Author: Hamzah Nurhamzah

  • LG Monitor Otomatis Instal App & McAfee di Windows 11

    LG Monitor Otomatis Instal App & McAfee di Windows 11

    JBNews.id — Pengguna Windows 11 melaporkan bahwa sistem operasi secara diam-diam menginstal aplikasi LG Monitor App Installer dan driver LG lainnya saat pertama kali menghubungkan monitor LG UltraGear, tanpa memberikan notifikasi atau izin kepada pengguna. Temuan ini diungkap oleh kanal teknologi Gamers Nexus melalui pengujian yang mereka lakukan, menunjukkan bahwa praktik ini telah berlangsung setidaknya sejak tahun 2024.

    Dalam pengujian yang dilakukan Gamers Nexus, setelah menghubungkan monitor LG UltraGear ke PC yang menjalankan Windows 11 untuk pertama kalinya, Windows Update secara otomatis menginstal pembaruan driver LG dan LG Monitor App Installer. Proses instalasi ini berlangsung tanpa pemberitahuan atau permintaan izin dari pengguna. Aplikasi yang diinstal tersebut tidak menawarkan kontrol khusus, melainkan hanya mengarahkan pengguna ke aplikasi LG lainnya serta McAfee antivirus.

    Fenomena ini memicu kekhawatiran baru tentang praktik instalasi aplikasi paksa di ekosistem Windows. Microsoft sendiri menyediakan fitur bagi pengembang untuk memasangkan aplikasi pendukung perangkat keras (Hardware Support App) di Windows Store yang akan terinstal secara otomatis berdasarkan metadata perangkat. Namun, deskripsi fitur ini di Windows Store menyertakan peringatan bahwa “fitur instalasi otomatis tidak memberikan notifikasi kepada pengguna saat aplikasi diinstal,” dan beberapa pengguna mungkin menganggap pengalaman ini membingungkan dan membuat frustrasi.

    Munculnya Iklan Pop-Up McAfee

    Yang menjadi perhatian lebih adalah munculnya iklan pop-up besar untuk McAfee dan aplikasi LG lainnya di sudut kanan bawah layar. Dalam pengujian Gamers Nexus, iklan pop-up ini muncul pada 31 dari 32 kali booting sistem. Pengguna Reddit juga telah melaporkan keluhan serupa, di mana iklan tiba-tiba muncul di homescreen tanpa peringatan sebelumnya. Praktik ini dinilai mengganggu pengalaman pengguna dan menimbulkan pertanyaan tentang kebijakan privasi dan keamanan data.

    Menurut halaman Windows Store-nya, LG Monitor App Installer memerlukan izin untuk “menggunakan semua sumber daya sistem” dan “mengakses koneksi internet Anda.” Kebijakan privasi LG yang terkait menyebutkan pengumpulan data perangkat, aktivitas internet, dan informasi geolokasi secara otomatis. Semua ini terjadi pada program yang diinstal tanpa izin eksplisit pengguna, menimbulkan kekhawatiran serius tentang transparansi dan persetujuan pengguna.

    Tom Warren dari The Verge sebelumnya mencatat bahwa Dell juga melakukan praktik serupa dengan menginstal aplikasi Alienware Command Center secara otomatis saat monitor Alienware terhubung ke Windows. Namun, kasus LG ini memiliki “twist” tambahan berupa spam notifikasi yang lebih agresif. Perbedaan ini membuat keluhan pengguna LG lebih vokal, terutama karena aplikasi yang diinstal secara paksa ini justru mengarahkan pengguna ke produk komersial seperti McAfee.

    Cara Menghentikan Instalasi Otomatis

    Meskipun situasi ini mengkhawatirkan, pengguna memiliki beberapa opsi untuk menghentikan instalasi otomatis aplikasi LG. Untuk pengguna Windows 11 edisi Pro, mereka dapat menerapkan pengaturan kebijakan grup (group policy) yang dapat memblokir aplikasi LG agar tidak terinstal secara otomatis. Sementara itu, pengguna edisi Home mungkin dapat mematikan instalasi ini dengan memilih “No” pada opsi untuk secara otomatis mengunduh aplikasi dan ikon kustom dari pabrikan yang terdapat di bagian pengaturan sistem lanjutan (Advanced system settings).

    Praktik instalasi otomatis aplikasi pihak ketiga melalui Windows Update ini bukanlah hal baru. Sebelumnya, pengguna telah melaporkan kasus serupa dengan perangkat dari berbagai merek. Namun, kasus LG ini menjadi sorotan karena aplikasi yang diinstal secara paksa justru menjadi kanal untuk iklan dan pemasaran produk lain, bukan untuk meningkatkan fungsionalitas perangkat.

    Bagi pengguna yang ingin menghindari gangguan ini, disarankan untuk memeriksa pengaturan Windows Update dan menonaktifkan opsi untuk mengunduh driver dan aplikasi dari pabrikan secara otomatis. Langkah ini dapat dilakukan melalui menu Settings > Windows Update > Advanced options, kemudian mematikan opsi “Receive updates for other Microsoft products.”

    Implikasi dari praktik ini sangat jelas: pengguna kehilangan kendali atas apa yang diinstal di sistem mereka. Meskipun Microsoft menyediakan fitur untuk pengembang, pelaksanaannya yang tanpa notifikasi dan persetujuan eksplisit menimbulkan risiko keamanan dan privasi. Pengguna harus waspada dan mengambil langkah proaktif untuk melindungi sistem mereka dari instalasi aplikasi yang tidak diinginkan.

  • Telkom Resmikan Nongsa-Changi Cable, Konektivitas RI-Singapura Makin Kuat

    Telkom Resmikan Nongsa-Changi Cable, Konektivitas RI-Singapura Makin Kuat

    JBNews.id, Batam — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk melalui anak usahanya, PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin), bersama Nongsa Digital Park dan BW Digital meresmikan pendaratan Nongsa Changi Cable (NCC) di Beach Manhole Taman Nongsa Indah Village (TNIV), Batam, pada Senin (20/7). Kabel bawah laut sepanjang 50 kilometer ini menghubungkan Nongsa Digital Park di Batam dengan Singapura melalui jalur terpendek melintasi Selat Singapura, menandai langkah strategis dalam memperkuat konektivitas digital antara Indonesia dan Singapura.

    Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menyampaikan bahwa pendaratan kabel Nongsa Changi merupakan tonggak penting dalam pengembangan infrastruktur digital Indonesia. “Hari ini kita merayakan keberhasilan pendaratan Nongsa Changi Cable (NCC). Sebuah tonggak penting yang mencerminkan komitmen bersama Indonesia dan Singapura untuk memajukan ekosistem digital yang lebih terhubung, tangguh, dan siap menghadapi masa depan di kawasan ini,” ujar Dian dalam acara Nongsa Changi Cable Landing Ceremony.

    Nongsa-Changi Cable merupakan bagian dari inisiatif Indonesia Cable Express (ICE) yang dikembangkan oleh Telin bersama BW Digital dan didukung oleh Nongsa Digital Park. Kabel bawah laut ini ditargetkan mulai beroperasi pada September 2026. Kehadirannya diharapkan dapat memperluas dan memperkuat ekosistem konektivitas digital nasional maupun internasional untuk menjawab kebutuhan masa depan.

    “Kabel ini ditargetkan mulai beroperasi pada bulan September. Tujuannya adalah agar konektivitas antara Batam dan Singapura menjadi lebih baik. Dan dengan adanya NCC ini, diharapkan kita juga bisa memperkuat kerja sama Indonesia dan Singapura, termasuk kerja sama ekonomi digital,” ucap Dian.

    Apresiasi dari Pemerintah RI dan Singapura

    Peresmian Nongsa-Changi Cable mendapat apresiasi dari pemerintah Indonesia dan Singapura. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, menilai infrastruktur kabel bawah laut ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat koridor digital Indonesia dan Singapura. “Infrastruktur ini adalah fondasi fisik dari koridor digital baru. Dengan kapasitas lebih dari 1,6 petabyte dan waktu kurang dari 2 milidetik, menurut saya ini sangat luar biasa,” ungkap Airlangga.

    Airlangga menjelaskan bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, transformasi digital Indonesia terus didorong melalui pembangunan infrastruktur digital. Saat ini Indonesia memiliki sekitar 235,26 juta pengguna internet dengan 99,5 juta pelanggan fixed broadband, menjadikannya salah satu pasar digital terbesar di Asia. Ia berharap kehadiran ekosistem digital tersebut dapat memperkuat konektivitas kawasan, memperluas kerja sama ekonomi digital, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan dunia usaha.

    “Mari kita bangun koridor digital ini, bukan hanya dengan kabel dan data, tetapi dengan kepercayaan, kemitraan, dan visi bersama. Sehingga manfaat ini tidak hanya menjangkau Indonesia dan Singapura, tetapi seluruh kawasan ASEAN dan sekitarnya,” ungkapnya.

    Senada, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Perdagangan dan Industri Singapura, Gan Kim Yong, mengungkapkan bahwa kehadiran Nongsa Changi Cable menandai semakin eratnya hubungan bilateral antara Indonesia dan Singapura, khususnya dalam pengembangan ekonomi dan infrastruktur digital. “Seiring ekonomi yang semakin digital, infrastruktur digital kini menjadi fondasi penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Bisnis yang mengembangkan aplikasi AI, mengoperasikan layanan cloud, atau menjalankan fasilitas manufaktur canggih, semuanya bergantung pada kemampuan untuk memindahkan data secara aman, andal, dan dengan penundaan (delay) minimal,” katanya.

    “Itulah mengapa proyek seperti Nongsa Changi Cable sangat penting. Kabel ini akan menyediakan kapasitas tambahan lebih dari 1,6 petabyte per detik dan menghubungkan Batam dan Singapura dengan latensi di bawah 2 milidetik. Ini akan mendukung pertumbuhan pusat data dan layanan digital di Batam dan membantu bisnis beroperasi lintas batas,” sambungnya.

    Perkuat Fondasi Ekosistem Digital Batam

    Pada kesempatan yang sama, CEO Nongsa Digital Park, Mike Wiluan, menilai kehadiran Nongsa-Changi Cable menjadi fondasi penting dalam memperkuat ekosistem digital di Batam. Menurutnya, infrastruktur digital kini tidak lagi sekadar menjadi penunjang teknologi, tetapi telah menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi dan daya saing nasional.

    “Infrastruktur digital kini menjadi infrastruktur ekonomi dan nasional. Fondasi yang memungkinkan bisnis untuk berkembang, talenta untuk maju, ide untuk menyebar, dan komunitas untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital global,” paparnya.

    “Dengan hadirnya NCC, dampaknya melampaui sekadar infrastruktur. Ekosistem digital yang lebih kuat akan membantu mengembangkan talenta lokal, menarik perusahaan teknologi, startup, investor, dan innovator ke Batam, serta menciptakan peluang nyata bagi generasi muda Indonesia,” pungkasnya.

    Sebagai informasi, turut hadir pada Cable Landing Ceremony antara lain, Duta Besar Indonesia untuk Singapura, Hotmangaraja Panjaitan; Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura; Managing Director Business-2 Danantara, Setyanto Hantoro; Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kartika Listriana; Direktur Wholesale & Internasional Service Telkom, Budi Satria Dharma Purba; Chairman BW Group, Andreas Sohmen Pao; CEO Citramas Group, Kris Wiluan; dan Chief Executive Officer Telin, Abdul Rahman Ansyori serta para mitra stakeholder.

    Dengan kapasitas lebih dari 1,6 petabyte per detik dan latensi di bawah 2 milidetik, Nongsa-Changi Cable menjadi infrastruktur digital yang akan mendukung pertumbuhan pusat data dan layanan digital di Batam. Kehadiran kabel ini juga membantu bisnis beroperasi lintas batas dengan lebih efisien, memperkuat posisi Batam sebagai hub digital kawasan, dan membuka peluang baru bagi talenta lokal serta investor global.

  • Telkom University dan Kaspersky Gelar Hackathon Siber HackNusa 2026

    Telkom University dan Kaspersky Gelar Hackathon Siber HackNusa 2026

    JBNews.id — Telkom University bersama Kaspersky membuka pendaftaran HackNusa – From Ideas to Impact, sebuah hackathon keamanan siber tingkat nasional yang bertujuan menginspirasi inovator muda Indonesia. Kompetisi ini mengajak peserta untuk mengembangkan solusi praktis menghadapi tantangan keamanan digital yang terus berkembang.

    Pendaftaran HackNusa telah dibuka dan akan berlangsung hingga 21 Agustus 2026. Puncak acara berupa hackathon tatap muka dijadwalkan pada 3 Oktober 2026 di kampus Telkom University, Bandung. Acara ini mempertemukan mahasiswa, pengembang, penggemar keamanan siber, dan calon profesional teknologi dari seluruh Indonesia.

    Kepala Kaspersky Academy, Evgeniya Russkikh, menjelaskan bahwa seiring dengan peningkatan adopsi digital dan investasi besar-besaran pada infrastruktur digital di Indonesia, lanskap keamanan siber menjadi semakin kompleks. Ancaman yang terus meningkat membuat permintaan akan tenaga profesional di bidang ini melonjak.

    “Kami berharap hackathon ini akan menjadi platform bagi para pemikir teknologi brilian untuk menguji keterampilan dan pengetahuan mereka, serta memecahkan tantangan dunia nyata di bidang keamanan siber dan kepercayaan digital,” ujar Evgeniya dalam keterangan resmi, Senin (20/7/2026).

    Kolaborasi Strategis untuk Inovasi Siber Nasional

    Dekan Fakultas Informatika Telkom University, Kemas Muslim Lhaksamana, menambahkan bahwa memajukan keamanan siber bersamaan dengan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi mutakhir lainnya merupakan prioritas utama di seluruh inisiatif pendidikan dan penelitian kampusnya. Baginya, kolaborasi dengan pemimpin industri global seperti Kaspersky sangat penting untuk memberdayakan generasi inovator Indonesia.

    HackNusa menantang peserta untuk mengubah ide inovatif menjadi solusi yang berdampak melalui tiga jalur kompetisi utama. Pertama, Pembayaran digital aman dan fintech yang fokus pada perancangan cara lebih aman serta cerdas dalam mengelola transaksi di ekonomi digital. Kedua, AI melawan AI sebagai pertahanan siber untuk merancang sistem cerdas yang mampu mendeteksi, mencegah, dan menanggapi ancaman yang semakin canggih. Ketiga, Keamanan yang berpusat pada manusia guna menciptakan solusi keamanan siber yang intuitif, mudah diakses, serta mudah dipahami oleh pengguna awam.

    Hacknusa, hackathon yang digelar oleh Kaspersky dan Telkom University

    Hadiah dan Tahapan Kompetisi

    Tim yang berhasil keluar sebagai juara akan membawa pulang hadiah utama sebesar Rp 13 juta. Selain itu, pemenang juga berhak mendapatkan akses kursus pelatihan dari Kaspersky senilai hingga USD 2.500 untuk membantu mengembangkan keahlian mereka lebih jauh ke level profesional.

    Dari seluruh peserta, sebanyak 30 tim yang lolos seleksi akan diundang ke acara tatap muka. Di sana, 10 tim terbaik akan mempresentasikan proyek akhir mereka di hadapan dewan juri. Bersamaan dengan acara final pada 3 Oktober mendatang, penyelenggara juga akan menggelar Kompetisi Simulasi Perlindungan Interaktif Kaspersky (KIPS). Acara ini merupakan simulasi yang mengajak peserta menghadapi skenario insiden siber dunia nyata untuk memperkuat kerja sama tim dan pengambilan keputusan.

    Bagi yang tertarik menguji kemampuannya, pendaftaran dapat dilakukan melalui situs resmi hackathon Telkom University. Kompetisi ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa dan profesional muda untuk berkontribusi langsung dalam memperkuat ekosistem keamanan siber nasional di tengah meningkatnya ancaman digital.

    Dengan hadirnya HackNusa, Telkom University dan Kaspersky memberikan wadah konkret bagi talenta muda Indonesia untuk berinovasi di bidang keamanan siber. Implikasinya, para peserta tidak hanya berpeluang memenangkan hadiah menarik, tetapi juga membangun portofolio dan jaringan profesional yang berharga untuk karir masa depan di industri teknologi.

  • Fitur AI Baru Adobe Indigo Ubah Aplikasi Kamera Eksperimental

    Fitur AI Baru Adobe Indigo Ubah Aplikasi Kamera Eksperimental

    JBNews.id — Adobe secara resmi memperkenalkan pembaruan besar untuk aplikasi kamera eksperimentalnya, Project Indigo, dengan menambahkan seperangkat alat kecerdasan buatan (AI) generatif yang disebut “AI Playground”. Pembaruan ini menandai perubahan signifikan dari fokus awal aplikasi yang dirancang untuk menghasilkan foto bergaya SLR.

    AI Playground: Empat Fitur Utama dalam Satu Paket

    Fitur AI Playground yang hadir melalui pembaruan versi 1.1 mencakup empat bagian utama: Styles, Object Editing, Photo Guidance, dan Custom Edit. Menurut Adobe fellow Marc Levoy, setiap bagian berisi “beberapa tombol atau toggle yang memicu GenAI dengan prompt yang telah kami rekayasa.” Jika pengguna tidak puas dengan hasil editan, mereka dapat menekan tombol lagi dan “biasanya mendapatkan hasil yang sedikit berbeda.”

    Fitur Styles menerapkan efek filter AI preset pada foto yang diambil menggunakan Indigo, membuatnya terlihat seperti ilustrasi atau mengubah efek pencahayaan. Sementara itu, Object Editing mencakup alat untuk menghapus orang, objek, dan gangguan lain dari latar belakang gambar, dengan AI generatif yang kemudian mengisi ruang kosong yang ditinggalkan — mirip dengan fitur Magic Eraser milik Google.

    Photo Guidance adalah fitur umpan balik yang memungkinkan AI menganalisis foto untuk memberikan saran pemotretan ulang dan pengeditan. Fitur terakhir, Custom Edit, merupakan alat prompting yang lebih luas yang memungkinkan pengguna mendeskripsikan bagaimana mereka ingin memanipulasi gambar secara lebih detail. Misalnya, jika tidak puas dengan hasil preset Styles, Custom Edit memungkinkan pengguna untuk menentukan perubahan lain apa yang diinginkan.

    Menggunakan Model AI Google, Bukan Firefly

    Yang menarik, perubahan ini tidak bergantung pada model AI Firefly milik Adobe sendiri. Sebaliknya, Adobe mengandalkan model Nano Banana milik Google “untuk memulai,” namun mengatakan dapat beralih atau menambahkan dukungan model tambahan seiring waktu. Langkah ini menunjukkan pendekatan eksperimental Adobe dalam mengintegrasikan AI generatif ke dalam aplikasi kameranya.

    Adobe mendeskripsikan suite alat AI Playground sebagai sebuah eksperimen dan menekankan bahwa ada tombol yang memungkinkan pengguna memilih keluar (opt out) dan terus menggunakan aplikasi seperti sebelumnya. Akses gratis ke suite ini tanpa persyaratan masuk (sign-on) sedang diuji coba dengan persentase kecil pengguna Indigo selama beberapa minggu ke depan.

    Strategi Eksperimen dan Monetisasi

    “Tujuan kami adalah mempelajari bagaimana orang menggunakan pengeditan bertenaga GenAI. Tergantung pada keberhasilannya, kami dapat memperpanjang eksperimen, atau memperluas kumpulan pengguna, atau menjalankan eksperimen lanjutan,” kata Marc Levoy dalam pengumuman blog. “Jika fitur ini terbukti populer, kami pada akhirnya akan menawarkan versi berbayar.”

    Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Adobe sedang menguji pasar untuk fitur AI generatif dalam aplikasi fotografi mobile. Strategi ini memungkinkan perusahaan untuk mengumpulkan data penggunaan nyata sebelum memutuskan model bisnis jangka panjang.

    Perubahan Arah dari Fokus Awal

    Ini merupakan perubahan haluan yang cukup jauh dari pengalaman yang diberikan Indigo saat peluncuran. Rekan jurnalis Allison menggambarkannya sebagai “aplikasi kamera yang dibuat oleh penggemar kamera untuk penggemar kamera.” Aplikasi ini menggunakan fitur fotografi komputasional untuk membantu fotografer mobile menangkap gambar berkualitas lebih baik yang menciptakan kembali tampilan foto SLR, serta menyediakan kontrol manual seperti fokus, kecepatan rana, ISO, dan white balance.

    Namun, pengenalan fitur pengeditan AI generatif mungkin telah direncanakan sejak awal. “Ini adalah awal dari sebuah perjalanan bagi Adobe — menuju pengalaman kamera dan pengeditan mobile terintegrasi yang memanfaatkan kemajuan terbaru dalam fotografi komputasional dan AI,” kata Levoy saat aplikasi Indigo pertama kali diluncurkan.

    Transparansi AI yang Belum Sepenuhnya Matang

    Perlu dicatat bahwa eksperimen ini belum memiliki tingkat pertimbangan yang sama terhadap transparansi AI yang biasanya diterapkan Adobe. Levoy mengatakan tim Indigo sedang berupaya menambahkan C2PA Content Credentials — standar metadata untuk mengidentifikasi konten AI yang sudah banyak digunakan oleh model Firefly Adobe — ke gambar yang dimanipulasi oleh alat AI generatif Indigo. Ia juga mencatat bahwa Nano Banana sudah menerapkan watermark SynthID tak terlihat milik Google.

    “Apakah suntingan yang Anda terapkan ‘adil’ atau ‘menyesatkan’ tergantung pada apa yang Anda lakukan, dengan siapa Anda membagikan gambar, dan bagaimana Anda menyajikannya,” kata Levoy. “Pada akhirnya, tidak ada yang dapat diterapkan yang mengurangi pentingnya berperilaku bertanggung jawab.”

    Pernyataan ini menempatkan tanggung jawab etika penggunaan AI pada pengguna individu, sebuah pendekatan yang mungkin akan menuai perdebatan di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang penyalahgunaan konten yang dihasilkan AI. Bagi pengguna yang ingin memahami lebih lanjut tentang ekosistem AI Adobe, artikel tentang Fitur Terbaru Firefly AI Studio dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif.

    Dengan pendekatan eksperimental ini, Adobe tampaknya ingin memastikan bahwa langkah mereka menuju AI generatif di ranah fotografi mobile didasarkan pada data dan preferensi pengguna yang nyata, bukan sekadar asumsi pasar. Keputusan untuk menggunakan model AI dari Google juga menunjukkan fleksibilitas Adobe dalam bermitra dengan pemain teknologi lain untuk menghadirkan inovasi terbaik. Bagi para profesional kreatif, langkah ini bisa menjadi indikasi bahwa AI Assistant untuk seluruh aplikasi Creative Cloud mungkin akan segera terintegrasi dengan kemampuan yang lebih canggih.

    Sementara itu, persaingan di pasar aplikasi editing mobile semakin ketat. Kehadiran pemain seperti VSCO dengan produk premiumnya menunjukkan bahwa segmen ini masih memiliki ruang untuk inovasi. Adobe, dengan pendekatan eksperimental dan bertahap ini, tampaknya ingin memastikan bahwa setiap langkah yang diambil adalah langkah yang tepat.

    Implikasi dari langkah ini bagi pengguna cukup jelas: dalam waktu dekat, aplikasi kamera di ponsel pintar tidak hanya akan menjadi alat untuk mengambil gambar, tetapi juga menjadi studio editing AI yang canggih. Pertanyaan besarnya adalah apakah pengguna akan bersedia membayar untuk fitur-fitur canggih ini, atau apakah model gratis dengan keterbatasan tertentu akan menjadi pilihan yang lebih berkelanjutan.

    Adobe sendiri belum memberikan timeline pasti kapan versi berbayar dari AI Playground akan diluncurkan. Yang jelas, eksperimen ini akan menjadi laboratorium berharga bagi Adobe untuk memahami perilaku dan preferensi pengguna dalam era fotografi yang didukung AI generatif.

  • LG Monitor Otomatis Install App dan Iklan McAfee di Windows 11

    LG Monitor Otomatis Install App dan Iklan McAfee di Windows 11

    JBNews.id — Windows 11 secara diam-diam menginstal aplikasi LG Monitor App Installer dan driver LG begitu pengguna menyambungkan monitor LG UltraGear untuk pertama kali, tanpa menampilkan pemberitahuan atau izin apa pun. Praktik ini terungkap dalam video terbaru dari Gamers Nexus yang menguji monitor LG, dan langsung memicu kekhawatiran di kalangan pengguna.

    Dalam pengujian yang dilakukan Gamers Nexus, aplikasi LG yang terinstal secara otomatis tersebut tidak menyertakan kontrol khusus. Sebaliknya, aplikasi ini hanya mengarahkan pengguna ke aplikasi LG lain serta McAfee antivirus. Fenomena ini bukanlah hal baru; laporan mengenai instalasi otomatis aplikasi LG sudah muncul sejak 2024, namun pengujian terbaru ini mengikuti keluhan pengguna di Reddit tentang iklan pop-up besar untuk McAfee dan aplikasi LG yang tiba-tiba muncul di sudut kanan bawah layar.

    Gamers Nexus melaporkan bahwa iklan pop-up tersebut muncul pada 31 dari 32 kali booting. Microsoft sendiri mengizinkan pengembang untuk memasangkan aplikasi pendukung perangkat keras (Hardware Support App) di Windows Store yang terinstal secara otomatis berdasarkan metadata perangkat. Namun, deskripsi fitur ini bahkan menyertakan peringatan: “Fitur instalasi otomatis tidak memberikan pemberitahuan kepada pengguna saat aplikasi diinstal. Beberapa pengguna mungkin menganggap pengalaman ini membingungkan dan membuat frustrasi, serta memberikan peringkat buruk pada aplikasi Anda.”

    Tom Warren dari The Verge sebelumnya telah menyoroti bahwa Dell juga melakukan hal serupa dengan menginstal aplikasi Alienware Command Center secara otomatis saat monitor Alienware terhubung. Namun, kasus LG memiliki “twist” tambahan berupa spam notifikasi iklan. Pengguna telah melaporkan beberapa cara untuk memblokir instalasi otomatis aplikasi LG, salah satunya dengan menerapkan pengaturan kebijakan grup (group policy) pada edisi Pro Windows. Sementara itu, pengguna edisi Home mungkin dapat mematikannya dengan memilih “Tidak” pada opsi untuk mengunduh aplikasi dan ikon khusus dari produsen secara otomatis yang terdapat di bagian Advanced system settings.

    Menurut halaman Windows Store, LG Monitor App Installer memerlukan izin untuk “menggunakan semua sumber daya sistem” dan “mengakses koneksi internet Anda”. Kebijakan privasi LG yang tertaut juga menyebutkan pengumpulan data perangkat, aktivitas internet, dan informasi geolokasi secara otomatis. Semua ini terjadi tanpa izin eksplisit atau persetujuan dari pengguna.

    Dampak pada Privasi dan Pengalaman Pengguna

    Praktik instalasi otomatis ini menimbulkan pertanyaan serius tentang kontrol pengguna terhadap sistem operasi mereka. Iklan yang muncul secara konsisten pada setiap booting, seperti yang dilaporkan Gamers Nexus, jelas mengganggu pengalaman komputasi. Lebih dari itu, izin yang diminta aplikasi untuk mengakses semua sumber daya sistem dan data pribadi menimbulkan kekhawatiran privasi yang valid.

    Fenomena ini menunjukkan celah dalam ekosistem Windows 11 di mana aplikasi pihak ketiga dapat menginstal diri mereka sendiri tanpa persetujuan eksplisit. Meskipun Microsoft menyediakan fitur ini untuk kemudahan pengguna, pelaksanaannya yang tanpa notifikasi jelas bertentangan dengan prinsip transparansi dan kontrol pengguna.

    Kasus LG ini bukanlah satu-satunya contoh masalah keamanan dan privasi di era digital. Untuk memahami lebih dalam tentang risiko keamanan siber, Anda dapat membaca tentang bagaimana Hacker Hypnotize AI melalui teknik peretasan yang canggih. Selain itu, platform seperti FLARE-AI untuk Lapor Bahaya hadir sebagai solusi crowdsourced untuk melaporkan potensi bahaya dari teknologi AI.

    Cara Mengatasi Instalasi Otomatis Aplikasi LG

    Bagi pengguna yang terganggu dengan praktik ini, terdapat beberapa langkah yang dapat diambil. Pengguna Windows 11 Pro dapat menerapkan group policy untuk memblokir instalasi otomatis aplikasi dari produsen perangkat keras. Sementara itu, pengguna edisi Home dapat mengakses Advanced system settings dan menonaktifkan opsi untuk mengunduh aplikasi serta ikon produsen secara otomatis.

    Langkah-langkah ini memberikan sedikit kendali kembali kepada pengguna, meskipun prosesnya tidak intuitif dan membutuhkan pengetahuan teknis tertentu. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada solusi, pendekatan Microsoft dan LG masih jauh dari ideal dalam hal pengalaman pengguna dan privasi.

    Implikasi dari praktik ini jelas: pengguna harus lebih waspada terhadap apa yang diinstal secara otomatis oleh sistem operasi mereka. Untuk pengguna biasa, ini berarti potensi gangguan iklan dan risiko privasi. Dari sisi bisnis, praktik ini dapat merusak kepercayaan konsumen terhadap merek LG dan Microsoft. Bagi penggemar industri, ini adalah contoh nyata bagaimana keseimbangan antara kemudahan pengguna dan kontrol pengguna terus menjadi perdebatan di ekosistem teknologi modern.

  • Pria 21 Tahun Curi Kripto Ratusan Ribu Dolar via Malware Game

    Pria 21 Tahun Curi Kripto Ratusan Ribu Dolar via Malware Game

    JBNews.id — Seorang pria berusia 21 tahun asal Florida, Amerika Serikat, ditangkap pekan lalu karena diduga mencuri lebih dari USD 220 ribu dalam bentuk mata uang kripto. Pencurian ini dilakukan melalui malware yang disembunyikan di dalam video game yang beredar di platform Steam.

    FBI mengidentifikasi tersangka sebagai Zyaire Dontaevious Zamarion Wilkins. Ia dituduh menjalankan operasi kejahatan siber bersama sejumlah rekan konspirator yang tidak disebutkan namanya selama hampir dua tahun. Kelompok ini diduga menginfeksi sekitar 8.000 PC dengan menyisipkan malware ke dalam setidaknya delapan judul video game.

    Penyelidik meyakini mereka telah mencuri setidaknya USD 220 ribu dari sekitar 80 dompet kripto antara Mei 2024 hingga Februari 2026. Angka ini setara dengan lebih dari Rp 3,5 miliar jika menggunakan kurs saat ini. Kasus ini menjadi sorotan karena modus operandinya yang memanfaatkan platform game populer.

    Menurut laporan pengaduan FBI, para tersangka mempromosikan game yang terinfeksi tersebut secara luas. Mereka memanfaatkan platform media sosial dan perpesanan populer seperti Discord, Telegram, X, dan LinkedIn untuk menyebarkan game berbahaya itu. Target utama mereka adalah pengguna yang memiliki aset kripto dalam jumlah besar.

    Para pelaku melacak korban menggunakan bot, lalu menghubungi secara langsung. Malware yang dirancang mampu mengekstrak kata sandi dan data sensitif lainnya dari komputer korban secara diam-diam. Informasi yang dicuri kemudian digunakan untuk menguras aset kripto dari dompet daring milik korban.

    FBI pada akhirnya berhasil melacak para tersangka dengan menghubungkan bitcoin yang dicuri ke lebih dari 150 kartu hadiah Bitrefill. Kartu hadiah tersebut dilaporkan digunakan terutama untuk membayar pesanan makanan melalui layanan Uber Eats. Metode pelacakan ini menjadi kunci pengungkapan kasus.

    Daftar Game yang Terinfeksi

    Menurut dokumen pengaduan FBI, daftar game yang disisipi malware mencakup judul BlockBlasters, Dashverse, Lunara, dan PirateFi. Semua game tersebut terpantau tetap tersedia di Steam hingga awal tahun ini, ketika FBI mengumumkan bahwa mereka sedang menyelidiki keberadaan malware di platform tersebut.

    Peneliti kripto forensik ZachXBT dan repositori malware daring vx-underground mengungkapkan bahwa game BlockBlasters saja telah menyumbang sekitar USD 150 ribu dari total kripto yang dicuri. Angka ini berasal dari 261 hingga 478 korban, demikian dikutip dari laporan resmi.

    Salah satu korban yang menonjol adalah penyiar konten di Twitch bernama RastalandTV. Ia kehilangan USD 32 ribu pada September 2025. Uang tersebut merupakan hasil donasi dari para penonton untuk membantu menutupi biaya pengobatan kanker yang sedang dijalaninya. Kasus ini menunjukkan dampak serius dari kejahatan siber terhadap individu.

    Operasi dan Pelacakan FBI

    FBI mendakwa Wilkins dan rekan-rekannya dengan berbagai pelanggaran kejahatan siber, termasuk konspirasi mendistribusikan malware. Menurut tim penyelidik, para tersangka mempromosikan game yang terinfeksi tersebut secara luas untuk menjaring korban sebanyak mungkin.

    FBI meyakini Wilkins membiayai seluruh operasi ini dan memasarkan malware tersebut kepada penjahat siber di pasar gelap. Penyelidik juga telah mengidentifikasi pengembang yang dicurigai merancang kode malware tersebut dan telah menggeledah propertinya untuk mencari bukti tambahan.

    Pesan dari aplikasi Signal yang dipulihkan dari perangkat pengembang mengaitkan Wilkins dengan operasi tersebut. Pesan itu mengungkapkan bahwa Wilkins, yang beroperasi di web gelap dengan nama samaran Sibel.eth, membeli trojan akses jarak jauh seharga USD 10 ribu. Ia juga berdiskusi tentang cara terbaik untuk mengelabui korban agar menyetujui transaksi kripto palsu.

    Namun, pengembang malware yang dicurigai itu belum diidentifikasi secara resmi dalam laporan dan belum didakwa. Kasus ini masih dalam pengembangan lebih lanjut oleh pihak berwenang.

    Meskipun dokumen dakwaan tidak menyebutkan nama toko digital yang memuat game yang terinfeksi tersebut, ada beberapa judul game yang sempat beredar di platform Steam hingga belum lama ini. Hal ini menunjukkan bahwa platform game digital juga menjadi sasaran empuk bagi pelaku kejahatan siber.

    Kasus ini menjadi pengingat bagi para pengguna platform game untuk lebih waspada terhadap ancaman malware yang menyamar sebagai game populer. Pengguna disarankan untuk selalu memverifikasi keaslian game yang diunduh dan menghindari tautan mencurigakan yang beredar di media sosial.

    Untuk informasi lebih lanjut tentang modus kejahatan siber serupa, Anda dapat membaca Kisah Pria Dihantui Stalker yang menggunakan AI untuk menciptakan ancaman digital. Kasus ini menunjukkan betapa canggihnya metode yang digunakan para pelaku kejahatan siber saat ini.

    Implikasi dari kasus ini jelas: keamanan siber bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi setiap pengguna internet. Dengan semakin canggihnya metode pencurian, pengguna harus lebih proaktif dalam melindungi aset digital mereka.

    Bagi para pengguna kripto, kasus ini menjadi peringatan keras untuk tidak menyimpan aset dalam jumlah besar di dompet daring yang terhubung dengan perangkat sehari-hari. Penggunaan dompet dingin (cold wallet) dan autentikasi multi-faktor menjadi langkah minimal yang harus diterapkan.

    FBI terus mengembangkan penyelidikan kasus ini dan mendesak siapa saja yang telah mengunduh game terkait untuk segera melapor. Langkah ini diharapkan dapat membantu mengungkap jaringan kejahatan siber yang lebih luas dan mencegah korban baru berjatuhan.

  • Biaya AI Membengkak, Industri Terancam Krisis Efisiensi

    Biaya AI Membengkak, Industri Terancam Krisis Efisiensi

    JBNews.id — Industri kecerdasan buatan (AI) global menghadapi paradoks serius: biaya operasional model bahasa besar (LLM) melonjak secara eksponensial, sementara nilai ekonominya justru menyusut. Fenomena diminishing returns ini mengancam keberlanjutan investasi miliaran dolar yang telah digelontorkan ke pusat data di seluruh dunia.

    Menurut laporan The Atlantic yang dikutip dalam analisis terbaru, biaya inferensi — proses penggunaan model AI terlatih untuk memproses data baru — meningkat drastis. Kondisi ini menjadi kebalikan dari ekspektasi investor yang menginginkan penurunan biaya per pengguna seiring skala operasi yang membesar.

    “Ini efektif merupakan kebalikan dari apa yang secara konvensional ingin dilihat investor,” tulis The Atlantic. Dalam pasar normal, biaya per unit seharusnya turun seiring produksi massal. Namun pada LLM, aturan itu justru terbalik.

    Fenomena ini menjadi pukulan telak bagi perusahaan AI yang telah menghabiskan puluhan miliar dolar untuk membangun infrastruktur komputasi raksasa. Tanpa jalur profitabilitas yang jelas dalam waktu dekat, risiko gelembung AI semakin nyata.

    Investasi Raksasa Tanpa Kepastian Profit

    Perusahaan-perusahaan AI terus membangun pusat data raksasa di berbagai lokasi di Amerika Serikat. Biaya pembangunannya mencapai miliaran dolar per fasilitas, dengan konsumsi listrik setara kota kecil.

    Analis memperingatkan bahwa kekhawatiran akan gelembung AI bukan lagi soal kapan akan pecah, melainkan sudah menjadi keniscayaan. Dampaknya bisa sangat merusak jika industri runtuh, mengingat banyak ekonomi global telah terlalu bergantung pada teknologi AI.

    Meski demikian, perusahaan AI tetap teguh pada keyakinan bahwa chatbot seperti ChatGPT dari OpenAI dan Claude dari Anthropic adalah masa depan. Teknologi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, mulai dari integrasi sistem operasi hingga menggantikan manusia dalam layanan pelanggan.

    Namun, keyakinan ini berhadapan dengan kenyataan pahit: semakin besar model AI, semakin mahal biaya operasionalnya. Pola ini bertolak belakang dengan hukum Moore yang selama puluhan tahun menjadi pegangan industri semikonduktor, di mana transistor yang lebih kecil dan lebih banyak justru meningkatkan efisiensi.

    Ancaman Akhir Hukum Moore

    Para ahli memperingatkan bahwa hukum Moore — prinsip bahwa jumlah transistor dalam chip akan berlipat ganda setiap dua tahun — mendekati batas fisiknya. Revolusi perangkat keras yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan AI yang terus meningkat menjadi semakin sulit dicapai.

    Ini berarti, di saat model AI raksasa menjadi semakin tidak terjangkau bagi mereka yang telah bergantung padanya, efisiensi justru menurun. Trajektori yang mengkhawatirkan ini bisa mendorong seluruh ekonomi semakin dekat ke jurang kehancuran.

    Yann LeCun, salah satu tokoh yang dijuluki “godfathers of AI”, telah lama memperingatkan bahwa LLM adalah “jalan buntu”. Menurut LeCun, pendekatan ini tidak akan membawa pada titik di mana kecerdasan AI menyamai atau melampaui kecerdasan manusia.

    Peringatan LeCun telah disampaikan berulang kali, namun kecil kemungkinan para pemimpin teknologi yang telah berinvestasi besar-besaran dalam model AI saat ini akan mengindahkannya. Mereka terjebak dalam investasi yang sudah dikeluarkan (sunk cost) dan terus melanjutkan proyek yang mungkin tidak akan pernah menghasilkan keuntungan.

    Dampak Ekonomi yang Meluas

    Jika gelembung AI benar-benar pecah, dampaknya tidak akan terbatas pada perusahaan teknologi. Banyak sektor ekonomi yang telah mengintegrasikan AI dalam operasi mereka akan terkena imbasnya.

    Perusahaan layanan pelanggan yang telah mengganti tenaga manusia dengan chatbot mungkin harus mencari solusi alternatif. Sistem operasi yang mengandalkan AI untuk fitur-fitur canggihnya mungkin perlu dievaluasi ulang. Investor institusional yang menanamkan modal besar di saham-saham AI akan menghadapi kerugian signifikan.

    Data menunjukkan bahwa biaya inferensi untuk LLM skala besar telah meningkat secara eksponensial dalam enam bulan terakhir. Ini berarti, setiap kali pengguna mengajukan pertanyaan atau meminta chatbot menghasilkan teks, biaya yang dikeluarkan perusahaan AI jauh lebih besar dibandingkan enam bulan lalu.

    Dalam model bisnis tradisional, semakin banyak pengguna, semakin murah biaya per pengguna. Namun dalam kasus AI, semakin banyak pengguna, semakin besar beban komputasi yang harus ditanggung, dan biaya per pengguna justru meningkat.

    Ketidakseimbangan ini menjadi ancaman serius bagi model bisnis perusahaan AI yang mengandalkan langganan pengguna. Jika biaya operasional terus naik sementara pendapatan tidak mampu mengimbangi, keuntungan akan semakin sulit dicapai.

    Reaksi Pasar dan Spekulasi

    Kekhawatiran akan gelembung AI mulai terlihat di pasar modal. Beberapa saham perusahaan AI dan penyedia infrastruktur komputasi mengalami volatilitas tinggi dalam beberapa bulan terakhir.

    Analis keuangan memperingatkan bahwa valuasi perusahaan AI saat ini tidak sebanding dengan fundamental bisnisnya. Banyak perusahaan AI masih merugi dan mengandalkan suntikan dana dari investor ventura untuk bertahan.

    Jika kepercayaan investor mulai goyah, pendanaan bisa mengering, dan perusahaan-perusahaan AI yang belum mencapai profitabilitas akan kesulitan bertahan. Efek domino bisa meluas ke industri terkait seperti penyedia chip, pusat data, dan konsultan AI.

    Meskipun demikian, beberapa pihak masih optimis bahwa inovasi teknologi akan mampu mengatasi masalah efisiensi ini. Mereka berargumen bahwa AI adalah teknologi disruptif yang membutuhkan waktu untuk mencapai kematangan bisnis.

    Namun, data empiris menunjukkan bahwa tren saat ini tidak mendukung optimisme tersebut. Biaya yang terus naik tanpa diimbangi efisiensi adalah tanda bahaya yang tidak bisa diabaikan.

    Masa Depan AI di Persimpangan Jalan

    Industri AI saat ini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ada tekanan untuk terus meningkatkan skala model agar lebih canggih. Di sisi lain, biaya yang membengkak membuat model bisnis tidak berkelanjutan.

    Peringatan dari tokoh seperti Yann LeCun menunjukkan bahwa mungkin sudah waktunya untuk mencari pendekatan alternatif. Namun, perubahan arah tidak akan mudah mengingat besarnya investasi yang sudah ditanamkan pada model LLM saat ini.

    Para pemimpin perusahaan AI harus mengambil keputusan sulit: terus melanjutkan investasi pada model yang mungkin tidak akan pernah menguntungkan, atau mengakui kegagalan dan beralih ke pendekatan baru.

    Keputusan ini tidak hanya akan menentukan nasib perusahaan mereka, tetapi juga berdampak pada ekonomi global yang telah terlalu bergantung pada teknologi AI.

    Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pelajaran berharga. Ketergantungan pada teknologi asing yang model bisnisnya belum terbukti berkelanjutan bisa menjadi risiko strategis. Pemerintah dan pelaku bisnis perlu mempertimbangkan diversifikasi teknologi dan pengembangan solusi AI yang lebih efisien dan sesuai dengan kebutuhan lokal.

    Dalam jangka pendek, pengguna AI di Indonesia mungkin belum merasakan dampak langsung. Namun, jika tren ini berlanjut, biaya langganan layanan AI bisa meningkat, atau kualitas layanan bisa menurun karena perusahaan AI berusaha menekan biaya operasional.

    Data dari laporan The Atlantic menunjukkan bahwa biaya inferensi untuk LLM telah meningkat secara eksponensial dalam enam bulan terakhir. Ini berarti, setiap kali pengguna mengajukan pertanyaan atau meminta chatbot menghasilkan teks, biaya yang dikeluarkan perusahaan AI jauh lebih besar dibandingkan enam bulan lalu.

    Dalam model bisnis tradisional, semakin banyak pengguna, semakin murah biaya per pengguna. Namun dalam kasus AI, semakin banyak pengguna, semakin besar beban komputasi yang harus ditanggung, dan biaya per pengguna justru meningkat.

    Ketidakseimbangan ini menjadi ancaman serius bagi model bisnis perusahaan AI yang mengandalkan langganan pengguna. Jika biaya operasional terus naik sementara pendapatan tidak mampu mengimbangi, keuntungan akan semakin sulit dicapai.

    Kesimpulan: Tanda Bahaya yang Tak Bisa Diabaikan

    Industri AI menghadapi krisis efisiensi yang serius. Biaya operasional yang membengkak, diminishing returns pada model LLM, dan ancaman akhir hukum Moore menciptakan badai sempurna yang bisa mengguncang fondasi ekonomi global.

    Analis memperingatkan bahwa gelembung AI akan pecah. Pertanyaannya bukan lagi “apakah”, melainkan “kapan”. Dan ketika itu terjadi, dampaknya akan terasa di seluruh sektor ekonomi yang telah terlalu bergantung pada teknologi ini.

    Bagi investor dan pelaku bisnis, ini saatnya untuk mengevaluasi kembali eksposur terhadap sektor AI. Diversifikasi dan kewaspadaan menjadi kunci dalam menghadapi ketidakpastian yang membayangi industri ini.

    Seperti yang diperingatkan oleh para ahli, jalan menuju kecerdasan buatan umum (AGI) mungkin tidak melalui LLM. Dan semakin lama industri ini bertahan pada pendekatan yang salah, semakin besar risiko yang harus ditanggung.

    Ilustrasi foto bergaya rumah kartu yang menggambarkan kerapuhan industri AI

    Ilustrasi di atas menggambarkan betapa rapuhnya fondasi industri AI saat ini. Seperti rumah kartu, investasi miliaran dolar bisa runtuh dalam sekejap jika satu elemen kunci goyah.

  • Telkom University dan Kaspersky Gelar Hackathon Siber HackNusa

    Telkom University dan Kaspersky Gelar Hackathon Siber HackNusa

    JBNews.id — Telkom University dan Kaspersky membuka pendaftaran HackNusa – From Ideas to Impact, sebuah hackathon keamanan siber tingkat nasional yang bertujuan menginspirasi inovator muda Indonesia untuk mengembangkan solusi praktis dalam menghadapi tantangan keamanan digital.

    Pendaftaran kompetisi ini telah dibuka dan akan berlangsung hingga 21 Agustus 2026. Puncak acara berupa hackathon tatap muka akan diselenggarakan pada 3 Oktober 2026 di kampus Telkom University, Bandung. Acara ini mempertemukan mahasiswa, pengembang, penggemar keamanan siber, dan calon profesional teknologi dari seluruh Indonesia.

    Kepala Kaspersky Academy, Evgeniya Russkikh, menjelaskan bahwa seiring dengan peningkatan adopsi digital dan investasi besar-besaran pada infrastruktur digital di Indonesia, lanskap keamanan siber menjadi semakin kompleks dengan ancaman yang terus meningkat. Permintaan akan tenaga profesional di bidang ini pun turut melonjak.

    “Kami berharap hackathon ini akan menjadi platform bagi para pemikir teknologi brilian untuk menguji keterampilan dan pengetahuan mereka, serta memecahkan tantangan dunia nyata di bidang keamanan siber dan kepercayaan digital,” ujar Evgeniya dalam keterangan yang diterima, Senin (20/7/2026).

    Dekan Fakultas Informatika Telkom University, Kemas Muslim Lhaksamana, menambahkan bahwa memajukan keamanan siber bersamaan dengan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi mutakhir lainnya merupakan prioritas utama di seluruh inisiatif pendidikan dan penelitian kampusnya. Kolaborasi dengan pemimpin industri global seperti Kaspersky sangat penting untuk memberdayakan generasi inovator Indonesia.

    Tiga Jalur Kompetisi HackNusa

    HackNusa menantang peserta untuk mengubah ide inovatif menjadi solusi yang berdampak melalui tiga jalur kompetisi utama:

    • Pembayaran digital aman dan fintech — fokus pada perancangan cara lebih aman serta cerdas dalam mengelola transaksi di ekonomi digital.
    • AI melawan AI sebagai pertahanan siber — merancang sistem cerdas yang mampu mendeteksi, mencegah, dan menanggapi ancaman yang semakin canggih.
    • Keamanan yang berpusat pada manusia — menciptakan solusi keamanan siber yang intuitif, mudah diakses, serta mudah dipahami oleh pengguna awam.

    Tim yang berhasil keluar sebagai juara akan membawa pulang hadiah utama sebesar Rp 13 juta. Selain itu, pemenang juga berhak mendapatkan akses kursus pelatihan dari Kaspersky senilai hingga USD 2.500 untuk membantu mengembangkan keahlian mereka lebih jauh ke level profesional.

    Dari seluruh peserta, sebanyak 30 tim yang lolos seleksi akan diundang ke acara tatap muka, di mana 10 tim terbaik akan mempresentasikan proyek akhir mereka di hadapan dewan juri.

    Kompetisi Simulasi Perlindungan Interaktif

    Bersamaan dengan acara final pada 3 Oktober mendatang, penyelenggara juga akan menggelar Kompetisi Simulasi Perlindungan Interaktif Kaspersky (KIPS). Acara ini merupakan simulasi yang mengajak peserta menghadapi skenario insiden siber dunia nyata untuk memperkuat kerja sama tim dan pengambilan keputusan.

    Bagi yang tertarik menguji kemampuannya, pendaftaran dapat dilakukan melalui situs resmi hackathon Telkom University.

    Inisiatif ini sejalan dengan upaya Telkomsat Jajaki dalam memperkuat infrastruktur digital nasional. Kolaborasi antara dunia akademik dan industri seperti ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara kebutuhan industri dan kesiapan lulusan di bidang keamanan siber.

    Dengan semakin kompleksnya ancaman digital, kehadiran talenta muda yang terampil dalam keamanan siber menjadi kebutuhan mendesak. HackNusa menjadi salah satu wadah strategis untuk menjaring dan mengembangkan bakat-bakat tersebut.

  • Pria 21 Tahun Curi Kripto Ratusan Ribu Dolar Lewat Malware Game

    Pria 21 Tahun Curi Kripto Ratusan Ribu Dolar Lewat Malware Game

    JBNews.id — Seorang pria berusia 21 tahun asal Florida, Amerika Serikat, ditangkap pekan lalu karena diduga mencuri lebih dari USD 220 ribu dalam bentuk mata uang kripto. Pencurian ini dilakukan melalui perangkat lunak berbahaya atau malware yang disembunyikan di dalam game. Tersangka yang diidentifikasi oleh FBI sebagai Zyaire Dontaevious Zamarion Wilkins dituduh menjalankan operasi kejahatan dunia maya yang canggih bersama sejumlah rekan konspirator selama hampir dua tahun.

    Kelompok ini diduga menginfeksi sekitar 8.000 PC dengan menyisipkan malware ke dalam setidaknya delapan judul video game. Penyelidik meyakini mereka telah mencuri setidaknya USD 220 ribu dari sekitar 80 dompet kripto antara Mei 2024 hingga Februari 2026. Meskipun dokumen dakwaan tidak menyebutkan nama toko digital yang memuat game terinfeksi tersebut, beberapa judul game sempat beredar di platform Steam hingga belum lama ini.

    FBI mendakwa Wilkins dan rekan-rekannya dengan berbagai pelanggaran kejahatan siber, termasuk konspirasi mendistribusikan malware. Menurut tim penyelidik, para tersangka mempromosikan game yang terinfeksi tersebut secara luas melalui platform media sosial dan perpesanan populer seperti Discord, Telegram, X, dan LinkedIn. Mereka menargetkan pengguna yang memiliki aset kripto dalam jumlah besar dengan melacak mereka menggunakan bot, lalu menghubungi secara langsung.

    Malware yang dirancang mampu mengekstrak kata sandi dan data sensitif lainnya dari komputer korban secara diam-diam. Informasi yang dicuri kemudian digunakan untuk menguras aset kripto dari dompet daring milik korban. FBI pada akhirnya berhasil melacak para tersangka dengan menghubungkan bitcoin yang dicuri ke lebih dari 150 kartu hadiah Bitrefill. Kartu hadiah tersebut dilaporkan digunakan terutama untuk membayar pesanan makanan melalui layanan Uber Eats.

    Daftar Game yang Terinfeksi

    Menurut laporan pengaduan FBI, daftar game yang disisipi malware tersebut mencakup judul BlockBlasters, Dashverse, Lunara, dan PirateFi. Semua game tersebut terpantau tetap tersedia di Steam hingga awal tahun ini, ketika FBI mengumumkan bahwa mereka sedang menyelidiki keberadaan malware di platform tersebut dan mendesak siapa saja yang telah mengunduh game terkait untuk segera melapor.

    Peneliti kripto forensik ZachXBT dan repositori malware daring vx-underground mengungkapkan bahwa game BlockBlasters saja telah menyumbang sekitar USD 150 ribu dari total kripto yang dicuri. Angka tersebut berasal dari 261 hingga 478 korban. Salah satu yang menjadi korban adalah penyiar konten di Twitch bernama RastalandTV yang kehilangan USD 32 ribu pada September 2025. Uang tersebut merupakan hasil donasi dari para penonton untuk membantu menutupi biaya pengobatan kanker yang sedang dijalaninya.

    FBI meyakini Wilkins membiayai seluruh operasi ini dan memasarkan malware tersebut kepada penjahat siber di pasar gelap. Penyelidik juga telah mengidentifikasi pengembang yang dicurigai merancang kode malware tersebut dan telah menggeledah propertinya untuk mencari bukti tambahan. Pesan dari aplikasi Signal yang dipulihkan dari perangkat pengembang mengaitkan Wilkins dengan operasi tersebut.

    Pesan itu mengungkapkan bahwa Wilkins, yang beroperasi di web gelap dengan nama samaran Sibel.eth, membeli trojan akses jarak jauh seharga USD 10 ribu dan berdiskusi tentang cara terbaik untuk mengelabui korban agar menyetujui transaksi kripto palsu. Namun, pengembang malware yang dicurigai itu belum diidentifikasi secara resmi dalam laporan dan belum didakwa.

    Kasus ini menjadi pengingat penting bagi para pengguna game dan pemilik aset kripto untuk selalu waspada terhadap ancaman keamanan siber yang mengintai. Modus operandi yang canggih dan terorganisir menunjukkan bahwa penjahat siber terus berinovasi dalam menjalankan aksinya. Pengguna disarankan untuk hanya mengunduh game dari sumber resmi dan tidak mudah tergiur dengan promosi game yang mencurigakan di media sosial.

    Implikasinya bagi para pemilik dompet kripto, keamanan perangkat menjadi faktor krusial yang tidak bisa diabaikan. Dengan teknik social engineering dan malware yang semakin canggih, satu langkah ceroboh seperti mengunduh game tidak dikenal bisa berakibat fatal pada aset digital yang dimiliki. Kasus RastalandTV yang kehilangan dana donasi pengobatan kanker menjadi contoh tragis bagaimana kejahatan dunia maya bisa berdampak langsung pada kehidupan nyata korban.

  • Sertifikasi Palsu Ebike China Beredar di Amazon dan Facebook

    Sertifikasi Palsu Ebike China Beredar di Amazon dan Facebook

    JBNews.id — Sejumlah perusahaan asal China dilarang menggunakan sertifikasi keselamatan palsu dari UL pada produk sepeda listrik (ebike) mereka setelah gugatan hukum dari Amazon dan UL Solutions. Larangan ini disahkan oleh hakim federal pada 15 Juli 2025, menyusul tudingan bahwa perusahaan tersebut memalsukan logo UL di daftar produk Amazon dan situs web Aipas.

    Dalam putusan pengadilan, perusahaan-perusahaan yang terlibat setuju untuk tidak lagi menggunakan merek dagang UL. Mereka juga dilarang “membantu, mendukung, atau bekerja sama dengan pihak lain” dalam melakukan pelanggaran serupa. Meskipun demikian, dokumen pengadilan mencatat bahwa perusahaan China tersebut tidak mengakui kesalahan atau tanggung jawab atas tuduhan yang diajukan oleh Amazon dan UL.

    Perusahaan yang dimaksud meliputi Jiangmen Meijiasheng Bicycle, Hong Kong Manchester International Trading, Shenzhen Aibosi Sport Technology, Guangzhou Aierfeile Sport Technology, dan individu bernama Tang Shuhui yang disebut terlibat dalam akun penjualan Amazon. Namun, temuan WIRED menunjukkan bahwa akun Facebook yang terkait dengan Aipas Ebike masih menayangkan iklan yang menampilkan logo merah UL, bahkan setelah perusahaan setuju dengan putusan pengadilan.

    Iklan Palsu Masih Berjalan

    Seorang reporter WIRED menerima salah satu iklan tersebut pada pertengahan Juli, setelah putusan pengadilan dikeluarkan. Setidaknya satu iklan lain yang menggunakan logo UL telah aktif berjalan di Facebook sejak April 2025, berbulan-bulan setelah gugatan diajukan, menurut data dari Meta Ad Library. Iklan lain yang pertama kali diposting pada Mei kemudian menghilang dari Ad Library setelah WIRED menghubungi Aipas dan UL untuk dimintai komentar.

    Selain itu, WIRED menemukan bahwa beberapa ebike dan baterai Aipas akhirnya mendapatkan sertifikasi keselamatan dari organisasi yang diakui secara nasional, tetapi tampaknya berbulan-bulan setelah perusahaan mulai mengiklankan sertifikasi UL. Beberapa sertifikat tersebut kini tidak aktif lagi.

    Juru bicara Amazon menolak berkomentar mengenai gugatan ini. Bradley Carlson, juru bicara UL, juga menolak berkomentar, tetapi mengatakan tim UL “mengetahui dan sedang berupaya menyelesaikan” masalah terkait iklan Facebook. Baik Aipas Ebike maupun pengacara yang mewakili perusahaan China di pengadilan tidak menanggapi permintaan komentar.

    Donald Mays, pakar keselamatan produk yang kini menjalankan perusahaan konsultannya sendiri, mengatakan bahwa meskipun perselisihan soal sertifikasi produk palsu tidak selalu muncul ke publik, “ini adalah masalah umum dan sudah berlangsung cukup lama.” Tren ini memiliki implikasi serius, terutama untuk perangkat mobilitas listrik seperti ebike.

    Dampak Fatal Kebakaran Baterai

    Laporan yang diterbitkan pemerintah AS pada April 2025 menemukan bahwa 45 kematian antara tahun 2017 dan 2024 terkait dengan kebakaran akibat baterai lithium-ion pada perangkat mobilitas. Sebanyak 19 di antaranya terkait dengan ebike. Dinas Pemadam Kebakaran New York City mencatat 277 kebakaran terkait teknologi tersebut pada 2024, naik dari 268 pada 2023, dan semuanya terkait dengan ebike.

    Banyak kebakaran ebike di AS terkait dengan baterai pengganti, seperti yang dicatat oleh Consumer Product Safety Commission (CPSC), badan federal independen. CPSC mendesak konsumen untuk hanya menggunakan perangkat mikromobilitas yang “dirancang, diproduksi, dan tersertifikasi oleh laboratorium terakreditasi dengan standar keselamatan yang berlaku.”

    Gabe Knight, analis kebijakan senior di Consumer Reports, mengatakan bahwa sertifikasi palsu lebih marak di pasar online seperti Amazon. “Sama seperti konsumen lebih berisiko membeli produk palsu dari penjual pihak ketiga, mereka juga lebih berisiko membeli produk dengan tanda sertifikasi palsu,” katanya.

    Secara umum, pengecer yang menjual produk langsung ke konsumen, bukan sekadar menjadi tuan rumah penjualan, melakukan pekerjaan lebih baik dalam menjamin klaim keselamatan produk mereka. Pengecer ini biasanya memiliki program kepatuhan internal untuk memverifikasi klaim keselamatan dasar dari produsen. “Ini benar-benar mencemari pasar ketika konsumen tidak bisa mempercayai informasi yang mereka lihat secara online,” kata Knight.

    Respons Pemerintah AS

    Pemerintah AS tampaknya mulai serius memberantas sertifikasi keselamatan palsu. Pada Mei 2025, CPSC mengumumkan bahwa mereka “mengetahui adanya penyalahgunaan tanda sertifikasi yang tampaknya menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk menghindari persyaratan keselamatan AS.” Mereka meminta masukan publik untuk lebih memahami prevalensi tanda palsu ini.

    Secara terpisah, pada Juni 2025, CPSC mengusulkan aturan untuk menetapkan standar keselamatan federal yang wajib bagi baterai lithium-ion yang digunakan dalam produk mikromobilitas, termasuk ebike. Beberapa negara bagian dan pemerintah daerah memang mewajibkan baterai lithium-ion yang dijual di wilayah mereka memenuhi standar keselamatan, meskipun ada standar federal untuk pengiriman baterai. Badan tersebut akan menerima komentar publik hingga Agustus 2025. Juru bicara CPSC tidak menanggapi pertanyaan WIRED.

    Scott Hardesty, pengulas ebike YouTube yang memposting video kritis terhadap Aipas pada musim gugur lalu, mengatakan bahwa interaksinya dengan perusahaan itu mendorongnya untuk membuat prosedur peninjauan baru. “Setelah berurusan dengan mereka, saya mulai meminta perusahaan mengirimkan sertifikat UL mereka,” katanya kepada WIRED. “Saya perlu mereka mengirimkannya melalui email.” Hardesty mengaku menerima komisi dari perusahaan untuk penjualan ebike melalui saluran YouTube-nya.

    Dalam gugatan Aipas, pengacara UL dan Amazon mengatakan bahwa perusahaan mereka sedang menindak tegas pemalsuan dan klaim penipuan. Mereka menunjuk pada tujuh tindakan hukum lain baru-baru ini terhadap perusahaan yang menggunakan tanda sertifikasi keselamatan palsu, termasuk satu kasus tahun 2023 di mana Amazon dan UL menggugat beberapa perusahaan China karena menggunakan tanda UL secara ilegal pada detektor asap tanpa pengujian keselamatan yang diperlukan.

    Tahun lalu, New York City membatalkan rencana untuk menggunakan ebike Fly dalam program pertukaran sepeda pekerja pengiriman setelah perusahaan dan UL menyetujui penyelesaian senilai $1 juta. Dalam penyelesaian itu, Fly mengakui telah menggunakan tanda UL palsu. Streetsblog melaporkan delapan gugatan yang mengklaim perusahaan itu terkait dengan cedera dan kematian akibat kebakaran.

    Gugatan Aipas menyebutkan bahwa Amazon menginvestasikan lebih dari satu miliar dolar dan mempekerjakan ribuan orang pada 2024 untuk melindungi pelanggan dan merek dari barang palsu dan penipuan. Sistem Amazon disebut “secara otomatis dan terus-menerus memindai ribuan titik data untuk mencegah, mendeteksi, dan menghapus barang palsu dari tokonya serta menghentikan akun penjual pelaku kejahatan sebelum mereka dapat menawarkan produk palsu.”

    Standar Keselamatan yang Rumit

    Standar keselamatan dan cara kerja badan yang mensertifikasi produk seringkali membingungkan dan sulit dipahami. UL adalah salah satu organisasi penulis standar paling terkemuka di dunia, meskipun ada juga CSA Group dan IEC. Namun, untuk biaya tertentu, UL juga menguji produk untuk menjamin bahwa produk tersebut memenuhi standarnya. Hanya perusahaan yang menguji produk melalui UL yang diizinkan menggunakan logo UL dalam iklan.

    Organisasi lain, yang disebut Nationally Recognized Testing Laboratories, telah diotorisasi oleh pemerintah AS untuk menguji produk sesuai dengan standar UL dan standar keselamatan lainnya. Perusahaan memilih satu laboratorium dibandingkan yang lain terutama karena harga, kata Mays.

    Dokumen yang diposting di situs web Aipas menunjukkan bahwa beberapa ebike dan baterainya akhirnya mendapatkan sertifikasi keselamatan dari salah satu perusahaan yang berwenang, dalam hal ini SGS. Namun, pengamatan lebih dekat terhadap dokumen tersebut mengungkapkan kejanggalan. Gugatan Amazon dan UL menuduh bahwa Aipas memasarkan ebike-nya dengan tanda UL “pada berbagai waktu” dari 2024 hingga 2025.

    Pada September 2025, menurut sertifikat SGS, seorang karyawan SGS menyatakan bahwa baterai lithium-ion yang digunakan di ebike Aipas memenuhi standar keselamatan UL. Pada akhir bulan yang sama, menurut sertifikat SGS lain, ebike di lini “M” Aipas juga tersertifikasi. Pada akhir November, ebike di lini “A” dan “F” Aipas juga tersertifikasi. Namun, meskipun sertifikat baterai perusahaan masih aktif, tiga sertifikat untuk ebike secara keseluruhan tidak aktif lagi.

    Dalam email, perwakilan SGS menulis bahwa “sebagai pihak ketiga, kami tidak berwenang mendiskusikan status sertifikasi.” Hingga Juli 2025, situs web Aipas secara akurat menggambarkan baterai lithium-ion-nya sebagai “SGS Certified” untuk standar keselamatan UL. Namun, situs tersebut juga masih menautkan ke sertifikat keselamatan ebike SGS yang tidak aktif, yang mungkin hanya ditemukan pembeli dengan mengikuti kode QR di bagian bawah sertifikat, atau dengan mencari produk individual di direktori online SGS.

    Sertifikat keselamatan yang tidak aktif belum tentu merupakan tanda bahwa produk yang pernah tersertifikasi kini tidak aman, kata Mays. Sertifikat dapat kedaluwarsa jika perusahaan mengubah desain atau komponen pada produknya dan tidak membayar badan sertifikasi untuk mensertifikasi ulang. Produk juga bisa kehilangan sertifikasinya jika perusahaan tidak menyerahkan produknya untuk beberapa kali inspeksi setiap tahun.

    Meskipun demikian, ketika Mays membeli ebike-nya sendiri, ia memastikan bahwa ebike tersebut memenuhi dua sertifikasi keselamatan UL terkait dan sertifikatnya masih berlaku. Bagi orang yang bukan ahli keselamatan produk, pekerjaan dokumen semacam itu mungkin di luar jangkauan. “Konsumen rata-rata tidak akan bisa mencari tahu ini,” kata Hardesty.

    Kasus sertifikasi palsu ini menjadi peringatan bagi konsumen untuk lebih waspada terhadap klaim keselamatan produk yang dibeli secara online, terutama untuk produk berisiko tinggi seperti ebike dengan baterai lithium-ion. Sementara regulator di AS mulai bergerak, praktik serupa juga berpotensi terjadi di pasar lain, termasuk Indonesia, di mana produk ebike impor semakin marak. Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan teknologi dan regulasi, simak juga artikel tentang Startup Eks SpaceX yang mengumpulkan dana besar untuk misi Mars, serta FCC Denda Delapan Perusahaan terkait drone DJI.