Harga Bitcoin Anjlok 45 Persen, Investor Mulai Kapitalisasi

Fotografi Bitcoin membesar memudar ke dalam kegelapan, simbol penurunan harga.

JBNews.id — Harga Bitcoin mengalami kejatuhan signifikan sebesar lebih dari 45 persen dari puncak historisnya pada Oktober 2025. Pada pekan ini, aset kripto tersebut tercatat menyentuh level terendah di angka $65.527, membalikkan hampir seluruh keuntungan yang telah diraih sejak Maret 2024.

Penurunan ini merupakan yang terdalam sejak siklus bullish Bitcoin dimulai pasca kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat 2024. Investor yang membeli Bitcoin di harga puncak $124.000 pada Oktober tahun lalu kini mengalami kerugian lebih dari $58.000 per koin dalam delapan bulan terakhir.

Data dari CNBC menunjukkan bahwa pemilik Bitcoin yang biasanya cenderung bertahan (hodler) mulai menjual aset mereka secara besar-besaran. Dalam dua hari terakhir saja, diperkirakan sekitar $2,4 miliar Bitcoin telah berpindah tangan. Lebih mengkhawatirkan lagi, 26 persen dari total penjualan Bitcoin dalam 30 hari terakhir berasal dari investor yang membeli di harga di atas $90.000.

“Kelompok pembeli puncak ini sebelumnya sangat tangguh selama pasar bear, tetapi akhirnya mereka menyerah saat BTC mendekati titik terendah siklus baru,” ujar Ed Engel, analis dari firma keuangan Compass Point, kepada CNBC. Pernyataan ini menegaskan bahwa bahkan investor yang paling optimis sekalipun kini mulai kehilangan kepercayaan.

Penurunan tajam ini memperkuat teori lama bahwa pasar Bitcoin sangat dipengaruhi oleh siklus pemilu AS. Pola historis menunjukkan bahwa harga cenderung melonjak setelah pemilihan presiden, mencapai rekor tertinggi baru di paruh kedua tahun setelah presiden baru terpilih—seperti yang terjadi pada 2025, 2021, dan 2017. Sebaliknya, pada tahun pemilu paruh waktu (midterm) AS, Bitcoin cenderung jatuh ke pasar bear yang ditandai dengan kerugian berkepanjangan lebih dari 20 persen.

Situasi ini memicu spekulasi bahwa aksi jual besar-besaran oleh investor institusional bisa menjadi puncak dari koreksi harga saat ini. Meskipun pola siklus pemilu menunjukkan kemungkinan moderasi harga dalam waktu dekat, belum ada kepastian seberapa dalam Bitcoin bisa jatuh. Titik terendah sebenarnya masih sulit diprediksi.

Analis memperingatkan bahwa tekanan jual masih bisa berlanjut, terutama jika kondisi ekonomi makro global tidak mendukung. Ketidakpastian regulasi dan sentimen negatif terhadap aset berisiko turut memperburuk prospek jangka pendek Bitcoin.

Bagi investor ritel yang bertahan, situasi ini menjadi ujian kesabaran. Sementara bagi yang baru ingin masuk, harga saat ini mungkin terlihat menarik, namun risiko penurunan lebih lanjut tetap nyata. Pasar kripto dikenal sangat volatil, dan keputusan investasi harus didasarkan pada toleransi risiko masing-masing.

Dalam konteks yang lebih luas, anjloknya harga Bitcoin juga berdampak pada ekosistem kripto secara keseluruhan. Banyak proyek dan perusahaan yang bergantung pada nilai aset digital ini mulai merasakan tekanan. Namun, para pendukung setia Bitcoin melihat siklus ini sebagai bagian dari perjalanan menuju adopsi yang lebih matang.

Sementara itu, Beijing Auto Show 2026 yang baru saja berlangsung menjadi salah satu ajang yang menyedot perhatian global, menunjukkan bahwa minat terhadap inovasi teknologi di berbagai sektor masih tinggi meskipun pasar kriptom sedang lesu.

Kesimpulannya, penurunan harga Bitcoin kali ini adalah pengingat keras akan risiko yang melekat pada aset digital. Investor harus siap menghadapi volatilitas ekstrem dan tidak boleh terjebak dalam euforia semata. Data dan analisis fundamental tetap menjadi panduan utama dalam mengambil keputusan investasi.

Dengan ketidakpastian yang masih menyelimuti pasar, waktu yang tepat untuk masuk atau keluar dari Bitcoin masih menjadi teka-teki. Namun, satu hal yang pasti: siklus ini akan terus berulang, dan hanya mereka yang memiliki strategi jangka panjang yang mungkin akan bertahan.

Apakah ini akhir dari reli Bitcoin atau justru awal dari siklus baru? Hanya waktu yang bisa menjawab. Namun, untuk saat ini, para investor disarankan untuk tetap waspada dan tidak mengambil keputusan impulsif berdasarkan fluktuasi harga jangka pendek.