US Soccer Gunakan AI untuk Pantau Jutaan Video Pemain Muda

Anak-anak bermain sepak bola di lapangan hijau

JBNews.id — Federasi Sepak Bola Amerika Serikat (US Soccer) mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk memindai rekaman video dari puluhan juta atlet muda di seluruh dunia. Langkah ini diungkapkan langsung oleh Chief Operating Officer US Soccer, Dan Helfrich, dalam sebuah acara Fortune di Scottsdale, Arizona, pekan ini.

Helfrich, yang sebelumnya menjabat sebagai CEO raksasa konsultan Deloitte, menyebut inisiatif ini sebagai “pergeseran paradigma” dalam proses pencarian bakat. Menurutnya, AI memungkinkan US Soccer untuk “memantau setiap pertandingan sepak bola yang dimainkan oleh pemain yang memenuhi syarat AS di mana pun di dunia.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa teknologi kini menjadi tulang punggung strategi pencarian bakat nasional. Dengan keterbatasan jumlah pramuka manusia, banyak pemain potensial dari daerah atau klub yang kurang diprioritaskan kerap terlewatkan. Helfrich mengakui bahwa sistem konvensional secara otomatis mengecualikan 99,5 persen pemain.

“Bagaimana Anda bisa membawa pramuka Anda — manusia Anda — ke semua tempat itu? Anda tidak bisa,” ujar Helfrich. “Dan secara otomatis, Anda mengecualikan 99,5 persen orang.”

Kombinasi antara AI dan ketersediaan rekaman video yang semakin luas menjadi kunci dari strategi baru ini. Helfrich menambahkan bahwa video yang lebih mudah diakses untuk olahraga usia muda, ditambah dengan kemampuan AI, memungkinkan analisis terhadap permainan jutaan atlet secara bersamaan.

CEO US Soccer, JT Batson, mengonfirmasi kepada podcast talkSPORT bahwa program nasional memang sedang menjalankan “pilot” yang memanfaatkan AI “untuk keperluan identifikasi pemain.” Batson menekankan bahwa proyek ini masih dalam tahap awal, namun pihaknya antusias untuk belajar dan mengembangkannya.

“Kami masih dalam tahap awal,” kata Batson. “Tapi kami bersemangat untuk belajar dan mencari tahu bagaimana cara meningkatkannya sehingga lebih banyak anak bisa benar-benar menjadi bagian dari US Soccer.”

Batson juga menambahkan bahwa tujuan akhirnya adalah mendukung perjalanan sepak bola setiap anak, baik untuk bermain sepak bola sebagai hobi seumur hidup maupun untuk menjadi pemain yang bisa memenangkan Piala Dunia. “Kami perlu bisa memantau lebih banyak pemain di negara ini,” tegasnya.

Bagaimana AI Bekerja dalam Skrining Pemain?

Program AI yang digunakan US Soccer dilatih untuk mengidentifikasi atribut tertentu dari permainan seorang pemain. Atribut tersebut meliputi tingkat keterampilan, teknik, dan gerakan yang dinilai cocok untuk posisi tertentu. Dengan demikian, AI tidak hanya mencari pemain berbakat, tetapi juga mencocokkan profil mereka dengan kebutuhan taktis tim nasional.

Pendekatan ini memungkinkan pramuka untuk menjangkau area yang sebelumnya tidak terpantau. Namun, Helfrich mengakui bahwa AI hanyalah alat bantu. “Video menjadi lebih banyak tersedia untuk olahraga usia muda, dan AI — tiba-tiba, kami membayangkan ulang,” katanya.

Tantangan di Balik Teknologi

Meskipun AI menawarkan potensi besar, para pejabat US Soccer sadar bahwa membangun jalur pencarian bakat yang kuat tidak hanya bergantung pada pemindaian video. Masalah akses fundamental seperti ketersediaan fasilitas berkualitas dan pelatih yang mumpuni tetap menjadi faktor penentu.

Apakah pemain muda memiliki akses ke fasilitas dan pelatihan yang baik? Apakah keluarga mereka harus mengeluarkan biaya besar atau berkendara berjam-jam dari rumah? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh algoritma. “Penemuan hanyalah satu bagian dari persamaan,” tulis laporan tersebut. “Algoritma yang menemukan bakat baru bukanlah yang membuat pemain muda potensial bisa berada di lapangan sejak awal.”

Dengan kata lain, AI mungkin membantu pramuka nasional menjangkau lebih banyak wilayah digital dalam upaya mereka mencari pemain baru. Namun, tanpa infrastruktur yang mendukung, bakat yang ditemukan pun mungkin tidak akan berkembang.

Inisiatif US Soccer ini menjadi contoh bagaimana teknologi merambah dunia olahraga secara lebih dalam. Tren serupa juga terlihat di berbagai program olahraga perguruan tinggi yang mulai mengadopsi AI dalam proses rekrutmen mereka. Meskipun demikian, efektivitas jangka panjang dari pendekatan ini masih perlu dibuktikan.

Bagi para pemain muda yang bercita-cita tinggi, kabar ini setidaknya memberikan harapan bahwa bakat mereka tidak akan lagi terlewatkan hanya karena lokasi geografis. Namun, perjalanan untuk menjadi pemain tim nasional tetaplah panjang dan penuh tantangan.