JBNews.id — Pemerintah AS memerintahkan Anthropic untuk mencabut akses model AI canggih Claude Mythos dan Fable 5 bagi warga negara asing pada Jumat lalu, menyusul kekhawatiran keamanan nasional yang dipicu oleh laporan Amazon tentang kerentanan sistem dan keterlibatan SK Telecom, operator telekomunikasi asal Korea Selatan.
Keputusan ini diambil setelah Amazon melaporkan kerentanan pada Fable 5—versi yang sangat diamankan dari Mythos yang dirilis pada 9 Juni—kepada Gedung Putih. Para peneliti Amazon mengklaim bahwa beberapa perlindungan Fable 5 dapat dielakkan, sehingga memungkinkan akses ke kemampuan siber Mythos yang dahsyat. Meskipun Anthropic dan pakar keamanan siber eksternal berpendapat risiko ini tidak unik pada Claude, rangkaian peristiwa ini mendorong Gedung Putih untuk menyimpulkan bahwa mereka tidak dapat mempercayai Anthropic dalam menjaga teknologi AI paling canggihnya.
Alih-alih membatasi akses berdasarkan kewarganegaraan—sebuah proses yang sulit diterapkan sambil tetap menjaga privasi—Anthropic memilih untuk menonaktifkan akses ke model tersebut sepenuhnya. Gedung Putih dan Anthropic masih berselisih setelah negosiasi berhari-hari tentang kemungkinan mengaktifkan kembali Claude Mythos dan Fable 5.
Keterlibatan SK Telecom dalam Program Project Glasswing
Claude Mythos memiliki kemampuan luar biasa dalam mengidentifikasi kerentanan perangkat lunak. Oleh karena itu, Anthropic membatasi akses awal ke sekelompok kecil organisasi tepercaya melalui program bernama Project Glasswing. Awal bulan ini, SK Telecom, operator nirkabel terbesar di Korea Selatan, menjadi salah satu dari sekitar 150 perusahaan yang menerima akses ke Mythos saat Anthropic memperluas program tersebut.
SK Telecom telah menanamkan modal ke Anthropic beberapa kali, termasuk investasi sebesar $100 juta pada tahun 2023 yang bertepatan dengan pembentukan kemitraan komersial untuk mengembangkan model AI yang disesuaikan dengan industri telekomunikasi. Perusahaan ini juga menjadi salah satu dari beberapa organisasi Korea yang berpartisipasi dalam Project Glasswing, bersama dengan Samsung Electronics dan Korea Internet and Security Agency.
Tak lama setelah Anthropic mengumumkan perluasan Project Glasswing, Gedung Putih meminta Anthropic untuk mencabut akses SK Telecom ke Mythos. Perusahaan tersebut segera mematuhinya, dan pemerintah AS tidak mengancam akan memberlakukan kontrol ekspor pada model tersebut saat itu.
Baca Juga:
Jejak Bisnis SK Telecom di China
Meskipun SK Telecom sendiri tidak memiliki operasi besar di China, perusahaan ini merupakan bagian dari konglomerat yang lebih besar bernama SK Group, yang afiliasinya memiliki kepentingan bisnis yang luas di China, meliputi semikonduktor, energi, dan industri lainnya. Pada tahun 2024, SK Telecom hanya menghasilkan sekitar $1,9 juta pendapatan dari China, terutama dari aktivitas terkait investasi, dan hanya mempekerjakan tujuh orang di sana.
Namun, keterlibatannya di industri telekomunikasi China sudah berlangsung lebih dari 20 tahun. Pada tahun 2004, SK Telecom dan China Unicom, operator telekomunikasi milik negara, membentuk usaha patungan bernama UNISK untuk menyediakan layanan internet nirkabel dan konten seluler di China. Ini adalah salah satu usaha patungan pertama antara perusahaan asing dan operator China.
Pada tahun 2006, SK Telecom menginvestasikan $1 miliar dalam obligasi konversi yang diterbitkan oleh unit China Unicom yang terdaftar di Hong Kong, yang akhirnya dikonversi menjadi sekitar 6,6 persen saham. Namun, kemitraan ini mulai terurai beberapa tahun kemudian. SK Telecom menjual sahamnya di China Unicom kembali ke operator China tersebut pada tahun 2009 dengan nilai sekitar $1,3 miliar, meskipun tetap mempertahankan kepentingan finansial kecil yang terkait dengan usaha patungan tersebut.
Dalam laporan tahunan 2025 ke SEC AS, SK Telecom mencatat investasi di UNISK senilai sekitar $17 juta. Pada tahun 2021, pemerintahan Trump pertama membatasi investasi AS di China Unicom sebagai bagian dari upaya yang lebih luas menargetkan perusahaan China yang oleh Washington dikatakan terkait dengan sektor militer dan intelijen negara tersebut.
Implikasi bagi Keamanan Siber Global
Pada bulan April tahun ini, dengan alasan kekhawatiran keamanan nasional, FCC AS mengusulkan untuk melarang perusahaan telekomunikasi AS untuk saling terhubung dengan China Unicom dan operator China lainnya. Langkah ini baru-baru ini diperingatkan oleh China Unicom dapat mengganggu komunikasi global.
Keputusan Gedung Putih untuk mencabut akses SK Telecom dan akhirnya menonaktifkan Claude Mythos dan Fable 5 menunjukkan meningkatnya ketegangan seputar keamanan AI dan potensi penyalahgunaan teknologi oleh negara asing. Bagi pelaku industri di Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat pentingnya tata kelola keamanan siber yang ketat, terutama saat adopsi AI semakin meluas. Perusahaan seperti Telkomsel yang meraih penghargaan di bidang telekomunikasi perlu mencermati dinamika regulasi global ini untuk mengantisipasi dampaknya terhadap rantai pasok teknologi dan kemitraan internasional.
Pemerintah AS dan Anthropic masih dalam posisi berseberangan. Anthropik menolak berkomentar, sementara Gedung Putih dan SK Telecom belum menanggapi permintaan komentar. The Washington Post sebelumnya melaporkan bahwa pejabat pemerintahan Trump khawatir setelah mengetahui bahwa penerima Mythos termasuk “perusahaan telekomunikasi Korea Selatan” yang mereka yakini memiliki hubungan dengan China.
Menanggapi laporan tersebut, SK Telecom mengatakan kepada sebuah surat kabar Korea bahwa “pernyataan sumber anonim di media asing tidak memiliki fakta yang terverifikasi, dan perusahaan kami tidak memiliki hubungan dengan China.” Seseorang yang dekat dengan Anthropic mengatakan bahwa perusahaan tersebut memandang akses SK Telecom ke Mythos dan kerentanan yang diidentifikasi Amazon sebagai dua isu terpisah.
Bagi pembaca di Indonesia, perkembangan ini menggarisbawahi bahwa keamanan AI bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan telah menjadi isu geopolitik yang berdampak langsung pada akses terhadap teknologi tercanggih. Perusahaan yang bergantung pada biaya internet yang murah dan layanan digital harus siap menghadapi fragmentasi ekosistem AI global.
