Toilet ISS Rp 416 M Ubah Urine Jadi Air Minum Astronaut

Toilet ISS Universal Waste Management System yang mengubah urine menjadi air minum di Stasiun Luar Angkasa Internasional

JBNews.id — Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) mengoperasikan toilet luar angkasa senilai USD 23 juta atau sekitar Rp 416 miliar yang mampu memulihkan 98% air dari urine, keringat, dan uap napas astronaut hingga layak diminum kembali. Teknologi bernama Universal Waste Management System (UWMS) ini menjadi tulang punggung sistem pendukung kehidupan di orbit, di mana setiap tetes air tidak boleh terbuang sia-sia.

Di lingkungan tanpa gravitasi, air tidak mengalir ke bawah seperti di Bumi. Karena itu, toilet ISS memanfaatkan aliran udara berkecepatan tinggi untuk mengarahkan limbah. Urine kemudian dipisahkan menuju unit pengolah yang menggunakan sentrifus, alat yang menciptakan gravitasi buatan sehingga air dapat dipisahkan dari zat-zat lain.

Setelah melewati sentrifus, air menjalani beberapa tahap penyaringan, pemurnian kimia, hingga sterilisasi sebelum dinyatakan aman untuk diminum. Menurut NASA, kualitas air hasil daur ulang bahkan memenuhi standar yang lebih ketat dibanding banyak sistem air minum perkotaan di Amerika Serikat.

Dikutip dari laporan SpaceDaily, setiap 100 liter urine, keringat, dan uap air yang masuk ke sistem akan kembali menjadi sekitar 98 liter air minum. Sisanya hanya sekitar 2% berupa limbah pekat yang tidak dapat diproses lagi.

International Space Station (ISS) expedition 46/47 crew member, Russian cosmonaut Sergei Volkov performs a spacewalk outside the ISS in this Roscosmos image released on February 7, 2016. REUTERS/Roscosmos/Handout via Reuters ATTENTION EDITORS - THIS PICTURE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. REUTERS IS UNABLE TO INDEPENDENTLY VERIFY THE AUTHENTICITY, CONTENT, LOCATION OR DATE OF THIS IMAGE. FOR EDITORIAL USE ONLY. NOT FOR SALE FOR MARKETING OR ADVERTISING CAMPAIGNS. FOR EDITORIAL USE ONLY. NO RESALES. NO ARCHIVE. THIS PICTURE IS DISTRIBUTED EXACTLY AS RECEIVED BY REUTERS, AS A SERVICE TO CLIENTS.

Alasan Astronaut Harus Minum Air Daur Ulang

Mengirim air dari Bumi ke luar angkasa sangat mahal. Setiap liter air memiliki massa sekitar satu kilogram sehingga membutuhkan biaya peluncuran yang besar. Karena itu, NASA mengembangkan sistem pendukung kehidupan tertutup (closed-loop life support system) agar air bisa terus digunakan berulang kali selama misi berlangsung.

Teknologi ini menjadi kunci bagi misi jangka panjang ke Bulan hingga Mars, yang tidak memungkinkan pasokan air dikirim secara rutin dari Bumi. Semakin tinggi tingkat daur ulang air, semakin sedikit pasokan yang harus dibawa dari Bumi, sehingga misi antariksa jarak jauh menjadi lebih realistis.

Inovasi ini juga sejalan dengan perkembangan teknologi lain di sektor antariksa dan robotika. Sebagai perbandingan, para ilmuwan baru-baru ini mengembangkan Kecoa Cyborg dengan alat selam bawah air untuk eksplorasi lingkungan ekstrem.

Perjalanan Empat Dekade NASA

Teknologi ini bukan hasil penelitian singkat. Butuh waktu sekitar empat dekade bagi NASA untuk menyempurnakan sistem daur ulang ini. NASA mulai mengembangkannya sejak era 1970-an untuk mendukung misi luar angkasa berdurasi panjang.

Berbagai prototipe sempat mengalami kegagalan sebelum akhirnya sistem yang digunakan saat ini dipasang di ISS. Tingkat efisiensinya terus meningkat hingga mencapai sekitar 98% setelah penambahan teknologi pemrosesan limbah pekat (brine processor).

Ke depan, teknologi serupa diproyeksikan digunakan pada wahana menuju Bulan dan Mars. Sistem pendukung kehidupan tertutup ini akan menjadi fondasi bagi keberlanjutan eksplorasi manusia di luar orbit Bumi.

Pengembangan teknologi antariksa juga beriringan dengan inovasi di sektor lain. Misalnya, Meta Larang Konten pelecehan dari kacamata AI untuk menjaga keamanan pengguna teknologi wearable. Sementara itu, Iklan Meta menggunakan lagu David Bowie juga menuai kontroversi di industri kreatif.

Keberhasilan sistem daur ulang air di ISS membuktikan bahwa teknologi pemurnian canggih dapat bekerja di lingkungan paling ekstrem sekalipun. Dengan efisiensi 98%, hampir seluruh air yang masuk ke sistem dapat digunakan kembali, menjadikan ISS sebagai contoh nyata pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.

Bagi misi antariksa masa depan, teknologi ini bukan sekadar kenyamanan, melainkan kebutuhan mutlak. Tanpa sistem daur ulang yang efisien, misi ke Bulan dan Mars tidak akan pernah terwujud karena biaya pengiriman air dari Bumi akan menjadi penghalang terbesar.

Dengan tingkat daur ulang yang terus meningkat, NASA membuktikan bahwa inovasi teknologi dapat mengatasi keterbatasan sumber daya. Sistem yang awalnya dirancang untuk bertahan hidup di orbit kini menjadi cetak biru bagi eksplorasi antariksa generasi berikutnya.

JBNews.id — Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) mengoperasikan toilet luar angkasa senilai USD 23 juta atau sekitar Rp 416 miliar yang mampu memulihkan 98% air dari urine, keringat, dan uap napas astronaut hingga layak diminum kembali. Teknologi bernama Universal Waste Management System (UWMS) ini menjadi tulang punggung sistem pendukung kehidupan di orbit, di mana setiap tetes air tidak boleh terbuang sia-sia.

Di lingkungan tanpa gravitasi, air tidak mengalir ke bawah seperti di Bumi. Karena itu, toilet ISS memanfaatkan aliran udara berkecepatan tinggi untuk mengarahkan limbah. Urine kemudian dipisahkan menuju unit pengolah yang menggunakan sentrifus, alat yang menciptakan gravitasi buatan sehingga air dapat dipisahkan dari zat-zat lain.

Setelah melewati sentrifus, air menjalani beberapa tahap penyaringan, pemurnian kimia, hingga sterilisasi sebelum dinyatakan aman untuk diminum. Menurut NASA, kualitas air hasil daur ulang bahkan memenuhi standar yang lebih ketat dibanding banyak sistem air minum perkotaan di Amerika Serikat.

Dikutip dari laporan SpaceDaily, setiap 100 liter urine, keringat, dan uap air yang masuk ke sistem akan kembali menjadi sekitar 98 liter air minum. Sisanya hanya sekitar 2% berupa limbah pekat yang tidak dapat diproses lagi.

International Space Station (ISS) expedition 46/47 crew member, Russian cosmonaut Sergei Volkov performs a spacewalk outside the ISS in this Roscosmos image released on February 7, 2016.

Alasan Astronaut Harus Minum Air Daur Ulang

Mengirim air dari Bumi ke luar angkasa sangat mahal. Setiap liter air memiliki massa sekitar satu kilogram sehingga membutuhkan biaya peluncuran yang besar. Karena itu, NASA mengembangkan sistem pendukung kehidupan tertutup (closed-loop life support system) agar air bisa terus digunakan berulang kali selama misi berlangsung.

Teknologi ini menjadi kunci bagi misi jangka panjang ke Bulan hingga Mars, yang tidak memungkinkan pasokan air dikirim secara rutin dari Bumi. Semakin tinggi tingkat daur ulang air, semakin sedikit pasokan yang harus dibawa dari Bumi, sehingga misi antariksa jarak jauh menjadi lebih realistis.

Inovasi ini juga sejalan dengan perkembangan teknologi lain di sektor antariksa dan robotika. Sebagai perbandingan, para ilmuwan baru-baru ini mengembangkan Kecoa Cyborg dengan alat selam bawah air untuk eksplorasi lingkungan ekstrem.

Perjalanan Empat Dekade NASA

Teknologi ini bukan hasil penelitian singkat. Butuh waktu sekitar empat dekade bagi NASA untuk menyempurnakan sistem daur ulang ini. NASA mulai mengembangkannya sejak era 1970-an untuk mendukung misi luar angkasa berdurasi panjang.

Berbagai prototipe sempat mengalami kegagalan sebelum akhirnya sistem yang digunakan saat ini dipasang di ISS. Tingkat efisiensinya terus meningkat hingga mencapai sekitar 98% setelah penambahan teknologi pemrosesan limbah pekat (brine processor).

Ke depan, teknologi serupa diproyeksikan digunakan pada wahana menuju Bulan dan Mars. Sistem pendukung kehidupan tertutup ini akan menjadi fondasi bagi keberlanjutan eksplorasi manusia di luar orbit Bumi.

Pengembangan teknologi antariksa juga beriringan dengan inovasi di sektor lain. Misalnya, Meta Larang Konten pelecehan dari kacamata AI untuk menjaga keamanan pengguna teknologi wearable. Sementara itu, Iklan Meta menggunakan lagu David Bowie juga menuai kontroversi di industri kreatif.

Keberhasilan sistem daur ulang air di ISS membuktikan bahwa teknologi pemurnian canggih dapat bekerja di lingkungan paling ekstrem sekalipun. Dengan efisiensi 98%, hampir seluruh air yang masuk ke sistem dapat digunakan kembali, menjadikan ISS sebagai contoh nyata pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.

Bagi misi antariksa masa depan, teknologi ini bukan sekadar kenyamanan, melainkan kebutuhan mutlak. Tanpa sistem daur ulang yang efisien, misi ke Bulan dan Mars tidak akan pernah terwujud karena biaya pengiriman air dari Bumi akan menjadi penghalang terbesar.

Dengan tingkat daur ulang yang terus meningkat, NASA membuktikan bahwa inovasi teknologi dapat mengatasi keterbatasan sumber daya. Sistem yang awalnya dirancang untuk bertahan hidup di orbit kini menjadi cetak biru bagi eksplorasi antariksa generasi berikutnya.