JBNews.id — Untuk pertama kalinya dalam sejarah Amerika Serikat, pembangkit listrik tenaga surya menghasilkan lebih banyak listrik dibandingkan batu bara pada Mei 2026. Data dari lembaga riset energi global Ember menunjukkan bahwa energi surya menyumbang 12,8 persen dari seluruh pembangkit listrik AS, sementara batu bara hanya 12,2 persen.
“Rekor ini bisa terpecahkan lagi pada bulan-bulan musim panas mendatang,” demikian catatan Ember dalam laporannya. Capaian ini menjadi tonggak sejarah yang menegaskan pergeseran fundamental dalam bauran energi Amerika Serikat.
Penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik telah menurun drastis, hampir setengahnya dalam lima tahun terakhir saja. Sebaliknya, jumlah energi surya yang dihasilkan meningkat lebih dari dua kali lipat pada periode yang sama.
“Mengalahkan batu bara untuk pertama kalinya dalam satu bulan menunjukkan seberapa jauh energi surya telah berkembang, dari kontributor kecil menjadi sumber listrik terbesar ketiga dan dengan pertumbuhan tercepat di sistem kelistrikan AS,” ujar analis data senior Ember, Nicolas Fulghum, dalam pernyataan resminya.
Kontras dengan Kebijakan Pemerintahan Trump
Pencapaian ini terjadi di tengah langkah kontroversial pemerintahan Trump yang justru menggelontorkan dana federal sebesar 700 juta dolar AS untuk industri batu bara. Departemen Energi AS membatalkan rencana penutupan lima pembangkit batu bara tua, dan mendanai pembangunan pembangkit baru di Alaska dan West Virginia.
Ironisnya, pendanaan untuk inisiatif yang dipertanyakan ini berasal dari anggaran Kongres yang semula dialokasikan untuk mengurangi emisi karbon dioksida. Batu bara merupakan bahan bakar fosil paling padat karbon yang menghasilkan polusi beracun dalam jumlah besar. Penambangan terbuka di AS juga sangat merusak lingkungan, mencabut seluruh ekosistem.
Efisiensi dan Produksi Massal Dorong Popularitas Surya
Popularitas energi surya melonjak berkat peningkatan efisiensi yang signifikan dan terobosan dalam manufaktur. China memainkan peran dominan, kini mewakili 80 persen produksi panel surya global. Keunggulan biaya produksi ini membuat panel surya semakin terjangkau dan mudah diadopsi secara massal.
Dalam konteks global, transisi energi surya juga menjadi topik hangat. Bagi Anda yang tertarik dengan perkembangan teknologi terkini, simak liputan kami tentang Daftar Game terbaru atau Microsoft Build 2026 yang menghadirkan inovasi AI dan chip quantum.
Baca Juga:
Sementara itu, fokus pemerintahan Trump untuk menghidupkan kembali batu bara berisiko membuat AS semakin tertinggal dalam energi terbarukan. Mendukung energi surya saat ini sangat masuk akal — membuat upaya pemerintahan Trump untuk mendukung apa yang disebut “batu bara bersih” semakin membingungkan.
Di sisi lain, perkembangan energi surya yang pesat juga berdampak pada sektor lain. Kenaikan biaya energi di beberapa daerah, seperti yang dilaporkan dalam artikel Biaya Sampah Naik di Bandung, menunjukkan pentingnya diversifikasi sumber energi. Sementara itu, Harga BBM Pertamina yang baru-baru ini turun juga menjadi indikator dinamika energi nasional.
Implikasinya jelas: investasi pada energi surya bukan sekadar pilihan ramah lingkungan, melainkan keputusan ekonomi yang cerdas di tengah penurunan biaya produksi dan peningkatan efisiensi yang masif. Bagi pembaca, pergeseran ini berarti potensi penurunan biaya listrik jangka panjang dan berkurangnya ketergantungan pada bahan bakar fosil yang harganya fluktuatif.
