**JBNews.id —** Ekspedisi penjelajah gua asal Inggris pada awal 2026 menemukan 26 gua baru di kawasan karst Phong Nha-Ke Bang, Vietnam. Temuan ini memperkuat julukan kawasan tersebut sebagai ‘Kingdom of Caves’ atau Kerajaan Gua, salah satu bentang alam karst terkaya di dunia.
Meski telah diteliti selama lebih dari tiga dekade, kawasan yang diakui UNESCO ini masih menyimpan banyak misteri. Dalam ekspedisi terbaru, tim penjelajah tidak hanya menemukan gua-gua baru, tetapi juga memperluas pemetaan tiga gua yang telah diketahui sebelumnya.
Selama ekspedisi berlangsung, para peneliti berhasil memetakan lebih dari 13,6 kilometer lorong bawah tanah yang sebelumnya belum terdokumentasi. Angka ini menjadi bukti bahwa kawasan Phong Nha-Ke Bang masih memiliki potensi besar untuk terus dieksplorasi.
Eksplorasi Menantang di Gua Cha Ngheo
Salah satu eksplorasi paling menantang dilakukan di Gua Cha Ngheo, sebuah gua vertikal yang selama bertahun-tahun hanya diketahui keberadaan mulutnya oleh warga setempat. Tim beranggotakan 13 orang harus menembus hutan lebat selama lebih dari sehari sebelum mencapai pintu masuk gua.
Perjalanan berlanjut dengan menuruni tebing vertikal hampir 90 meter menggunakan ribuan meter tali panjat. Di kedalaman sekitar 350 meter, para peneliti menemukan lorong horizontal yang terhubung dengan sungai bawah tanah. Untuk melanjutkan eksplorasi, mereka harus berenang hampir 600 meter di dalam gua.

“Gua ini sangat dingin. Tanpa perlengkapan khusus untuk menjaga suhu tubuh, kami tidak akan bisa bertahan lama di dalamnya,” kata Dr. Howard Limbert, peneliti dari British Cave Research Association (BCRA), dikutip dari Voice of Vietnam, Jumat (31/7/2026).
Menurut Limbert, bagian gua yang berhasil dipetakan kemungkinan baru sebagian kecil dari keseluruhan sistem bawah tanah. “Gua ini masih memanjang jauh melewati area yang telah kami survei. Kami menduga gua ini merupakan bagian dari sistem bawah tanah yang jauh lebih besar,” ujarnya.
Baca Juga:
472 Gua Terdokumentasi dengan Total Lorong 254 Kilometer
Direktur Taman Nasional Phong Nha-Ke Bang, Pham Hong Thai, mengatakan kawasan tersebut kini memiliki sedikitnya 472 gua yang telah didokumentasikan, dengan total panjang lorong mencapai lebih dari 254 kilometer. Para ahli juga telah mengidentifikasi tujuh sistem gua utama, termasuk sistem Phong Nha, Vom, dan Nuoc Mooc.
Kekayaan geologi inilah yang membuat kawasan tersebut dijuluki sebagai Kerajaan Gua. Nama Phong Nha-Ke Bang juga dikenal sebagai lokasi Gua Son Doong, salah satu gua terbesar yang pernah ditemukan di Bumi. Gua tersebut ditemukan pada 2009 setelah lebih dari satu dekade pencarian.
Dengan panjang lebih dari 6,5 kilometer, Son Doong memiliki lorong raksasa, sungai bawah tanah, hingga dinding batu kapur raksasa yang dijuluki Great Wall of Vietnam. Keberadaan gua ini menjadi daya tarik utama bagi para peneliti dan wisatawan dari seluruh dunia.
Menurut para peneliti, penemuan terbaru bukan hanya memperkaya data geologi Vietnam, tetapi juga membantu memahami proses pembentukan bentang alam karst tropis yang berlangsung selama jutaan tahun. “Temuan ini memberikan bukti ilmiah penting untuk penelitian geologi dan geomorfologi sekaligus memperkuat nilai universal kawasan Phong Nha-Ke Bang,” kata Profesor Phuong.
Ekspedisi ini menunjukkan bahwa kerja keras dan ketelitian para peneliti masih sangat dibutuhkan untuk mengungkap misteri alam yang belum terjamah. Kawasan Phong Nha-Ke Bang membuktikan bahwa bumi masih menyimpan banyak keajaiban yang menunggu untuk ditemukan.
Perkembangan teknologi eksplorasi juga turut membantu para peneliti dalam memetakan gua-gua bawah tanah dengan lebih akurat. Hal ini sejalan dengan tren pemanfaatan teknologi di berbagai bidang, termasuk chip AI terbaru yang kini juga merambah ke sektor eksplorasi dan penelitian ilmiah.
Bagi masyarakat umum, temuan ini menjadi pengingat bahwa Indonesia juga memiliki potensi karst yang besar. Kawasan karst di berbagai wilayah Indonesia juga menyimpan keanekaragaman geologi yang layak untuk terus diteliti dan dilestarikan.
Ke depannya, para peneliti berharap dapat terus melanjutkan eksplorasi di kawasan Phong Nha-Ke Bang untuk mengungkap lebih banyak lagi sistem gua yang belum terdokumentasi. Setiap penemuan baru membuka peluang penelitian lebih lanjut mengenai sejarah geologi dan evolusi bentang alam di kawasan Asia Tenggara.
Data yang terkumpul dari ekspedisi ini juga akan menjadi referensi penting bagi para ilmuwan di seluruh dunia dalam memahami dinamika pembentukan gua karst tropis. Kolaborasi internasional seperti ini membuktikan bahwa penelitian ilmiah tidak mengenal batas negara.
