi. Sumber daya alam yang melimpah di Indonesia, jika dikelola dengan baik, dapat menjadi jawaban atas tantangan energi masa depan.