JBNews.id — Misi penyelamatan darurat NASA terhadap teleskop Swift berakhir dengan kegagalan setelah pesawat antariksa robotik LINK yang dikembangkan Katalyst Space Technologies justru kehilangan kendali dan berputar tak terkendali di orbit.
Setelah diluncurkan pada 3 Juli 2026, pesawat antariksa LINK mulai mengalami masalah serius. NASA mengakui dalam pembaruan terbarunya bahwa “pesawat antariksa mengalami masalah dengan kontrol sikap, menyebabkan pesawat antariksa berputar dan mengakibatkan komunikasi yang sporadis.”
Investigasi awal mengungkapkan bahwa dua dari tiga roda reaksi LINK tidak dapat beroperasi. Roda reaksi adalah roda gila yang digerakkan motor dan digunakan untuk kontrol sikap pesawat antariksa. Selain itu, ada juga hilangnya fungsionalitas pada sistem pendorong gas dinginnya.
“Dua dari tiga roda reaksi LINK saat ini tidak dapat beroperasi, dan ada beberapa hilangnya fungsionalitas pada sistem pendorong gas dinginnya,” catat badan antariksa tersebut.
Meskipun subsistem LINK lainnya masih berfungsi dan memungkinkan tim darat untuk berkomunikasi dengan pesawat antariksa, situasi ini sangat kritis. Tim Katalyst berharap dapat menghentikan putaran LINK sebelum mengevaluasi kembali bagaimana melanjutkan misi penyelamatan, jika memungkinkan.
Namun, pesawat antariksa yang berputar tak terkendali adalah hal terakhir yang dibutuhkan teleskop Swift di sekitarnya. Waktu terus berjalan cepat. Tanpa dorongan, teleskop yang sudah berusia hampir 22 tahun ini ditakdirkan untuk terbakar di atmosfer Bumi dalam beberapa bulan mendatang.
Swift saat ini merupakan satu-satunya teleskop orbital yang dapat mendeteksi semburan sinar gamma, ledakan paling kuat di alam semesta. Teleskop ini telah lama melebihi masa pakai yang direncanakan semula.
Kontrak dengan Katalyst Space Technologies bernilai 30 juta dolar AS, yang relatif kecil dibandingkan miliaran dolar yang dikeluarkan NASA untuk mengembalikan astronot ke Bulan. Bahkan sebelum LINK diluncurkan dan mulai berputar di luar kendali, para pejabat badan antariksa sudah puas dengan kesediaan NASA untuk mencobanya.
“Dari sudut pandang programatik, saya sudah menganggap ini sebagai kesuksesan, hanya dari fakta bahwa kita bahkan akan mencoba ini,” kata direktur astrofisika NASA Shawn Domagal-Goldman kepada Ars Technica bulan lalu.
Kegagalan ini menjadi pukulan telak bagi upaya NASA memperpanjang umur teleskop Swift. Tanpa intervensi, teleskop yang telah memberikan data berharga tentang ledakan kosmik selama lebih dari dua dekade ini akan segera berakhir.
Misi penyelamatan Swift sebenarnya sudah dianggap sangat berisiko sejak awal. NASA mengumumkan rencana peluncuran misi berbahaya ini bulan lalu dengan harapan dapat mendorong Swift ke orbit yang lebih stabil.
Pesawat antariksa LINK dirancang khusus sebagai “space tug” atau kapal tunda antariksa untuk membantu observatorium yang menua. Namun, kegagalan roda reaksi dan sistem pendorong membuatnya justru menjadi ancaman baru di orbit.
Para insinyur Katalyst Space Technologies kini bekerja keras untuk memulihkan kendali atas LINK. Jika berhasil menghentikan putaran, mereka akan mengevaluasi apakah misi penyelamatan masih dapat dilanjutkan atau harus dibatalkan sama sekali.
Kasus ini menunjukkan betapa kompleksnya operasi antariksa, terutama yang melibatkan penyelamatan aset yang sudah menua. Bahkan dengan perencanaan matang, risiko kegagalan tetap tinggi.
Sementara itu, komunitas astronomi global mengkhawatirkan hilangnya kemampuan deteksi semburan sinar gamma. Swift adalah satu-satunya teleskop yang dirancang khusus untuk tugas ini, dan tidak ada pengganti langsung yang siap diluncurkan dalam waktu dekat.
NASA sendiri telah beberapa kali melakukan misi perbaikan dan penyelamatan di orbit, termasuk misi servis Teleskop Luar Angkasa Hubble yang legendaris. Namun, misi kali ini berbeda karena menggunakan pendekatan komersial dengan kontraktor swasta.
Kegagalan LINK juga menimbulkan pertanyaan tentang keandalan teknologi komersial untuk misi penyelamatan antariksa yang kritis. Meskipun kontrak senilai 30 juta dolar AS tergolong murah untuk standar NASA, hasilnya belum sesuai harapan.
Di sisi lain, Direktur Astrofisika NASA Shawn Domagal-Goldman tetap optimis. Baginya, keberanian untuk mencoba sudah merupakan pencapaian tersendiri. “Dari sudut pandang programatik, saya sudah menganggap ini sebagai kesuksesan,” ujarnya.
Pandangan ini mencerminkan perubahan paradigma di NASA yang semakin terbuka terhadap risiko dalam misi-misi eksplorasi dan penyelamatan. Dengan anggaran yang terbatas, badan antariksa AS harus pintar-pintar memilih misi mana yang layak didanai.
Kontrak 30 juta dolar AS untuk Katalyst Space Technologies memang kecil dibandingkan total pengeluaran NASA. Namun, bagi perusahaan kecil seperti Katalyst, kegagalan ini bisa menjadi pukulan reputasi yang serius.
Tim Katalyst kini berlomba dengan waktu. Setiap hari yang berlalu tanpa pemulihan kendali atas LINK berarti semakin dekatnya akhir bagi teleskop Swift. Atmosfer Bumi akan menariknya turun dalam beberapa bulan ke depan.
Swift diluncurkan pada November 2004 dan dirancang untuk masa pakai sekitar dua tahun. Namun, teleskop ini telah beroperasi selama hampir 22 tahun, jauh melampaui ekspektasi. Selama itu, Swift telah mendeteksi ribuan semburan sinar gamma dan memberikan wawasan baru tentang lubang hitam, bintang neutron, dan ledakan supernova.
Kehilangan Swift akan menjadi kerugian besar bagi sains. Tidak ada teleskop lain yang dapat menggantikan kemampuannya untuk dengan cepat mengarahkan instrumen ke semburan sinar gamma dan mempelajarinya dalam berbagai panjang gelombang.
Beberapa misi baru seperti Teleskop Luar Angkasa James Webb dan Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman memiliki kemampuan inframerah yang canggih, tetapi tidak dirancang khusus untuk deteksi semburan sinar gamma.
NASA kini harus memutuskan apakah akan mengalokasikan dana untuk misi penyelamatan baru atau menerima kehilangan Swift dan fokus pada pengembangan teleskop generasi berikutnya. Keputusan ini akan bergantung pada hasil evaluasi tim Katalyst dalam beberapa minggu mendatang.
Kegagalan misi LINK juga menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya redundansi sistem dalam misi antariksa. Dengan hanya tiga roda reaksi, kehilangan dua sudah cukup untuk melumpuhkan kemampuan kontrol sikap pesawat antariksa.
Untuk misi-misi serius di masa depan, desain dengan empat roda reaksi atau lebih mungkin perlu dipertimbangkan untuk memberikan ruang kegagalan yang lebih besar. Hal ini terutama penting untuk misi penyelamatan yang harus dapat diandalkan dalam situasi kritis.
Meskipun situasi saat ini suram, masih ada secercah harapan. Subsistem LINK lainnya masih berfungsi, dan tim darat masih dapat berkomunikasi dengan pesawat antariksa. Jika tim Katalyst berhasil menghentikan putaran, mungkin masih ada peluang untuk menyelamatkan misi.
Namun, waktu adalah musuh terbesar. Setiap hari yang terbuang berarti teleskop Swift semakin mendekati orbit yang tidak dapat diselamatkan lagi. Keputusan cepat dan tepat diperlukan dari semua pihak yang terlibat.
Bagi pembaca yang tertarik dengan perkembangan misi antariksa NASA lainnya, artikel tentang Misi Helikopter Skyfall ke Mars dan Simulasi Mars selama setahun dapat memberikan gambaran lebih luas tentang ambisi eksplorasi badan antariksa AS.
Kisah penyelamatan Swift yang berakhir tragis ini mengingatkan kita bahwa eksplorasi antariksa penuh dengan risiko. Namun, tanpa keberanian untuk mengambil risiko, kemajuan tidak akan pernah tercapai. Seperti kata Domagal-Goldman, keberanian untuk mencoba sudah merupakan kesuksesan tersendiri.
Kini, semua mata tertuju pada tim Katalyst Space Technologies. Bisakah mereka membalikkan keadaan dan menyelamatkan misi penyelamatan Swift? Atau akankah teleskop legendaris ini mengakhiri perjalanannya di atmosfer Bumi dalam beberapa bulan ke depan? Jawabannya akan segera diketahui.
