JBNews.id — Kenaikan harga Xbox Game Pass pada Oktober 2025 membuat Microsoft kehilangan jutaan pelanggan dalam beberapa bulan. Chief Strategy Officer Xbox, Matthew Ball, secara terbuka mengakui dampak buruk dari kebijakan tersebut dalam wawancara di ajang Summer Game Fest bersama Game Business Live.
Microsoft menaikkan tarif langganan secara drastis pada Oktober 2025. Xbox Game Pass Ultimate melonjak 50 persen dari USD 19,99 menjadi USD 29,99 per bulan. Sementara itu, PC Game Pass naik hampir 40 persen dari USD 11,99 menjadi USD 16,49 per bulan. Kebijakan ini langsung memicu gelombang protes masif dari para gamer.
Saking banyaknya pengguna yang membatalkan langganan, website resmi Microsoft sempat tidak bisa diakses karena kelebihan jumlah pengakses. Ball mengungkapkan bahwa Xbox kehilangan “jutaan” pelanggan hanya dalam kurun waktu beberapa bulan setelah harga baru diumumkan.
CEO Baru Xbox Turunkan Harga
Kekacauan ini akhirnya harus dibereskan oleh CEO Xbox yang baru, Asha Sharma. Pada April 2026, melalui memo internal, Sharma mengakui bahwa Game Pass telah menjadi terlalu mahal bagi para gamer. Ia berjanji akan memangkas harga langganan.
Beberapa minggu kemudian, tarif paket Ultimate dan PC dipangkas kembali mendekati angka normal sebelum kenaikan Oktober 2025. Ultimate kini dibanderol USD 22,99 per bulan. Namun, ada kompromi pahit yang harus ditelan penggemar franchise Call of Duty (CoD).
Demi menekan harga langganan, game-game terbaru CoD dipastikan tidak akan lagi tersedia di Game Pass pada hari pertama rilis (Day One). Game tersebut baru akan masuk ke katalog langganan sekitar satu tahun setelah diluncurkan.
Strategi putar balik ini membuahkan hasil positif. Pada Mei 2026, Sharma mengklaim bahwa pertumbuhan pelanggan Game Pass kembali pulih dan retensinya membaik. Ball menyebut bahwa penyesuaian harga ini sangat beresonansi dengan keinginan pengguna.
Baca Juga:
Asha Sharma Bungkam Keraguan
Sosok Asha Sharma awalnya dipandang sebelah mata oleh komunitas gamer. Latar belakangnya yang minim pengalaman di industri game—ditambah rekam jejaknya sebagai mantan eksekutif AI—membuat banyak pihak mengira penunjukannya adalah ‘lonceng kematian’ bagi merek Xbox.
Seamus Blackley, tokoh legendaris di balik penciptaan konsol Xbox original tahun 2001, sempat menyindir pedas. Ia menyebut tugas Sharma di Microsoft tak ubahnya “seorang dokter perawatan paliatif yang akan mengantar Xbox perlahan menuju kematian.”
Namun, Sharma pelan-pelan berhasil mematahkan keraguan tersebut dan merebut hati para penggemar Xbox. Sejak menjabat, ia telah mengambil sejumlah keputusan berani, di antaranya:
- Menyelamatkan Game Pass: Menurunkan kembali harga yang sempat melambung tak masuk akal.
- Kembali ke Eksklusivitas Konsol: Mendorong kembalinya game eksklusif Xbox, seperti diumumkannya Gears of War: E-Day dan Clockwork Revolution.
- Membunuh AI Copilot: Berani mematikan proyek AI ‘Gaming Copilot’ untuk Xbox dan mobile yang sejak awal banyak dihujat oleh para gamer.
Langkah-langkah tegas ini membuktikan bahwa manajemen baru Xbox kini mulai kembali mendengarkan apa yang sebenarnya diinginkan oleh para gamer.
Kenaikan harga layanan digital memang selalu berisiko. Kasus Xbox Game Pass menjadi pelajaran berharga bagi perusahaan teknologi lainnya. Keputusan menaikkan harga secara ekstrem tanpa mempertimbangkan daya beli konsumen bisa berujung pada kehilangan basis pelanggan setia.
Dalam konteks industri yang lebih luas, tekanan biaya juga terjadi di sektor lain. Fenomena serupa terlihat pada harga ponsel naik akibat kelangkaan RAM, di mana Nothing memberikan peringatan kepada konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga menjadi tren di berbagai lini produk teknologi.
Sementara itu, Apple juga menggeber produksi MacBook Neo dengan potensi kenaikan harga. Kondisi ini menambah daftar panjang produk teknologi yang harus menyesuaikan harga di tengah tekanan biaya produksi global.
Bagi para gamer, langkah Asha Sharma menurunkan harga Game Pass menjadi angin segar. Keputusan untuk mengorbankan Call of Duty Day One demi harga yang lebih terjangkau menunjukkan bahwa Microsoft mulai mendengar suara komunitas. Pertanyaannya, apakah langkah ini cukup untuk mempertahankan loyalitas pelanggan dalam jangka panjang?
Data menunjukkan bahwa pertumbuhan pelanggan kembali pulih setelah penyesuaian harga. Ini menjadi indikator positif bahwa strategi Sharma berhasil. Namun, Microsoft harus terus berinovasi tanpa harus membebani konsumen dengan biaya yang tidak masuk akal.
