JBNews.id — SpaceSail, proyek internet satelit yang didukung penuh oleh pemerintah China, resmi menantang dominasi Starlink milik Elon Musk. Dengan modal awal 6,7 miliar yuan, perusahaan ini telah mengamankan kontrak di Brasil dan Kazakhstan, serta bernegosiasi dengan 30 negara.
Starlink milik Elon Musk telah lama mendominasi industri internet satelit. Namun, posisinya kini mulai terusik oleh kehadiran SpaceSail, sebuah proyek ambisius asal China yang siap merebut pangsa pasar global.
Saat ini, SpaceSail hanya memiliki beberapa ratus satelit di orbit Bumi rendah, jauh tertinggal dari Starlink yang mengoperasikan lebih dari 10.000 satelit. Meski demikian, perusahaan tersebut mengklaim telah memiliki cukup satelit untuk memulai aplikasi komersial pertamanya, yaitu melacak kapal maritim di laut.
Latar Belakang dan Pendanaan SpaceSail
Proyek ini secara resmi disebut SpaceSail Constellation dalam bahasa Inggris, atau Qianfan (Seribu Layar) dalam Bahasa Mandarin. SpaceSail diluncurkan pada tahun 2023 oleh perusahaan yang didukung negara, Shanghai Spacecom Satellite Technology (SSST). Tujuan utamanya adalah menyediakan internet broadband berkecepatan tinggi, aman, dan andal di seluruh dunia.
Menurut Lan Xinzhen, komentator di majalah Beijing Review yang berafiliasi dengan negara, SpaceSail juga diluncurkan dengan mempertimbangkan keamanan nasional. Proyek ini pada akhirnya dapat mendukung proyek luar negeri, perdagangan laut, dan misi diplomatik tanpa bergantung pada perusahaan atau infrastruktur Barat.
SSST didukung oleh lembaga penelitian yang dikelola negara, Akademi Ilmu Pengetahuan China, dan Pemerintah Kota Shanghai. Pendanaan awal proyek ini mencapai 6,7 miliar yuan. Hingga saat ini, proyek tersebut tetap sepenuhnya didanai oleh China, dengan investasi terbatas pada entitas korporasi atau organisasi ekonomi yang berbasis di negara tersebut, tidak termasuk Hong Kong dan Makau.
Informasi mengenai skala operasi SpaceSail memang terbatas. Menurut Qichacha, platform informasi bisnis China, SSST memiliki 343 karyawan pada tahun 2024. Halaman LinkedIn resminya mencantumkan 201-500 karyawan, sementara platform karier China Jobui mengatakan perusahaan tersebut merekrut 224 posisi pada tahun yang sama.
Perkembangan Peluncuran Satelit
SpaceSail meluncurkan satelit pertamanya pada Agustus 2024, mengirimkan 18 satelit panel datar dengan roket Long March 6A. Kelompok kedua yang terdiri dari 18 satelit diluncurkan dua bulan kemudian, sebelum kelompok ketiga yang terdiri dari 18 satelit pada bulan Desember.
Saat ini, terdapat setidaknya 200 satelit SpaceSail aktif di orbit Bumi, setelah peluncuran ke-12 dan terbaru dengan roket Long March 8 pada Juni 2026. Perusahaan tersebut menegaskan bahwa mereka sekarang memiliki cukup satelit untuk memulai aplikasi komersial pertamanya, yaitu melacak kapal maritim di laut.
SpaceSail bertujuan untuk memulai layanan komersial yang lebih luas pada akhir tahun 2026, dengan jumlah total satelit aktif yang mengorbit diperkirakan mencapai 648. Konstelasi satelitnya pada akhirnya akan terdiri dari lebih dari 15.000 satelit, cukup untuk menyediakan cakupan global penuh.
Menurut Blaine Curcio, pendiri perusahaan Orbital Gateway Consulting yang berbasis di Hong Kong, SpaceSail dengan sengaja menargetkan tempat-tempat di mana Starlink menghadapi masalah politik atau regulasi.
Baca Juga:
Perbandingan SpaceSail dengan Starlink
Starlink adalah pemimpin industri dengan lebih dari 12 juta pengguna aktif di 160 negara dan wilayah. Perusahaan ini mengoperasikan konstelasi sekitar 10.413 satelit, dengan rencana hingga 42.000 satelit. SpaceSail jelas jauh tertinggal, namun memiliki ambisi besar.
SpaceSail mengatakan akan memiliki lebih dari 10.000 satelit yang beroperasi di orbit rendah pada akhir tahun 2030. Perusahaan ini juga dilaporkan sedang bernegosiasi dengan 30 negara untuk meluncurkan layanannya.
Keberhasilan SpaceSail mulai terlihat sebagai alternatif Starlink di tempat-tempat di mana kesepakatan dengan perusahaan Musk gagal. Mereka telah mengamankan kontrak besar di Brasil, di mana pihak berwenang berselisih dengan Musk pada tahun 2024 terkait dugaan kegagalan memoderasi konten di platform media sosialnya, X. Pada bulan Februari, badan pengatur telekomunikasi Brasil, Anatel, mengizinkan SpaceSail untuk memulai layanan komersial.
SpaceSail juga telah membuat kemajuan di Kazakhstan, dengan mendaftarkan anak perusahaan di negara tersebut pada Januari 2025. Starlink gagal masuk ke Kazakhstan karena persyaratan penyimpanan data dan keamanan. Pada bulan Desember, SpaceSail menandatangani kesepakatan dengan produsen pesawat Eropa, Airbus, untuk memasukkan SpaceSail sebagai opsi WiFi dalam penerbangan.
Persaingan ini menunjukkan bagaimana faktor geopolitik mulai memengaruhi industri teknologi. Sementara itu, tren serupa juga terlihat di industri lain, seperti yang dilaporkan dalam artikel tentang SK Hynix Salip Samsung yang menunjukkan perubahan peta kekuatan di sektor semikonduktor.
Di sisi lain, efisiensi biaya menjadi perhatian utama banyak perusahaan teknologi. Fenomena biaya AI membengkak membuat perusahaan mulai mengurangi penggunaan teknologi tersebut, sebuah pelajaran yang relevan bagi SpaceSail yang membutuhkan investasi besar untuk mencapai targetnya.
Implikasi dan Dampak Pasar
Persaingan antara SpaceSail dan Starlink membawa implikasi besar bagi industri telekomunikasi global. Kehadiran SpaceSail memberikan alternatif bagi negara-negara yang enggan bergantung pada infrastruktur Barat, terutama dalam hal keamanan data dan kedaulatan digital.
Bagi pengguna di Indonesia, persaingan ini berpotensi menurunkan biaya akses internet satelit. Jika SpaceSail berhasil masuk ke pasar Asia Tenggara, konsumen akan memiliki lebih banyak pilihan penyedia layanan internet broadband.
Namun, tantangan terbesar SpaceSail adalah mencapai skala ekonomi yang sebanding dengan Starlink. Dengan lebih dari 10.000 satelit yang sudah beroperasi, Starlink memiliki keunggulan dalam hal kecepatan, kapasitas, dan jangkauan layanan.
Ke depannya, persaingan ini akan sangat bergantung pada kemampuan SpaceSail untuk menarik mitra komersial dan mendapatkan izin regulasi di berbagai negara. Kesepakatan dengan Airbus menjadi sinyal positif bahwa perusahaan Eropa mulai melirik SpaceSail sebagai opsi yang layak.
Bagi para pengamat industri, perkembangan ini menunjukkan bahwa era monopoli Starlink akan segera berakhir. Pasar internet satelit global akan semakin kompetitif, dengan konsekuensi positif bagi konsumen dalam bentuk harga yang lebih terjangkau dan layanan yang lebih beragam.
