Jbnews.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mencatat lonjakan signifikan kasus penyakit tidak menular (PTM) sepanjang 2025, dengan hipertensi mencapai 198.980 kasus dan diabetes melitus sebanyak 44.218 kasus. Data ini menjadi sinyal peringatan serius bagi sistem kesehatan kota, terutama karena tren penyakit kini mulai merambah kelompok usia produktif dan anak-anak.
Sekretaris Dinkes Kota Bandung, Dewi Ira Jani, mengungkapkan bahwa perubahan pola penyakit saat ini sudah bergeser secara drastis. Tidak lagi menunggu usia lanjut, penyakit seperti hipertensi, diabetes, dan jantung kini mulai menyerang usia muda. “Sekarang tak mesti menunggu usia tua untuk terkena hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Jbnews.id.
Data Dinkes Kota Bandung juga menyoroti meningkatnya kasus obesitas pada anak. Berdasarkan hasil penjaringan di sekolah-sekolah, jumlah anak dengan berat badan berlebih terus bertambah setiap tahunnya. Kondisi ini dinilai sebagai faktor risiko utama yang dapat memicu penyakit kronis di masa depan. Jika tidak segera diintervensi, anak-anak yang mengalami obesitas berpotensi besar mengidap penyakit degeneratif saat memasuki usia produktif.
Intervensi Kesehatan Dimulai dari Sekolah
Dewi menegaskan bahwa sekolah menjadi titik awal strategis dalam membangun kebiasaan hidup sehat. Menurutnya, intervensi pada anak-anak dinilai paling efektif karena kebiasaan mereka masih bisa dibentuk. “Orang dewasa sudah punya kebiasaan, sehingga lebih sulit diubah. Berbeda dengan anak-anak yang masih bisa dibentuk. Karena itu kita mulai dari sekolah,” jelasnya.
Konsep yang ditawarkan Dinkes Kota Bandung tidak hanya menyasar siswa secara individu, tetapi juga melibatkan seluruh ekosistem sekolah. Ini mencakup orangtua, guru, hingga pedagang di sekitar sekolah. Dewi menekankan bahwa semua pihak memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pola makan sehat.
Pendekatan ini menjadi krusial mengingat anak-anak saat ini adalah generasi produktif yang akan menjadi tulang punggung menuju Indonesia Emas 2045. Jika sejak dini mereka sudah terpapar risiko penyakit kronis, maka target pembangunan sumber daya manusia unggul bisa terancam.
Data dan Implikasi Kesehatan Masyarakat
Angka 198.980 kasus hipertensi dan 44.218 diabetes melitus di Kota Bandung pada 2025 menunjukkan bahwa PTM telah menjadi beban kesehatan utama. Hipertensi sendiri merupakan faktor risiko utama untuk penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal. Sementara diabetes melitus dapat menyebabkan komplikasi serius seperti kebutaan, amputasi, dan kerusakan saraf.
Meningkatnya kasus obesitas pada anak menambah kekhawatiran. Obesitas pada anak tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga psikologis dan sosial. Anak dengan obesitas lebih rentan mengalami tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan resistensi insulin sejak usia dini.
Dewi mengingatkan bahwa intervensi pencegahan harus dilakukan secara komprehensif. Tidak cukup hanya dengan edukasi di sekolah, tetapi juga perlu pengawasan terhadap makanan yang dijual di kantin dan lingkungan sekitar sekolah. “Konsep ekosistem pangan sehat tak cuma menyasar siswa, tetapi melibatkan orangtua, guru, hingga pedagang di sekitar sekolah,” tegasnya.
Data ini menjadi panggilan bagi pemerintah kota dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat program pencegahan PTM sejak usia dini. Tanpa intervensi yang serius, tren peningkatan kasus diperkirakan akan terus berlanjut dan membebani sistem kesehatan di masa depan.
