JBNews.id — Dua developer muda Indonesia, Francesco Emmanuel Setiawan dan Ghazali Ahlam Jazali, berhasil menembus ajang bergengsi WWDC 2026 di Apple Park, Cupertino. Lebih dari sekadar menyaksikan keynote, keduanya mendapat kesempatan langka bertemu langsung dengan CEO Apple Tim Cook dan calon CEO John Ternus. Pengalaman ini menjadi bukti nyata bahwa talenta Indonesia mampu bersaing di panggung inovasi global.
Francesco, mahasiswa Ilmu Komputer Binus University, adalah peraih penghargaan Swift Student Challenge Distinguished Winner 2026. Sementara Ghazali, lulusan Ilmu Komputer Universitas Sanata Dharma, memenangkan Swift Student Challenge 2026 lewat aplikasi edukasi privasi digital berjudul They Have Your Fingerprint!. Keduanya tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga menjadi representasi kebanggaan Indonesia di ajang tahunan Apple tersebut.
Pertama Kali Menginjakkan Kaki di Apple Park
Francesco mengaku sangat terkesan saat pertama kali memasuki Apple Park. Suasana yang dirasakan jauh berbeda dibandingkan hanya melihat markas Apple melalui foto atau video. “Yang paling memorable sih pas hari pertama ya, pas pertama kali masuk Apple Park. Benar-benar kagum banget, keren banget sama kantornya. Banyak pohon, keren,” ujarnya. Tak hanya desain ikonik, sambutan dari karyawan Apple juga membuatnya merasa istimewa. “Pas baru masuk pun juga Apple employees-nya, mereka very energetic banget. Mereka banyak teriak, pokoknya berasa ter-welcome banget di situ. Jadi very, very memorable,” tambahnya.

Kesan serupa dirasakan Ghazali. Menurutnya, atmosfer di Apple Park langsung terasa berbeda sejak pertama kali tiba. “Kita begitu sampai di depan ini aja, masuk itu udah langsung pada teriak-teriak, WWDC, dan udah langsung bersorak-sorak semua. Energinya itu sangat tinggi dan itu mengubah semua experience-nya,” katanya. Antusiasme yang terpancar dari para peserta dan penyelenggara menciptakan pengalaman tak terlupakan bagi kedua developer muda ini.
Bertemu Tim Cook dan John Ternus
Salah satu momen paling berkesan adalah kesempatan berbincang langsung dengan Tim Cook dan John Ternus. Francesco mengungkapkan Tim Cook sempat bercerita mengenai kunjungan terakhirnya ke Apple Developer Academy Indonesia. “Kemarin pas aku ngobrol sama Tim Cook, dia cerita pas terakhir dia ke Apple Academy Indonesia, dia senang banget lihat the next generation of learners,” ungkap Francesco. Pesan yang disampaikan Tim Cook, baik dalam keynote maupun percakapan langsung, memiliki benang merah yang sama: mendorong generasi muda untuk terus menciptakan inovasi yang memberi dampak positif bagi dunia.

Ghazali mengaku terkejut ketika mengetahui bahwa WWDC merupakan momen favorit dalam setahun bagi para petinggi Apple. “Yang aku agak nggak expect itu adalah mereka bilang bahwa WWDC adalah waktu favorit mereka dalam setahun, termasuk dalam menyambut para pemenang Swift Student Challenge,” ujarnya. “Dari sana aku belajar bahwa mereka benar-benar peduli soal mendidik developer dan mendukung developer indie dalam membangun aplikasi di platform mereka,” lanjut Ghazali. Selain Tim Cook dan John Ternus, Ghazali juga berkesempatan berbincang dengan Susan Prescott, Vice President Worldwide Developer Relations Apple. “Susan Prescott itu essentially semua yang membuat journey developer-ku jadi possible sampai ke sini bahkan. Dan yang keren dari dia, dia sangat berenergi,” katanya.

Bertukar Pengalaman dengan Engineer Meta dan Headspace
WWDC 2026 juga menjadi ajang berharga bagi Francesco dan Ghazali untuk memperluas jaringan internasional. Francesco mengaku bisa bertemu langsung dengan para engineer dari sejumlah perusahaan teknologi besar. “Bisa ketemu engineers dari Headspace, dari Meta juga ada. Jadi interesting banget bisa ngobrol-ngobrol sama mereka, dapat insight-insight yang mungkin dari tempat lain kita enggak bisa dapatkan,” ujarnya. Sementara Ghazali merasa terinspirasi saat bertemu para alumni Apple Developer Academy dari berbagai negara. “Ngeliat orang-orang lain ini, banyak juga yang dari Apple Developer Academy, dari berbagai negara, misalnya Korea, Brazil, sampai Italia. Ketemu mereka semua itu menurutku sangat inspiring,” katanya.
Interaksi tersebut membuka wawasan baru mengenai budaya, metode pembelajaran, hingga pendekatan pengembangan aplikasi yang digunakan di berbagai negara. Pertukaran pengalaman ini menjadi modal berharga bagi kedua developer untuk terus berkarya. Bagi pembaca yang tertarik dengan Fitur Terbaru yang diumumkan di WWDC 2026, artikel terkait bisa menjadi referensi tambahan.
Baca Juga:
Fitur WWDC 2026 yang Paling Ditunggu
Selain pengalaman bertemu tokoh penting, keduanya juga antusias dengan teknologi baru yang diumumkan dalam keynote WWDC 2026. Francesco mengaku paling tertarik dengan pembaruan Core AI yang kini mendukung server models. “Jadi kita udah enggak usah call API dari external parties lagi, terus mau run on-device model tuh jauh lebih gampang dan jauh lebih bagus,” jelasnya. Di sisi lain, Ghazali menyoroti hadirnya visual debugger untuk proyek Artificial Intelligence dan Machine Learning. “Salah satu hambatan terbesar dalam mengerjakan proyek AI/ML itu kan kayak ngeliat model AI yang black box. Dengan visual debugger ini, itu bakal sangat membantu pekerjaan di sana,” ujarnya.
Kehadiran fitur-fitur ini menunjukkan komitmen Apple dalam mendukung ekosistem developer. Bagi pengguna yang ingin memahami lebih dalam tentang Strategi Model AI, persaingan di industri ini semakin menarik untuk diikuti. Perkembangan teknologi AI yang diumumkan di WWDC 2026 menjadi angin segar bagi para developer di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Kisah Francesco dan Ghazali di WWDC 2026 membuktikan bahwa talenta Indonesia mampu bersaing di level tertinggi. Pertemuan dengan Tim Cook dan John Ternus, serta interaksi dengan engineer dari Meta dan Headspace, menjadi pengalaman yang tak ternilai. Bagi para developer muda Indonesia, ajang seperti Swift Student Challenge adalah pintu masuk untuk meraih mimpi serupa. Dengan dedikasi dan karya inovatif, bukan tidak mungkin lebih banyak lagi talenta Tanah Air yang akan melangkah ke panggung global. Implikasinya jelas: ekosistem developer Indonesia memiliki potensi besar yang perlu terus didukung dan dikembangkan.
