Author: Hamzah Nurhamzah

  • Asus ExpertBook P5 G2 Resmi: Laptop Bisnis AI Rp 19,7 Juta

    Asus ExpertBook P5 G2 Resmi: Laptop Bisnis AI Rp 19,7 Juta

    JBNews.id — Asus Indonesia resmi meluncurkan laptop bisnis berbasis kecerdasan buatan terbaru, ExpertBook P5 G2 PM5406, dengan harga mulai Rp19.799.000. Perangkat ini menargetkan segmen profesional yang membutuhkan performa AI tinggi, ketahanan militer, dan keamanan tingkat korporat dalam satu paket ringan.

    Peluncuran ini dilakukan di tengah tren adopsi AI yang semakin masif di kalangan pebisnis Indonesia. Commercial Director Asus Indonesia, Eric Khoven, menyatakan bahwa segmen bisnis kini sangat bergantung pada teknologi AI untuk mempercepat produktivitas, baik di kantor maupun saat bekerja jarak jauh.

    “Segmen bisnis di Indonesia semakin mengandalkan teknologi AI untuk mempercepat produktivitas, baik di kantor maupun saat bekerja dari mana saja. Melalui Asus ExpertBook P5 G2, kami menghadirkan solusi yang tidak hanya bertenaga, tetapi juga dirancang dengan standar keamanan dan ketahanan kelas dunia,” jelas Eric dalam keterangan resmi yang diterima detikINET.

    Spesifikasi dan Performa AI

    Asus ExpertBook P5 G2 mengusung prosesor AMD Ryzen AI 7 445 untuk varian ritel di Indonesia. Chip ini dilengkapi akselerasi neural hingga 50 NPU TOPS, memungkinkan pemrosesan tugas AI secara lokal tanpa harus bergantung pada cloud. Tenaga hingga 45 watt TDP dioptimalkan khusus untuk alur kerja berbasis AI yang menuntut beban kerja tinggi, memastikan aplikasi berjalan efisien untuk multitasking maupun analisis data intensif.

    Kapasitas memori menjadi salah satu keunggulan utama. Pengguna dapat melakukan peningkatan mandiri untuk memperpanjang masa pakai produk. Spesifikasi maksimal yang dapat diakomodasi meliputi RAM DDR5 hingga 64GB berkecepatan 5600 MT/s melalui dua slot SO-DIMM, serta penyimpanan dual-SSD M.2 PCIe 4.0 hingga 3TB lewat dua slot yang tersedia.

    Performa tinggi yang berkelanjutan didukung penuh oleh sistem manajemen termal Asus ExpertCool. Teknologi ini dirancang untuk membuang panas secara efisien sekaligus meminimalkan suara kipas, sehingga ruang kerja tetap senyap dan produktif.

    Perangkat ini juga dilengkapi platform AI terpadu Asus MyExpert yang berfungsi sebagai asisten cerdas. Platform ini menawarkan fitur penulisan dan pengelolaan surel berbasis AI, serta perangkuman hasil rapat otomatis untuk memangkas beban kerja administratif.

    Bagi pengguna yang sering melakukan pertemuan jarak jauh, tersedia fitur peredam bising yang mampu menyaring suara latar belakang. Fitur ini disempurnakan oleh kamera web AI beresolusi hingga 5MP yang secara otomatis menyesuaikan pencahayaan dan pembingkaian wajah. Dengan memanfaatkan NPU khusus pada chip prosesornya, laptop ini juga sepenuhnya mendukung Windows Copilot+ PC yang memungkinkan otomatisasi alur kerja hingga terjemahan bahasa secara waktu nyata.

    Layar dan Mobilitas

    Asus ExpertBook P5 G2 hadir dengan layar 14 inci beresolusi 2,5K yang tersedia dalam dua pilihan panel. Pertama, panel IPS dengan refresh rate 144Hz untuk pergerakan visual mulus. Kedua, panel OLED dengan akurasi warna presisi yang memiliki sertifikasi DCI-P3 100 persen.

    Dirancang untuk pekerja dengan mobilitas tinggi, laptop ini memiliki bobot ringan mulai dari 1,27 kilogram dan telah memenuhi standar ketahanan militer AS MIL-STD-810H. Baterai berkapasitas 70Wh yang dibawanya diklaim mampu bertahan hingga 22,5 jam untuk pemakaian aplikasi perkantoran sehari-hari.

    Opsi konektivitasnya didukung oleh Wi-Fi 7 serta deretan antarmuka yang lengkap tanpa perlu tambahan dongle, mencakup USB4 Type-C, HDMI 2.1, hingga LAN RJ45.

    Keamanan Tingkat Korporat

    Asus melindungi aset bisnis penggunanya melalui perlindungan berlapis ExpertGuardian. Fondasi keamanannya mencakup dukungan Windows 11 Secured-core PC dan BIOS yang sesuai dengan standar NIST, lengkap dengan komitmen pembaruan perangkat tegar selama lima tahun. Pengguna juga mendapatkan kendali privasi ekstra melalui pelindung fisik kamera web, sensor sidik jari, dan ketersediaan chip TPM 2.0.

    Harga dan Ketersediaan

    Asus ExpertBook P5 G2 PM5406 ditawarkan di Indonesia dengan dua pilihan model. Model PM5406CGA dibanderol seharga Rp21.599.000, sedangkan model PM5406CKA dijual dengan harga Rp19.799.000. Perangkat ini didukung oleh layanan purna jual komprehensif, termasuk layanan perbaikan lima hari kerja, servis di tempat, garansi komponen penuh, hingga layanan retensi penyimpanan untuk menjamin keamanan data pengguna korporat.

    Dengan kombinasi performa AI, ketahanan militer, dan keamanan korporat, Asus ExpertBook P5 G2 menjadi pilihan menarik bagi profesional yang membutuhkan laptop bisnis andal. Bagi pengguna yang ingin membandingkan dengan Harga Terbaru perangkat lain, segmen ini semakin kompetitif dengan berbagai inovasi terbaru.

    Kehadiran laptop ini juga menambah daftar perangkat AI di pasar Indonesia. Untuk pengguna yang tertarik dengan Bocoran Samsung terbaru, tren perangkat berbasis AI semakin meluas ke berbagai kategori produk.

    Implikasinya bagi pembaca: jika Anda seorang profesional yang membutuhkan laptop dengan performa AI tinggi, ketahanan fisik, dan keamanan data, Asus ExpertBook P5 G2 menawarkan solusi lengkap dengan harga kompetitif di kisaran Rp19-21 jutaan. Perangkat ini dirancang untuk mendukung produktivitas jangka panjang dengan kemampuan upgrade yang fleksibel.

  • Samsung Galaxy Z Fold 8 Resmi: Spesifikasi dan Harga

    Samsung Galaxy Z Fold 8 Resmi: Spesifikasi dan Harga

    JBNews.id — Samsung resmi meluncurkan Galaxy Z Fold 8, generasi terbaru ponsel lipat premium yang membawa peningkatan signifikan pada bobot, layar, performa AI, dan daya tahan baterai. Perangkat ini hanya memiliki bobot 201 gram, menjadikannya seri Fold paling ringan yang pernah diperkenalkan perusahaan.

    Peluncuran ini menandai langkah baru Samsung dalam menghadirkan perangkat foldable premium yang semakin cerdas. Chief Executive Officer, President and Head of Device eXperience (DX) Division Samsung Electronics TM Roh mengatakan Galaxy Z Fold 8 menetapkan standar baru untuk perangkat lipat.

    “Dengan menetapkan standar baru untuk perangkat foldable, kami kembali menghadirkan lompatan dalam pengalaman mobile premium sekaligus membuka era baru AI yang lebih cerdas bagi semakin banyak pengguna,” ujar TM Roh dalam keterangan resmi.

    Desain Lebih Tipis dan Ringan

    Samsung Galaxy Z Fold 8 menjadi seri Fold paling ringan yang pernah diperkenalkan perusahaan. Perangkat ini memiliki bobot hanya 201 gram, sehingga lebih nyaman digunakan untuk aktivitas sehari-hari maupun bekerja dalam lama.

    Dari sisi desain, Samsung menghadirkan teknologi Flex Titanium, yaitu struktur layar berbasis titanium yang membuat bodi perangkat menjadi lebih tipis tanpa mengorbankan daya tahan. Teknologi tersebut mengombinasikan lapisan titanium alloy dengan pelat titanium yang telah disempurnakan sehingga mampu memperkuat struktur penopang layar, menyerap tekanan dan benturan lebih baik, mengurangi tampilan lipatan (crease) pada layar, dan membuat mekanisme buka-tutup terasa lebih halus.

    Peningkatan ini membuat Galaxy Z Fold 8 tampil lebih premium sekaligus lebih kokoh dibanding generasi sebelumnya. Bagi yang penasaran dengan perbandingan, simak Spesifikasi Lengkap sebelumnya.

    Layar Lebih Luas untuk Produktivitas dan Hiburan

    Samsung mengoptimalkan rasio layar Galaxy Z Fold 8 agar sesuai dengan berbagai kebutuhan pengguna. Saat perangkat dilipat, layar bagian luar menggunakan rasio 10:16 yang dirancang untuk aktivitas sehari-hari seperti membalas pesan, membuka media sosial, membaca berita, dan menonton video pendek.

    Sementara ketika perangkat dibuka, layar utama memiliki rasio 4:3 sehingga memberikan area tampilan yang jauh lebih luas. Ukuran tersebut membuat Galaxy Z Fold 8 nyaman digunakan untuk menonton film, bermain gim, membaca e-book, membuka dokumen, mengedit berbagai pekerjaan, dan menjalankan beberapa aplikasi secara bersamaan.

    Performa Ditenagai Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy

    Pada sektor dapur pacu, Samsung Galaxy Z Fold 8 menggunakan Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy. Chipset terbaru Qualcomm tersebut menggabungkan CPU, GPU, dan NPU generasi baru yang dirancang untuk menghadirkan performa tinggi sekaligus efisiensi daya.

    Samsung menyebut peningkatan NPU memberikan kemampuan AI yang lebih cerdas untuk berbagai aktivitas, seperti membantu mencari ide saat mengikuti kelas daring, meningkatkan produktivitas, dan mendukung fitur AI secara real time. Sementara GPU generasi terbaru menjaga pengalaman visual tetap mulus ketika pengguna bermain gim maupun melakukan streaming video beresolusi tinggi.

    Baterai 4.800 mAh Tahan hingga 26 Jam

    Salah satu peningkatan utama Galaxy Z Fold 8 terdapat pada sektor baterai. Samsung membekali perangkat ini dengan baterai berkapasitas 4.800 mAh yang diklaim mampu mendukung pemutaran video hingga 26 jam dalam sekali pengisian daya.

    Kapasitas tersebut memungkinkan pengguna menikmati berbagai aktivitas seperti menonton film, mengikuti rapat daring, bekerja, bermain gim, dan berselancar di internet tanpa perlu sering mengisi ulang baterai. Meski memiliki kapasitas besar, baterai tetap dikemas dalam bodi yang ramping sehingga tidak mengurangi kenyamanan saat digunakan.

    Kamera Samsung Galaxy Z Fold 8

    Untuk kebutuhan fotografi, Galaxy Z Fold 8 membawa sistem kamera yang mendukung pengambilan foto maupun video dari berbagai sudut. Spesifikasi kameranya meliputi kamera utama (Wide) 50 MP, kamera Ultra Wide 50 MP, dan kamera depan 10 MP.

    Samsung juga menghadirkan fitur Dual Recording, yang memungkinkan pengguna merekam video menggunakan dua sisi perangkat secara bersamaan melalui bantuan layar luar. Selain itu terdapat fitur My FanCam yang mampu melacak pergerakan subjek secara otomatis, menyesuaikan komposisi video, dan menghasilkan video yang siap diunggah ke media sosial.

    Fitur AI dan Produktivitas

    Samsung turut menghadirkan berbagai fitur berbasis kecerdasan buatan melalui Now Nudge. Fitur ini dirancang untuk membantu pengguna tetap produktif tanpa harus berpindah aplikasi secara terus-menerus.

    Now Nudge dapat mengingatkan agenda berikutnya, memberikan rekomendasi tindakan selanjutnya, membuka tampilan split screen secara otomatis, membantu berbagi foto, membuka lokasi di peta, dan mengelola beberapa aktivitas sekaligus. Seluruh proses tersebut dapat dilakukan lebih cepat sehingga alur kerja menjadi lebih efisien.

    One UI 9 untuk Multitasking

    Galaxy Z Fold 8 menjalankan One UI 9 yang telah dioptimalkan khusus untuk perangkat layar lipat. Antarmuka terbaru ini menawarkan layar beranda yang dapat dikustomisasi, pengalaman multitasking lebih lancar, tampilan multi-jendela, dan dukungan split screen dua arah maupun tiga arah.

    Pengguna dapat membuka beberapa aplikasi sekaligus dan berpindah antarjendela hanya dengan satu sentuhan, sehingga produktivitas tetap terjaga. Untuk informasi lebih lanjut, simak Bocoran Spesifikasi sebelumnya.

    Pilihan Penyimpanan dan Warna

    Samsung menyediakan tiga pilihan kapasitas penyimpanan internal yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna, yaitu 256 GB, 512 GB, dan 1 TB. Pilihan tersebut memberikan ruang yang cukup besar untuk menyimpan foto, video, dokumen, aplikasi, hingga file berukuran besar.

    Samsung Galaxy Z Fold 8 tersedia dalam empat pilihan warna, yaitu Graphite, Cream, Lavender, dan Pistachio.

    Dengan segala peningkatan yang ditawarkan, Galaxy Z Fold 8 menjadi pilihan menarik bagi pengguna yang menginginkan perangkat lipat premium dengan performa terdepan dan fitur AI yang lebih cerdas. Bagi yang tertarik dengan Harga Terbaru pesaing, bisa menyimak artikel terkait.

  • WhatsApp Rilis 4 Fitur Baru: Buka PDF hingga iPad Jadi Perangkat Utama

    WhatsApp Rilis 4 Fitur Baru: Buka PDF hingga iPad Jadi Perangkat Utama

    JBNews.id — WhatsApp resmi meluncurkan empat fitur baru yang dirancang untuk meningkatkan pengalaman pengguna. Salah satu fitur paling signifikan adalah kemampuan untuk membuka dan mengedit file PDF langsung di dalam aplikasi tanpa perlu mengunduhnya terlebih dahulu.

    Fitur baru ini memungkinkan pengguna melakukan penyuntingan ringan seperti highlighting dan memberi anotasi pada dokumen PDF langsung di jendela chat. Menurut pengumuman resmi WhatsApp, fitur PDF ini tersedia untuk versi web dan desktop berkat integrasi teknologi dari Adobe Acrobat.

    Adobe menegaskan bahwa integrasi ini mendukung dokumen yang dikunci password. Seluruh file PDF yang dikirim melalui chat tetap dilindungi oleh enkripsi end-to-end WhatsApp, sehingga keamanan data pengguna tetap terjaga.

    Fitur kedua yang diluncurkan adalah opsi untuk menjadikan iPad sebagai perangkat utama. Sejak aplikasi WhatsApp untuk iPad dirilis tahun lalu, perangkat tersebut hanya berfungsi sebagai perangkat sekunder yang harus dihubungkan dari ponsel Android atau iPhone.

    Kini, pengguna iPad bisa langsung login ke akun WhatsApp dari tablet tersebut tanpa perlu menghubungkannya dari ponsel. Artinya, iPad dapat dipakai secara mandiri sebagai perangkat utama untuk mengakses WhatsApp. Meski demikian, pengguna masih membutuhkan nomor telepon untuk menerima one-time password (OTP) saat mendaftarkan akun.

    Fitur baru WhatsApp

    WhatsApp juga meningkatkan integrasinya dengan CarPlay dan Android Auto. Sebelumnya, fitur WhatsApp di CarPlay terbatas hanya untuk menulis pesan dan melakukan panggilan. Kini, pengguna bisa mendengar dan membalas pesan, melihat riwayat panggilan, serta mengakses kontak favorit langsung dari sistem infotainment mobil.

    Fitur terakhir yang diumumkan adalah kemampuan membagikan lagu dari Apple Music atau Spotify langsung ke WhatsApp Status. WhatsApp menyatakan bahwa fitur ini bertujuan untuk memudahkan pengguna mengekspresikan diri dan membuat status menjadi lebih unik.

    Peluncuran ini menambah daftar panjang fitur yang baru dirilis WhatsApp. Beberapa pekan sebelumnya, WhatsApp meluncurkan fitur username yang memungkinkan pengguna berbagi profil tanpa harus membagikan nomor telepon. Fitur ini telah memicu diskusi terkait risiko keamanan siber di kalangan pengguna.

    Pada akhir Mei, Meta meluncurkan layanan berlangganan WhatsApp Plus yang menawarkan deretan fitur eksklusif seperti kustomisasi ikon aplikasi, nada dering eksklusif, stiker efek khusus, dan masih banyak lagi.

    Bagi pengguna yang mengalami kendala teknis, penting untuk memahami penyebab akun diblokir agar dapat mengatasinya dengan tepat.

    Implikasi dari pembaruan ini cukup luas. Dengan fitur PDF terintegrasi, pengguna tidak perlu lagi beralih ke aplikasi pihak ketiga untuk dokumen sederhana. Sementara itu, opsi iPad sebagai perangkat utama memberikan fleksibilitas lebih bagi pengguna yang lebih sering menggunakan tablet dibanding ponsel.

    Peningkatan integrasi CarPlay dan Android Auto juga menjawab kebutuhan pengguna yang menginginkan konektivitas lebih aman saat berkendara. Fitur berbagi lagu ke Status, meski tampak sederhana, menunjukkan upaya WhatsApp untuk bersaing dengan platform media sosial lain dalam hal ekspresi diri.

  • Garmin CIRQA Resmi Rilis, Smart Band Tanpa Layar dan Bebas Langganan

    Garmin CIRQA Resmi Rilis, Smart Band Tanpa Layar dan Bebas Langganan

    JBNews.id — Garmin resmi memperkenalkan CIRQA Smart Band, fitness tracker tanpa layar pertamanya yang menawarkan pemantauan kesehatan 24 jam dengan daya tahan baterai hingga 10 hari serta bebas biaya langganan. Perangkat wearable ini hadir sebagai alternatif bagi pengguna yang menginginkan pelacak aktivitas sederhana tanpa gangguan notifikasi atau layar.

    Garmin CIRQA mengusung desain modular yang dapat dikenakan di pergelangan tangan maupun lengan atas. Modul utamanya memiliki bobot hanya 14,8 gram dan dipadukan dengan strap berbahan kain agar nyaman digunakan sepanjang hari, termasuk saat tidur. Material fiber-reinforced polymer digunakan untuk menjaga bodinya tetap ringan sekaligus kokoh. CIRQA juga mengantongi rating ketahanan air 5 ATM, sehingga dapat digunakan saat berenang atau beraktivitas di air hingga tekanan setara kedalaman 50 meter.

    Meski tanpa layar, CIRQA dibekali tombol samping yang dapat dikustomisasi. Pengguna bisa mengaturnya sebagai akses cepat untuk memulai aktivitas olahraga favorit. Perangkat ini mampu memantau sekitar 80 jenis aktivitas, termasuk berjalan kaki, berlari, dan berenang. Seluruh data yang direkam dapat dilihat dan dianalisis melalui aplikasi Garmin Connect di smartphone.

    Fitur Pemantauan Kesehatan Lengkap

    Fitur pemantauan kesehatan yang tersedia pada Garmin CIRQA antara lain Sleep Tracking untuk memantau kualitas tidur, VO2 Max untuk mengukur tingkat kebugaran, HRV Status atau variabilitas detak jantung, Pulse Ox untuk mengukur kadar oksigen dalam darah, pemantauan tingkat stres, pengukuran suhu kulit, serta Body Battery untuk memperkirakan cadangan energi tubuh. CIRQA dirancang untuk melakukan pemantauan kesehatan selama 24 jam penuh.

    Garmin mengeklaim baterainya dapat bertahan hingga 10 hari dalam penggunaan normal, sehingga pengguna tidak perlu terlalu sering melepas perangkat untuk mengisi daya. Keunggulan lain yang ditawarkan adalah tidak adanya kewajiban membayar biaya langganan untuk mengakses seluruh fitur dan analisis kesehatan, menjadikannya pilihan yang lebih hemat dalam jangka panjang.

    Harga dan Ketersediaan

    Garmin CIRQA Smart Band dibanderol seharga USD 199,99 atau sekitar Rp3,2 juta, belum termasuk pajak dan penyesuaian harga di masing-masing negara. Smart band ini tersedia dengan sejumlah pilihan warna strap, yakni Black, Citron Gray, Captain Blue, Dark Olive, French Gray, French Blue, dan Mauve.

    Dengan pendekatan desain yang minimalis dan fokus pada fungsi kesehatan, Garmin CIRQA menjadi pilihan menarik bagi pengguna yang ingin melacak aktivitas harian tanpa gangguan notifikasi smartphone. Ketahanan baterai yang panjang dan bebas biaya langganan menjadi nilai tambah signifikan bagi konsumen yang menginginkan solusi fitness tracker yang praktis dan ekonomis.

    Kehadiran CIRQA melengkapi jajaran produk wearable Garmin yang sebelumnya didominasi oleh perangkat dengan layar seperti seri Forerunner. Bagi pengguna yang lebih menyukai pengalaman digital minimalis namun tetap ingin memantau kesehatan secara akurat, CIRQA menawarkan solusi yang tepat dengan harga kompetitif di segmen smart band.

  • Iklan Meta Pakai Lagu David Bowie Tuai Kontroversi

    Iklan Meta Pakai Lagu David Bowie Tuai Kontroversi

    JBNews.id – Meta menggunakan lagu David Bowie, “Five Years”, dalam iklan terbaru untuk mempromosikan visi optimis perusahaan tentang teknologi dan konektivitas manusia. Namun, pemilihan lagu yang dikenal sebagai narasi distopia tentang akhir dunia ini justru memicu kontroversi dan kritik tajam dari berbagai pihak.

    Iklan tersebut menampilkan narator yang berkata, “Panggil kami optimis, panggil kami pemimpi, panggil kami apa pun yang kalian mau—tapi kami bertaruh pada manusia, dan kami suka peluang itu.” Adegan memperlihatkan seorang balita bermain dengan kupu-kupu, dua orang tua tertawa bersama bayi mereka, serta Jalen Brunson melambai dalam parade kejuaraan Knicks. Iklan ini juga secara khusus menampilkan penggunaan kacamata pintar kontroversial Meta dalam skenario yang tidak bersifat melecehkan.

    Bagian dari lirik “Five Years” yang digunakan dalam iklan berbunyi: “I heard telephones, opera house, favorite melodies / I saw boys, toys, electric irons and TVs / My brain hurt like a warehouse, it had no room to spare / I had to cram so many things to store everything in there / And all the fat, skinny people / And all the tall, short people / And all the nobody people / And all the somebody people / I never thought I’d need so many people.”

    Iklan ini sengaja melewatkan bagian pembuka lagu yang lebih gelap, termasuk lirik: “News had just come over / We had five years left to cry in / News guy wept and told us Earth was really dying.”

    Tanggapan Meta dan Kontroversi Makna Lagu

    Menanggapi kontroversi ini, Juru Bicara Meta, Francis Brennan, menyatakan bahwa pihaknya ingin menyoroti apa yang David Bowie sendiri katakan tentang “Five Years” dan maknanya: memiliki optimisme untuk masa depan. Brennan mengirimkan kutipan dari tahun 1972 yang bersumber dari BowieBible.com, di mana Bowie berkata, “Orang-orang begitu luar biasa serius dan takut akan masa depan sehingga saya ingin mengubah perasaan itu ke arah lain, menjadi gelombang optimisme. Jika seseorang bisa mengolok-olok masa depan, dan seperti apa jadinya… Ini akan menjadi sangat teknologis.”

    Namun, BowieBible.com juga mencatat bahwa lagu tersebut “berbicara tentang mimpi buruk distopia di mana Bumi memasuki lima tahun terakhirnya, karena alasan yang tidak diungkapkan, dan kepanikan, kekerasan, serta upaya penebusan yang terjadi setelahnya.” Situs yang sama mengutip wawancara tahun 2018 dengan drummer Mick Woodmansey: “Kami membicarakannya, dan kami tahu itu tentang akhir dunia dan cukup depresi. Saya ingat saat kami merekamnya, dia benar-benar menangis. Dia sedang melakukan vokal dan dia benar-benar menangis.”

    Jeremy D. Larson, wakil direktur Pitchfork (publikasi saudara Condé Nast), mengatakan bahwa mengambil lagu di luar konteks untuk iklan adalah tradisi lama. Ia mencontohkan iklan Carnival Cruise yang menggunakan lagu Iggy Pop tentang kecanduan heroin. Ia juga mencatat bahwa Warner Chappell Music memiliki katalog Bowie dan memiliki diskresi atas di mana lagu-lagunya digunakan.

    “Meta memilih lagu spesifik ini di mana konteks untuk koneksi manusia adalah kiamat tampaknya sangat bodoh atau sangat berbahaya,” kata Larson kepada WIRED melalui Slack. “Saya tidak tahu, mungkin dalam konteks itu brilian.” Ia menambahkan, “Mendengar karya Bowie digunakan untuk AI terasa sangat dan secara spesifik tidak berdasarkan persetujuan.”

    Sementara itu, CEO Mark Zuckerberg dalam sebuah posting tentang iklan tersebut menulis bahwa perusahaan “fokus untuk memberikan setiap orang alat untuk mencapai potensi penuh Anda dan memastikan manfaat teknologi didistribusikan kepada semua orang.”

    Tren Iklan Teknologi yang Kontroversial

    Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan teknologi telah melakukan beberapa upaya berat untuk meredakan ketakutan orang tentang teknologi mereka yang membuat dunia lebih buruk. Beberapa minggu lalu, Anthropic merilis iklan ambisiusnya, “Ada harapan dalam pertanyaan sulit.” Iklan itu dibuka dengan klip gedung terbakar dan bertanya, “Siapa yang akan mengerem jika kita perlu?” sebelum menampilkan puluhan kuburan. Nada iklan secara bertahap bergeser ke arah optimisme dan diakhiri dengan pertanyaan samar seperti, “Bagaimana jika kita mulai menjadi lebih manusiawi lagi?”

    Pada tahun 2024, Google merilis iklan yang membingungkan tentang seorang ayah yang mengajar putrinya, seorang atlet yang bercita-cita tinggi, cara berlari gawang. Sang ayah memutuskan untuk menggunakan Gemini untuk menyusun surat, dari sudut pandang putrinya, agar dia bisa mengirimkannya ke pebalap gawang terkenal Sydney McLaughlin-Levrone.

    Dan selama Super Bowl 2022, FTX menayangkan iklan yang kini terkenal buruk yang dibintangi Larry David. Dalam iklan tersebut, David memerankan berbagai karakter yang menolak penemuan berguna sepanjang sejarah—toilet, garpu, bola lampu—sebelum akhirnya menolak FTX. “Jangan seperti Larry,” tulis teks di akhir iklan. “Jangan lewatkan crypto, NFT, hal besar berikutnya.” FTX mengajukan kebangkrutan sekitar sembilan bulan kemudian.

    Tentu saja, dapat dimengerti bahwa perusahaan teknologi akan menggunakan setiap alat yang mereka miliki untuk meningkatkan niat baik. Namun, iklan-iklan ini juga menunjukkan bahwa banyak perusahaan teknologi gagal menjual produk yang secara independen meyakinkan orang bahwa mereka tidak secara aktif membuat dunia menjadi lebih buruk.

    Implikasi bagi Citra Meta

    Kontroversi ini terjadi di tengah berbagai tantangan hukum dan persepsi publik yang dihadapi Meta. Perusahaan sebelumnya menghadapi gugatan remaja terkait dampak media sosial pada kesehatan mental, meskipun gugatan tersebut akhirnya dicabut. Meta juga terus mengembangkan berbagai fitur baru seperti fitur Replace Audio di Instagram untuk menarik kreator, serta mengembangkan paten AI deteksi emosi dan fitur face recognition.

    Pemilihan lagu “Five Years” yang sarat makna distopia untuk kampanye optimisme teknologi menunjukkan kesenjangan yang signifikan antara narasi yang ingin dibangun Meta dan persepsi publik terhadap dampak teknologi mereka. Penggunaan karya seni tanpa memperhatikan konteks aslinya berisiko merusak kredibilitas perusahaan di mata publik yang semakin kritis terhadap praktik perusahaan teknologi besar.

    Kesimpulan: Apa Artinya bagi Publik?

    Bagi publik Indonesia dan global, kontroversi ini menjadi pengingat bahwa perusahaan teknologi besar sering menggunakan strategi pemasaran yang rumit untuk membangun citra positif. Pemilihan lagu yang kontradiktif dengan pesan iklan menunjukkan bahwa konsumen perlu lebih kritis terhadap narasi yang disajikan oleh perusahaan teknologi. Ini juga menjadi pelajaran bahwa penggunaan karya seni tanpa konteks yang tepat dapat menjadi bumerang bagi citra perusahaan.

    Bagi pengguna teknologi, penting untuk tetap waspada dan tidak mudah terpengaruh oleh kampanye pemasaran yang dirancang untuk meredakan kekhawatiran tentang dampak negatif teknologi. Seperti yang ditunjukkan oleh kasus FTX, iklan yang ambisius dan optimis tidak selalu mencerminkan realitas di balik layar perusahaan.

  • Krisis Media Akibat AI Google, Penerbit Ancam Putus Kerja Sama

    Krisis Media Akibat AI Google, Penerbit Ancam Putus Kerja Sama

    JBNews.id — Ketergantungan penerbit pada Google untuk lalu lintas pembaca kini berubah menjadi ancaman eksistensial. Fitur AI yang makin dominan di mesin pencari justru mengurangi jumlah klik ke situs berita, memicu krisis yang mendorong sejumlah media besar untuk mempertimbangkan pemutusan hubungan dengan raksasa teknologi tersebut.

    Situasi ini dilaporkan oleh Wall Street Journal, menggambarkan hubungan yang semakin tegang antara Google dan penerbit yang kontennya digunakan untuk melatih model kecerdasan buatan. Penerbit besar seperti USA Today, Politico, The Economist, People, dan Reuters kini tengah meninjau ulang kerja sama mereka dengan Google. Beberapa bahkan berdebat apakah akan melanjutkan kemitraan sama sekali.

    “Ini adalah masalah eksistensial untuk beberapa kategori penerbit,” ujar CEO firma konsultan media DJB Strategies, David Buttle, kepada WSJ. “Mereka mulai mempertimbangkan hal-hal yang lebih radikal.” Pernyataan ini menegaskan bahwa tekanan yang dihadapi industri media bukan lagi sekadar penurunan pendapatan, melainkan ancaman terhadap kelangsungan bisnis itu sendiri.

    Data Lalu Lintas yang Mencemaskan

    Dampak nyata dari kebijakan AI Google sudah terlihat jelas. USA Today mencatat penurunan lalu lintas dari pengguna Amerika Serikat hingga hampir setengahnya dalam setahun terakhir. Kondisi ini mendorong para eksekutif untuk mempertimbangkan langkah drastis: memblokir akses Google sepenuhnya.

    “Sudah waktunya untuk mengambil sikap dan berkata cukup sudah,” tegas CEO USA Today, Mike Reed, kepada WSJ. Penurunan drastis ini menunjukkan bahwa fitur AI Google tidak hanya mengubah cara pengguna mencari informasi, tetapi juga secara fundamental menggerogoti sumber pendapatan utama penerbit.

    Fenomena ini tidak terbatas pada media berita. Eksekutif Reddit juga tengah mengevaluasi ulang kontrak senilai $60 juta per tahun yang memungkinkan Google melatih model AI pada konten buatan pengguna di platform tersebut. Mereka menyaksikan pola yang sama: fitur AI Google justru mengurangi kunjungan pengguna ke Reddit.

    Bot Melebihi Manusia untuk Pertama Kalinya

    Bulan lalu, CEO Cloudflare, Matthew Prince, mencatat tonggak sejarah yang meresahkan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah internet, lalu lintas bot otomatis melampaui lalu lintas manusia. Ini adalah titik balik yang mengkhawatirkan bagi siapa pun yang bergerak di ekonomi perhatian (attention economy).

    Data ini mengonfirmasi bahwa algoritma dan crawler AI kini mendominasi ruang digital, sementara pengguna manusia—yang menjadi sumber pendapatan bagi penerbit—semakin jarang benar-benar mengunjungi situs web. Ironisnya, konten yang dihasilkan manusia justru menjadi bahan baku bagi AI yang kemudian mengambil alih perhatian audiens.

    Tanggapan Google dan Dilema Penerbit

    Google tidak tinggal diam menghadapi kritik. Melalui juru bicaranya, perusahaan tersebut berargumen bahwa mereka masih mengirimkan “miliaran klik ke web setiap minggu” dan membantu “kreator dan penerbit mengembangkan audiens mereka” dengan bantuan AI. Namun, jaminan ini tampaknya tidak lagi dipercaya oleh para penerbit yang mengalami penurunan trafik secara langsung.

    Di luar ancaman pemutusan kerja sama, beberapa penerbit telah mengambil jalur hukum. Mereka menggugat Google dengan tuduhan bahwa perusahaan tersebut secara ilegal menggunakan kembali kekayaan intelektual mereka melalui ringkasan AI. Langkah ini menunjukkan bahwa konflik telah mencapai titik di mana solusi negosiasi dianggap tidak lagi memadai.

    Posisi penerbit saat ini sangat sulit. Di satu sisi, memutuskan hubungan dengan Google berisiko menyebabkan penurunan lalu lintas yang lebih tajam. Di sisi lain, membiarkan AI Google merangkak dan meringkas konten mereka tanpa manfaat yang sepadan hanya akan mempercepat kehancuran mereka dalam jangka panjang.

    Google Menggigit Tangan yang Memberi Makan

    Paradoksnya, kebijakan Google justru merugikan dirinya sendiri. Perusahaan AI sangat membutuhkan data pelatihan baru yang tidak terkontaminasi oleh konten buatan AI (AI-generated slop). Dengan secara aktif mengurangi kunjungan pengguna ke situs web yang menghasilkan informasi baru, Google secara tidak langsung memutus pasokan data segar yang sangat dibutuhkan untuk melatih model AI-nya.

    Fenomena ini menciptakan lingkaran setan: semakin efektif AI Google dalam menyajikan informasi tanpa perlu mengklik tautan, semakin sedikit konten baru yang diproduksi penerbit, dan pada akhirnya semakin sedikit data berkualitas yang tersedia untuk melatih AI generasi berikutnya.

    Krisis ini menjadi pengingat bahwa ekosistem informasi terbuka (open web) yang selama ini menjadi fondasi internet sedang berada di persimpangan jalan. Keputusan yang diambil oleh penerbit besar dalam beberapa bulan ke depan akan menentukan apakah web tetap menjadi ruang yang menghargai konten asli atau berubah menjadi taman tertutup yang dikuasai oleh segelintir perusahaan AI.

    Bagi industri media di Indonesia, perkembangan ini patut menjadi perhatian serius. Ketergantungan pada platform global untuk distribusi konten, sebagaimana Verifikasi Selfie yang diperkenalkan Google untuk keamanan akun, menunjukkan betapa besarnya kendali perusahaan tersebut atas akses digital. Tanpa strategi diversifikasi yang kuat, penerbit lokal bisa mengalami nasib serupa ketika fitur AI Google mulai mendominasi pencarian dalam bahasa Indonesia.

    Implikasinya jelas: penerbit harus segera mencari model bisnis yang tidak sepenuhnya bergantung pada lalu lintas dari mesin pencari. Langkah seperti mengembangkan Smart Glasses buatan Samsung-Google yang menawarkan sembilan jam baterai menunjukkan bahwa inovasi AI terus berlanjut di berbagai lini. Penerbit yang bertahan adalah mereka yang mampu membangun hubungan langsung dengan pembaca, baik melalui langganan, konten eksklusif, atau komunitas yang loyal.

    Ketika AI semakin canggih dalam merangkum dan menyajikan informasi, satu-satunya cara bagi penerbit untuk tetap relevan adalah dengan menawarkan nilai yang tidak bisa digantikan oleh algoritma: analisis mendalam, investigasi orisinal, dan perspektif unik yang hanya bisa dihasilkan oleh jurnalis manusia.

  • Alexa Plus Kini Terhubung ke Smart Home dengan AI Baru

    Alexa Plus Kini Terhubung ke Smart Home dengan AI Baru

    JBNews.id — Amazon meluncurkan pembaruan untuk asisten virtual Alexa Plus yang memungkinkan koneksi ke perangkat smart home dengan cara yang lebih cerdas. Pembaruan ini, yang saat ini masih dalam tahap pratinjau, menghubungkan Alexa Plus dengan teknologi dari Bosch, Delta, Ecovacs, iRobot, Yale Home, Whirlpool, Tapo, Eufy, dan merek lainnya, sambil secara otomatis mengarahkan permintaan ke perangkat yang tepat.

    Dalam contoh yang dibagikan Amazon, seseorang dengan mesin cuci yang didukung dapat berkata, “Alexa, jersey sepak bola anak saya butuh cucian deep clean, tapi labelnya bilang cold wash only.” Dari sana, Alexa Plus akan menavigasi opsi siklus mesin cuci dan memilih pengaturan yang benar. Integrasi baru ini didukung oleh AI developer toolkit terbaru Amazon, yang dirancang untuk memudahkan produsen perangkat terhubung ke Alexa Plus, “termasuk yang memiliki kemampuan unik yang sebelumnya tidak didukung.”

    Amazon secara luas meluncurkan asisten AI yang diperbarui pada Februari lalu, yang dapat menangani permintaan multi-langkah dan membantu pengguna membuat rutinitas menggunakan suara. Saat ini, Alexa Plus hanya melakukan tugas di sejumlah layanan pihak ketiga yang terbatas, seperti Ticketmaster, OpenTable, Uber, Thumbtack, Expedia, Yelp, Square, dan Angi.

    Namun, Amazon berupaya mengubah hal ini dengan mengadopsi Model Context Protocol (MCP), sebuah standar sumber terbuka yang memungkinkan model AI terhubung ke sistem dan alat eksternal. Langkah ini akan memberi lebih banyak merek kemampuan untuk berinteraksi dengan Alexa Plus, dengan Canva, Headspace, Priceline, Lyft, Cengage, Virgin Atlantic, Weekend, dan perusahaan lain yang akan meluncurkan integrasi akhir tahun ini.

    Sebagai contoh, Priceline akan memberi pelanggan kemampuan untuk menjelajahi opsi hotel dan memesan perjalanan langsung melalui Alexa Plus. Priceline, bersama dengan Atom Tickets, Cengage, Fandango, dan Taskrabbit, akan segera mendukung pembayaran melalui Amazon Wallet.

    Amazon terus mendorong batas kemampuan asisten virtualnya. Dengan dukungan dari berbagai merek smart home terkemuka, Alexa Plus tidak hanya menjadi alat untuk memutar musik atau menjawab pertanyaan, tetapi juga pusat kendali untuk rumah pintar yang lebih intuitif. Perkembangan ini menandai langkah signifikan dalam ekosistem Smart Home, di mana pengguna dapat mengelola perangkat dari berbagai produsen hanya dengan perintah suara yang kompleks.

    Pembaruan ini juga menyoroti bagaimana kecerdasan buatan (AI) semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Amazon menggunakan teknologi AI canggih untuk memahami konteks dan niat pengguna, seperti saat memilih siklus pencucian yang tepat berdasarkan instruksi perawatan pakaian. Ini adalah lompatan dari perintah sederhana seperti “nyalakan lampu” menjadi permintaan yang lebih bernuansa.

    Di sisi lain, adopsi MCP oleh Amazon menunjukkan komitmennya terhadap standar terbuka. Ini berarti lebih banyak merek dan pengembang dapat membuat integrasi tanpa harus bergantung pada protokol kepemilikan Amazon. Dampaknya, pengguna akan memiliki lebih banyak pilihan perangkat dan layanan yang kompatibel dengan Alexa Plus di masa depan.

    Bagi konsumen, ini berarti pengalaman smart home yang lebih mulus. Tidak perlu lagi mengingat perintah spesifik untuk setiap merek; Alexa Plus akan menangani logika di balik layar. Misalnya, pengguna dapat meminta robot vakum membersihkan ruang tamu setelah mendeteksi bahwa tidak ada orang di sana, atau meminta termostat menyesuaikan suhu berdasarkan rutinitas harian.

    Amazon juga fokus pada kemudahan bagi pengembang. Toolkit AI baru dirancang untuk mengurangi hambatan teknis, sehingga produsen kecil sekalipun dapat dengan cepat mengintegrasikan produk mereka. Hal ini dapat mempercepat adopsi smart home secara lebih luas, karena semakin banyak perangkat yang dapat “berbicara” satu sama lain melalui Alexa Plus.

    Meskipun pembaruan ini baru dalam tahap pratinjau, Amazon telah mengonfirmasi bahwa integrasi dengan merek-merek besar seperti Bosch dan Whirlpool sudah berjalan. Pengguna yang memiliki perangkat dari merek tersebut dapat mulai mencoba fitur baru ini. Namun, ketersediaan penuh dan dukungan untuk semua merek masih menunggu waktu.

    Dari sisi persaingan, langkah Amazon ini menempatkannya di posisi yang kuat melawan asisten virtual lain seperti Google Assistant dan Apple Siri. Dengan fokus pada kemudahan integrasi dan pemahaman konteks, Alexa Plus berpotensi menjadi standar baru untuk rumah pintar. Ke depannya, pengguna mungkin tidak perlu lagi memikirkan merek perangkat yang mereka miliki; cukup berbicara dengan Alexa Plus dan biarkan AI yang mengurus sisanya.

    Pembaruan ini juga relevan dengan tren industri teknologi yang lebih luas, di mana AI generatif mulai digunakan untuk tugas-tugas praktis. Tidak hanya di smart home, tetapi juga di sektor lain seperti perjalanan dan hiburan, seperti yang terlihat dari integrasi dengan Priceline dan Fandango. Amazon jelas ingin Alexa Plus menjadi asisten serba bisa yang tidak hanya ada di rumah, tetapi juga di mana pun pengguna membutuhkannya.

    Bagi pengguna di Indonesia, meskipun ketersediaan Alexa Plus dan perangkat kompatibel mungkin masih terbatas, perkembangan ini tetap menarik untuk diikuti. Ekosistem smart home global semakin matang, dan standar terbuka seperti MCP akan memudahkan merek lokal untuk bergabung di masa depan. Ini adalah sinyal bahwa era asisten virtual yang benar-benar cerdas dan terintegrasi sudah di depan mata.

    Amazon belum mengumumkan jadwal pasti kapan pembaruan ini akan tersedia secara luas untuk semua pengguna Alexa Plus. Namun, dengan momentum yang ada, peluncuran penuh kemungkinan besar akan terjadi dalam beberapa bulan mendatang. Sementara itu, pengembang dan produsen perangkat didorong untuk mulai mengintegrasikan produk mereka dengan toolkit AI baru Amazon.

  • Musk Akui Kesalahan Besar usai DOGE Hancurkan Pemerintahan

    Musk Akui Kesalahan Besar usai DOGE Hancurkan Pemerintahan

    JBNews.id — Elon Musk secara terbuka mengakui bahwa dirinya “terlalu terlibat dalam politik” dan “terbawa arus” saat memimpin Departemen Efisiensi Pemerintahan (DOGE) pada masa awal pemerintahan Donald Trump. Pengakuan ini muncul di tengah runtuhnya imperium bisnisnya, di mana SpaceX gagal meluncurkan roket Starship dan Tesla mengalami penurunan penjualan drastis.

    Dalam wawancara eksklusif dengan The Economist yang diterbitkan Kamis lalu, miliarder pemilik Tesla dan SpaceX itu menyatakan penyesalannya atas keterlibatannya yang terlalu dalam dalam upaya membongkar sistem pemerintahan AS. “Saya mendapat banyak kritik karena hal ini, tentu saja,” aku Musk dalam wawancara tersebut, seperti dikutip dari laporan yang pertama kali muncul di Futurism.

    Pengakuan ini datang di saat yang sangat kritis bagi Musk. Pekan lalu, roket raksasa Starship milik SpaceX gagal menyalakan beberapa mesinnya, memaksa perusahaan untuk membatalkan uji coba peluncuran pertamanya sejak IPO awal musim panas ini. Kegagalan tersebut digambarkan sebagai metafora sempurna bagi perjuangan perusahaan antariksa itu untuk meyakinkan investor tentang ambisi besar Musk — ambisi yang hampir tidak mungkin terwujud tanpa Starship.

    Sementara Musk telah berjanji bahwa SpaceX suatu hari akan bernilai “lebih dari seluruh Bumi,” penurunan berkepanjangan di pasar saham justru menunjukkan sebaliknya. Alih-alih bergabung dalam perlombaan kecerdasan buatan (AI), SpaceX justru terpaksa menjual daya komputasi kepada para pesaingnya.

    Ilustrasi foto berwarna yang menampilkan Elon Musk dengan latar belakang runtuhnya imperium bisnisnya.

    Dampak DOGE terhadap Pemerintahan AS

    Bekas luka yang ditinggalkan DOGE kini semakin terlihat jelas. Alih-alih memangkas pengeluaran, kelompok yang dipimpin Musk justru memaksa puluhan ribu pekerja pemerintah keluar dari pekerjaan mereka, menghancurkan bantuan luar negeri dengan konsekuensi yang sangat buruk, dan membocorkan data yang sangat sensitif.

    Tindakan DOGE telah memicu gelombang protes di seluruh negeri, menggerogoti Administrasi Jaminan Sosial, dan secara fundamental merusak peran ilmu pengetahuan di Amerika Serikat. Bagi Musk sendiri, pengalaman buruknya sebagai “pegawai khusus” di Washington, DC, tahun lalu telah membuatnya menjadi sangat tidak populer — bahkan mungkin salah satu pria yang paling dibenci di Amerika.

    Dalam wawancara tersebut, Musk menunjukkan “tidak ada tanda-tanda akan melepaskan mimbar pengaruh geopolitiknya,” menurut The Economist. Ia bahkan menggandakan tuduhannya bahwa media telah salah menggambarkannya sebagai rasis, meskipun ia berulang kali membuat komentar rasis. Ia bahkan berargumen bahwa para pemimpin ekstremis sayap kanan Eropa hanyalah “salah paham.”

    Kekaisaran Bisnis yang Mulai Runtuh

    Perusahaan mobil listriknya, Tesla, yang merupakan pionir awal dalam adopsi kendaraan listrik, juga sedang terpuruk. Penjualan kendaraan terus merosot karena pelanggan dijauhkan oleh perilaku tidak sopan dan komentar tidak menentu dari orang terkaya di dunia itu. Bahkan lonjakan pendapatan baru-baru ini gagal bertahan karena pengeluaran besar terkait AI, menyebabkan harga saham Tesla anjlok pekan ini.

    Sebagai akibat dari semua ini, imperium Musk terasa seperti sedang runtuh di sekelilingnya — menjadikannya momen yang sangat tepat baginya untuk duduk bersama The Economist dalam upaya mencari awal yang baru. Namun, apakah pengakuan ini benar-benar tulus masih dipertanyakan.

    The Economist, dalam artikel pendamping wawancaranya, mengakui bahwa pihaknya melihat pandangan politik miliarder tersebut sebagai “jelas rasis.” Musk juga berjanji bahwa AI akan membuat uang menjadi tidak relevan — sebuah “zaman kelimpahan yang luar biasa,” katanya dengan antusias — dan bahwa pemerintah seharusnya hanya “mengeluarkan cek kepada rakyat.”

    Mengingat tindakannya di pucuk pimpinan DOGE tahun lalu, jelas bahwa ia hanya melihat sedikit peran bagi pemerintah di luar itu. Kini, setelah kekaisarannya mulai tampak buruk, tidak mengherankan jika Musk mencari kesempatan untuk memberi tahu publik bahwa ia telah move on dari membantu pemerintahan Trump membongkar sistem pemerintahan.

  • Blomkamp dan AI Film: Tanda Kemunduran Karier Sutradara

    Blomkamp dan AI Film: Tanda Kemunduran Karier Sutradara

    JBNews.id — Sutradara Neill Blomkamp, yang namanya melambung lewat film fiksi ilmiah “District 9” pada 2009, kini menuai kritik tajam setelah merilis “NIGHTBORNE,” sebuah film pendek yang ia klaim sebagai “first full test AI film” buatannya. Alih-alih mendapat sambutan, langkah Blomkamp justru dianggap sebagai bukti nyata kemunduran kariernya di industri perfilman.

    Film “District 9” yang menggunakan gaya quasi-dokumenter itu sukses besar. Film tersebut dinominasikan untuk empat Piala Oscar dan meraup keuntungan finansial yang signifikan. Namun, sejak saat itu, karier Blomkamp dinilai terus menurun. Meskipun film-filmnya masih menghasilkan uang, penerimaan kritikus dan penonton semakin memburuk dari waktu ke waktu.

    Blomkamp juga dikenal memiliki banyak proyek film yang tidak pernah terealisasi, bahkan hingga memiliki halaman Wikipedia khusus yang mendokumentasikan proyek-proyek gagalnya. Selain itu, ia sempat mendirikan studio pengembangan game berbasis blockchain dan mendapat kecaman karena diduga tidak membayar karyawan selama berbulan-bulan.

    Kini, di tengah tekanan untuk membangun kembali namanya tanpa sumber daya yang ia miliki dulu, Blomkamp beralih ke kecerdasan buatan (AI). Pada Senin lalu, ia mengumumkan “NIGHTBORNE” yang dibuat menggunakan model AI asal China, Seedance 2.0. Ia juga meluncurkan Barley Studios, studio film AI barunya, dan berjanji akan memproduksi lebih banyak tontonan serupa.

    “Saya telah bereksperimen dengan AI selama beberapa tahun, dan sekarang sudah sampai pada titik di mana saya ingin menggarap film panjang dalam format ini,” ujar Blomkamp. Ia mengklaim film tersebut dibuat bersama konseptor seni asli dan menampilkan wajah serta suara dari 32 orang sungguhan.

    Namun, alih-alih membangkitkan antusiasme, film AI ini justru dihujani kritik pedas. Sebuah headline dari Aftermath menulis, “Jika Film AI Sampahnya Akhirnya Membuatmu Sadar Neill Blomkamp Itu Penipu, Maka Terimalah.” The Verge menyebutnya sebagai “slop warmed over” atau tayangan sampah yang dihangatkan. Para pengguna Reddit pun melabelinya sebagai “one hit wonder” yang telah beralih ke “mode AI slop” sepenuhnya.

    Fenomena ini menunjukkan bahwa penonton tidak lagi melihat sutradara yang mengadopsi AI sebagai pionir yang berada di garis depan teknologi. Sebaliknya, AI justru dianggap sebagai kemunduran karena pilihan artistik mereka dikendalikan oleh mesin yang hanya merata-ratakan karya seni yang lebih baik dari sebelumnya.

    Beralih ke AI tampaknya semakin menjadi “tanda kematian” bagi karier seorang sineas. Darren Aronofsky, misalnya, pernah membuat seri video animasi AI tentang Perang Revolusi Amerika yang mendapat cemoohan universal. Paul Schrader juga berulang kali memuji AI dan mengisyaratkan akan membuat film AI, namun kariernya tengah terpuruk setelah tuduhan pelecehan seksual.

    Blomkamp, yang dikenal karena visual gritty dan efek spesial inovatifnya, tampaknya tidak mampu menghadirkan sesuatu yang baru dalam film AI-nya. Citraan AI yang ia hasilkan terlihat generik dan tidak natural, bahkan mungkin lebih buruk dari kebanyakan karya AI lainnya. Gaya editing cepat dalam film tersebut seolah berusaha menutupi fakta bahwa model AI tidak dapat menghasilkan klip yang lebih panjang dari beberapa detik.

    Kritik terhadap langkah Blomkamp ini juga menyoroti bagaimana brand teknologi China terus mendorong adopsi AI di berbagai sektor, termasuk industri kreatif. Namun, adopsi yang tidak bijak justru dapat merusak reputasi para kreator.

    Fenomena Blomkamp bukanlah kasus isolasi. Banyak sineas yang merasa terdesak untuk mengikuti tren AI demi tetap relevan, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap kualitas karya dan persepsi audiens. Di tengah maraknya deepfake AI, pemerintah di berbagai negara mulai mencari solusi untuk mengatur penggunaan teknologi ini.

    Bagi Blomkamp, “NIGHTBORNE” bukanlah tiket untuk kembali ke puncak karier, melainkan batu nisan yang menandai akhir dari perjalanannya sebagai sutradara yang dihormati. Industri perfilman dan penonton kini menanti apakah ia akan mampu bangkit kembali, atau justru tenggelam dalam pusaran kontroversi AI yang ia ciptakan sendiri.

    Implikasinya jelas: bagi para sineas yang ingin tetap relevan, mengadopsi AI tanpa visi artistik yang kuat bukanlah solusi. Justru, hal itu dapat menjadi bumerang yang menghancurkan reputasi yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

  • Amazon Gabungkan Prime Video dengan Game Streaming Lewat Tab Games Baru

    Amazon Gabungkan Prime Video dengan Game Streaming Lewat Tab Games Baru

    JBNews.id — Amazon resmi meluncurkan tab Games baru di perangkat Fire TV, menandai langkah strategis untuk mengintegrasikan layanan game streaming Prime Gaming, Amazon Game Studios, dan Luna ke dalam ekosistem Prime Video. Langkah ini menargetkan pengguna kasual yang sudah menonton film, acara TV, dan olahraga melalui Prime Video, alih-alih bersaing langsung dengan gamer inti yang memainkan MMO dan game tembak-menembak.

    Keputusan Amazon ini diumumkan oleh eksekutif game Amazon, Jeff Gattis, dalam wawancara dengan The Verge bulan lalu. Strategi baru ini kini semakin jelas dengan hadirnya tab Games yang memungkinkan pengguna di Amerika Serikat dan Inggris mengakses langsung game-game seperti Dispatch, Fallout 4, Hogwarts Legacy, EA Sports FC 26, dan Clue melalui antarmuka Prime Video. Sebelumnya, Luna sudah termasuk dalam langganan Prime, tetapi kini aksesnya menjadi lebih terintegrasi.

    Amazon menyatakan bahwa “detail mengenai perangkat, negara, dan game tambahan” akan diumumkan kemudian. Ekspansi ini mirip dengan langkah Netflix yang baru-baru ini menambahkan game streaming yang bisa dimainkan di TV. Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter, Gattis mengakui bahwa Amazon “belum pernah membangun” dirinya sebagai platform game selama ini, dan menekankan peran kunci dari kekayaan intelektual (IP) Amazon seperti Tomb Raider dan James Bond.

    Target Audiens Kasual dan Integrasi Konten

    Tab Games juga menjadi tempat bagi Amazon untuk mempromosikan game-game terkait kepada orang-orang yang menonton kontennya di Prime Video. Contohnya adalah game ko-op kartu Masters of the Universe: Legends Unite, atau game pesta bertenaga AI berjudul Courtroom Chaos: Starring Arnold Schwarzenegger yang dirilis menjelang film liburan baru bintang tersebut untuk Amazon tahun ini.

    Langkah ini menunjukkan perubahan strategi Amazon dari upaya sebelumnya yang lebih fokus pada gamer inti. Dengan menggabungkan Prime Gaming, Amazon Game Studios, dan Luna ke dalam satu organisasi, Amazon kini menyasar audiens yang lebih luas—pengguna Prime Video yang sudah setia. Pendekatan ini mengurangi kebutuhan untuk bersaing langsung dengan platform game mapan seperti PlayStation, Xbox, atau PC gaming.

    Strategi serupa juga diterapkan oleh Netflix, yang mulai menambahkan game ke platformnya pada tahun 2021. Namun, Amazon memiliki keunggulan berupa perangkat keras Fire TV yang sudah terpasang di jutaan rumah tangga. Integrasi ini memungkinkan pengguna untuk langsung bermain game tanpa perlu perangkat tambahan, cukup dengan remote Fire TV atau controller yang kompatibel.

    Data dan Dampak Potensial

    Meskipun Amazon belum merilis data spesifik tentang jumlah pengguna layanan game-nya, langkah ini berpotensi meningkatkan keterlibatan pengguna Prime Video secara signifikan. Dengan lebih dari 200 juta pelanggan Prime di seluruh dunia, basis pengguna potensial sangat besar. Fokus pada game kasual juga berarti Amazon tidak perlu berinvestasi besar-besaran dalam judul-judul AAA yang mahal, melainkan dapat memanfaatkan IP yang sudah dimiliki.

    IP Tomb Raider dan James Bond yang disebutkan Gattis menunjukkan bahwa Amazon berencana menggunakan properti intelektualnya sendiri untuk menarik pengguna. Ini adalah strategi yang mirip dengan bagaimana Disney+ menggunakan franchise Marvel dan Star Wars untuk mendorong langganan. Dengan game yang terkait langsung dengan film atau serial Prime Video, Amazon menciptakan ekosistem konten yang saling memperkuat.

    Bagi pengguna di Indonesia, meskipun belum disebutkan dalam rilis awal, ekspansi ke negara lain kemungkinan akan menyusul. Amazon biasanya meluncurkan fitur baru di pasar utama AS dan Inggris terlebih dahulu sebelum merambah ke negara lain. Pengguna Fire TV di Indonesia yang berlangganan Prime Video mungkin harus menunggu pengumuman resmi dari Amazon mengenai ketersediaan tab Games di wilayah ini.

    Dalam konteks persaingan bisnis, langkah Amazon ini juga merupakan respons terhadap tren industri di mana perusahaan teknologi besar berlomba-lomba menguasai pasar game streaming. Microsoft dengan Xbox Cloud Gaming, Nvidia dengan GeForce Now, dan Sony dengan PlayStation Plus Premium adalah pesaing utama. Namun, dengan fokus pada pengguna kasual dan integrasi dengan Prime Video, Amazon mencoba membedakan diri dari pesaing yang lebih fokus pada gamer inti.

    Dari sisi teknis, tab Games di Fire TV mendukung berbagai controller, termasuk controller Xbox dan PlayStation, serta controller Luna yang dirancang khusus. Pengalaman bermain game melalui streaming juga bergantung pada kualitas koneksi internet, sehingga Amazon perlu memastikan infrastruktur cloud-nya memadai untuk memberikan pengalaman yang mulus.

    Amazon juga telah menunjukkan komitmennya pada inovasi di berbagai bidang lain. Misalnya, proyek satelit Amazon Leo yang bertujuan menyediakan akses internet broadband melalui 396 satelit, mirip dengan Starlink milik SpaceX. Proyek ini bisa menjadi fondasi infrastruktur yang mendukung layanan game streaming di masa depan, terutama di daerah dengan akses internet terbatas.

    Sementara itu, tantangan tetap ada. Amazon mengakui bahwa mereka “belum pernah membangun” dirinya sebagai platform game, yang berarti harus membangun kepercayaan dan basis pengguna dari awal. Selain itu, persaingan dengan Netflix yang juga memiliki layanan game streaming, serta platform lain, akan semakin ketat. Namun, dengan basis pengguna Prime yang besar dan integrasi yang mulus, Amazon memiliki potensi untuk menjadi pemain signifikan di pasar game streaming kasual.

    Implikasi bagi pengguna adalah kemudahan akses ke game tanpa perlu perangkat keras khusus. Cukup dengan Fire TV dan langganan Prime, pengguna bisa menikmati berbagai judul game langsung dari TV. Ini bisa menjadi daya tarik bagi keluarga yang mencari hiburan terintegrasi, di mana setelah menonton film, mereka bisa langsung bermain game tanpa harus berpindah perangkat atau platform.

    Ke depannya, pengumuman Amazon mengenai “detail tambahan” akan menjadi kunci untuk melihat sejauh mana strategi ini akan dijalankan. Apakah akan ada judul-judul eksklusif yang hanya bisa dimainkan melalui Prime Video? Atau apakah Amazon akan membuka platformnya untuk pengembang pihak ketiga? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah langkah Amazon ini akan menjadi game-changer atau sekadar tambahan fitur biasa.

    Bagi para pengamat industri, langkah Amazon ini menarik karena menunjukkan bagaimana batas antara layanan streaming video dan game semakin kabur. Perusahaan yang dulunya hanya dikenal sebagai toko buku online kini menjadi pemain di berbagai sektor hiburan, dari produksi film hingga game streaming. Ini adalah contoh nyata dari konvergensi media yang diprediksi oleh banyak analis.

    Dengan strategi yang lebih fokus pada pengguna kasual dan integrasi konten, Amazon berharap dapat menarik lebih banyak pengguna ke layanan Prime-nya. Jika berhasil, ini bisa menjadi model baru bagi perusahaan teknologi lain yang ingin memasuki pasar game tanpa harus berinvestasi besar-besaran dalam perangkat keras atau judul-judul mahal. Sementara itu, pengguna dapat menikmati lebih banyak pilihan hiburan dalam satu langganan yang sudah mereka miliki.