Kolaborasi Nvidia dan Unitree Ciptakan Robot Humanoid H2 Plus

Robot humanoid H2 Plus hasil kolaborasi Nvidia dan Unitree dengan chip Thor T5000 dan tangan canggih dari Sharpa

JBNews.id — Nvidia mengumumkan cetak biru robot humanoid terbaru hasil kolaborasi dengan Unitree, startup robotika asal China. Robot bernama H2 Plus ini menggabungkan perangkat keras canggih dari kedua perusahaan untuk mempercepat pengembangan robot humanoid di kalangan peneliti global.

Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh CEO Nvidia, Jensen Huang, pekan ini. Cetak biru H2 Plus terdiri dari robot setinggi 6 kaki (sekitar 1,8 meter) dan berbobot 150 pon (68 kilogram) buatan Unitree, chip Thor T5000 buatan Nvidia, tangan humanoid canggih, serta perangkat lunak baru yang memudahkan pemrograman dan pelatihan mesin.

Spesifikasi dan Kemampuan Robot H2 Plus

Chip Thor T5000 menjadi otak utama robot ini. Chip tersebut mampu menjalankan model AI yang kuat, memungkinkan robot memahami lingkungannya dan mengontrol pergerakan secara real-time. Sementara itu, tubuh robot menggunakan motor, aktuator, dan sensor buatan Unitree yang telah terbukti handal di berbagai produk sebelumnya.

Salah satu komponen yang menarik perhatian adalah tangan humanoid dari perusahaan Singapura, Sharpa. Tangan ini memiliki ketangkasan tinggi, mampu melakukan berbagai tugas rumit seperti trik kartu hingga mengupas apel. Ketangkasan masih menjadi masalah utama yang belum sepenuhnya terpecahkan dalam dunia robotika.

Spencer Huang, direktur produk robotika Nvidia, mengatakan kepada WIRED bahwa perusahaan ingin menyediakan kecerdasan silikonnya untuk sebanyak mungkin perusahaan robot humanoid. “Unitree adalah yang pertama, tetapi mereka bukan yang terakhir,” ujar Huang yang merupakan putra Jensen Huang. Ia menambahkan bahwa teknologi pada H2 berpotensi membuat robot China lainnya, termasuk lengan industri konvensional, menjadi lebih cakap.

Dinamika Kolaborasi di Tengah Ketegangan AS-China

Kemitraan ini terjadi di tengah ketegangan teknologi antara Amerika Serikat dan China. Robotika telah menjadi arena kompetisi baru yang krusial, dan beberapa politisi bahkan mengusulkan larangan robot humanoid buatan China. Tahun lalu, peneliti keamanan mengklaim bahwa robot Unitree mampu menangkap dan mentransmisikan data, sehingga menimbulkan risiko keamanan.

Namun, kolaborasi ini juga memiliki logika bisnis yang kuat. Scott Singer, fellow di Carnegie Endowment for International Peace yang mempelajari tata kelola AI dan China, menyebut perkembangan ini menarik. “Kedua belah pihak memiliki bagian kunci dari rantai pasokan yang mungkin bisa dipersenjatai, tetapi di sini mereka bekerja sama,” kata Singer.

Nvidia tampaknya sadar akan kekhawatiran keamanan tersebut. Cetak biru H2 Plus baru dilengkapi dengan fitur keamanan yang dirancang untuk meyakinkan pengguna bahwa data dan model mereka aman. Chip Nvidia saat ini menjadi standar emas untuk melatih model AI besar, dan perusahaan telah melakukan upaya besar untuk masuk ke robotika canggih dengan mengembangkan perangkat keras dan perangkat lunak khusus.

Pemerintah AS melarang Nvidia menjual chip paling canggihnya ke China, tetapi akhir tahun lalu melonggarkan pembatasan untuk mengizinkan penjualan chip yang lebih canggih di sana. Singer menambahkan bahwa robot dan AI dipandang sebagai kunci produktivitas manufaktur dan ekonomi, kemampuan militer masa depan, serta kemajuan AI itu sendiri.

Keunggulan Harga dan Popularitas Unitree

Robot Unitree sudah sangat populer di dalam dan luar China. Robot-robot tersebut relatif mudah diprogram dan sangat murah. Versi dasar robot humanoid G1 berharga sekitar $15.000, jauh lebih murah dibandingkan robot pesaing yang bisa mencapai ratusan ribu dolar per unit.

Robot Unitree sering terlihat melakukan parkour, kung-fu, dan aksi akrobatik lainnya dalam video media sosial. Robot-robot ini juga muncul dalam penelitian yang diterbitkan oleh banyak laboratorium Barat.

Namun, tidak semua pihak senang melihat pertumbuhan pesat produsen robot China. Gavin Kenneally, salah satu pendiri dan CEO Ghost Robotics yang membuat robot berkaki untuk pertahanan dan keamanan, mengatakan bahwa teknologi Unitree banyak mengambil inovasi dari laboratorium Barat. Ia menekankan pentingnya AS tidak membiarkan China mendominasi pasar robot humanoid.

“Tanpa respons kebijakan jangka pendek yang serius, termasuk strategi robotika nasional, AS berisiko menyerahkan pasar robotika komersial kepada Unitree dan perusahaan China lainnya, seperti yang sudah terjadi di pasar drone dengan DJI,” ujar Kenneally.

Di sisi lain, Jensen Huang melihat banyak keuntungan bekerja sama dengan pembuat robot China. “Robot humanoid akan membawa AI fisik ke industri terbesar di dunia, membuka peluang ekonomi senilai triliunan dolar,” kata Huang.

Kolaborasi Nvidia dan Unitree ini menunjukkan bagaimana perusahaan teknologi global tetap menjalin kemitraan meskipun ada ketegangan geopolitik. Bagi peneliti dan pengembang, cetak biru H2 Plus menawarkan platform yang lebih terjangkau dan mudah diakses untuk mengembangkan robot humanoid dengan kecerdasan buatan canggih.

Perkembangan ini juga menjadi perhatian bagi industri robotika di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Dengan harga yang semakin terjangkau, adopsi robot humanoid di berbagai sektor, mulai dari manufaktur hingga pendidikan, diprediksi akan semakin cepat dalam beberapa tahun ke depan.