JBNews.id — Ratusan mahasiswa Universitas Stanford melakukan aksi walk-out saat CEO Google, Sundar Pichai, hendak menyampaikan pidato kelulusan pada akhir pekan lalu. Aksi ini menjadi bentuk protes terhadap kontrak militer dan kepolisian yang dimiliki Google.
Menurut laporan SF Gate yang dikutip Futurism, sekitar 200 mahasiswa meneriakkan yel-yel, meniup peluit, dan membentangkan spanduk saat Pichai naik ke podium. Mengingat Stanford hanya meluluskan sekitar 2.000 mahasiswa sarjana setiap tahun, aksi ini sangat terlihat dan menjadi sorotan utama acara tersebut.
Protes ini merupakan respons atas sejumlah kontrak Google dengan militer dan lembaga kepolisian domestik, termasuk Israel Defense Forces (IDF) dan US Immigration and Customs Enforcement (ICE). Berbeda dengan protes wisuda lain yang fokus pada isu AI dan otomatisasi yang lebih abstrak, protes di Stanford kali ini memiliki nada yang lebih spesifik dan tajam.
“Google secara aktif mendukung dan mengambil untung dari apartheid dan genosida Israel terhadap warga Palestina melalui Project Nimbus,” demikian pernyataan panitia protes dalam ikrar walk-out mereka. “Google juga telah memungkinkan penganiayaan tetangga kami oleh ICE. Tahun ini, Google DeepMind baru saja menyetujui kontrak AI Pentagon tanpa batas merah, mengkhianati permohonan para penelitinya sendiri untuk berhenti mempersenjatai perang.”
Setelah walk-out, para pengunjuk rasa mengundang para wisudawan ke acara alternatif yang digelar tepat di seberang venue resmi. Acara tersebut menghadirkan Mahmoud Khalil sebagai pembicara utama. Khalil adalah aktivis terkemuka asal Aljazair-Palestina dan mantan aktivis mahasiswa di Columbia University. Ia ditangkap oleh agen ICE tanpa seragam pada Maret 2025, dan menghabiskan 104 hari di tahanan meskipun tidak pernah dihukum atau bahkan didakwa melakukan kejahatan.
“Kami tidak perlu miliarder teknologi lain untuk memberi tahu kami cara menjadi kaya dari pembunuhan dan pengawasan terhadap warga Palestina dan imigran AS,” tulis pernyataan tersebut. “Ambil sikap menentang perdagangan perang. Katakan pada CEO Google bahwa dia tidak diterima. Bergabunglah dengan People’s Commencement alih-alih mendengarkan kata-kata kosong seorang CEO Google.”
Di sisi lain, Pichai tampaknya sudah bersiap menghadapi protes yang berbeda. Belajar dari puluhan contoh pembicara wisuda yang dicemooh karena menyebut AI, Pichai memastikan untuk tidak menyinggung topik tersebut sama sekali. Sebaliknya, ia memilih untuk menyoroti kisah hidupnya sendiri, seperti dilaporkan SF Gate.
Meski demikian, kenyataan bahwa ia tetap ditolak secara terbuka menunjukkan besarnya skala frustrasi terhadap industri teknologi. Ketidakpuasan itu telah tumbuh terlalu luas dan terlalu dalam untuk dihindari oleh pidato mana pun, sekalipun dirancang dengan hati-hati.
Aksi walk-out mahasiswa Stanford ini menjadi bukti nyata bahwa resistensi terhadap keterlibatan perusahaan teknologi dalam konflik militer dan pelanggaran hak asasi manusia semakin kuat. Pichai, yang sebelumnya harus menghadapi protes terkait kebijakan AI, kini berhadapan dengan isu yang jauh lebih mendasar: etika bisnis dan tanggung jawab sosial.
Protes ini juga menyoroti hubungan yang semakin tegang antara institusi pendidikan dan perusahaan teknologi besar. Mahasiswa tidak lagi hanya memprotes isu-isu internal kampus, tetapi juga kebijakan global dari perusahaan tempat mereka mungkin akan bekerja. Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi baru pekerja teknologi memiliki standar etika yang lebih tinggi dan tidak segan untuk menyuarakannya.
Bagi Pichai dan Google, aksi ini menjadi pengingat bahwa popularitas dan kesuksesan finansial tidak serta-merta membeli loyalitas. Di era di mana informasi mengalir cepat dan kesadaran sosial meningkat, perusahaan teknologi harus siap menghadapi konsekuensi dari setiap keputusan bisnis yang mereka ambil.
Ke depan, industri teknologi mungkin perlu mempertimbangkan ulang strategi keterlibatan mereka dengan institusi militer dan kepolisian. Jika tidak, protes serupa kemungkinan akan terus terjadi, tidak hanya di Stanford, tetapi di kampus-kampus lain di seluruh Amerika Serikat.
Aksi ini juga menunjukkan bahwa isu Palestina dan imigrasi telah menjadi katalis penting dalam gerakan protes mahasiswa. Kehadiran Mahmoud Khalil sebagai pembicara utama dalam acara alternatif menegaskan bahwa mahasiswa tidak hanya menolak, tetapi juga menawarkan narasi dan kepemimpinan alternatif.
Dengan demikian, walk-out ini bukan sekadar aksi simbolis. Ini adalah pernyataan politik yang jelas: mahasiswa Stanford menolak untuk diam ketika perusahaan teknologi yang mereka kagumi terlibat dalam praktik yang mereka anggap tidak etis. Dan mereka siap untuk mengambil tindakan nyata, bahkan jika itu berarti meninggalkan pidato kelulusan mereka sendiri.
Seiring dengan perkembangan teknologi AI yang semakin pesat, seperti yang terlihat pada AI di Tribeca, pertanyaan tentang etika dan tanggung jawab menjadi semakin mendesak. Mahasiswa Stanford telah memberikan contoh bahwa inovasi teknologi tidak boleh dipisahkan dari nilai-nilai kemanusiaan.
Sedangkan bagi para pemimpin industri, aksi ini adalah alarm. Mereka tidak bisa lagi mengandalkan pidato inspiratif tentang perjalanan hidup pribadi untuk mengalihkan perhatian dari kebijakan kontroversial. Generasi baru tidak akan mudah teralihkan. Mereka menginginkan perubahan nyata, bukan sekadar kata-kata.
Protes ini juga relevan dengan berbagai isu lain di industri teknologi, termasuk pesanan chip AI Google yang menunjukkan dominasi perusahaan dalam rantai pasok teknologi global. Kekuatan pasar yang besar ini justru menjadi sorotan ketika digunakan untuk kepentingan militer.
Pada akhirnya, apa yang terjadi di Stanford adalah cerminan dari pergulatan yang lebih besar dalam masyarakat: bagaimana menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan tanggung jawab etis. Dan mahasiswa telah memilih untuk berada di garis depan perjuangan ini.
